Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 8 : Penetapan Hari Kebangkitan…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 8 :

Tata cara Al Qur’an menetapkan hari kebangkitan.

– Mengabarkan tentang kesempurnaan kekuasaan Allah dan kehendakNya yang pasti berjalan

– mengingatkan hamba tentang penciptaannya pertama kali. Bahwa bila Dia mampu menciptakan manusia dari sesuatu yang tidak ada, maka Dia mampu untuk mengembalikan ciptaanNya.

– menghidupkan bumi yang telah mati, sebagai bukti bahwa Dia mampu menghidupkan manusia yang telah mati.

– kekuasaan Allah untuk menciptakan langit dan bumi yang amat besar. Maka membangkitkan manusia tentu lebih mudah.

– Menetapkan bahwa Allah tak mungkin menciptakan manusia sia sia. Tidak diberikan perintah dan larangan, dan tidak diberikan pahala dan siksa? Itu semua mustahil bagi Allah Ta’ala.

– Allah memperlihatkan bagaimana Allah membangkitkan orang yang telah meninggal di dunia ini, sebagaimana dalam kisah sapi betina, kisah Nabi Uzair yang diperlihatkan kepadanya bagaimana Allah membangkitkan keledai yang telah menjadi tulang belulang, kisah Nabi Ibrahim yang diperlihatkan kepadanya kebangkitan burung yang telah terpotong potong badannya dsb.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 9 : Cara Perintah Kepada Kaum Mukminin Untuk Kepada Hukum Syar’at…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

MUTIARA SALAF : Perbanyak Sholat Malam Di 10 Malam Terakhir Bulan Ramadhan

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah mengatakan:

“Adapun di sepuluh malam terakhir Ramadhan, kaum muslimin (hendaknya) menambah kerajinan mereka dalam ibadah, karena mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan untuk mencari lailatul qadar yang lebih utama dari seribu bulan.

Maka orang yang biasanya shalat 23 rekaat di awal ramadhan, mereka bisa membaginya di sepuluh malam akhir, mereka bisa shalat 10 rekaat di awal malam yang mereka namakan shalat teraweh, dan shalat 10 rekaat di akhir malam, mereka memanjangkannya beserta shalat witir 3 reka’at, mereka biasa menyebutnya shalat qiyam.

Ini (sebenarnya) hanyalah perbedaan nama saja, karena semua shalat ini bisa disebut teraweh, bisa juga disebut qiyam.

Adapun orang yang biasanya hanya shalat 11 atau 13 reka’at di awal bulan, dia bisa menambah 10 rekaat lagi di sepuluh malam terakhir yang dilakukan akhir malam dan memanjangkannya, untuk mencari keutamaan 10 malam terakhir dan untuk menambah usaha dalam amal kebaikan.

Orang seperti ini ada contohnya dari para generasi salaf dari kalangan sahabat dan yang lainnya, yang mereka shalat 23 reka’at sebagaimana telah lalu. Dengan demikian mereka bisa menggabungkan dua pendapat, pendapat 13 rekaat di 20 malam pertama, dan pendapat 23 rekaat di 10 malam terakhir.”

[Kitab: Ithaafu ahlil iman bi majalismi syahri romadhon]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Akbat Maksiat…

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
Sesungguhnya ketaatan itu adalah cahaya..
Sedangkan kemaksiatan adalah kegelapan..
Semakin kuat kegelapan..
Semakin kuat kebingungan..
Sehingga iapun jatuh dalam bid’ah dan kesesatan serta perkara yang membinasakan..
Dalam keadaan ia tidak merasakan..
Bagaikan orang buta yang keluar di kegelapan malam..
Ia berjalan sendirian..

(Al Jawabul Kaafi hal 83-84)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Courtesy of Al Fawaid

Kesempatan Sering Kali Tidak Datang Dua Kali…

إذا فتح لأحدكم باب خير فليسرع إليه فإنه لا يدري متى يغلق عنه. السير ٥٤٠/٤

“Jika pintu kebaikan dibuka untuk salah seorang diantara kalian, maka bersegeralah masuk ke dalamnya karena ia tidak akan pernah tahu kapan pintu itu akan tertutup rapat.”

Ucapan Khalid bin Mi’dan diatas menyadarkan kita bahwa di bulan suci ini kita disuguhkan dengan berbagai macam pintu kebaikan.

Maka bersegeralah sebelum pintu-pintu itu tertutup dan yang tersisa hanyalah penyesalan.

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى

Faidah Ayat…

Allah Ta’ala berfirman:

خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين. وإما ينزغنك من الشيطان نزغ فاستعذ بالله إنه سميع عليم
Ambillah maaf, perintahkan kepada yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang orang yang bodoh.
Dan apabila kamu tertimpa gangguan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha mendengar dan Maha melihat. (Al A’raaf: 199-200)

Syaikh Muhamad Amin Asy Syanqithi rahimahullah berkata:
Dalam ayat yang mulia ini Allah menjelaskan bagaimana menghadapi yang bodoh dari kalangan manusia dan jin.
Allah menjelaskan bahwa menghadapi yang bodoh dari manusia adalah dengan sikap berlemah lembut, memaafkan, dan berpaling dari perbuatan bodohnya dan perbuatan jahatnya.
Adapun yang bodoh dari kalangan jinn, tidak ada jalan selamat darinya kecuali dengan berlindung kepada Allah dari godaannya.
(Adlwaul bayan 2/341)

Perbuatan bodoh adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan ilmu..
Terkadang seseorang berkata dan berbuat dengan emosinya..
Berkata sebatas dengan akal dan pandangan yang tak berdasarkan dalil dan hujjah..
Disaat kita sampaikan dalil, dia ngeyel dan membantah..
Bukan karena mencari kebenaran tapi karena mengikuti hawa nafsu..
Di medsos, banyak kita temui sikap dan komentar emosional..
Membuat kita emosi, geram dan lainnya..
Maka berpalinglah dan hindari berdebat dalam keadaan seperti itu..
Karena kita sedang menghadapi sikap bodoh agar tidak terseret kepada kebodohan..
Allahul Musta’an..

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Cara Orang-Orang Terdahulu…

Zaman dahulu, orang sulit mencari ilmu tapi mudah mengamalkannya. Zaman sekarang, orang mudah mencari ilmu tapi sulit mengamalkannya.

Dahulu, ilmu dikejar, ditulis, dihafal, diamalkan dan diajarkan. Sekarang, ilmu diunduh, disimpan dan dikoleksi, lalu diperdebatkan.

Dahulu, butuh peras keringat dan banting tulang untuk mendapatkan ilmu. Sekarang, cukup peras kuota internet sambil duduk manis ditemani secangkir minuman dan snack.

Dahulu, ilmu disimpan di dalam hati, selama hati masih normal, ilmu tetap terjaga. Sekarang, ilmu disimpan di dalam memori gadget, kalau baterai habis, ilmu tertinggal. Kalau gadget rusak, hilanglah ilmu.

Dahulu, harus duduk berjam-jam di hadapan guru penuh rasa hormat dan sopan, maka ilmu merasuk bersama keberkahan. Sekarang, cukup tekan tombol atau layar sambil tidur-tiduran, maka ilmu merasuk bersama kemalasan.

Imam Malik Rahimahullohu mengatakan, “Tidak akan menjadi baik umat belakangan ini kecuali apabila diperbaiki dengan cara orang-orang terdahulu.”

Zainal Abidin,  حفظه الله تعالى

Musibah Besar…

Imam ibnul Jauzi rahimahullah berkata..
Musibah besar adalah..
Seorang insan merasa rela dengan keadaan dirinya..
Merasa cukup dengan ilmunya..
Ini adalah badai yang menerpa kebanyakan manusia..
Kamu lihat orang yahudi dan nashrani..
Menganggap dirinya di atas kebenaran..
Tidak mau melihat dan memperhatikan bukti kebenaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam…
Apabila ia mendengar al qur’an..
Ia malah lari agar tidak mendengarnya..
Demikian pula setiap pengikut hawa nafsu..
Ia merasa betah dengan hawa nafsunya..
Karena itu adalah keyakinan nenek moyangnya..
Atau ia mempunyai pendapat yang ia pandang benar..
Tetapi tidak mau melihat dalil kebalikannya..
(Shaidul khathir hal 374)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Courtesy of Al Fawaid

Menebar Cahaya Sunnah