Akbat Maksiat…

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
Sesungguhnya ketaatan itu adalah cahaya..
Sedangkan kemaksiatan adalah kegelapan..
Semakin kuat kegelapan..
Semakin kuat kebingungan..
Sehingga iapun jatuh dalam bid’ah dan kesesatan serta perkara yang membinasakan..
Dalam keadaan ia tidak merasakan..
Bagaikan orang buta yang keluar di kegelapan malam..
Ia berjalan sendirian..

(Al Jawabul Kaafi hal 83-84)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Courtesy of Al Fawaid

Kesempatan Sering Kali Tidak Datang Dua Kali…

إذا فتح لأحدكم باب خير فليسرع إليه فإنه لا يدري متى يغلق عنه. السير ٥٤٠/٤

“Jika pintu kebaikan dibuka untuk salah seorang diantara kalian, maka bersegeralah masuk ke dalamnya karena ia tidak akan pernah tahu kapan pintu itu akan tertutup rapat.”

Ucapan Khalid bin Mi’dan diatas menyadarkan kita bahwa di bulan suci ini kita disuguhkan dengan berbagai macam pintu kebaikan.

Maka bersegeralah sebelum pintu-pintu itu tertutup dan yang tersisa hanyalah penyesalan.

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى

Faidah Ayat…

Allah Ta’ala berfirman:

خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين. وإما ينزغنك من الشيطان نزغ فاستعذ بالله إنه سميع عليم
Ambillah maaf, perintahkan kepada yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang orang yang bodoh.
Dan apabila kamu tertimpa gangguan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha mendengar dan Maha melihat. (Al A’raaf: 199-200)

Syaikh Muhamad Amin Asy Syanqithi rahimahullah berkata:
Dalam ayat yang mulia ini Allah menjelaskan bagaimana menghadapi yang bodoh dari kalangan manusia dan jin.
Allah menjelaskan bahwa menghadapi yang bodoh dari manusia adalah dengan sikap berlemah lembut, memaafkan, dan berpaling dari perbuatan bodohnya dan perbuatan jahatnya.
Adapun yang bodoh dari kalangan jinn, tidak ada jalan selamat darinya kecuali dengan berlindung kepada Allah dari godaannya.
(Adlwaul bayan 2/341)

Perbuatan bodoh adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan ilmu..
Terkadang seseorang berkata dan berbuat dengan emosinya..
Berkata sebatas dengan akal dan pandangan yang tak berdasarkan dalil dan hujjah..
Disaat kita sampaikan dalil, dia ngeyel dan membantah..
Bukan karena mencari kebenaran tapi karena mengikuti hawa nafsu..
Di medsos, banyak kita temui sikap dan komentar emosional..
Membuat kita emosi, geram dan lainnya..
Maka berpalinglah dan hindari berdebat dalam keadaan seperti itu..
Karena kita sedang menghadapi sikap bodoh agar tidak terseret kepada kebodohan..
Allahul Musta’an..

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Cara Orang-Orang Terdahulu…

Zaman dahulu, orang sulit mencari ilmu tapi mudah mengamalkannya. Zaman sekarang, orang mudah mencari ilmu tapi sulit mengamalkannya.

Dahulu, ilmu dikejar, ditulis, dihafal, diamalkan dan diajarkan. Sekarang, ilmu diunduh, disimpan dan dikoleksi, lalu diperdebatkan.

Dahulu, butuh peras keringat dan banting tulang untuk mendapatkan ilmu. Sekarang, cukup peras kuota internet sambil duduk manis ditemani secangkir minuman dan snack.

Dahulu, ilmu disimpan di dalam hati, selama hati masih normal, ilmu tetap terjaga. Sekarang, ilmu disimpan di dalam memori gadget, kalau baterai habis, ilmu tertinggal. Kalau gadget rusak, hilanglah ilmu.

Dahulu, harus duduk berjam-jam di hadapan guru penuh rasa hormat dan sopan, maka ilmu merasuk bersama keberkahan. Sekarang, cukup tekan tombol atau layar sambil tidur-tiduran, maka ilmu merasuk bersama kemalasan.

Imam Malik Rahimahullohu mengatakan, “Tidak akan menjadi baik umat belakangan ini kecuali apabila diperbaiki dengan cara orang-orang terdahulu.”

Zainal Abidin,  حفظه الله تعالى

Musibah Besar…

Imam ibnul Jauzi rahimahullah berkata..
Musibah besar adalah..
Seorang insan merasa rela dengan keadaan dirinya..
Merasa cukup dengan ilmunya..
Ini adalah badai yang menerpa kebanyakan manusia..
Kamu lihat orang yahudi dan nashrani..
Menganggap dirinya di atas kebenaran..
Tidak mau melihat dan memperhatikan bukti kebenaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam…
Apabila ia mendengar al qur’an..
Ia malah lari agar tidak mendengarnya..
Demikian pula setiap pengikut hawa nafsu..
Ia merasa betah dengan hawa nafsunya..
Karena itu adalah keyakinan nenek moyangnya..
Atau ia mempunyai pendapat yang ia pandang benar..
Tetapi tidak mau melihat dalil kebalikannya..
(Shaidul khathir hal 374)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Courtesy of Al Fawaid

Faidah : Allah Mencela Perselisihan…

Imam Al Muzaniy rahimahullah berkata:

فذم الله الاختلاف وأمر عنده بالرجوع إلى الكتاب والسنة فلو كان الاختلاف من دينه ما ذمه ولو كان التنازع من حكمه ما أمرهم بالرجوع عنده إلى الكتاب والسنة

Allah mencela perselisihan dan menyuruh kembali kepada al qur’an dan hadits di saat terjadi perselisihan. Kalaulah perselisihan itu termasuk agamaNya, tentu Allah tidak akan mencelanya. Kalaulah perselisihan itu termasuk hukumNya tentu Allah tidak akan menyuruh untuk mengembalikannya kepada al qur’an dan sunnah.
(Jami’ bayanil ‘ilmi wafadlihi 2/910)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 7 : Cara Penetapan Kenabian…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 7 :

Tata cara al qur’an dalam menetapkan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Al qur’an mejelaskan bahwa beliau adalah nabi yang ummiy tdak dapat membaca dan menulis. Maka sangat tidak mungkin al qur’an  ini berasal dari pemikiran beliau semata sementara Allah menantang para ahli bahasa arab untuk membuat uang seperti al qur’an, dan mereka tidak mungkin dapat membuatnya.

Al qura’an menceritakan kisah kisah para Nabi terdahulu secra panjang sesuai dengan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri akan kebenarannya. Memastikan bahwa beliau mendapat wahyu dari Allah Ta’ala.

Al qur’an menetapkan kesempurnaan hikmah Allah dan kekuasaanNya. Maka orang yang meragukan risalah beliau berarti telah meragukan hikmah Allah dan kekuasaanNya.

Al qur’an menyifati beliau dengan sifat yang sempurna berupa akhlak yang indah. Akhlak dan sifat yang tidak dapat disaingi oleh manusia manapun sebagai bukti bahwa beliau adalah utusan Rabbul ‘alamin.

Al qur’an menyebutkan bahwa kitab kitab suci sebelumnya telah memberikan kabar gembira akan kedatangan Rasulullah dengan menyebutkan namanya, sifatnya dan sifat umatnya.

Al qur’an mengabarkan tentang kejadian kejadian yang telah berlalu dan yang akan terjadi di masa depan sebagai penguatan bahwa beliau diberikan wahyu.

Al qur’an menetapkan risalah beliau dengan mukjizat yang luar biasa yang manusia manapun akan lemah di hadapannya.
Dan cara cara lain dari al qur’an dalam menetapkan risalah kenabian beliau shallallahu alaihi wasallam.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 8 : Penetapan Hari Kebangkitan…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

Hanya Beberapa Hari Saja…

Saat ALLAH mengulas puasa di hari-hari Ramadhan, ALLAH berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 184:

‏أَيَّامًا مَّعْدُودٰتٍ

“Beberapa hari yang telah ditentukan’

Ya, hanya beberapa hari saja.
ALLAH memberi isyarat kepada kita bahwa kebersamaan kita dengan Ramadhan sangat singkat.

Jangan sampai kita terlena karena merasa berada di awal bulan dan menatap 20-an hari dihadapan kita. 

Lihat saja betapa cepatnya hari-hari terbaik ini berlari meninggalkan kita, tanpa terasa kita akan hanyut sampai di hari-hari terakhir, lalu…
ia benar-benar pergi dan kita belum sempat mengerjakan banyak amal shalih.

Ia akan mengucapkan salam perpisahan sedangkan dosa kita belum diampuni.

Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
Sungguh rugi seseorang yang bertemu dengan Ramadhan, lalu Ramadhan itu berlalu darinya sebelum dosa-dosa dirinya diampuni.”
(HR. Tirmidzi)

Saudaraku,
jadikan setiap hari di bulan suci ini layaknya partai final, jangan biarkan ia mudah berlalu,
hanya beberapa hari saja…

*Hikmah yang disampaikan Syaikh Sa’ad Turki Al Khatslan (anggota komite fatwa dan kibar ‘ulama di saudi arabia) dengan pengembangan.

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى

Adakah Sholat Sunnah Qobliyah ‘Ashar…?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dinyatakan dalam hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

“Semoga Allah merahmati orang yang shalat 4 rakaat sebelum ashar.” (HR. Ahmad 5980, Abu Daud 1271, Turmudzi 430, dan dihasankan Al-Albani).

Hadis ini merupakan dalil pokok yang dijadikan para ulama untuk menyatakan dianjurkannya shalat sunah qabliyah ashar. Hanya saja mereka berbeda pendapat apakah termasuk shalat sunah rawatib yang ditekankan untuk dirutinkan ataukah tidak,

Pertama, tidak termasuk shalat sunah rawatib, sehingga bukan shalat sunah muakkad. Ini adalah pendapat Ibnu Qudamah. Dalam Al-Mughni, setelah menyebutkan hadis ini, beliau mengatakan,

تَرْغِيبٌ فِيهَا، وَلَمْ يَجْعَلْهَا مِنْ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ، بِدَلِيلِ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَاوِيهِ، وَلَمْ يَحْفَظْهَا عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –

Hadis ini merupakan anjuran untuk shalat sunah qabliyah ashar, namun tidak menjadikannya sebagai shalat sunah rawatinb. Dengan dalil, Ibnu Umar yang meriwayatkan hadis ini, tidak memasukkannya dalam daftar shalat sunah yang dibiasakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Al-Mughni, 2/93).

Untuk menilai apakah termasuk rawatib dan bukan, nampaknya Ibnu Qudamah berpedoman dengan keterangan dari Ibnu Umar, yang mengatakan,

حَفِظْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ

Saya menghafal kebiasaan shalat sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada 10 rakaat: 2 rakaat sebelum dzuhur, 2 rakaat setelah dzuhur, 2 rakaat setelah maghrib di rumahnya, 2 rakaat setelah isya di rumahnya, dan 2 rakaat sebelum subuh. (HR. Bukhari 1180).

Dalam keterangan beliau ini, Ibnu Umar tidak menyebutkan shalat sunah qabliyah ashar. Karena itu, statusnya dianjurkan, namun bukan rawatib yang ditekankan.

Kedua, termasuk shalat sunah muakkad yang selayaknya dijaga dan dirutinkan. Ini merupakan pendapat Al-Ghazali. Dikutip oleh Al-Munawi dalam Faidhul Qadir, beliau menyatakan,

يستحب استحبابا مؤكدا رجاء الدخول في دعوة النبي صلى الله عليه وسلم فإن دعوته مستجابة لا محالة

Shalat sunah qabliyah ashar sangat dianjurkan dan ditekankan, karena harapan termasuk dalam doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengingat doa beliau pasti mustajab. (Faidhul Qadir, 4/24).

Tata Cara Shalat Sunah Qabliyah Ashar

Ulama berbeda pendapat tentang tata cara shalat sunah qabliyah ashar. Ada yang mengatakan dikerjakan 4 rakaat sekaligus dengan sekali salam dan ada yang berpendapat dikerjakan dengan 2 rakaat salam, 2 rakaat salam.

Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah dikerjakan dengan 2 rakaat salam, 2 rakaat salam, berdasarkan hadis dari Ashim bin Dhamrah, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي قَبْلَ العَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِالتَّسْلِيمِ عَلَى المَلَائِكَةِ المُقَرَّبِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ مِنَ المُسْلِمِينَ وَالمُؤْمِنِينَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat 4 rakaat sebelum ashar, beliau pisah diantaranya dengan salam kepada malaikat, dan orang yang mengikuti mereka di kalangan kamu muslimin dan mukminin. (HR. Turmudzi 429 dan dihasankan Al-Albani).

Yang dimaksud : “beliau pisah diantaranya dengan salam kepada malaikat …” adalah tasyahud. Sebagaimana dinukil oleh At-Turmudzi dalam sunannya (2/294).

At-Turmudzi juga menukil,

وَرَأَى الشَّافِعِيُّ، وَأَحْمَدُ: صَلَاةَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى يَخْتَارَانِ الفَصْلَ

Imam As-Syafii dan Imam Ahmad berpendapat bahwa shalat sunah siang dan malam dikerjakan 2 rakaat salam, 2 rakaat salam. Dan mereka memilih untuk memisahkan 4 rakaat itu dengan salam setiap 2 rakaat. (Sunan Turmudzi, 2/294).

Allahu a’lam

Ammi Nur Baits, حفظه الله 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/17481-adakah-shalat-sunah-qabliyah-ashar.html

Menebar Cahaya Sunnah