Berpuasa Berlatih Jadi Orang Miskin…

Sebagian mubaligh atau penceramah menjelaskan bahwa diantara hikmah berpuasa ialah melatih diri menjadi orang miskin. Ada pula yang mengatakan bahwa dengan berpuasa anda sedikit mencicipi rasa derita yang di alami oleh orang miskin.

Sekilas ucapan di atas sungguh rasional, namun tatkala anda renungkan lebih mendalam ucapan di atas kurang sejalan dengan ayat berikut:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al Baqarah 183)

Dengan jelas alasan berpuasa ialah agar anda menjadi orang yang bertaqwa, bukan agar anda menjadi orang miskin atau minimal memiliki kesiapan mental menjadi orang miskin.

Tentu dua hal ini sangatlah berbeda jauh, karena anda pasti tahu bahwa untuk menjadi orang yang bertaqwa tidaklah harus menjadi miskin terlebih dahulu. Kalaupun anda adalah orang kaya paling kaya, anda memiliki peluang besar menjadi orang yang bertakwa, sama besarnya dengan orang yang miskin.

Faktanya, betapa banyak orang miskin kafir, fasik dan sesat, sebaliknya betapa banyak orang kaya raya yang bertakwa, salah satunya ialah anda wahai saudaraku yang sedang membaca tulisan ini, bukankah demikian?

Saudaraku, sadarilah sejatinya taqwa ialah kemampuan anda mengendalikan hawa nafsu anda, sehingga hawa nafsu anda senantiasa tunduk dan patuh kepada aturan syari’at agama. Bukan hanya tunduk dan patuh, bahkan anda berhasil menjadikan hawa nafsu anda bagian dari ibadah anda. Sebagaimana ketika berpuasa, anda menuruti nafsu makan dan minum karena menjalankan perintah dan mengharapkan pahala, bukan hanya sekedar melampiaskan selera belaka.

ANda menyantap hidangan buka puasa dan makan sahur, karena menjalankan perintah dan keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْإِفْطَارَ وَأَخَّرُوا السُّحُورَ

“Ummatku akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan makan sahurnya.” (Ahmad dan lainnya)

Sebagaimana pula anda menghentikan nafsu anda dalam rangka menjalankan perintah, sebagaimana tergambar pada firman Allah berikut ini:

)أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ
الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ(

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam” (Al Baqarah 187)

Kemampuan untuk senantiasa menundukkan hawa nafsu alias mengendalikan hawa nafsu semacam inilah hakikat dari ketakwaan.

Orang yang bertaqwa adalah orang yang benar-benar berhasil menundukkan hawa nafsunya, sehingga tiada yang ia inginkan atau cintai kecuali yang Allah dan Rasul-Nya cintai. Dan tiada yang ia benci kecuali sesuatu yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya benci. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من نفسه وولده وأهله والناس أجمعين

“Tidaklah engkau dianggap beriman hingga diriku lebih ia cintai dibanding dirinya, anak keturunannya, keluarganya dan seluruh manusia.” (Muttafaqun ‘alaih)

Jadi ndak perlu berlatih kelaparan atau mencicipi hidup dalam kemiskinan. Silahkan anda menjadi orang kaya, namun berlatihlah mengendalikan hawa nafsu anda, agar tiada mendorong anda untuk berbuat maksiat, bahkan sebaliknya terus mengobarkan semangat dalam diri anda untuk terus mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala Sang Penciptanya.

Karena itu sangat ironis bila selama bulan puasa; di siang hari anda berjuang mengendalikan hawa nafsu, namun ketika malam telah tiba anda kembali mengumbar hawa nafsu anda seakan anda kehilangan kekang atau kendali. Bila demikian ini sikap anda, maka dapat dipastikan anda gagal mengilhami nilai-nilai taqwa yang bertujuan menghantarkan anda menjadi orang yang benar-benar bertaqwa.

Selamat berpuasa, semoga Allah memudahkan anda untuk mengendalikan hawa nafsu anda.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Kecerdasan Seorang Muslim…

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid,  حفظه الله تعالى berkata :

“Termasuk tanda kecerdasan seseorang : bersemangat beramal yang lebih banyak pahalanya, dia paham amal apa yang paling Allah cintai, kemudian dia melakukannya. Dia paham amal apa yang lebih utama di sisi Allah kemudian dia mengikutinya.

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Rahasia Infaq Di Bulan Ramadlan…

Dalam hadits ibnu Abbas disebutkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadlan… al hadits.

Hadits tersebut memberikan faidah kepada kita bahwa kedermawanan hendaknya lebih di tingkatkan lagi di bulan Ramadlan. Mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih meningkatkan kedemawanan di bulan Ramadlan secara khusus?? Al Hafidz ibnu Rajab menyebutkan banyak faidah mengapa demikian. Beliau berkata, “Meningkatnya kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadlan secara khusus memberikan faidah yang banyak, diantaranya:

Pertama: Bertepatan dengan waktu yang mulia dimana amalan dilipatkan gandakan pahalanya bila bertepatan dengan waktu yang mulia.

Kedua: Membantu orang-orang yang berpuasa, sholat malam, dan berdzikir dalam ketaatan mereka, sehingga orang yang membantu itu mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang dibantu. Sebagaimana orang yang memberikan persiapan perang kepada orang lain mendapat pahala seperti orang yang berperang.

Ketiga: Allah amat dermawan kepada hamba-hamabNya di bulan Ramadlan dengan memberikan kepada mereka rahmat, ampunan dan kemerdekaan dari api Neraka, terutama di malam lailatul qodar. Allah merahmati hamba-hambaNya yang kasih sayang, sebagaimana Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ.

“Sesungguhnya Allah hanyalah menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang.” HR Bukhari dan Muslim. Barang siapa yang dermawan kepada hamba-hamba Allah, maka Allahpun akan dermawan kepadanya dengan karuniaNya, dan balasan itu sesuai dengan jenis amalan.

Keempat: Menggabungkan puasa dan sedekah adalah sebab yang memasukkan ke dalam surga, sebagaimana dalam hadits Ali Radliyallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَام

“Sesungguhnya di dalam surga terdapat kamar-kamar yang luarnya terlihat dari dalamnya, dan dalamnya terlihat dari luarnya.” Seorang arab badui berdiri dan berkata, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Untuk orang yang membaguskan perkatannya, memberi makan, senantiasa berpuasa, dan shalat malam karena Allah sementara manusia sedang terlelap tidur.” HR At Tirmidzi.

Amalan-amalan yang disebutkan dalam hadits ini semuanya ada dalam bulan Ramadlan, maka terkumpul pada seorang mukmin puasa, qiyamullail, shodaqoh, dan berbicara baik karena orang yang sedaang berpuasa dilarang melakukan perbuatan sia-sia dan kotor.

Kelima: Menggabungkan antara puasa dan shodaqoh lebih memberikan kekuatan yang lebih untuk menghapus dosa dan menjauhi api Neraka, terlebih bila ditambah sholat malam. Dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa puasa adalah perisai. Beliau juga mengabarkan bahwa shodaqoh itu dapat memadamkan kesalahan sebagaimana air dapat memadamkan api.

Keenam: Orang yang berpuasa tentunya tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan, maka shodaqoh dapat menutupi kekurangan dan kesalahan tersebut, oleh karena itu diwajibkan zakat fithr di akhir Ramadlan sebagai pensuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata yang kotor.

Faidah lainnya adalah yang disebutkan oleh imam Asy Syafi’i, beliau berkata, “Aku suka bila seseorang meningkatkan kedermawanan di bulan Ramadlan karena mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, juga karena kebutuhan manusia kepada perkara yang memperbaiki kemashlatan mereka, dan karena banyak manusia yang disibukkan dengan berpuasa dari mencari nafkah.”

Badru Salam, حفظه الله

Ramadlan dan Al Qur’an…

Bulan Ramadlan adalah bulan Al Qur’an, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di setiap bulan Ramadlan tadarus Al Qur’an bersama malaikat Jibril ‘alaihissalam. Ibnu Abbas berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadlan ketika bertemu dengan malaikat Jibril, dan Jibril menemui beliau di setiap malam bulan Ramadlan untuk mudarosah (mempelajari) Al Qur’an.. (HR Al Bukhari).

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tadarus Al Qur’an bersama Jibril ‘alaihissalam di malam bulan Ramadlan, ini menunjukkan bahwa waktu yang paling utama untuk membaca Al Qur’an dan mempelajarinya di bulan Ramadlan adalah di waktu malam. Dan ini juga ditunjukkan oleh sebuah hadits:

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

“Shoum dan Al Qur’an akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat. Shoum berkata, “Ya Rabb, aku telah mencegahnya dari makanan dan syahwat di waktu siang, izinkan aku memberi syafa’at untuknya.” Al Qur’an berkata, “Aku telah mencegahnya tidur di waktu malam, izinkan aku memberi syafa’at untuknya. Keduanya pun diberi izin untuk memberi syafa’at.” HR Ahmad dan lainnya.

Hadits ini menunjukkan keutamaan membaca Al Qur’an di bulan Ramadlan, oleh karena itu dahulu salafushalih lebih banyak menyibukkan dirinya dengan membaca Al Qur’an ketika datang bulan Ramadlan. Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Dahulu salafushalih memperbanyak membaca Al Qur’an di bulan Ramadlan, dalam shalat dan dalam kesempatan lainnya. Imam Az Zuhri rahimahullah apabila telah masuk Ramadlan berkata, “Ia hanyalah untuk membaca Al Qur’an dan memberi makan.” Imam Malik rahimahullah apabila telah datang bulan Ramadlan meninggalkan membaca hadits dan majelis-majelis ilmu dan lebih menyibukkan diri dengan membaca Al Qur’an dari mushhaf. Imam Qatadah biasanya mengkhatam Al Qur’an di setiap tujuh hari, dan di bulan Ramadlan beliau mengkhatam setiap tiga hari…

Imam Abdurrazzaq bin Hammam Ash Shan’ani berkata, “Sufyan Ats Tsauri apabila telah masuk bulan Ramadlan, beliau meninggalkan semua ibadah (yang sunnah) dan bersungguh-sungguh membaca Al Qur’an. Dan Aisyah radliyallahu ‘anha membaca mushaf di awal siang di bulan Ramadlan, apabila matahari telah terbit beliapun tidur.”

Badru Salam, حفظه الله

Adab Menjaga Ucapan…

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bagaimana seharusnya seorang muslim menjaga kata-katanya,

“Menjaganya, berarti tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak bermanfaat, tidak berbicara melainkan dengan sesuatu yang ia harapkan keuntungan dan faedah darinya.

Jika ia hendak berkata-kata, ia amati: Apakah kata-kata itu ada manfaat dan faedahnya atau tidak? Jika tidak, hendaknya ia menahannya.

Jika ia mendapati ada manfaatnya, ia amati lagi: Apakah ada kata-kata yang lebih memberi keuntungan dari yang akan dikatakannya? Maka hendaklah ia tidak melewatkannya.”

(Ad Daa wa Ad Dawaa’ hal. 225)

Abu Khaleed Resa Gunarsa,  حفظه الله تعالى

Disebut ‘Orang Pintar’ Tapi Tidak Pintar

“Yang mengherankan dari orang yang memiliki akal yang sehat, (mengapa) dia meminta wahyu (arahan) kepada ORANG MATI ..?!

(Bahkan) dia meminta diselamatkan dari musibah yang menimpa kepada orang mati itu.

Tapi, dia tidak meminta diselamatkan dari musibah yang menimpa kepada (Allah) yang MAHA HIDUP DAN TIDAK AKAN MATI..”

[Oleh: Syeikhul Islam, kitab beliau Al-Fatawa 1/126]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Apa Harapan Anda Di Bulan Ramadhan Ini..?

Bukankah anda ingin menjalani ibadah di bulan ramadhan dengan tenang dan nyaman tanpa terpengaruh hiruk pikuk dunia?
Maka perbanyaklah ISTIGHFAR

Allah berfirman:

‏﴿٣﴾ وَأَنِ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتٰعًا حَسَنًا

(3) dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik dan hidup yang nyaman kepadamu
(QS. Huud : 3)

Bukankah anda ingin berada di puncak kesehatan dan kekuatan di bulan ramadhan hingga dapat maksimal dalam beribadah?
Maka perbanyaklah ISTIGHFAR

Allah berfirman:

‏﴿٥٢﴾ وَيٰقَوْمِ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ

(52) Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu
(QS. Huud: 52)

Bukankah anda ingin memiliki hati yang bersih yang selalu memompa semangat kita dalam mendekat kepada ALLAH di bulan ramadhan?
Maka perbanyaklah ISTIGHFAR

Allah berfirman:

‏﴿١٤﴾ كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

(14) Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya dosa dan kesalahan yang selalu mereka usahakan itulah yang menutupi dan mengotori hati mereka.
(QS. Al Muthaffifin: 14)

Ternyata penyebab kotornya hati dan kandasnya kita dalam beribadah adalah DOSA

Saudaraku,
Di hari-hari terakhir menuju ramadhan ini, marilah basahi lisan kita dengan istighfar dan bertaubat kepada ALLAH,
istighfar yang lahir dari sebuah rasa takut kepada ALLAH Al Mutakabbir (yang maha memiliki keagungan) dan bukan hanya sekedar pemanis bibir.

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى

Ingin Merasakan Indahnya Kehidupan..?

“Kehidupanmu mengikuti pemikiran dan sudut pandangmu”
(wasail mufidah 1/30)

Sebuah ungkapan emas Syaikh As Sa’di -rahimahullah-.

Saudaraku, jika engkau ingin merasakan indahnya kehidupan pastikanlah sudut pandangmu penuh dengan cahaya iman karena hanya *ALLAH* yang tahu tentang kebahagianmu.

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى

Bermalas-malasan…

Syaikh DR.Shalah Budair berkata :

“Banyak orang membuang-buang waktunya untuk menonton TV, membaca koran, berbincang dengan keluarga dan teman-teman, akan tetapi jika disuruh menghafal Al Qur’an, shalat malam, atau menuntut ilmu, terasa malas dan berat.

Mereka berkata, “Harta dan keluarga telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami”.

Beralasan dengan kesibukan mengejar harta, keluarga, sakit, dan lain sebagainya.

Padahal Allah menyeru, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa ketika diserukan kepadamu, ‘Bergeraklah di jalan Allah!’, engkau justru bermalas-malasan. Apakah engkau lebih ridha dengan kehidupan dunia daripada di akhirat?”

Maka bersungguh-sungguhlah!”

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Courtesy of Al Fawaid

Nasehat Salaf Untuk Selalu Memegang Sunnah…

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata:

“Tetaplah kamu beristiqamah dan berpegang dengan atsar serta jauhilah bid’ah.” (Al-I’tisham, 1/112)

Al-Imam Az-Zuhri rahimahullah berkata:

Ulama kita yang terdahulu selalu mengatakan: “Berpegang dengan As-Sunnah adalah keselamatan. Ilmu itu tercabut dengan segera, maka tegaknya ilmu adalah kekokohan Islam sedangkan dengan perginya para ulama akan hilang pula semua itu (ilmu dan agama).” (Al-Lalikai 1/94 no. 136 dan Ad-Darimi, 1/58 no. 16)

Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata:

“Berhati-hatilah kamu, jangan sampai menulis masalah apapun dari ahli ahwa’, sedikit atau pun banyak. Berpeganglah dengan Ahlul Atsar dan Ahlus Sunnah.” (As-Siyar, 11/231)

Al-Imam Al-Auza’i rahimahullah berkata:

“Berpeganglah dengan atsar Salafus Shalih meskipun seluruh manusia menolakmu dan jauhilah pendapat orang-orang (selain mereka) meskipun mereka menghiasi perkataannya terhadapmu.” (Asy-Syari’ah hal. 63)

(Lammuddurril Mantsur minal Qaulil Ma`tsur, karya Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al-Haritsi)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Courtesy of Al Fawaid

Menebar Cahaya Sunnah