Bila Ada Yang Mencacimu

Sifat manusia bila dicaci atau diburuk burukkan pasti akan murka..
ia ingin membalas dengan cara mencacinya kembali..
siapa hati yang tak panas..
tapi..
membalas dengan yang serupa tak ada gunanya..
karena kebodohan tak baik bila dibalas dengan kebodohan lagi..
lihatlah hewan anjing itu..
gonggongannya tak digubris orang..
tapi lihatlah singa itu..
diamnya membuat ia ditakuti..

oleh karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن امرؤ سبك بما يعلم فيك ، فلا تسبه بما تعلم فيه ، فإن أجره لك و وباله على من قاله ” .

“Jika ada orang yang mencacimu dengan aib yang ia ketahui ada padamu..
janganlah kamu balas mencacinya dengan aib yang kamu ketahui ada padanya..
karena pahalanya untukmu..
dan dosanya untuk dia..”
(HR Ahmad)

Namun..
perbuatan ini hanyalah mampu dilakukan oleh orang yang bersabar..
dan berjiwa besar..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Patokan Dalam Meluruskan Shaf Shalat

Pertanyaan: Apakah berbaris dan meluruskan shaf di dalam shalat itu dengan mata kaki ataukah dengan ujung-ujung jari..?

Jawaban: Meluruskan shaf itu (patokannya) dengan mata kaki bukan dengan jari-jari kaki, karena mata kaki itulah tumpuan badan; karena dia di bawah betis, dan betis itu tumpuan paha, lalu paha itu tumpuan badan.

Adapun jari-jemari kaki, bisa jadi kaki seseorang panjang, sehingga jari-jemarinya lebih menjorok ke depan daripada jari-jemari orang yang di depannya. Sebaliknya bisa jadi jari-jemarinya pendek. Dan perbedaan ini tidak menjadi masalah (bila yang menjadi patokan dalam meluruskan shaf adalah mata kaki).

Meluruskan shaf itu bukan dengan jari jemari kaki, tapi dengan mata kaki, saya ulang-ulang hal ini, karena saya melihat banyak orang menjadikan patokan dalam meluruskan shaf adalah ujung jari-jemarinya, dan ini adalah kesalahan.

[Majmu’ Fatawa Syeikh Utsaimin 13/54]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Tentang Apakah Ilmu Didatangi Dan Bukan Mendatangi…

Pertanyaan member:
Afwan ust, ana berdebat dengan teman tentang perkataan imam Malik: ilmu itu didatangi bukan mendatangi. Apakah perkataan itu wajib dilakukan disetiap waktu dan keadaan atau bagaimana?

Jawab:
Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Ilmu adalah sesuatu yang mulia. Maka hendaknya kita para penuntut ilmu memuliakannya dengan cara mendatangi majelis majelis ilmu.
Imam Malik mengucapkan itu ketika diminta oleh Harun Al Rasyid untuk datang membacakan Al Muwathaa kepada anak anaknya.

Namun beliau menolak dan berkata:
Ilmu itu keluar dari kalian (quraisy), jika kalian memuliakannya maka ia akan mulia. Jika kalian menghinakannya maka ia akan hina. Ilmu itu di datangi dan bukan mendatangi.

Harun pun membenarkannya dan menyuruh anak anaknya untuk datang ke majelis imam Malik.

Maka selayaknya para penuntut ilmu mendatanginya, karena juga para ulama melakukan rihlah dalam rangka mencari ilmu.

Namun bila dalam keadaan manusia telah jauh dari ilmu, dan tidak mengetahui tentang menuntut ilmu, maka para dai hendaknya mendatangi manusia untuk mendakwahi mereka.
Sebagaimana dahulu Nabi shallallahu alaihi wasallam mendakwahi para pemuka Quraisy dan mendatangi kabilah kabilah.

Dan yang perlu diketahui, bahwa suatu kaidah terkadang tidak kita lakukan karena melihat mashlahat yang lebih besar.

ibnu Hajar al asqolani rahimahullah sering berkata dalam kitab fathul bari syarah shahih Bukhari:

هكذا تقرر الأصل وقد يختلف باختلاف الأحوال

“Demikianlah kaidah itu berlaku, namun dalam prakteknya terkadang berbeda sesuai keadaan.”

wallahu a’lam.

Courtesy of Al Fawaid

Mari Memperbanyak Istighfar…

Hasan Al-Bashri berkata, “Perbanyaklah istighfar baik di rumah-rumah kalian, di perjamuan makan kalian, di jalan-jalan kalian, di pasar-pasar kalian, dan di majelis-majelis kalian. Kalian tidak pernah tahu kapan ampunan Rabb kalian turun.”

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Muhammad As Sadhan,  حفظه الله تعالى

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

2 Macam Rasa Harap…

Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan,  حفظه الله
menjelaskan, “Ketahuilah bahwa rasa harap terdiri dari dua jenis,

1. Rasa harap yang tepuji, semisal rasa harap terhadap pahala dari Allah ketika seseorang melaksanakan ketaatan kepada Allah di atas ilmu/cahaya Allah. Demikian juga rasa harap akan diterimanya taubat yang ada pada orang yang bertaubat dari perbuatan dosa.

2. Rasa harap yang tercela, semisal rasa harap akan diterimanya taubat dari sebuah dosa seseorang yang senantiasa melakukan dosa tersebut. Maka rasa harap yang demikian bukanlah rasa harap melainkan sebuah ketertipuan, angan-angan kosong dan rasa harap yang palsu.”

(lihat Hushulul Ma’mul, hal. 82)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Munafik Berakhlak Baik…

Terkadang terkumpul pada satu orang perbuatan munafik dan akhlak yang baik, seseorang kelihatan baik di hadapan makhluk tapi melupakan Sang Khaliq.

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada orang yang disebut-sebut: Sungguh cerdas! Sungguh cerdik! dan sungguh kuat! Sementara di dalam hatinya tidak ada keimanan seberat biji sawi pun.”

Syaikh Abdul Aziz Ath Tharifi,  حفظه الله Ulama yang juga menjabat sebagai Peneliti Ilmiah di Departemen Masalah Islam di Riyadh, Arab Saudi. 24.3.2016

Courtesy of Twitulama

Menyembah Manusia, Namun Ndak Merasa…

Suatu hari sahabat Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat :

( اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ )

“Mereka menjadikan ulama’-ulama’ dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah ” (Surat At Taubah 31),

Merasa ada yang janggal dan kurang sesuai dengan apa yang ia alami semasa menjadi pemeluk agama Nasrani, segera ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berkata:
Sesungguhnya dahulu kami tidak pernah menyembah para pendeta dan ahli ibadah di antara kami.

Menanggapi pertanyaan sahabatnya ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

( أَلَيْسَ يُحَرِّمُونَ مَا أَحَلَّ اللهُ فَتُحَرِّمُونَهُ، وَيُحِلُّونَ مَا حَرَّمَ الله فَتُحِلُّونَهُ؟!) 

”Bukankah mereka mengharamkan sesuatu yang Allah halalkan, kemudian kalianpun turut mengharamkannya, dan mereka menghalalkan sesuatu yang Allah haramkan, lalu kalianpun turut menghalalkannya?!”

Sahabat Adi menjawab : Benar.

Selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

(فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ) 

”Itulah wujud peribadatan kepada mereka”. (Hadits riwayat Ahmad dan At Tirmizi).

Jadi, melek dalil dan melek argumentasi tuh penting, ndak asal nurut agar tidak terjerumus dalam praktek kultus buta kepada sesama manusia, yaitu dengan mengikuti pendapat tokoh yang telah terbukti secara meyakinkan menyimpang dari dalil. Bila ndak, maka ngaku atau ndak ngaku, sadar atau ndak sadar, berniat atau ndak berniat, maka sejatinya telah terjerumus pada praktek penyembahan sesama manusia.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Perbaikilah Lisanmu…

Lisan mempunyai pengaruh yang sangat kuat, jika seseorang bergaul dengan orang-orang yang berkata-kata baik, maka ia akan terbiasa untuk berkata baik. Namun jika ia bergaul dengan orang-orang yang berkata buruk, maka ia pun akan terbiasa untuk berkata buruk. Oleh karenanya, perbaikilah lisanmu dengan memperbaiki lingkungan pergaulanmu.

(Khalid Al Mushlih, حفظه الله تعالى
dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia).

Courtesy of Twit Ulama

Kondisi Apa Yang Menyebabkan SUJUD SAHWI Dilakukan Sebelum / Sesudah Salam..?

Letak sujud sahwi  sebelum ataukah sesudah salam dapat dilihat pada rincian berikut.

1. Jika terdapat kekurangan pada sholat –seperti kekurangan tasyahud awwal-, ini berarti kekurangan tadi butuh ditambal, maka menutupinya tentu saja DENGAN SUJUD SAHWI SEBELUM SALAM untuk menyempurnakan sholat. Karena jika seseorang sudah mengucapkan salam, berarti ia sudah selesai dari sholat.

2. Jika terdapat kelebihan dalam sholat –seperti terdapat penambahan satu roka’aat-, maka hendaklah SUJUD SAHWI DILAKUKAN SESUDAH SALAM. Karena sujud sahwi ketika itu untuk menghinakan setan.

3. Jika seseorang terlanjur salam, namun ternyata masih memiliki kekurangan roka’at, maka hendaklah ia menyempurnakan kekurangan roka’at tadi. Pada saat ini, SUJUD SAHWINYA ADALAH SESUDAH SALAM dengan tujuan untuk menghinakan setan.

4. Jika terdapat keragu-raguan dalam sholat, lalu ia mengingatnya dan bisa memilih yang yakin, maka hendaklah ia SUJUD SAHWI SESUDAH SALAM untuk menghinakan setan.

5. Jika terdapat keragu-raguan dalam sholat, lalu tidak nampak baginya keadaan yang yakin. Semisal ia ragu apakah sholatnya empat atau lima roka’at. Jika ternyata sholatnya benar lima roka’at, maka tambahan sujud tadi untuk menggenapkan sholatnya tersebut. Jadi seakan-akan ia sholat enam roka’at, bukan lima roka’at. Pada saat ini SUJUD SAHWINYA ADALAH SEBELUM SALAM karena sholatnya ketika itu seakan-akan perlu ditambal disebabkan masih ada yang kurang yaitu yang belum ia yakini.

Baca ulasan lengkapnya berikut ini :
https://rumaysho.com/1065-panduan-sujud-sahwi-2-tata-cara-sujud-sahwi.html

✏️
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Jauhi Sikap Seperti Ini…

Manusia, jika berat dengan suatu kewajiban, ia berdalih dengan dalil, “Laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa”, Allah tidak membebani seseorang diluar kesanggupannya.

Padahal yang haram, ia ambil kaidah, “Adh dharuratu tubihul makhdhuraat”, kondisi darurat membolehkan hal-hal yang haram.

Dan jika tersibukkan dengan yang mubah, ia berprinsip “Al ashlu fil asyaa’ al hillu”, hukum asal segala sesuatu adalah halal.

(Semoga Allah menjaga kita dari sikap demikian -pent)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, حفظه الله pengasuh web IslamQA.

Courtesy of Twit Ulama

Menebar Cahaya Sunnah