Cara Masbuk Mengikuti Imam…

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum. Saya mau tanya, Pak Ustadz. Apabila kita terlambat shalat berjemaah dan posisi imam sedang sujud, apakah kita datang langsung sujud atau kita takbir dulu baru sujud?Jazakumullah khairan.

Ramadhany (rdhany**@yahoo.***)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam.

Takbiratul ihram termasuk rukun shalat. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kunci shalat adalah bersuci, pengharamannya adalah takbir, dan penghalalannya adalah salam.” (H.R. Abu Daud, Turmudzi, dan Ibnu Majah; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Maksud “pengharamannya”: permulaan shalat yang mengharamkan semua perbuatan di luar shalat.

OLEH KARENA ITU, SESEORANG BARU DIANGGAP MEMASUKI SHALAT JIKA DIA MELAKUKAN TAKBIRATUL IHRAM. SEBALIKNYA, JIKA ADA ORANG YANG TIDAK MELAKUKAN TAKBIRATUL IHRAM MAKA DIA BELUM DIANGGAP MEMASUKI SHALAT, SEHINGGA SHALATNYA TIDAK SAH.

Dari kasus yang Anda sampaikan, ada dua cara yang bisa Anda lakukan:
1. Melakukan takbiratul ihram, kemudian turun sujud tanpa bertakbir lagi.
2. Melakukan takbiratul ihram, kemudian turun sujud sambil bertakbir lagi, sebagai takbir intiqal(perpindahan gerakan) menuju sujud.

Catatan: takbiratul ihram harus dilakukan dalam posisi berdiri tegak dan tidak boleh dilakukan sambil bergerak turun, baik untuk sujud maupun untuk rukuk.

Allahu a’lam.

Ammi Nur Baits,  حفظه الله تعالى

Ref : https://konsultasisyariah.com/5417-cara-masbuk-mengikuti-imam.html

Apa Makna Ayat Muhkam dan Ayat Mutasyabih…

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum ustadz, ana mau tanya,apa artinya ayat muhkam dan mutasyabih, dan apa yg di maksud niat udlhiyah di kaidah yg ke 30?

 

Jawaban :
Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Muhkam artinya ayat ayat yang maknanya jelas tidak tersembunyi. Sedangkan mutasyabih adalah ayat yang maknanya tidak jelas, hanyaborang orang yang kuat keilmuannya yang memahaminya dengan pemahaman yang benar.

ibnu Katsir katsir rahimahullah berkata:

يخبر تعالى أن في القرآن آيات محكمات هن أم الكتاب، أي: بينات واضحات الدلالة، لا التباس فيها على أحد من الناس

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa di dalam alquran terdapat ayat ayat alquran yang merupakan induk alquran, yaitu ayat ayat yang jelas maknanya, tidak tersembunyi pada semua orang. (Tafsir ibnu katsir 2/6).

Syaikh Utsaimin rahimhullah berkata:

Allah Tabaroka wata’ala membagi alquran menjadi dua macam: muhkam dan mutasyabih.

Yang dimaksud muhkam adalah yang jelas maknanya dan tidak tersembunyi. Contohnya kata langit, bumi, bintang, gunung, pohon, dan sebagainya.

Adapun mutasyabih adalah ayat ayat yang samar maknanya dan tersembunyi dari kebanyakan manusia. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang kokoh keilmuannya.

Contohnya adalah ayat ayat yang bersifat global dan tidak ada perinciannya di dalam alquran, seperti firman Allah:

وأقيموا الصلاة

Dirikanlah sholat.

Mendirikan sholat tidak dijelaskan tata caranya. Karena ayat ini hanya menyebutkan kewajiban mendirikan sholat saja, tapi bagaimana tatacaranya? Ini diketahui dari dalil lain.

Hikmah diturunkannya alquran dengan dua macam tadi adalah ssbagai ujian. Orang yang ada di hatinya kecondongan kepada kesesatan akan mengikuti ayat ayat mutasyabih sehingga ia berada di dalam keheranan.

Adapun orang orang yang kokoh ilmunya, mereka mengimani semuanya; baik yang mutasyabih maupun yang muhkam. Mereka meyakini bahwa alquran berasal dari sisi Allah dan tidak saling bertentangan.

(Fatawa Nuur aladdarbi)

Termasuk dalam ayat ayat mutasyabih adalah ayat ayat yang seolah olah bertentangan.

Kewajiban kita adalah menafsirkan ayat mutasyabih dengan ayat yang muhkam.

Karena alquran dan hadits saling menafsirkan satu sama lainnya.

Faedah : Inilah Aqidah Imam Asy-Syafi’i…

Dalam kitab Al Uluww hal 120 karya Imam Adz Dzahabi.

Imam Asy Syafii rahimahullah berkata:

القول في السنة التى أنا عليها ورأيت أصحابنا عليها أهل الحديث الذين رأيتهم وأخذت عنهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الإقرار بشهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وأن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وأن الله تعالى ينزل إلى سماء الدنيا كيف شاء

Pendapat dalam sunnah yang aku di atasnya dan aku melihat para shahabat kami juga di atasnya yaitu ahlul hadits yang aku melihat mereka dan mengambil ilmu dari mereka seperti Sufyan, Malik dan lainnya adalah menetapkan syahadat laa ilaaha illallah wa anna muhammadan rosulullah dan bahwanya Allah di atas Arasnya di langit, Dia mendekat kepada makhluknya dengan apa yang ia kehendaki. Dan bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia dengan cara yang Dia kehendaki.”

Itulah keyakinan imam Asy Syafii..
Amat jauh berbeda dengan keyakinan Asy’ariyah yang tidak mengakui bahwa Allah di atas Arasy..

Keyakinan imam Asy Asyafii inilah yang diyakini oleh Syaikh Abdul Qodir Jaelani (yang benar jiilaani), beliau berkata dalam kitab tuhfatul muttaqin:

والله تعالى بذاته على العرش علمه محيط بكل مكان

Dan Allah bersemayam di atas Arasy dengan d DzatNya sedangkan ilmunya meliputi setiap tempat.

Dalam kitab algunyah, beliau berkata:
ولا يجوز وصفه بأنه في كل مكان بل يقال إنه في السماء على العرش كما قال {الرحمن على العرش استوى }
Dan tidak boleh menyifatiNya bahwa Dia berada di setiap tempat. Tetapi Dia berada di langit di atas ArasyNya sebagaimana firmanNya: artinya Arrahman di atas Arasy bersemayam.
Lalu beliau membawakan ayat ayat dan hadits hadits.

lalu beliau berkata lagi:

وينبغي إطلاق صفة الإستواء من غير تأويل وإنه إستواء الذات على العرش قال وكونه على العرش مذكور في كل كتاب أنزل على كل نبي أرسل بلا كيف

Dan selayaknya memutlakkan sifat istiwa (bersemayam) dengan tanpa merubah maknanya. Sesungguhnya Dia di atas arasy dengan DzatNya.

Keyakinan ini disebutkan pada setiap kitab yang di turunkan kepada Nabi yang diutus tanpa bertanya bagaimana tata caranya.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Wedus Kesasar = Domba Tersesat…

Mas, mbak, pak dan ibu! relakah anda disebut dengan domba atau kambing atau wedus? Bahkan bukan sekedar domba biasa namun domba yang tersesat?

Mereka selalu menganggap anda sebagai domba yang tersesat, la kok bisa-bisanya mereka tersinggung bila anda melakukan hal yang serupa, dengan berkata mereka itu tersesat alias kafir?

  1. Mereka ingin agar anda melunak dengan berkata: kita sama-sama di atas jalan yang benar, bersaudara, dan sama-sama masuk surga. la kok enakeeee. Sedangkan mereka tetap dengan keyakinannya : sekali domba tersesat maka anda terus dianggap sebagai domba tersesat sampai anda mengikuti jalan mereka.

Mereka mendoktrin sebagian ummat Islam agar mengatakan semua agama sama, eeh ternyata mereka sendiri terus tiada henti menganggap anda sebagai domba mbeling, ndak nurut alias tersesat.

Sobat! Percayalah kepada Al Qur’an dan As Sunnah yang jelas-jelas mengatakan mereka tuh kafir.

Sekali kafir ya kafir, mereka kekal di neraka, mereka tersesat di dunia hingga di akhirat. Kita berbeda tingkatan, mereka salah jalan, alias tersesat sedangkan kita berada di jalan yang benar.

Inilah ikrar kita setiap sholat, hanya Islam yang benar, sedangkan yang lain adalah “domba yang tersesat”. Simak firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka (Muhammad 12)

Sobat! Menurut anda; siapakah yang lebih pantas disebut sebagai domba tersesat, anda sebagai orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir atau mereka yang nyata nyata beribadah kepada selain Allah ?

Toleransi yang benar tuh, bukan dengan cara bertepuk sebelah tangan: anda menjaga perasaan mereka, sedangkan mereka bebas leluasa menganggap anda sebaga domba tersesat.

Toleransi yang benar tuh, masing -masing dengan keyakinannya, asal jangan saling mengganggu dan memprovokasi, demikianlah toleransi yang ALlah ajarkan pada ayat ayat berikut:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ {1} لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ {2}
وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ {3} وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ {4}
وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5} لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6}

Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir,

aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.

Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.

Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. (Al Kafirun 1-6)

Jadi: terserah mereka mau mengatakan kita domba tersesat, namun kita juga akan tetap mengatakan mereka kafir kekal di neraka.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Konon ! Wali Tuh Tetap Sakti Walau Sudah Mati…

Bagi banyak orang, wali adalah segala-galanya, dan mampu melakukan segala-galanya.

Seakan mereka lupa bahwa kalaupun mereka benar wali, toh tetap saja mereka itu manusia biasa, tidak memiliki apa-apa, bahkan telah terbukti, menyelamatkan nyawanya sendiri dari malaikat Maut saja ndak kuasa. Bahkan sekedar untuk memasukkan jasadnya ke liang lahatnya juga ndak kuasa.

Lebih parah, ketika dimandikan, mereka tak kuasa menutupi auratnya, mereka membiarkan orang-orang melepaskan bajunya, untuk dimandikan, bahkan dibolak dan dibalikkan, lalu dibungkus dengan kain kafan.

Walau demikian, masih saja ada yang meyakini dongeng bahwa wali tuh walaupun sudah dimasukkan ke dalam kubur, para wali tersebut bisa leluasa gentayangan, keluar masuk kuburannya.

Mungkinkah masyarakat mulai menduga bahwa para wali lebih hebat dibanding Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Na’uzubillah min zalika.

Ndak percaya? Baca sendiri deh ayat berikut:

قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا {20} قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا {21} قُلْ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِن دُونِهِ مُلْتَحَدًا

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya”. Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan”. Katakanlah: Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya”.

Nampaknya kini kuburan yang berubah fungsi menjadi berhala telah menjamur, ada kuburan yang dijadikan tempat mencari nomer jitu, ada pula untuk mencari jodoh, kekayaan, dan bahkan banyak yang menyuguhkan sesajian ke kuburan-kuburan tersebut.

Mungkinkah kuburan-kuburan itu mulai bernasib serupa dengan kuburan Al Latta da Al Unzza?

Imam Malik meriwayatkan dalam kitabnya Al Muwata’, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

(اللهُّم لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَناً يُعبَد، اشْتَدَّ غَضَبُ الله عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ)

“Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Allah sangat murka terhadap kaum yang menjadikan kuburan nabi mereka sebagai masjid”.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid, bahwa Al Lata yang disebutkan dalam Al Qur’an adalah seorang lelaki shaleh yang memiliki rajin membuatkan adonan gandum dicampur minyak samin atau lainnya, untuk disajikan kepada jama’ah haji. Sepeninggalnya, orang musyrikin beri’tikaf di atas kuburannya. Penjelasan serupa juga diutarakan oleh sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Ternyata berhala tuh dahulunya adalah kuburan, atau patung orang-orang sholeeeeeh sekali.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Wali Asli Vs Wali Imitasi…

Mungkin anda sering denger kata wali, ada wali kelas, ada wali nikah, ada wali kota dan ada pula wali yang katanya sakti mandraguna.

Ketika mendengar dongeng tentang wali bisa jadi anda berdecak kagum, konon wali yang model ini sakti mandraguna, bisa terbang, bisa, sholat lima waktu di Makkah dan ada lagi yang kebal ndak mempan ditembak, mampu ngangkat gunung dan lain-lain.

Namun anehnya, ketika anda amati tingkah lakunya, anda semakin berdecak kagum, eh bingung. Betapa tidak, dari mereka ada yang ndak sholat, ndak mandi berbulan bulan, alias ndak pernah jum’atan, ada pula yang ngakunya sholat lima waktu di Makkah, alias ndak solat sama sekali, ada pula yang budil alias ndak pakai baju, hiiii, sereeem.

Benarkah demikian sobat?

Ndak usah bingung, mudah kok jawabannya, sebenarnya tuh ada dua model wali:
1. wali Allah
2. wali setan.

Wali Allah tuh, rajin sholat, menutup aurat, kalau sholat ya di masjid terdekat dengan rumahnya, rajin baca al qur’an, pokoknya mukmin banget gitu.

Allah Ta’ala berfirman:

(أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ {62} الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ )

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (Yunus 62-63)

Adapun wali setan tuh pasti aneh-aneh, males shalat, jarang atau ndak pernah wudhu, ndak sholat dan kerjanya baca mantra, bakar kemenyan, dan hobi dengan tempat keramat bin angker, hiiii, ampek mrinding bayanginya. Allah Ta’ala berfirman:

( يا بني آدم لا يفتننكم الشيطان كما أخرج أبويكم من الجنة ينـزع عنهما لباسهما ليريهما سوءاتهما إنه يراكم هو وقبيله من حيث لا ترونهم إنا جعلنا الشياطين أولياء للذين لا يؤمنون)

“Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat tertipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-peminpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al A’araf 27).

Pada ayat lain Allah juga berfirman:

(وإن الشياطين ليوحون إلى أوليائهم ليجادلوكم وإن أطعتموهم إنكم لمشركون)

“Sesungguhnya setan itu mewahyukan (membisikkan) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (Al An’am 121)

Piye, masih bingung bedain wali imitasi alias wali setan dari wali Allah? kalau masih bingung, saya jadi bingung njelaskannya.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله

Orang-Orang Yang Mengghibah Anda

Manusia membicarakan dirimu pada tiga keadaan : 

1. Tatkala mereka tidak memiliki apa yang engkau miliki,
2. Ketika mereka tak kuasa menjadi seperti dirimu,
3. Saat mereka tak mampu mencapai dirimu!

Dr Muhammad Majdu’ asy Syahri pengasuh situs aefaf.com penasihat masalah rumah tangga. 24/3/2016

Posted by Twit Ulama | twitulama.com | twitter, instagram, telegram : @twitulama

Dengan Do’a, Ndak Perlu Mantra…

Rumah angker, atau melintas di tempat angker? Jangan kawatir, ndak usah panggil mbah dukun atau baca mantra atau pakai ajimat, percayakan semuanya kepada Allah, dengan membaca do’a berikut:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Aku berlindung dengan Kalimat-kalimat Allah Yang Maha Sempurna dari segala kejahatan segala makhluq yang Ia ciptakan”

Sahabat Khaulah binti Hakim radliallahu ‘anha menuturkan :

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (من نزل منـزلاًفقال: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، لم يضرَّه شيئ حتَّى يرتحل من منـزله ذلك)، رواه مسلم.

“Aku mendangar Rasulullah bersabda :”Barang siapa yang singgah di suatu tempat, kemudian mengucapkan do’a’ : Aku berlindung dengan Kalimat-kalimat Allah Yang Maha Sempurna dari segala kejahatan yang Ia ciptakan, maka ia tidak akan diganggu oleh sesuatu apa pun, sampai ia meninggalkan tempat tersebut”, (Hadits riwayat Muslim)

Tinggalkan dukun, mantra, ajimat dan yang serupa, segera percayakan segala urusan anda kepada Allah Ta’ala, beres deh.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله

Hukum Qadha Puasa Setelah Memasuki Pertengahan Sya’ban…

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Jika sudah masuk pertengahan Sya’ban, janganlah berpuasa.” (HR. Abu Daud, At-Turmudzi, dan Ibnu Majah; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Al-Munawi memberikan keterangan untuk hadis ini: “Maksud hadis, terlarang bagi kalian untuk memulai puasa tanpa sebab, sampai masuk bulan Ramadhan” (Faidhul Qadir, 1:304)

Yang dimaksud “puasa tanpa sebab” adalah puasa sunah mutlak. Karena itu, larangan dalam hadis ini tidak mencakup puasa qadha’ bagi orang yang memiliki utang puasa Ramadhan. Bahkan kaum muslimin yang memiliki utang puasa, dia wajib menqadha’nya sebelum datang Ramadhan berikutnya.

Aisyah menceritakan (yang artinya) : “Dulu aku memiliki utang puasa Ramadhan, sementara aku tidak bisa mengqadha’nya kecuali sampai bulan Sya’ban, karena sibuk melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Aisyah sebagai istri yang sholehah, beliau memberikan pelayanan yang maksimal kepada suaminya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk mewujudkan hal ini, Aisyah menyiapkan dirinya untuk melayani suaminya kapanpun yang beliau inginkan. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menunaikan hajatnya dengan istri beliau, di semua kesempatan. Dan demikianlah yang dilakukan para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berlomba semaksimal mungkin menyuburkan cinta dari suaminya terhadap dirinya. (Simak keterangan Dr. Musthofa Al-Bagha utnuk shahih Bukhari hadis no. 1950).

Karena itu, sekali lagi, bagi Anda yang memiliki utang puasa, dan sampai pertengahan Sya’ban belum diqadha, maka segeralah diqadha, dan jangan ditunda sampai Ramadhan berikutnya.

Allahu a’lam

Ammi Nur Baits,  حفظه الله تعالى


Ref : https://konsultasisyariah.com/12422-hukum-qadha-puasa-setelah-masuk-pertengahan-syaban.html 

Menebar Cahaya Sunnah