Wali Asli Vs Wali Imitasi…

Mungkin anda sering denger kata wali, ada wali kelas, ada wali nikah, ada wali kota dan ada pula wali yang katanya sakti mandraguna.

Ketika mendengar dongeng tentang wali bisa jadi anda berdecak kagum, konon wali yang model ini sakti mandraguna, bisa terbang, bisa, sholat lima waktu di Makkah dan ada lagi yang kebal ndak mempan ditembak, mampu ngangkat gunung dan lain-lain.

Namun anehnya, ketika anda amati tingkah lakunya, anda semakin berdecak kagum, eh bingung. Betapa tidak, dari mereka ada yang ndak sholat, ndak mandi berbulan bulan, alias ndak pernah jum’atan, ada pula yang ngakunya sholat lima waktu di Makkah, alias ndak solat sama sekali, ada pula yang budil alias ndak pakai baju, hiiii, sereeem.

Benarkah demikian sobat?

Ndak usah bingung, mudah kok jawabannya, sebenarnya tuh ada dua model wali:
1. wali Allah
2. wali setan.

Wali Allah tuh, rajin sholat, menutup aurat, kalau sholat ya di masjid terdekat dengan rumahnya, rajin baca al qur’an, pokoknya mukmin banget gitu.

Allah Ta’ala berfirman:

(أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ {62} الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ )

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (Yunus 62-63)

Adapun wali setan tuh pasti aneh-aneh, males shalat, jarang atau ndak pernah wudhu, ndak sholat dan kerjanya baca mantra, bakar kemenyan, dan hobi dengan tempat keramat bin angker, hiiii, ampek mrinding bayanginya. Allah Ta’ala berfirman:

( يا بني آدم لا يفتننكم الشيطان كما أخرج أبويكم من الجنة ينـزع عنهما لباسهما ليريهما سوءاتهما إنه يراكم هو وقبيله من حيث لا ترونهم إنا جعلنا الشياطين أولياء للذين لا يؤمنون)

“Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat tertipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-peminpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al A’araf 27).

Pada ayat lain Allah juga berfirman:

(وإن الشياطين ليوحون إلى أوليائهم ليجادلوكم وإن أطعتموهم إنكم لمشركون)

“Sesungguhnya setan itu mewahyukan (membisikkan) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (Al An’am 121)

Piye, masih bingung bedain wali imitasi alias wali setan dari wali Allah? kalau masih bingung, saya jadi bingung njelaskannya.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله

Orang-Orang Yang Mengghibah Anda

Manusia membicarakan dirimu pada tiga keadaan : 

1. Tatkala mereka tidak memiliki apa yang engkau miliki,
2. Ketika mereka tak kuasa menjadi seperti dirimu,
3. Saat mereka tak mampu mencapai dirimu!

Dr Muhammad Majdu’ asy Syahri pengasuh situs aefaf.com penasihat masalah rumah tangga. 24/3/2016

Posted by Twit Ulama | twitulama.com | twitter, instagram, telegram : @twitulama

Dengan Do’a, Ndak Perlu Mantra…

Rumah angker, atau melintas di tempat angker? Jangan kawatir, ndak usah panggil mbah dukun atau baca mantra atau pakai ajimat, percayakan semuanya kepada Allah, dengan membaca do’a berikut:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Aku berlindung dengan Kalimat-kalimat Allah Yang Maha Sempurna dari segala kejahatan segala makhluq yang Ia ciptakan”

Sahabat Khaulah binti Hakim radliallahu ‘anha menuturkan :

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (من نزل منـزلاًفقال: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، لم يضرَّه شيئ حتَّى يرتحل من منـزله ذلك)، رواه مسلم.

“Aku mendangar Rasulullah bersabda :”Barang siapa yang singgah di suatu tempat, kemudian mengucapkan do’a’ : Aku berlindung dengan Kalimat-kalimat Allah Yang Maha Sempurna dari segala kejahatan yang Ia ciptakan, maka ia tidak akan diganggu oleh sesuatu apa pun, sampai ia meninggalkan tempat tersebut”, (Hadits riwayat Muslim)

Tinggalkan dukun, mantra, ajimat dan yang serupa, segera percayakan segala urusan anda kepada Allah Ta’ala, beres deh.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله

Hukum Qadha Puasa Setelah Memasuki Pertengahan Sya’ban…

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Jika sudah masuk pertengahan Sya’ban, janganlah berpuasa.” (HR. Abu Daud, At-Turmudzi, dan Ibnu Majah; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Al-Munawi memberikan keterangan untuk hadis ini: “Maksud hadis, terlarang bagi kalian untuk memulai puasa tanpa sebab, sampai masuk bulan Ramadhan” (Faidhul Qadir, 1:304)

Yang dimaksud “puasa tanpa sebab” adalah puasa sunah mutlak. Karena itu, larangan dalam hadis ini tidak mencakup puasa qadha’ bagi orang yang memiliki utang puasa Ramadhan. Bahkan kaum muslimin yang memiliki utang puasa, dia wajib menqadha’nya sebelum datang Ramadhan berikutnya.

Aisyah menceritakan (yang artinya) : “Dulu aku memiliki utang puasa Ramadhan, sementara aku tidak bisa mengqadha’nya kecuali sampai bulan Sya’ban, karena sibuk melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Aisyah sebagai istri yang sholehah, beliau memberikan pelayanan yang maksimal kepada suaminya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk mewujudkan hal ini, Aisyah menyiapkan dirinya untuk melayani suaminya kapanpun yang beliau inginkan. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menunaikan hajatnya dengan istri beliau, di semua kesempatan. Dan demikianlah yang dilakukan para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berlomba semaksimal mungkin menyuburkan cinta dari suaminya terhadap dirinya. (Simak keterangan Dr. Musthofa Al-Bagha utnuk shahih Bukhari hadis no. 1950).

Karena itu, sekali lagi, bagi Anda yang memiliki utang puasa, dan sampai pertengahan Sya’ban belum diqadha, maka segeralah diqadha, dan jangan ditunda sampai Ramadhan berikutnya.

Allahu a’lam

Ammi Nur Baits,  حفظه الله تعالى


Ref : https://konsultasisyariah.com/12422-hukum-qadha-puasa-setelah-masuk-pertengahan-syaban.html 

150 Hari Terbuang Sia-Sia…

Orang-orang yang membuang waktunya 10 menit saja tiap harinya selama 60 tahun, sama dengan total 150 hari. Perhatikan! Berapa waktu yang telah kita buang tiap harinya?!

Dr. Umar Al Muqbil, حفظه الله
dosen hadits di Fakultas Syari’ah Universitas Al Qashim, Wakil Ketua di Lembaga Ilmiah untuk Studi Al Qur’an, Saudi Arabia.

Courtesy of Twit Ulama

Selayang Pandang Infaq…

Alhamdulillah..
banyak orang yang semangat membantu saudara saudara kita..
di palestina, di suriah, di negara negara sana..
sungguh..
ini menunjukkan kepedulian terhadap sesama muslim..
namun..
di negeri ini..
kaum muslimin pun amat membutuhkan bantuan..
banyak yang terlilit hutang..
banyak yang terpuruk perekonomian..
banyak yang hidup dalam kesusahan..
menjadi mangsa mangsa empuk kristenisasi dan syiahisasi..

Tidakkah hati kita lebih peduli dengan yang ada di sekeliling kita..
padahal..

Membantu para janda dan kaum dluafa..
sama pahalanya dengan jihad fi sabiilillah..
sama dengan orang yang selalu sholat malam dan puasa..
sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam..
dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim..

Marilah saudaraku..
kita selamatkan aqidah saudara saudara kita..
dengan segala kemampuan kita..
dengan ilmu, harta dan doa..

Badru Salam, حفظه الله

Repost By :
Insanpeduli.com

Ngrasa Perkasa, Padahal Loyooooo…

Orang kuat tuh yang bertawakkal hanya kepada Allah Ta’ala. Ia takut hanya kepada Allah, mengharap hanya kepada Allah, menanti pertolongan hanya dari Allah.

Adapun orang yang ditubuhnya deembel-ebeli ajimat atau mantra atau nama-nama setan, maka sejatinya mereka itu lemah alias loyo.

Sahabat Imran bin Khusain radliallahu ‘anhu mengisahkan :

أَنَّ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم رأى رجلاً في يده حَلْقًةٌ من صفرٍ، فقال: “ما هذه؟”. قال: من الواهنَة، فقال: “انزِعْها؛ فإِنَّها لا تزيدك إلاَّ وَهَناً؛ فإنَّك لو متَّ وهي عليك ما أفلحت أبداً.” رواه أحمد بسند لا بأس به.

Bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari melihat seseorang memakai gelang dari kuningan, lalu beliau bertanya: “Apakah ini?”, ia menjawab : gelang penangkal penyakit loyo “al-wahinah”. Segera beliau perintahkan lelaki itu untuk menanggalkan gelang itu dengan bersabda : “Lepaskanlah, karena sesungguhnya gelang itu tiada gunanya, selain semakin menambah dirimu semakin loyo, seandainya engkau mati dan gelang itu masih ada padamu, maka engkau tiada pernah beruntung selama-lamanya.” (Hadits riwayat Ahmad).

Apalagi orang yang sumber kekuatannya berasal dari setruman alias ces-cesan dari mbah dukun atau juru kunci kuburan, maka ya sudah barang tentu semakin loyo dan loyo.

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al Jin 6)

Sobat! jadilah orang kuat sejati, yaitu dengan bertawakkal kepada Allah Ta’ala Yang Maha Kuat, bukan dengan minum obat kuat, apalagi memakai ajimat atau komat-kamit membaca mantra-mantra untuk memanggil khodam, atau ngecas kekuatan lewat mbah dukun.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله

Faedah…

Dalam kitab Jami’ul ulum wal hikam, Al Hafidz ibnu Rojab rahimahullah berkata:

وأما ما وقع في كلام السلف من استحسان بعض البدع فإنما ذلك في البدع اللغوية لا الشرعية

Adapun yang terdapat pada ucapan salaf berupa penganggapan baik sebagian bid’ah, maksudnya adalah bid’ah secara bahasa bukan secara syari’at.
(ilmu ushul bida’ hal 127)

Sesuatu yang dianggap bid’ah secara bahasa belum tentu dianggap secara syari’at.
Karena bid’ah secara bahasa artinya segala sesuatu yang dibuat buat dan sebelumnya tidak ada.

Contohnya Umar bin khothob berkata tentang sholat tarawih:
Sebaik baiknya bid’ah adalah ini.
Sholat tarawih bukanlah perkara bid’ah secara syariat, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam melakukannya.
Umar mengatakan bid’ah karena dilakukan tiap malam secara berjama’ah dengan satu imam.
Sedangkan Nabi hanya melakukannya tiga malam saja.
Beliau tinggalkan karena takut diwajibkan atas umatnya.

Inilah penghalang Nabi melakukannya setiap malam. Dan penghalang ini sudah tidak ada di zaman Umar, karena wahyu telah terputus dan tidak mungkin diwajibkan lagi.

Badru Salam,  حفظه الله

Harapan Atau Angan-Angan…?

Ibnul Qoyyim, rohimahullah :

Perbedaan antara harapan dan angan-angan : harapan diiringi dengan usaha dan tawakkal yang baik adapun angan-angan disertai dengan rasa malas, dan orang yang berangan-angan tidak melakukan usaha yang kuat dan tidak bersungguh-sungguh

Muhammad Sa’id Al Qahthani,  حفظه الله

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Menebar Cahaya Sunnah