Untuk Kita Sebagai Anak…

Seorang lelaki tua (awam) mengira
bahwa handphonenya rusak/tak
berfungsi. Dibawanya hp itu untuk
diperbaiki.

Seorang pemuda bilang bahwa hp-nya
itu tidak bermasalah sama sekali.
Bapak tua pun bergumam kepada
pemuda itu:

“Lantas kenapa anak-anakku tidak ada
yang menghubungiku?

Ahmad Isa al Mu’sharawi, حفظه الله تعالى

Courtesy of Twit Ulama

image

Hakekat Kesyirikan…

Jika kamu bilang: Sesungguhnya para penyembah kubur meyakini bahwa Allah sajalah yang sanggup memudharatkan dan memberi manfaat, kebaikan dan keburukan hanya di Tangan-Nya. Dan jikalau mereka minta pertolongan dengan orang mati hanyalah agar orang-orang mati itu melancarkan permintaan mereka dari Allah Ta’aala.

Saya bilang: Seperti itulah dahulu orang-orang Jahiliyah. Dahulu mereka mengetahui bahwa Allah satu-satunya yang memberi manfaat dan memudharatkan, dan bahwasanya kebaikan dan keburukan hanya di Tangan-Nya, melainkan mereka beribadah kepada berhala agar berhala tersebut mendekatkan diri-diri mereka kapada Allah dengan sedekat-dekatnya sebagaimana yang telah Allah ceritakan di dalam kitab-Nya yang mulia.

Durrun Nadhiidh, Muhammad bin Ali Syaukani (1173-1250)

Jafar Salih, حفظه الله تعالى

Apa Yang Dilakukan Wanita Haid Ketika Terjadi Gerhana?…

Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, حفظه الله تعالى

Soal:

Saya seorang wanita, apa yang bisa saya amalkan ketika didirikan sholat gerhana sedangkan saya memiliki udzur syar’i ini (haid)?

Jawab:

Alhamdulillah,

Pertama, yang disyariatkan ketika terjadinya gerhana – bulan maupun matahari – kepada seorang muslim adalah meningkatkan rasa takutnya kepada Allah sehingga dia mengerjakan sholat (gerhana), memperbanyak dzikir, doa, dan memohon ampun, memperbanyak sedekah, dan amal-amal shalih lain.

Dari Abu Mas’ud Al Anshory radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah yang Dia gunakan untuk menakuti hamba-hambaNya. Sesungguhnya terjadinya gerhana keduanya bukan karena kematian seseorang. Jika engkau melihat gerhana, maka dirikanlah sholat dan berdoalah kepada Allah hingga disingkapkan kembali untuk kalian”

(HR Bukhari (1041), Muslim (911), lafadz ini milik Muslim).

Al Bukhari (nomor 1059), dan Muslim (nomor 2156) melalui Abu Musa radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

Terjadi gerhana matahari, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena takut khawatir terjadi kiamat. Maka Beliau mendatangi masjid dan melaksanakan sholat dengan panjang berdiri, ruku’, dan sujud yang tidak aku lihat selain saat itu, Kemudian Beliau bersabda ‘Ini adalah tanda-tanda yang dikirimkan oleh Allah, bukan karena meninggalnya seseorang, bukan pula karena lahirnya seseorang. Allah menakuti hamba-hambaNya dengan tanda-tanda ini. JIka kalian melihat peristiwa ini, maka takutlah kalian dengan berdzikir, berdo’a, dan memohon ampun kepada Allah’”.

Ibnu Baththal rahimahullah berkata: “Sabda Beliau ‘takutlah kalian dengan berdzikir, berdoa’a, dan memohon ampun kepada Allah’ disebutkan oleh Al Bukhari dalam bab ‘Dzikir pada Saat Terjadi Gerhana’, Al Bukhari memberi catatan: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salalm memerintahkan untuk berdo’a dan memohon ampun ketika terjadi gerhana sebagaimana Beliau memerintahkan sholat’. Ini menunjukkan bahwa yang datang dari Nabi bukan sekedar perintah untuk sholat gerhana saja, akan tetapi yang diinginkan dari setiap muslim adalah semua amalan yang mendekatkan dirinya kepada Allah dengan sholat, do’a, istighfar, dan lainnya”. Sekian penjelasan Beliau dalam kitab Beliau “Syarah Shahihul Bukhari”.

Maka wanita dalam hal ini sama halnya dengan laki-laki karena keumuman nash. Maka disyariatkan juga untuk kaum wanita, apa yang disyariatkan untuk kaum lelaki seperti sholat, do’a, istighfar, sedekah, dan lainnya.

Dan apabila seorang wanita mendapati udzur syar’i sehingga dia tidak bisa mengerjakan sholat, dia bisa mengerjakan amalan lain yang juga disyariatkan saat terjadinya gerhana seperti do’a, sedekah, istighfar, berdzikir kepada Allah, dan amalan-amalan lain yang mendekatkan dirinya kepada Allah.

Wallahu a’lam.

***

Sumber: https://islamqa.info/ar/228904

Courtesy of Muslimah.or.id

image

Tata Cara Sholat Gerhana Bila Melihat Gerhana Bulan Atau Matahari

Tata cara sholat gerhana adalah sebagai berikut :

1.    Takbiratul ihrom

2.    Membaca do’a istiftah kemudian berta’awudz, dan membaca surat Al Fatihah dilanjutkan membaca surat yang panjang.

3.    Kemudian ruku’, dengan memanjangkan ruku’nya.

4.    Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ‘sami’allaahu liman hamidah, robbanaa wa lakal hamd..’.

5.    Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.

6.    Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ yang pertama.

7.    Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ‘sami’allaahu liman hamidah, robbanaa wa lakal hamd..’, kemudian berhenti dengan lama.

8.    Kemudian melakukan dua kali sujud dengan memanjangkannya, diantara keduanya melakukan duduk antara dua sujud sambil memanjangkannya.

9.    Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan roka’at kedua sebagaimana roka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.

10.  Tasyahud.

11.  Salam.

(Lihat : Al Mughni karya Ibnu Qudamah 3/313, dan Al Majmu’ karya Imam Nawawi 5/48)

Courtesy of Muslimah.or.id

image

Berburuk Sangka Kepada Allah…

Isilah titik-titik di bawah ini dan mohon dijawab dengan jujur di dalam hati kita masing-masing …mohon tidak membaca kebawah sebelum soal dijawab ya… mari kita perhatikan:

1. Allah menciptakan tertawa dan ……….
2. Allah itu mematikan dan ………….
3. Allah menciptakan laki-laki dan ………..
4. Allah memberikan kekayaan dan ……….

Sekarang mari kita bahas. Mayoritas kita tentu akan dengan mudah menjawab:
1. ….dan Menangis 
2. …dan Menghidupkan
3. …… dan Perempuan

Tapi bagaimana dengan no.4 …? Apakah jawabannya Kemiskinan …?

Untuk mengetahui jawabannya, mari kita lihat rangkaian firman Allah dalam Surah An-Najm ayat 43-45, dan 48, sebagai berikut:
Jawaban no 1:

ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﺿْﺤَﻚَ ﻭَﺃَﺑْﻜَﻰ
“dan Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS. An-Najm: 43)

Jawaban no 2:
ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﻣَﺎﺕَ ﻭَﺃَﺣْﻴَﺎ
“dan Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan.” (QS. An-Najm: 44)

Jawaban no 3:
ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺰَّﻭْﺟَﻴْﻦِ ﺍﻟﺬَّﻛَﺮَ ﻭَﺍﻟْﺄُﻧﺜَﻰ
“dan Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan. ” (QS. An-Najm: 45)

Jawaban no 4: 
ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﻏْﻨَﻰ ﻭَﺃَﻗْﻨَﻰ
“dan Dia-lah yang memberikan kekayaan dan kecukupan.” (QS. An-Najm: 48)

Ternyata jawaban kita yg benar hanya pada no. 1-3 … sedangkan jawaban untuk no. 4 keliru dan kita sudah berburuk sangka kepada Allah 

Subhanallah..
Sesungguhnya Allah Ta’ala hanya memberi Kekayaan dan Kecukupan kepada hamba-Nya.

Ternyata yang “menciptakan” Kemiskinan adalah diri kita sendiri.
Kemiskinan itu kita bentuk di dalam pola pikir kita sendiri.
Itulah hakikatnya, mengapa orang-orang yang senantiasa bersyukur; walaupun hidup pas-pasan ia akan tetap tersenyum dan merasa cukup, bukan merasa miskin.

Courtesy of Konsultasi Syariah

Bahaya Melepaskan Pandangan Tanpa Kendali

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan:

“Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya
bagi seorang hamba daripada tindakan
“melepaskan pandangan”, karena
sesungguhnya dia bisa menjatuhkan
seorang hamba pada keadaan “asing
yang menakutkan” antara dia dengan
Rabbnya..”

[Adda’ wad Dawa’, hal:416]

Ustadz Musyaffa’ ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Musibah Yang Menimpa Agama…

Yazid bin Aban ar-Raqasyi rahimahullah berkata: “Suatu saat aku terluput dari sholat berjama’ah. Maka orang yang menyatakan ungkapan turut berduka cita hanya Abu Ishaq al-Bukhari seorang diri.”

Seandainya aku ditinggal mati seorang anak lelaki, niscaya lebih dari sepuluh orang yang akan berta’ziyah kepadaku sekarang ini. Hal itu disebabkan bagi manusia musibah dalam urusan dunia itu lebih besar daripada musibah yang menimpa agama.

(Kitab at-Tahajjud oleh Abdul Haq al-Isybili, hal. 55)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Hidayah Dari Sebuah Warung Kopi…

Dalam suatu majelisnya, Syaikh Utsman al-Khomis ditanya, “Hal apakah yang bisa menjadi sebab datangnya hidayah dan keistiqomahan pada seseorang?” Beliau menjawab, “Sangat banyak hal yang bisa mendatangkan hidayah. Di antaranya beliau bercerita tentang seorang pemuda Libiya yang diberi hadiah buku saku tentang dzikir oleh seorang pemuda dari Arab Saudi”. Kurang lebih, cerita beliau adalah sebagai berikut:

Ada seorang warga Libia, ia bersama ibu dan seorang saudari perempuannya pindah dari Libia untuk menetap di London. Ia mengatakan, di antara kami bertiga hanya ibuku saja yang shalat. Aku dan saudariku tidak shalat bahkan tidak mengerti shalat.

Suatu hari, aku datang di suatu kedai kopi, aku berkenalan dengan seorang laki-laki dari Arab Saudi. Di akhir perjumpaan, dia memberiku sebuah buku saku tentang dzikir. Aku merasa pemberiannya ini tidak bermanfaat sama sekali, shalat saja aku tidak, apalagi membaca dzikir. Tapi karena merasa tidak enak menolak, aku pun menerima pemberiannya dan kusimpan di saku baju. Sesampainya di rumah, kukeluarkan dari saku bajuku buku yang ia berikan, lalu kulemparkan hingga terperosok di bawah lemariku.

Setelah beberapa hari, di suatu malam, seperti biasa aku pulang dari aktivitas lalu aku menonton televisi. Aku mencari acara yang menarik di TV, dari chanel ke chanel lainnya namun tidak ada acara yang membuat aku tertarik. Lalu kubuka majalah, tidak juga aku merasa berselera berlama-lama membacanya. Setelah itu berselancar di dunia maya, juga tidak ada yang memikat perhatianku. Sudah, kututup pintu kamar dan tirai jendela, aku pun bersiap tidur.

Kubolak-balikkan badan, namun tidak juga rasa kantuk itu datang. Malah aku teringat akan buku saku yang diberikan laki-laki Arab Saudi tempo hari itu. Susah payah, akhirnya aku berhasil mengeluarkan buku itu dari bawah kolong lemariku.

Saat kubuka buku itu, ternyata berisi, barangsiapa mengamalkan ini akan mendapatkan hal ini, barangsiapa mengamalkan demikian maka pahalanya demikian. Saat itu, kondisi jiwaku adalah kondisi seseorang yang telah berputus asa dari rahmat Allah karena banyaknya dosa-dosa yang telah aku lakukan. Aku adalah seseorang yang telah berpasrah diri kalau ditetapkan sebagai penghuni neraka. Saat kubaca buku itu, ternyata pengampunan dosa dari Allah demikian mudahnya. Buku itu benar-benar memberikan kesan yang dalam bagi diriku. Hingga tak terasa aku membacanya hingga datang waktu subuh.

Saat itu kulihat ibuku sedang menunaikan shalat. Selesainya ibuku dari shalat, kukatakan kepadanya, “Ibu, aku ingin shalat”. Ibuku menjawab, “Mandilah terlebih dahulu”. Aku pun mandi kemudian menunaikan shalat. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi meninggalkan shalat.

Diceritakan kepada Syaikh Utsman al-Khomis bahwa orang ini kemudian menjadi seorang da’i yang cukup dikenal di London. Ia sangat bersemangat dalam berdakwah hingga mendakwahkan Islam di jalan-jalan ketika berjumpa dengan orang-orang non-Islam. Dan banyak orang mendapatkan hidayah Islam melalui dirinya.

Pelajaran:

1.Jangan remehkan hadiah sekecil apapun.

2.Jangan memvonis seseorang sudah tertutup darinya hidayah.

3.Biasakanlah memberi hadiah-hadiah yang bermanfaat kepada orang-orang untuk melembutkan hati mereka menerima dakwah.

4.Seseorang dengan profesinya masing-masing bisa memberikan hadiah. Seorang dosen bisa memberikan buku-buku bermanfaat kepada mahasiswanya karena nilai ujiannya yang baik atau lain sebagainya. Seorang pengusaha bisa memberikan hadiah kepada relasinya saat di awal jumpa. Seorang teman memberikan hadiah kepada temannya. Dll. Mungkin akan datang suatu hari, Allah bukakan kebaikan bagi mereka yang diberi hadiah tersebut.

5.Berdakwah bisa dilakukan dimana saja, sampai berjumpa dengan seseorang di sebuah warung kopi pun adalah kesempatan untuk berdakwah.

Sumber : kisah muslim

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Menebar Cahaya Sunnah