Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Tak Bermadzhab… ?

Sebagian orang mengatakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam dakwahnya telah menyelisihi para ulama, tidak menghiraukan perkataan mereka, tidak pula merujuk kepada kitab-kitab mereka. Bahkan beliau dituduh telah menciptakan ajaran baru dan membawa pemahaman madzhab yang kelima.

Sebaik-baik bantahan atas tuduhan ini adalah pengakuan beliau sendiri, “Aku adalah orang yang ber taqlid kepada Kitab dan Sunnah, serta para salafus salih. Aku juga bergantung dengan perkataan para imam madzhab yang empat; Imam Abu Hanifah al-Nu’man bin Tsabit, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Semoga Allah merahmati mereka semua.” (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/97).

“Seandainya kalian mendapatkan fatwaku menyelisihi ijma’ para ulama, maka tunjukkan padaku.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah : I/53)

“Jika kalian mengira bahwa para ulama telah menyelisihi apa yang aku ajarkan, sesungguhnya di hadapan kalian ada kitab-kitab mereka, (bacalah dengan seksama dan bandingkan dengan apa yang kuajarkan).” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah : II/58).

“Aku selalu membandingkan perkataan orang yang bermadzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i maupun Hambali dengan perkataan ulama yang mu’tamad (terpercaya) dalam madzhab tersebut.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah : I/82).

“Walhasil yang aku ingkari adalah pengkultusan terhadap selain Allah ta’ala . Maka jika ajaranku bersumber dari pendapatku sendiri, atau dari buku yang tidak tepercaya, atau semata-mata dari hasil taqlid ku kepada para ulama mazhabku (mazhab Hambali); maka buanglah jauh-jauh ajaranku. Namun jika ajaranku bersumber dari Kitab dan Sunnah serta Ijma’ para ulama dari berbagai mazhab; maka tidak layak bagi orang yang beriman terhadap Allah ta’ala dan hari akhir, untuk menolaknya; hanya gara-gara kebanyakan orang di zamannya, atau di negerinya menyelisihi ajaran tersebut.” (Kitab ad-Durar as-Saniyah : I/76).

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Sungguh Aneh…

Sungguh aneh orang yang menghalalkan homoseksual dengan dalih bahwa ini sudah dari sananya !!!

Kalau begitu halalkan saja semua kelainan, dan semua penyimpangan dan perbuatan abnormal dan asusila !!

Halalkan saja kalau ada yang tidak normal sehingga suka berhubungan seks dengan hewan !, demikian juga seorang yang tidak normal dan suka berhubungan seks dengan cara kekerasan atau menyiksa !!, demikian juga perbuatan biseks !!

Kalau ada orang punya hoby mencuri dan mengintip istri orang lain, maka halalkan saja, toh hobinya itu sudah ada di hatinya, sudah dari sananya ?!

Kalau istrinya (para pengahalal) jatuh cinta pada istri orang lain?, atau suaminya jatuh cinta pada lelaki lain?, kalau anaknya ternyata jatuh cinta dan ingin nikah sama saudara kandungnya sendiri?! Maka silahkan halalkan saja.

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Transgender : Gender Imitasi…

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Ustadz, Ada seorang teman bertanya: Beberapa hari yang lalu ada pembahasan tentang LGBT di salah satu TV swasta. Salah satu yang bikin menarik adalah fakta yang disampaikan oleh si narasumber (yang mengaku gay), bahwa karena para waria ditolak beribadah di masjid umum, sehingga mereka membangun masjid sendiri. Bukan bermaksud menilai ibadah orang lain, tapi apakah sah shalat para kaum lgbt, dalam hal ini orang-orang transgender? (seperti bencong di Indonesia). Trus bagi masjid yang menolak mereka untuk beribadah, apakah hal tersebut dibenarkan? Demikian ummi, terima kasih. Mohon penjelasannya ust.

———–

Jawaban:

Bismillah, was sholatu wassalamu ala rosulillah, amma ba’du:

Pertanyaan di atas, bisa dijawab dengan beberapa poin berikut ini:

1. Transgender, atau mengubah jenis kelamin adalah dosa besar, pelakunya dilaknat oleh syariat… Meskipun demikian, dosa besar ini tidak sekaligus mengeluarkan seseorang dari Islam… sehingga orang yang ber-transgender, bukan berarti langsung murtad… karena itu bukan dosa kekufuran, wallohu a’lam.

2. Gender adalah kehendak Allah yang tidak bisa diubah sama sekali… Dia tidak hanya terbatas pada alat vital dan bentuk lahir tubuh… tapi dia adalah keseluruhan jiwa dan raga seseorang… bahkan tidak bisa dipungkiri, perbedaan RAGA antara pria dan wanita tidak hanya pada bagian-bagian yang tampak secara kasat mata saja.

Sehingga bukan berarti ketika Mr.P dihilangkan dan diubah menjadi Ms.V, orang tersebut menjadi wanita… sebaliknya bukan berarti ketika Ms.V menjadi Mr.P, orang tersebut menjadi pria.

Manusia adalah makhluk yang terbatas… tidak semua yang dia lakukan, bisa mengubah hakekat sesuatu… Ada hal-hal yang tidak mungkin diubah oleh manusia.

Bisa diambil contoh ketika manusia ingin mengubah dirinya menjadi kera, atau orang utan… apapun operasi yang dia lakukan untuk menjadikan dirinya kera atau orang utan, itu tidak akan mengubah hakekat dia sebagai manusia.

Contoh lain, orang yang dilahirkan sebagai anak pak selamet… apapun yang dia lakukan dengan usaha bagaimanapun, itu tidak akan bisa menjadikan dirinya menjadi anaknya pak rahmat.

Contoh lagi, orang yang dilahirkan dengan darah bangsawan, apapun yang dilakukannya, tidak akan mengubah garis keturunannya sama sekali, karena itu semua sudah ketentuan Allah dan Dia maha melakukan apa yang Dia kehendaki.

Begitu juga dengan gender, apapun yang dilakukan oleh manusia dengan tubuhnya… itu tidak akan mengubah hakekat gender yang telah diputuskan Allah untuknya… yang terlahir sebagai pria, maka selamanya, hakekat dirinya adalah pria… dan yang terlahir sebagai wanita, maka selamanya hakekat dirinya adalah wanita.

Memang benar, dia bisa mengelabui mata, sehingga sekilas tampak sebagai wanita… tapi itu hanya tipuan saja… hakekat dirinya tidak akan berubah sama sekali.

Jadi, status orang yang ber-transgender itu dikembalikan kepada asal gender dia saat dilahirkan… yang asalnya pria, dihukumi sebagai pria… yang asalnya wanita dihukumi sebagai wanita.

3. Shalat orang yang ber-transgender tetap sah, selama ikhlas dan memenuhi syarat dan rukunnya.

Tapi yang perlu ditekankan di sini, bahwa syarat rukun ini berdasarkan hakekat gender dia… bukan gender buatan atau gender tipuan dia… sehingga yanh hakekat dirinya pria, maka harus shalat bersama jama’ah pria dan sesuai cara shalat jama’ah pria… dan yg hakekat dirinya wanita dia harus shalat bersama jama’ah wanita dan sesuai cara shalat jama’ah wanita.

Tidak dibolehkan bagi siapapun untuk menyerupai lawan jenisnya… baik yang sudah ber-transgender ataupun yang belum… baik dalam berpakaian, atau dalam gaya bicara, atau dalam gerak-geriknya… baik itu dilakukan dengan bercanda ataupun dengan sungguh-sungguh… karena semua tindakan menyerupai lawan jenis dilaknat oleh Syariat Islam.

4. Masjid yang menolak mereka yang ‘bergender imitasi’ untuk beribadah di dalamnya, ada dua kemungkinan:

a. Jika menolak sama sekali… ini tidak bisa dibenarkan, karena mereka masih berkewajiban shalat… Asalkan mereka memakai pakaian yang sesuai dengan hakekat gendernya, dan memasuki ruangan masjid yang sesuai dengan hakekat gendernya, maka tidak ada alasan untuk melarang mereka beribadah di dalam masjid.

b. Jika masjid menolak mereka, karena mereka memang tidak mau ditertibkan… hakekatnya pria, tapi masuk ke ruangan wanita… begitu pula sebaliknya, hakekatnya wanita, tapi masuk ke ruangan pria, maka melarang mereka dalam keadaan seperti ini sangat dibenarkan… bahkan diwajibkan dalam Islam… dan kasus inilah yang banyak terjadi di lapangan. wallohu a’lam.

5. Adanya masjid khusus untuk mereka yang ber-transgender, ini adalah kemungkaran yang harus dihilangkan… karena hal itu akan menumbuh-suburkan kebiasan yang telah dilaknat Allah… apalagi tentunya dalam masjid itu akan terjadi hal-hal yang terbalik dan bertentangan dengan aturan ibadah dalam Islam… jama’ah yang hakekatnya wanita, shalat dengan tata cara shalatnya pria… sebaliknya jama’ah yang hakekatnya pria, shalat dengan tata cara shalatnya wanita… maka kerusakan apalagi yang lebih dahsyat dari ini. wallohul mustaan.

wallohu a’lam.

Demikian, semoga penjelasan di atas jelas dan bermanfaat.

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hari Valentine : Hari Zina Internasional…

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah

Di antara bencana yang menimpa pemuda Islam adalah sikap latah meniru kebiasaan orang kafir. Salah satu di antaranya, memeriahkanValentine’s DayValentine’s day, 100% datang dari orang kafir.

Kita semua sepakat bahwa valentine datang dari budaya non muslim. Terlalu banyak referensi tentang sejarah dan latar belakang munculnya hari valentine, yang mengupas hal itu. Saking banyaknya, mungkin kuranng bijak jika kami harus mengulas ulang pembahasan yang sudah berceceran tentang sejarah valentine’s. Untuk itu, kami di sini hanya ingin meyakinkan bahwa valentine murni dari orang kafir.

Klaim: Kami mengakui bahwa valentine’s day buatan orang kafir, tapi kami sama sekali tidak melakukan ritual mereka. Kami hanya menjadikan hari ini sebagai hari untuk mengungkapkan rasa cinta kepada kekasih. Sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan acara keagamaan. Apakah ini tetap dilarang?

Jawab:

Alasan ini tidak dapat diterima. Setelah Anda memahami bahwa hari valentine adalah budaya orang kafir, ada beberapa konsekuensi yang perlul Anda pahami:

Pertama, turut memeriahkan valentine’s day dengan cara apapun, sama saja dengan meniru kebiasaan orang kafir. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan ancaman yang sangat keras, bagi orang yang meniru kebiasaan orang kafir. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم

Siapa yang meniru suatu kaum maka dia bagian dari kaum tersebut.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

وهذا الحديث أقل أحواله أن يقتضي تحريم التشبه بهم ، وإن كان ظاهره يقتضي كفر المتشبه بهم كما في قوله : { وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ }

“Hadis ini, kondisi minimalnya menunjukkan haramnya meniru kebiasaan orang kafir. Meskipun zahir (makna tekstual) hadis menunjukkan kufurnya orang yang meniru kebiasaan orang kafir. Sebagaiman firman Allah Ta’ala yang artinya, ‘Siapa di antara kalian yang memberikan loyalitas kepada mereka (orang kafir itu), maka dia termasuk bagian orang kafir itu’. (QS. Al-Maidah: 51).” (Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, 1:214)

Pada hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membedakan tujuan meniru kebiasaan orang kafir itu. Beliau juga tidak memberikan batasan bahwa meniru yang dilarang adalah meniru dalam urusan keagamaan atau mengikuti ritual mereka. Sama sekali tidak ada dalam hadis di atas. Karena itu, hadis ini berlaku umum, bahwa semua sikap yang menjadi tradisi orang kafir, maka wajib ditinggalkan dan tidak boleh ditiru.

Kedua, memeriahkan hari raya orang kafir, apapun bentuknya, meskipun hanya dengan main-main, dan sama sekali tidak diiringi dengan ritual tertentu, hukumnya terlarang.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, beliau menjumpai masyarakat Madinah merayakan hari raya Nairuz dan Mihrajan. Hari raya ini merupakan hari raya yang diimpor dari orang Persia yang beragama Majusi. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, beliau bersabda,

قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ ، وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ ، وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا : يَوْمَ النَّحْرِ ، وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“Saya mendatangi kalian (di Madinah), sementara kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain di masa jahiliyah. Padahal Allah telah memberikan dua hari yang lebih baik untuk kalian: Idul Qurban dan Idul Fitri”. (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai, dan dishahihkan Syaikh Ali Al-Halabi)

Mari kita simak dengan seksama hadis di atas. Penduduk Madinah, merayakan Nairuz dan Mihrajan bukan dengan mengikuti ritual orang Majusi. Mereka merayakan dua hari raya itu murni dengan main-main, saling memberi hadiah, saling berkunjung, dst. Meskipun demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarang mereka untuk merayakannya, menjadikannya sebagai hari libur, atau turut memeriahkan dengan berbagai kegembiraan dan permainan. Sekali lagi, meskipun sama sekali tidak ada unsur ritual atau peribadatan orang kafir.

Oleh karena itu, meskipun di malam valentine’s sekaligus siang harinya, sama sekali Anda tidak melakukan ritual kesyirikan, meskipun Anda hanya membagi coklat dan hadiah lainnya, apapun alasannya, Anda tetap dianggap turut memeriahkan budaya orang kafir, yang dilarang berdasarkan hadis di atas.

Valentine’s Day Hari Zina Internasional

Sudah menjadi rahasia umum, intensitas zina meningkat pesat di malam valentine. Hari itu dijadikan momen paling romantis untuk mengungkapkan rasa cinta kepada pacar dan kekasih.

Apabila valentine hanya sekadar pacaran dan makan malam, setelah itu pulang ke “kandang” masing-masing, ini cara valentine zaman 70-an, kuno! Saat ini, valentine telah resmi menjadi hari zina.

Bukan hanya mengungkap perasaan cinta melalui hadiah coklat, tapi saat ini dilampiri dengan kondom. Allahu akbar! Apa yang bisa Anda bayangkan? Malam valentine menjadi kesempatan besar bagi para pemuda dan mahasiswa pecundang untuk merobek mahkota keperawanan gadis dan para wanita. Malam valentine diabadaikan dengan lumuran maksiat dan dosa besar. Lebih parah dari itu, semua kegiatan di atas mereka rekam dalam video untuk disebarkan ke berbagai penjuru bumi melalui dunia maya. Bukankah ini bencana besar?! Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun..

Dimanakah rasa malu mereka?! Dimanakah rasa keprihatinan mereka dengan umat?! Akankah mereka semakin memperparah keadan?!

Wahai para pemuda pecundang…, jangan karena kalian tidak mampu menikah kemudian kalian bisa sewenang-wenang menggagahi wanita??

Wahai para pemudi yang hilang rasa malunya…, jangan karena sebatang cokelat dan romantisme picisan Anda merelakan bagian yang paling berharga pada diri Anda. Laki-laki yang saat ini sedang menjadi pacarmu, bukan jaminan bisa menjadi suamimu. Bisa jadi kalian sangat berharap kasih sayang sang kekasih, namun di balik itu, obsesi terbesar pacarmu hanya ingin melampiaskan nafsu binatangnya dan mengambil madumu.

Bertaubatlah wahai kaum muslimin…

Ingatlah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَلاَ ظَهَرَتِ الْفَاحِشَةُ فِى قَوْمٍ قَطُّ إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْمَوْتَ

Jika perbuatan kekejian sudah merebak dan dilakukan dengan terang-terangan di tengah-tengah masyarakat, maka Allah akan menimpakan kehancuran kepada mereka.” (HR. Hakim dan beliau shahihkan, serta disetujui Ad-Dzahabi)

Allahu Akbar, bukankah ini ancaman yang sangat menakutkan. Gara-gara perbuatan mereka yang tidak bertanggung jawab itu, bisa jadi Allah menimpakan berbagai bencana yang membinasakan banyak manusia. Ya.. valentine’s day, telah menyumbangkan masalah besar bagi masyarakat. Sangat tepat seperti kisah Nabi Musa ‘alaihis salamyang berdoa kepada Allah, karena kelancangan yang dilakukan kaumnya yang menyembah anak sapi. Allah abadikan dalam firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَذِلَّةٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ (152)وَالَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِهَا وَآمَنُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (153) وَلَمَّا سَكَتَ عَنْ مُوسَى الْغَضَبُ أَخَذَ الْأَلْوَاحَ وَفِي نُسْخَتِهَا هُدًى وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُونَ (154) وَاخْتَارَ مُوسَى قَوْمَهُ سَبْعِينَ رَجُلًا لِمِيقَاتِنَا فَلَمَّا أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan. Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya. Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata, “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang BODOH di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.” (QS. Al-A’raf: 153 – 155)

Karena itu, kami mengajak kepada mereka yang masih lurus fitrahnya. Berusahalah untuk banyak istighfar kepada Allah. Perbanyaklah memohon ampunan kepada Allah. Kita berharap, dengan banyaknya istigfar yang kita ucapkan di malam zina ini, semoga Allah mengampuni hamba-hamba-Nya. Musa memohon ampunan kepada Allah, disebabkan ulah kaumnya yang bodoh, yang mengundang murka Allah.

Yaa Allah.., akankah Engkau membinasakan kami disebabkan ulah orang-orang BODOH di malam valentine?

Ampunilah kami Yaa, Allah..

Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

Ref : https://googleweblight.com/?lite_url=https://konsultasisyariah.com/10485-valentines-day-hari-zina-internasional.html&ei=x1fw08mJ&lc=en-ID&geid=10&s=1&m=825&ts=1455321062&sig=ALL1Aj4QuyfhLwLbEpzzI37_NcAVyqw-ig

Diantara Jenis Wanita Yang Bodoh…

Kadang wanita yang kurang engngeh/sadar jika bercengkrama dengan suaminya..

Isengnya suami juga dalam rangka memanfaatkan kepolosan dan kebodohan istrinya..

Iapun dengan setia mendengarkan cerita istrinya yang polos ini…
Si istri mencritakan sehabis kajian ia bertemu teman temannya yang cantik cantik… Fulanah yang pakai cadar itu lho abi.. Ia cantik mancung putih mulus wajahnya…
Kalo fulanah itu imut dan wangi…
Kalo fulanah yang cadarnya hijau tua itu mirip artis anuu..

Subhanallah
Apakah akhwat ini gak tau kalo suaminya yang dengar itu sedang berhayal tentang kecantikan mereka

Lihatlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لا تباشر المرأة المرأة، فتنعتها لزوجها كأنه ينظر إليها

“Janganlah seorang wanita menemui seorang wanita yang lain lalu setelah itu menyebutkan sifat-sifat wanita tersebut kepada suaminya, sehingga seakan-akan sang suami melihat wanita tersebut” (HR Al-Bukhari)

Apalagi kalo yang jadi bahan cerita masih singgle…  Bisa dilamar tuh sama suaminya..kan bisa berabe..

Padahal giliran kalo di poligami ntar nangis darah…

Darah itu merah jendral..!!

Sepenggal uneg uneg untuk para akhwat dan umahat agar bisa jaga rahasia akhwat lain..
Barakallahu fikum.

Abu RiyadL Nurcholis Majid Ahmad, حفظه الله تعالى

Kalau Anak Saya Berhijab Syar’i, Bagaimana Dia Akan Dapat Jodoh?!… Siapa Yang Akan Tertarik Menikahinya….?!

Tidak bisa dipungkiri, banyak orang tua yang punya kekhawatiran seperti ini… memang secara kasat mata, hal tersebut tampak wajar, karena begitu rusaknya lingkungan masyarakat sekarang ini.

Kalau dahulu, muda-mudi malu bila ketahuan berpacaran… sekarang keadaan menjadi terbalik, muda-mudi akan malu bila tidak punya pacar… semoga Allah memperbaiki keadaan ini, dan melindungi keluarga kita dari perbuatan zina, amin.

Namun, bila kita lihat masalah ini dari kaca mata iman, maka sungguh tidak ada alasan bagi orang tua utk khawatir, mari perhatikan beberapa poin berikut ini:

1. Bahwa mendapatkan suami, merupakan bagian dari takdir Allah… dan Allah sudah menentukan takdir itu sebelum anak Anda dilahirkan… sehingga apapun yang terjadi, memakai jilbab syar’i atau tidak, semuanya akan berjalan sebagaimana tulisan takdir Allah.

2. Ingatlah, bahwa sebuah barang akan laris sesuai minat pembelinya… anak yang baik dan taat berhijab, akan diminati oleh orang yang agamanya baik… sebaliknya anak yang mengumbar aurat dan tidak peduli agama, dia akan diminati oleh pemuda yang buruk agamanya… maka sebagai orang tua, Anda bisa memilih manakah pangsa pasar yang Anda inginkan untuk putri kesayangan Anda.

3. Pacaran adalah musibah yang sangat besar bagi muda mudi… yang paling kasihan adalah wanita… seringkali kehormatan wanita dalam pacaran tidak dihargai sama sekali, bahkan seringkali pelacur lebih dihargai daripada wanita yang dipacari.

Apalagi jika terjadi kehamilan, justeru wanita dan keluarganya akan menanggung biaya yang besar, sekaligus rasa malu seumur hidupnya.

4. Syariat Islam telah memberikan banyak solusi untuk mencarikan suami bagi putri kita, diantaranya:

a. Orang tua yang mencarikan suami untuk putrinya… sebagaimana Allah kisahkan dalam Alquran, ketika calon mertua Nabi Musa menawarkan putrinya untuk dia pinang.

Dan hal ini juga bisa dilakukan oleh saudaranya, atau teman wanitanya, atau orang lain yang bisa membantu dia mencarikan calon suami yang baik.

b. Ketika seorang putri tertarik kepada seorang pemuda, maka tidak mengapa dia meminta kepada ayahnya untuk menawarkan dirinya kepada pemuda tersebut… Ini juga yang disebutkan oleh Allah dalam kisah Nabi Musa. Ternyata calon isterinyalah yang meminta ayahnya agar menawari Nabi Musa untuk mau meminangnya dengan syarat yang diajukan.

c. Dibolehkan juga bagi seorang wanita untuk menawarkan dirinya sendiri kepada seseorang yang dia inginkan, tentunya dengan syarat hal itu tidak menimbulkan fitnah dan keburukan.

Hal ini sebagaimana dilakukan oleh seorang sahabat wanita yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam… dan beliau tidak mengingkari tindakannya tersebut… ini menunjukkan bahwa hal itu boleh dilakukan.

Intinya, jilbab yang syar’i bukanlah penghalang bagi putri Anda mendapatkan suami… bahkan sebaliknya, jilbab itulah yang menjadikan putri Anda pantas mendapatkan suami yang baik agamanya… suami yang bisa menuntunnya menuju surga dan selalu berdoa untuk kebaikan Anda sebagai mertuanya.

Perlu juga diingat, bahwa seorang ortu haruslah sadar, bahwa termasuk diantara hak putrinya adalah dicarikan suami yang saleh, maka tunaikanlah hak ini, dan berusahalah sebaik mungkin untuk putri Anda, karena dialah nantinya yang akan meneruskan tongkat estafet perjuangan Anda. Wallohu a’lam.

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

image

Kaya, Tapi Zuhud – Miskin, Tapi Gila Harta.. Mungkinkah..?

Itu sangat mungkin.. bagaimana bisa demikian..? Mari simak pemaparan Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berikut ini :

“Ketika harta berada di tanganmu, bukan di hatimu, dia tidak akan membahayakanmu, walaupun jumlahnya banyak.

Sebaliknya, ketika harta itu di hatimu, dia akan membahayakanmu, walaupun harta itu tidak ada sedikitpun di tanganmu.

Imam Ahmad pernah ditanya: ‘Bisakah seseorang menjadi zuhud, padahal dia memiliki seribu dinar..?’

Beliau menjawab: ‘Ya, (bisa saja), asalkan dia tidak senang bila harta itu bertambah, dan dia tidak sedih bila harta itu berkurang..’

Oleh karenanya para sahabat menjadi orang yang paling zuhud terhadap harta yang ada di tangan mereka.

Sufyan Ats-Tsauri juga pernah ditanya: ‘Bisakah orang yang kaya menjadi zuhud..?’

Beliau menjawab: ‘Ya (bisa saja), yaitu jika saat hartanya bertambah dia bersyukur, dan saat hartanya berkurang dia juga bersyukur, dan bersabar..’

[Sumber: Madarijus Salikin 1/463].

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

image

Ambisi…

Utsman bin Affan, رضي الله عنه
berkata :
همّ الدنيا ظلمة في القلب
وهمّ الآخرة نور في القلب

“Ambisi dunia jadi kegelapan di hati,
Ambisi akhirat jadi cahaya di hati”

من كتاب الزهد لابن أبي الدنيا

image

Menebar Cahaya Sunnah