Tidak Semua Sama Dalam Ibadah

Imam Ibnu ‘Abdil Barr rohimahullah berkata..

“Seorang ahli ibadah yang bernama Abdullah Al Umariy pernah menulis surat kepada Imam Malik.. menganjurkan beliau agar fokus ibadah.. maka Imam Malik menjawab..

‘Sesungguhnya Allah membagi bagikan amal sebagaimana membagi bagikan rezeki..

ada orang yang dibukakan pintu sholat..
yang lain dibuka untuknya pintu puasa..
ada yang dibukakan pintu sedekah..
dan menyebarkan ilmu adalah diantara amalan yang paling utama..

aku ridho dengan pemberian Allah ini kepadaku.. aku merasa yang aku lakukan ini tidak lebih rendah dari apa yang engkau lakukan..
aku berharap kita berdua di atas kebaikan..”

[siyar a’lam nubala 8/115]

demikian..
kemampuan manusia untuk beramal berbeda-beda..
walaupun kita berusaha untuk beramal semaksimal mungkin..


Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Sudah Takdirnya Begini

Takdir bukanlah alasan untuk membenarkan maksiat..
karena manusia diberi kekuatan dan kehendak..

sebagian kaum lgbt berkata..
aku sudah ditakdirkan begini..
jadi aku gak salah dong..
demikian katanya..
ucapan yang menyerupai ucapan kaum musyrikin..

Allah berfirman..

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلا ءَابَاؤُنَا وَلا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلا تَخْرُصُونَ

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun”. Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami.

Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami..?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta..” (Al an’am ayat 148).

bila beralasan dengan takdir dalam masalah maksiat boleh..
akan hancur semua syariat dan peraturan..

pelanggaran tidak boleh diberi sanksi karena sudah takdir katanya..
hukum-hukum pidana tidak boleh ditegakkan..
karena sudah takdir katanya..
entah dimana akal mereka..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Renungan

Allah merahasiakan diterimanya sebuah amalan, agar hati kita selalu khawatir.

Dia juga selalu membuka pintu taubat, agar kita selalu punya harapan.

Dan Dia menjadikan penentu status seseorang pada amalan penutup hidupnya, agar tidak seorang pun tertipu dengan amalnya.

Seandainya paras dan ragamu lebih penting dan berharga dari ruhmu, tentunya ruh tidak naik ke langit, sedang raga harus dikubur dalam tanah.

Betapa banyak orang terkenal di muka bumi, namun ia tidak dikenal di penghuni langit.

Sebaliknya, betapa banyak orang tak dikenal dibumi, namun ia dikenal baik oleh penghuni langit.

Ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah kekuatan takwa, bukan kekuatan raga.

Maka lihatlah kedudukanmu di sisi Allah, dan tinggalkan penilaian manusia.

[Sumber dari pesan berbahasa arab]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Renungan

Aku melihat hidup orang lain begitu nikmat, ternyata ia hanya menutupi kekurangannya tanpa berkeluh kesah..

Aku melihat hidup teman-temanku tak ada duka dan kepedihan, ternyata ia hanya pandai menutupi dengan mensyukuri..

Aku melihat hidup saudaraku tenang tanpa ujian, ternyata ia begitu menikmati badai ujian dalam kehidupannya..

Aku melihat hidup sahabatku begitu sempurna, ternyata ia hanya berbahagia menjadi apa adanya..

Aku melihat hidup tetanggaku beruntung, ternyata ia selalu tunduk pada Allah untuk bergantung..

Setiap hari aku belajar memahami dan mengamati setiap hidup orang yang aku temui.. ternyata aku yang kurang mensyukuri nikmatMu.. bahwa di belahan dunia lain masih ada yang belum seberuntung yang aku miliki saat ini..

Dan satu hal yang aku ketahui, bahwa Allahu Rabbi tak pernah mengurangi ketetapanNya.. hanya aku lah yang masih saja mengkufuri nikmat suratan Ilahi..

Maka aku merasa tidak perlu iri hati dengan rezeki orang lain..

Mungkin aku tak tahu dimana rezekiku.. Tapi rezekiku tahu dimana diriku..

Dari lautan biru, bumi dan gunung, Allah Ta’ala telah memerintahkannya menuju kepadaku.. Allah Ta’ala menjamin rezekiku, sejak 4 bulan 10 hari aku dalam kandungan ibuku..

Amatlah keliru bila bertawakkal rezeki dimaknai dari hasil bekerja.. karena bekerja adalah ibadah, sedang rezeki itu urusan-Nya..

Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijamin-Nya, adalah kekeliruan berganda..

Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati..

Mereka lupa bahwa hakekat rezeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya..

Rezeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, Allah menaruh sekehendak-Nya..
Diulang bolak balik 7x shafa dan marwa, tapi zamzam justru muncul dari kaki sang bayi, Ismail ‘alayhissalam

Ikhtiar itu perbuatan..
Rezeki itu kejutan..

Dan yang tidak boleh dilupakan, tiap hakekat rezeki akan ditanya kelak..
“Darimana dan digunakan untuk apa”
Karena rezeki hanyalah “hak pakai”, bukan “hak milik“…

Halalnya saja dihisab..dan haramnya diadzab..!

Maka, aku tidak boleh merasa iri pada rezeki orang lain..

Bila aku iri pada rezeki orang, sudah seharusnya juga iri pada takdir kematiannya..

Astaghfirullah..

#copas

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Marah…

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Ulama berkata :

الغضب أوله جنون وآخره ندم

(kemarahan awalnya adalah kegilaan dan kesudahannya adalah penyesalan)

Mikirlah dahulu sebelum marah…

image

Lelah Yang Mana…?

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata..
Lelahkanlah badan untuk kenikmatan ruh..
Jangan kamu lelahkan ruh untuk kenikmatan badan..
Karena kenikmatan dan kelelahan ruh lebih berat..
Dari kenikmatan dan kelelahan badan..
(Al Fawaid hal 169).

Tak mungkinkah keduanya berpadu..
Nikmatkan ruh dan badan..
Sulit dan sepertinya mustahil..
Karena badan selalu menginginkan kemalasan dan bersenang senang..
Mengikuti syahwat dan hawa nafsu..
Itulah kesenangan badan..
Akibatnya ruhpun menderita..

Sedangkan kenikmatan ruh adalah dengan ibadah dan ketaatan..
Badan akan merasa lelah..
Namun..
Kenikmatan ruh itu..
Menjadikan lupa kelelahan badan..

Bila Ada Yang Mencacimu…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Sifat manusia bila dicaci atau diburuk burukkan pasti akan murka..
ia ingin membalas dengan cara mencacinya kembali..
siapa hati yang tak panas..
tapi..
membalas dengan yang serupa tak ada gunanya..
karena kebodohan tak baik bila dibalas dengan kebodohan lagi..
lihatlah anjing itu..
gonggongannya tak digubris orang..
tapi lihatlah singa itu..
diamnya membuat ia ditakuti..

oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إن امرؤ سبك بما يعلم فيك ، فلا تسبه بما تعلم فيه ، فإن أجره لك و وباله على من قاله ” . 

Jika ada orang yang mencacimu dengan aib yang ia ketahui ada padamu..
janganlah kamu balas mencacinya dengan aib yang kamu ketahui ada padanya..
karena pahalanya untukmu..
dan dosanya untuk dia..
HR Ahmad.

Namun..
perbuatan ini hanyalah mampu dilakukan oleh orang yang bersabar..
dsn berjiwa besar..

Ikatan Cinta Ahlul Bait Dengan Keluarga Abu Bakar radhiallahu ‘anhu…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

1. Nabi Muhammad rmenikahi ‘Aisyah bintu Abi Bakar radhiallahu ‘anhu.

Orang pertama yang menjalin hubungan pernikahan antara kedua keluarga besar ini ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menikahi ‘Aisyah putri Abu Bakar radhiallahu ‘anhuma. Tidak ada satu orangpun, baik dari kalangan Syi’ah ataupun Ahlis Sunnah yang mengingkarinya. Walau demikian, sedikit sekali tokoh agama Syi’ah, baik yang hidup pada zaman dahulu atau sekarang yang sudi untuk mengucapkan doa “semoga Allah meridhoinya” (radhiallahu ‘anha) . Yang tejadi malah sebaliknya, banyak sekali dari mereka yang dengan terus menerus mengutuknya dan menuduh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha telah berzina. Bahkan mereka juga dengan tanpa rasa malu menjadikan kutukan kepada sahabat Abu Bakar radhiallahu ‘anhu sebagai bagian dari bacaan dalam sholat .wirid

 

2. Al Hasan bin Ali Bin Abi Thalib.

Muhammad Baqir Al Majlisi, wafat thn 1111 H, menyebutkan  bahwa A Hasan bin Ali bin Abi Thalib, yang oleh agama Syi’ah dinobatkan sebagai imam mereka yang ke-2, telah menikahi Hafshah binti Abdurrahman bin Abi Bakar As Shiddiq.([1])

Fakta ini menunjukkan bahwa Abu Bakar As Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib, dan juga anak keturunannya tidak saling bermusuhan. Bahkan antara mereka terjaling hubungan yang sangat harmonis dan persaudaraan yang sangat erat.

 

3. Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal ‘Abidin bin Al Husain.

Imam ke-5 agama Syi’ah ini menikahi Ummu Farwah binti Al Qaasim bin Muhammad bin Abi Bakar As Shiddiq. Pernikahan ini diungkapkan oleh As Syeikh Al Mufid dalam kitabnya Al Irsyad2/176, juga oleh Al Kulainy dalam kitabnya Al Kaafi 1/472, Abul Faraj Al Ashfahaany dalam kitabnya Maqaatilut Taalibiyyin 109 & Al Majlisy dalam kitabnya Bihaarul Anwaar 47/5.

Dari pernikahan ini, Muhammad Al Baqir dikaruniai putra yang kemudian diberi nama Ja’far As Shaadiq, yang oleh agama Syi’ah dinobatkan sebagai imam mereka yang ke-6.

Pada suatu hari, Ja’far As Shaadiq berbangga-bangga dengan silsilah nasabnya dengan berkata:

وَلَدَنِي أَبُو بَكَر مَرَّتَينِ

“Aku telah dilahirkan oleh Abu Bakar dua kali”.([2]    

Maksud ucapan Ja’far As Shadiq ini – Abul Qasim Al Musawi Al Khu’i- adalah: Ibu kandung Ja’far As Shaadiq adalah Ummu Farwah binti Al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar, sedangkan ibu kandung Ummu Farwah adalah Asma’ binti Abdurrahman bin Abi Bakar As Shiddiq.

Menurut hemat anda, mungkinkah seorang imam agama Syi’ah berbangga-bangga dengan nasabnya yang tersambung dengan Khalifah Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Bakar As Shiddiq, bila antara imam-imam agama Syi’ah dan para khulafa’ Rasulullah r dan juga sahabat lainnya terjadi permusuhan?

Perlu diketahui bahwa Ali Zainal Abidin dan Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar adalah saudara sepupu, yang demikian itu dikarenakan Ibu mereka berdua adalah dua bersaudara, yaitu kedua putri raja Persia yang bernama Yazdajird bin bin Syahriyar bin Kisra.([3])

Yang lebih unik lagi adalah perihal Asma’ bintu ‘Umais radhiallahu ‘anha, ia adalah istri Ja’far bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu saudara kandung Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Sepeninggal Ja’far radhiallahu ‘anhu, ia dinikahi oleh Abu Bakar As Shiddiq radhiallahu ‘anhu, dan dari pernikahan ini terlahirlah Muhammad bin Abi Bakar. Lalu sepeninggal Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, Asma’ bintu Umais radhiallahu ‘anha dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, sehingga Muhammad bin Abu Bakarpun diasuh oleh ayah tirinya, yaitu Ali bin Abi Thalib. Selanjutnya dari pernikahan ini mereka berdua (Ali & Asma’) dikaruniai dua orang putra yang diberi nama Yahya dan ‘Aun.([4])

Saudaraku! Apa perasaan anda setelah mengetahui fakta yang membutikan akan adanya saling santun menyantuni antara keluarga Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dan keluarga Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Mungkinkah anda masih bisa menolerir anggapan agama Syi’ah bahwa Abu Bakar As Shiddiq radhiallahu ‘anhu telah merebut kekuasaan dari tangan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, sehingga terperciklah api permusuhan yang tak kunjung padam antara mereka dan keturunannya hingga hari qiyamat?

[1] ) Biharul Anwar oleh Al Majlisy 44/173.

[2] ) Al Irsyad oleh As Syeikh AL Mufid 2/176, Maqatilut Taalibiyyin oleh Abul Faraj AL Ashfahaany 109 & Bihaarul Anwaar oleh  Al Majlisy 47/5.

[3] ) Al Irsyad  oleh As Syeikh Al Mufid 2/137 & Wafayaatul A’yan oleh Ibnu Khalikaan 3/267.

[4] ) Al Ishabah oleh Ibnu Hajar Al Asqalaany 7/489 & Al Irsyad  oleh As Syeikh Al Mufid 1/354.

Ref : http://arifinbadri.com/ikatan-cinta-ahlul-bait-dengan-keluarga-abu-bakar-radhiallahu-anhu/

Menebar Cahaya Sunnah