Pesan-Pesan Istimewa Bagi Kawula Muda

“Wahai pemuda yang mendapat taufiq-Nya.. ini pesan-pesan khusus, yang aku sampaikan sebagai nasehat seorang yang sayang dan peduli kepadamu..

Jika kau ambil, tentu itu akan menjadi sebab keselamatan, keberuntungan, kebahagiaanmu di dunia dan akherat..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau menjaga dan melindungi masa mudamu, dengan menjauhi berbagai macam keburukan dan kerusakan, dengan meminta tolong dan tawakkal kepada Allah semata dalam menjalani itu semua..

Semua pintu, atau lorong, atau jalan menuju kepada keburukan atau kerusakan, maka jauhilah dan bersungguh-sungguhlah dalam mewaspadainya..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau benar-benar menjaga kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan dalam Agama Islam, terutama shalat, karena shalat bisa menjagamu dari keburukan dan bisa mengamankanmu dari kebatilan..

Karena shalat juga dapat menolongmu dalam melakukan kebaikan, dan menjadikanmu takut melakukan semua keburukan dan kebatilan..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau menunaikan hak-hak manusia yang Allah wajibkan kepadamu, dan yang paling besar dari hak-hak itu adalah hak dua orang tuamu, sungguh itu merupakan hak yang sangat agung dan kewajiban yang sangat besar..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau dekat dengan para ulama kibar yang mulia, dengan mendengarkan perkataan mereka, mengambil arahan dari fatwa-fatwa mereka, mengambil ilmu mereka, dan meminta pendapat kepada mereka dalam perkara yang membingungkanmu..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau mewujudkan apa yang Allah wajibkan kepadamu, berupa sikap mendengar dan taat kepada penguasa, karena sikap itu akan mendatangkan keselamatan.

Adapun cara-cara yang dasarnya mengacu pada sikap membangkang terhadap penguasa, keluar dari persatuan jamaah, dan melepaskan tangan dari ketaatan, maka ini tidaklah mengantarkan pelakunya, melainkan kepada keburukan dan kebinasaan..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau di dalam hari-hari dan malam-malammu melakukan upaya untuk melindungi diri dengan dzikir kepada Allah jalla wa’ala, dan dengan rutin membaca dzikir-dzikir pagi dan sore, dzikir selesai shalat, dzikir masuk dan keluar rumah, serta dzikir naik kendaraan dan dzikir yang semisal dengannya..

Karena dzikir kepada Allah itu dapat menjaga seseorang dari gangguan setan, dan dapat mengamankan pelakunya dari bahaya dan bala’..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau juga memiliki wirid Qur’an harian, agar hatimu tenang, karena kitabullah itu dapat menenangkan hati, dan dapat menjadikannya bahagia di dunia dan akherat. Allah telah berfirman :

“Dialah orang-orang yang beriman dan tenang hatinya dengan dzikir kepada Allah, ingatlah bahwa dengan berdzikir kepada Allah semua hati akan tenang..” [QS. Arra’d:28]

Wahai pemuda..
Harusnya engkau banyak berdo’a kepada Allah azza wajall, meminta agar diteguhkan dalam kebenaran dan petunjuk. Dan meminta agar Allah melindungimu dari keburukan dan kehinaan.. Karena do’a adalah kunci semua kebaikan di dunia dan akherat..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau semangat untuk berteman dan bersahabat dengan orang-orang yang baik dan saleh, karena ada kerugian besar dalam bersahabat dengan orang-orang buruk..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau sangat berhati-hati dengan sarana-sarana yang dipakai musuh untuk memerangi generasi muda, terutama internet, agar selamat agamamu dan terjaga urusanmu, sungguh nikmat selamat itu tidak ada tandingannya..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau selalu ingat bahwa engkau suatu hari nanti akan berdiri di hadapan Allah, dan Dia akan menanyakan kepadamu akan masa muda ini, engkau habiskan untuk apa..?!

Semoga Allah ‘azza wajall melindungimu dengan perlindungan yang diberikan kepada hamba-hambanya yang shaleh..”

Ditulis Oleh: Syeikh Prof DR. ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdil Muhsin Alubadr, حفظه الله تعالى

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Ref : http://www.islamek.net/play.php?catsmktba=1798

ARTIKEL TERKAIT
Nasihat Ulama – KOMPILASI ARTIKEL

Kaidah Dalam Sifat Allah

Ada sebuah kaidah yang perlu kita cermati dalam sifat sifat Allah..
yaitu: Bahwa pembicaraan sebagian sifat adalah cabang dari sifat lainnya..

maksudnya..
tidak ada bedanya antara sifat satu dengan sifat lainnya..
semua wajib diimani sesuai dengan keagungan Allah..

kaum asy’ariyah hanya mengimani 20 sifat saja dan menolak sifat lainnya. dengan alasan bahwa 20 sifat itu yang bisa diterima oleh akal..
mereka menolak sifat marah, benci, karena menurut mereka itu mustahil bagi Allah..
Padahal dalam al quran, Allah menyatakan murka kepada orang orang yang kafir kepadaNya.

Mereka mengatakan bahwa marah itu adalah mendidihnya darah di hati..
ini tidak mungkin bagi Allah, karena itu sifat makhluk.
padahal kaum asy’ariyah meyakini Allah mempunyai sifat irodah.
kita bertanya tanya, bukankah irodah juga sifat makhluk..?
bila mereka berkata, “Kami menetapkan irodah bagi Allah sesuai dengan keagungan Allah dan tidak menyerupai irodah makhluk..”
kita berkata, “Demikian pula kami mengimani sifat marah bagi Allah sesuai dengan keagungan Allah dan tidak sama dengan marahnya makhluk..”

maka imanilah semua sifat Allah sesuai keagungan Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk..

wallahu a’lam

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Selalu Berniat Baik

Abdullah bin Ahmad bin hanbal rohimahumallah berkata kepada ayahnya, Ayah, berilah aku nasehat..’

Beliau berkata, ‘wahai anakku, selalu lah berniat kebaikan .. karena kamu selalu di atas kebaikan selama kamu berniat kebaikan..’

(Al Adab asy-Syar’iyah Ibnul Muflih).

Agar niat kita selalu baik..
maka jagalah pikiran kita..
karena kata Ibnul Qoyyim rohimahullah, 
‘pikiran adalah asal segala kebaikan..
dan asal segala keburukan..’

orang yang pikirannya selalu dalam kebaikan..
akan melahirkan niat niat untuk berbuat baik..
dari niat itu akan menimbulkan amal..
demikian pula orang yang pikirannya selalu dalam keburukan..
akan menimbulkan niat yang buruk dan amal yang buruk..

yukk jaga pikiran..
agar terjaga niat dan amal..

📝
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى 

Sendirian Di Belakang Shoff

Di sebagian masjid, terkadang kita lihat ada orang sholat sendiri di belakang shoff, padahal shoff di depannya masih kosong…
padahal disebutkan dalam hadits Wabishoh bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang lelaki sholat di belakang shoff sendirian. maka beliau menyuruhnya untuk mengulangi sholatnya. (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dalam hadits lain, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang sholat sendirian di belakang shoff:

استقبل صلاتك، فإنه لا صلاة لمنفرد خلف الصف

“Ulangi sholatmu, karena tidak sah sholat orang berdiri sendirian di belakang shoff..” (HR Ahmad)

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa orang tersebut tidak sah sholatnya dan wajib mengulanginya kembali. Itulah pendapat yang paling kuat dari pendapat para ulama.

terkecuali, bila shoff yang di depannya telah penuh, maka ia boleh sholat sendirian di belakang shoff.

tidak boleh ia menarik seseorang di depannya karena hadits tentangnya adalah dhoif dan juga dapat mengakibatkan kekosongan shoff.

wallahu a’lam

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Nafkah Yang Paling Utama Dan Paling Besar Pahalanya…

Hendaknya para suami mengetahui bahwa nafkah yang ia berikan kepada keluarganya tidaklah bernilai sia-sia di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan nafkah itu terhitung sebagai amalan sedekahnya sebagaimana hadits Abu Mas’ud al-Anshari radhiallahu ‘anhu dari Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda,

إِذَا أَنْفَقَ الْمُسْلِمُ نَفَقَةً عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا كَانَتْ لَهُصَدَقَةٌ

“Apabila seorang muslim memberi nafkah kepada keluarganya dan dia mengharapkan pahala dengannya maka nafkah tadi teranggap sebagai sedekahnya.” (HR. al-Bukhari no. 55, 4006, 5351 dan Muslim no. 1002)

Sampaipun satu suapan yang diberikan seorang suami kepada istrinya, teranggap sebagai amalan sedekah sang suami. Demikian disabdakan Nabi. shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat beliau, Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu,

وَمَهْمَا أَنْفَقْتَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ حَتَّى الْلُقْمَةَ فِي فِي امْرَأَتِك

“Apa pun yang engkau nafkahkan maka itu teranggap sebagai sedekah bagimu sampaipun suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu.” (HR. al-Bukhari no. 5354 danMuslim no. 1628)

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا حَتَّىالْلُقْمَةَ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ

“Tidaklah engkau menafkahkan satu nafkah yang dengannya engkau mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala kecuali engkau akan diberi pahala dengannya sampaipun satu suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu.”

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata ketika menerangkan hadits Abu Mas’ud al-Anshari. radhiallahu ‘anhu, “Hadits ini menerangkan bahwa yang dimaukan dengan sedekah dan nafkah secara mutlak dalam hadits-hadits yang ada adalah bila orang yang mengeluarkannya ituihtisab, maknanya ia menginginkan wajah Allahsubhanahu wa ta’ala dengan nafkah tersebut. Bila seseorang memberikan nafkah dalam keadaan lupa atau kacau pikirannya, tidaklah ia mendapatkan nilai sedekah seperti yang dinyatakan dalam hadits ini, namun yang masuk dalam hadits ini hanyalah bila seseorang itumuhtasib (mengharapkan pahala), ia ingat kewajibannya untuk memberikan infak kepada istri, anak-anaknya, budaknya dan orang-orang yang wajib ia nafkahi selain mereka….” (Syarah Shahih Muslim, 7/88—89)

Beliau juga berkata ketika mensyarah (menjelaskan) hadits Sa’ad, “Hadits ini menunjukkan disenanginya memberi infak dalam berbagai perkara kebaikan, dan menunjukkan bahwa amalan itu tergantung niatnya, sehingga seseorang itu hanyalah diberi pahala atas amalnya dengan niatnya. Hadits ini juga menunjukkan bahwa memberi infak kepada keluarga akan diberi pahala bila mengharapkan wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana pula dalam hadits ini ditunjukkan bahwa perkara mubah bila diniatkan untuk mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadi amalan ketaatan dan diberi pahala karenanya.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ وَدِيْنَارٌتَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَاأَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

“Satu dinar yang engkau belanjakan di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, satu dinar yang engkau keluarkan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya dari semua nafkah tersebut adalah satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR.Muslim no. 995)

Ref : http://asysyariah.com/sedekah-yang-paling-utama/

Sudahkah anda membacanya…?

image

👆 👆 👆 sudahkah anda membacanya malam ini dengan menghayati maknanya dan dengan penuh keyakinan…?

Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan dzikir ini di siang hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati pada hari tersebut sebelum sore hari, maka ia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati sebelum shubuh, maka ia termasuk penghuni surga.” (HR. Bukhari (7/150, no. 6306)

Yakinlah…

Syafiq Basalamah, حفظه الله تعالى

AKHI ukhti
Semoga Allah menjaga mu

Yakinlah dengan 3 hal

Tiada yang lebih mengasihimu lebih daripada Allah Rabb mu
Tiada yang lebih mengetahui dengan kegundahan hatimu melainkan hanya Allah
Tiada yang lebih bisa menjauhkan marabahaya lebih dari Tuhanmu

Oleh karena itu
Minta pertolongan pada-Nya
Bersandarlah kepada-Nya dalam semua perkara dan dalam semua kondisi
Niscaya engkau akan mendapatkan lebih dari yang kau inginkan

Tapi kau perlu menanamkan keyakinan tersebut di dalam hatimu

Ingatlah dengan Ibrahim tatkala dilemparkan di dalam api
Ingatlah dengan Yunus ketika di dalam perut ikan paus
Ingatlah dengan Luth ketika menghadapi kaumnya
Ingatlah dengan Ya’qub ketika dipisahkan dengan Yusuf
Ingatlah dengan Musa ketika dikejar-kejar fir’Aun

Tidak ada yang sulit dan mustahil bagi Allah
Dia hanya tinggal berkata kun (jadilah) maka akan terjadi yang diinginkan-Nya
Dan kau tinggal pasrah dan bersandar diri pada-Nya
Kelak Dia akan mencukupimu

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At Thalaq:3)

Menebar Cahaya Sunnah