MUTIARA SALAF : Tenanglah Bersama Allah Karena Allah Melebihi Segalanya

Tenanglah bersama Allah.. karena Allah melebihi segalanya..

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika orang-orang merasa kaya dengan dunianya, maka harusnya kamu merasa kaya dengan Allah..

Jika mereka merasa senang dengan dunianya, maka harusnya kamu merasa senang dengan Allah..

Jika mereka merasa akrab dengan teman-teman karib mereka, maka jadikanlah keakrabanmu itu dengan Allah..

Jika mereka mencari kenalan para penguasa dan pembesarnya, dan orang-orang mendekati mereka untuk mendapatkan kemuliaan dan kedudukan yang tinggi… maka kenalkan dirimu kepada Allah dan carilah kasih sayang-Nya, niscaya kamu raih dengannya puncak kemuliaan dan kedudukan yang tinggi..”

[Kitab: Al-Fawaid, hal: 118].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Tidak Boleh Menakut-Nakuti Saudara Seiman Walaupun Maksudnya Bercanda

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:

“Tidak boleh salah seorang dari kalian mengacungkan senjata kepada saudaranya, karena dia tidak tahu bisa jadi setan menghempaskannya dari tangannya, hingga dia jatuh ke dalam jurang Neraka..”

[HR. Bukhari no. 7072 dan Muslim no. 2617/Muttafaqun Alaih].

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Begitu pula yang dilakukan oleh sebagian orang yang kurang akalnya, dia naik mobil dengan ngebut menuju ke orang yang sedang berdiri atau duduk atau tidur, dengan maksud mencandainya, lalu dia belokkan dengan cepat ketika sudah dekat dengannya agar tidak menabraknya.

Maka ini juga dilarang, dan ini seperti tindakan mengacungkan senjata, karena dia tidak tahu, bisa jadi setan mengambil kendali dari tangannya, sehingga dia tidak dapat mengendalikan mobilnya, dan ketika itulah dia jatuh ke dalam jurang Neraka.

Dan diantara contohnya lagi, bila seseorang mempunyai anjing, dan ada orang lain yang berkunjung kepadanya atau tujuan yang semisalnya, lalu dia memerintahkan anjingnya (mendekat) kepada orang tersebut, karena bisa jadi anjing itu lari dan memakan orang tersebut atau melukainya, dan si pemiliknya tidak mampu menyelamatkannya setelahnya.

Intinya, manusia dilarang melakukan semua sebab/jalan kebinasaan, baik dilakukan secara sungguhan ataupun gurauan..”

[Kitab: Syarah Riyadhus Sholihin 6/556].

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Allah Tidak Akan Mengalirkan Kebaikan Lewat Tangan-Tangan Golongan Sesat…

Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Subhanalloh… Seakan-akan Ibnu Hazm -rohimahulloh- hidup di tengah-tengah kita sekarang ini:

Beliau yang telah wafat tahun: 456 H itu mengatakan:

“Ketahuilah -semoga Allah merahmati kalian-, bahwa seluruh golongan sesat; Allah tidak akan mengalirkan kebaikan lewat tangan-tangan mereka, Dia tidak akan membukakan satu pun desa dengan tangan mereka, dan Dia juga tidak akan meninggikan satu pun bendera untuk Islam.

Mereka selalu berusaha meruntuhkan kekuasaan Kaum Muslimin, memecah belah persatuan Kaum Mukminin, menghunuskan pedangnya kepada Pemeluk Agama ini, dan mereka akan terus menjadi para perusak yang merajalela di muka bumi.

Adapun kelompok KHOWARIJ dan SYIAH; maka kasus mereka dalam masalah ini terlalu masyhur, tidak perlu susah payah untuk menyebutkannya (saking banyaknya).” [Kitab: Al-Fishol fil Milal: 4/171].

———-

Lihatlah ISIS (khowarij) dan SYIAH Rofidhoh… Keduanya sama-sama memecah belah dan meruntuhkan kekuatan Kaum Muslimin di berbagai negeri.

Semoga Allah segera mengangkat fitnah (cobaan) ini dari Kaum Muslimin… Amin.

Sehari Membawa Keberuntungan Dunia Dan Akhirat…

Rochmad Supriyadi, حفظه الله تعالى

Alhamdulilah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba’du;

Tidaklah seorang yang pada suatu hari ia tanpa sengaja mengambil gangguan yang melintang di tengah jalan mengira bahwa amalan tersebut merupakan suatu amalan yang sangat berharga sekali tatkala ia berada di akhirat, karena Allah Ta’ala telah mengampuni segala dosa-dosa nya lantaran amalan tersebut.

Tidaklah seorang perempuan pezina mengira segala dosa-dosa nya terampuni tatkala ia memberikan seteguk air kepada se ekor anjing yang sangat kehausan hingga menyelamatkan nyawa anjing tersebut, hingga Allah Ta’ala bersyukur kepada nya, dan menjadikan hari tersebut merupakan hari yang paling membawa keberuntungan pada diri nya tatkala ia berada di akhirat.

Dan hari yang paling berbahagia bagi Nabi Yusuf alaihissalam adalah hari yang ketika itu ia berhasil terbebas dari jeratan godaan sang istri raja seraya berkata, ” Aku berlindung kepada Allah”, hingga dengan ungkapan ini Allah Ta’ala berfirman,

  إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُخْلَصِينَ

Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.”

(Q.S. Yusuf :24)

Para sahabat yang menyaksikan perang Badar, Allah Ta’ala berkata kepada mereka,

اعملوا ما شئتم فقد غفرت لكم

” Berbuatlah sesuka kalian, sungguh Aku telah mengampuni kalian “

Sahabat Muliya Talhah radhiyallahu anhu tatkala memberikan punggungnya kepada Nabi Sallallahu alaihi wa sallam untuk di injak dengan kaki beliau yang mulia Sallallahu alaihi wa sallam, maka Nabi bersabda,

أوجب طلحة ، أي الجنة

” Sungguh ia, Talhah, mendapatkan surga”

Sesungguhnya setiap jiwa mukmin bisa jadi memiliki suatu amalan yang istimewa, dan berharga untuk kehidupan dunia dan akhirat nya,  dengan nya ia menggapai ridho Allah Ta’ala dan mendapatkan ampunan-Nya, tatkala Allah Ta’ala melihat kepada catatan amalan nya, mendapati hati yang memiliki cahaya iman, hingga menyinari lembaran amal nya, di hari perhitungan amal.

Adakah dirimu memiliki satu amalan yang istimewa, dengan nya menghapuskan dosa-dosa. ..?

Atau belum datang kesempatan tersebut untuk diri mu…?

Adakah tetesan air mata di waktu sunyi telah menghapus dosa-dosamu. ..?

Pernah kah usapan tangan mu kepada kepala anak yatim yang membutuhkan belas dan iba telah menghantarkan kepada ridho Allah Ta’ala. …?

Sudahkah uluran tangan mu kepada seorang muslim membuat dosa-dosa terampuni dan Allah bersyukur kepada diri mu. ..?

Apakah suatu perkataan yang hak yang engkau sampaikan ke khalayak umum membuat dosa-dosa mu terhapus dari catatan lembar amalan. …?

Tahukah bahwasanya engkau menutupi aurat dan kekurangan seorang muslim telah menjadikan Allah Ta’ala ridho akan perbuatan mu. …?

Sadarkah tatkala engkau memberikan makanan kepada fakir miskin telah menjadikan dirimu terbebas dari sentuhan api neraka. ..?

Kita semua tidak mengetahui, apakah kita mendapatkan taufik dan inayah dari Allah Ta’ala sehingga melakukan amalan yang sederhana yang menghantarkan kepada ridho Allah Ta’ala atau belum datang waktunya. …?

Wahai saudaraku yang semoga Allah memberikan limpahan Taufik. …..

Seyogyanya setiap hari engkau memiliki suatu amalan yang engkau niatkan dapat menghapus dosa-dosamu dan menghantarkan kepada keberuntungan kekal abadi dan menyelamatkan diri dari siksa api neraka.

Renungan Bagi Pengguna Internet…

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى.

Renungan bagi pengguna internet :

Bilal bin Sa’ad (seorang tabi’in) berkata

لاَ تَكُنْ وَلِيًّا لِله فِي الْعَلاَنِيَةِ وَعَدُوَّهُ فِي السَّرِيْرَةِ

“Janganlah engkau menjadi wali Allah di hadapan umum, namun tatkala sendirian menjadi musuhNya”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam kitab Al-Ikhlash wa An-Niyyah hal 23)

Hal ini sebagai mana perkataan Suhnun rahimahullah:

إِيَّاكَ أَنْ تَكُوْنَ عَدُوًّا لِإبْلِيْسَ فِي الْعَلاَنِيَةِ صَدِيْقًا لَهُ فِي السِّرِّ

“Jangan sampai engkau menjadi musuh iblis di hadapan umum sementara engkau menjadi temannya tatkala bersendirian”

Persatuan, Sunnah & Syi’ah, Mungkinkah? (bagian – 1)

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى.

Upaya mendekatkan pemikiran, kepercayaan, visi dan misi umat Islam merupakan cita-cita syari’at Islam. Yang demikian itu, karena kekuatan, kebangkitan, kejayaan dan tatanan masyarakat serta persatuan umat Islam di setiap masa dan negara tergantung kepadanya..

Setiap seruan kepada pendekatan semacam ini -bila benar-benar bersih dari berbagai kepentingan, dan pada aplikasinya tidak mendatangkan dampak negatif yang lebih besar dibanding kemaslahatannya – maka wajib atas setiap muslim untuk memenuhinya, dan bahu membahu bersama seluruh komponen umat Islam guna mewujudkannya.

Beberapa tahun terakhir, seruan semacam ini ramai dibicarakan orang, kemudian berkembang sampai ada dari sebagian umat Islam yang terpengaruh dengannya. Tak luput darinya Universitas Al Azhar, suatu lembaga pendidikan agama Islam paling terkenal dan terbesar yang dimiliki oleh Ahlus Sunnah, yang menisbatkan dirinya kepada empat Mazhab Fiqih . Hal ini menyebabkan Universitas Al Azhar melebarkan misi “Pendekatan” melebihi misi yang sebelumnya ia emban sejak masa Sholahuddin Al Ayyuby.

Pengaruh ini telah mengakibatkan Al Azhar keluar dari misi awalnya itu kepada upaya mengenal berbagai Mazhab lainnya, terutama “Mazhab Syi’ah Al Imamiyyah Al Itsnai ‘Asyariyah”. Walaupun dalam hal ini, Al Azhar masih berada di awal perjalanan.

Oleh karenanya, sangat urgen bagi setiap muslim yang berkompeten, untuk mengkaji, mempelajari, dan memapaparkan masalah ini. Kajian yang bertujuan menggali segala hal yang terkait dengan mempertimbangkan segala dampak dan resiko yang mungkin terjadi.

Dikarenakan berbagai permasalahan dalam agama sangat rumit, maka penyelesaiannyapun haruslah dengan cara yang bijak, cerdas dan tepat. Dan hendaknya orang yang mengkajinya-pun benar-benar menguasai segala aspeknya, berilmu, dan obyektif dalam setiap kajian dan kesimpulannya. Dengan demikian solusi yang ditempuh -dengan izin Allah- benar-benar membuahkan hasil yang diinginkan dan mendatangkan berbagai dampak positif.

Menurut hemat kami, syarat pertama agar perihal ini -juga setiap perkara yang berkaitan dengan berbagai pihak- berhasil adalah adanya interaksi dari kedua belah pihak atau seluruh pihak terkait.

Kita contohkan dengan perkara pendekatan antara Ahlus Sunnah dengan sekte Syi’ah. Guna merealisasikan seruan taqrib antara kedua paham ini didirikanlah suatu lembaga di Mesir, yang didanai oleh anggaran belanja negara yang berpaham Syi’ah. Negara dengan paham Syi’ah ini telah memberikan bantuan resmi tersebut hanya kepada kita.

Akan tetapi, mereka tidak pernah memberikan hal tersebut kepada bangsa dan penganut pahamnya sendiri. Mereka tidak pernah memberikan bantuan ini guna mendirikan “Lembaga Pendekatan” di kota Teheran, atau Qum, atau Najef atau Jabal ‘Amil, atau tempet-tempat lain yang merupakan pusat pengajaran dan penyebaran paham Syi’ah.

Bahkan sebaliknya, beberapa tahun terakhir ini dari berbagai pusat pengajaran dan penyebaran paham Syi’ah tersebut diterbitkan berbagai buku yang meruntuhkan impian solidaritas dan taqrib. Buku-buku yang menjadikan bulu roma kita berdiri. Diantara buku-buku tersebut adalah buku (Az Zahra) tiga jilid, yang diedarkan oleh ulama’ kota Najef. Pada buku tersebut, mereka mengisahkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin Al Khatthab radhiallahu ‘anhu, ditimpa suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan selain dengan air mani kaum lelaki!!? Buku tersebut berhasil didapatkan oleh ustadz Al Basyir Al Ibrahimy, ketua Ulama’ Al Geria (Al Jazaer) pada kunjungan pertamanya ke Iraq.

Sebenarnya, orang orang yang berjiwa kotor yang telah mencetuskan paham keji semacam ini, merekalah yang pantas untuk mendekatkan dirinya kepada Ahlus Sunnah, bukan sebaliknya.

Sebagai contoh: Diantara perbedaan paling mendasar antara kita dengan mereka berkisar seputar:
1. Dakwaan bahwa mereka lebih loyal dibanding kita kepada Ahlul Bait .
2. Dan sikap mereka yang menyembunyikan –bahkan menampakkan- kebencian dan permusuhan kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal kita semua mengetahui bahwa diatas pundak merekalah agama Islam tegak. Kebencian ini menjadikan mereka berani melemparkan tuduhan keji semacam ini kepada Amirul Mukminin Umar bin Al Khatthab radhiallahu ‘anhu.

Andai mereka bersikap obyektif, niscaya mereka lebih dahulu mengurangi kebencian dan permusuhan mereka kepada para imam generasi pertama umat Islam ini. Kemudian mereka bersyukur kepada Ahlus Sunnah atas sikapnya yang terpuji terhadap para Ahlul Bait.

Ahlus sunnah tidak pernah lalai dari kewajiban menghormati dan memuliakan mereka (ahlul bait).

Lain halnya bila yang dimaksudkan dengan penghormatan kepada ahlul bait adalah: menjadikan mereka sebagai sesembahan yang diibadahi bersama Allah, sebagaimana yang mereka lakukan di berbagai kuburan ahul bait yang berada di tengah-tengah penganut paham Syi’ah.

Interaksi harus dilakukan secara imbal balik antara kedua belah pihak yang diinginkan untuk terjalin toleransi dan pendekatan antara keduanya. Akan tetapi interaksi tidak akan pernah terwujud selain dengan mempertemukan antara yang positif dan yang negatif (pro dan kontra). Sebagaimana interaksi juga tidak akan pernah terealisasi bila berbagai gerak dakwah dan aplikasinya hanya terfokus pada satu pihak semata, sebagaimana yang terjadi sekarang ini

Sebagaimana kami mengkriti keberadaan lembaga taqrib tunggal yang berpusatkan di ibu kota negeri Ahlus Sunnah, yaitu Mesir ini, karena tidak diimbangi oleh pusat-pusat kota negri Mazhab Syi’ah.

Bahkan berbagai pusat penyebaran paham Syi’ah itu gencar mengajarkannya, dan memusuhi paham lain. Kami juga mengkritiki upaya memasukkan permasalahan ini sebagai mata kuliah di Universitas Al Azhar, selama hal yang sama tidak dilakukan di berbagai perguruan Syi’ah.

Disebabkan upaya ini -sebagaimana yang sekarang terjadi- hanya diterapkan sepihak, maka tidak akan pernah berhasil. Bahkan tidak menutup kemungkinan malah menimbulkan interaksi balik yang tidak terpuji.

Termasuk cara paling sederhana dalam mengadakan pengenalan ialah dengan memulainya dari permasalahan furu’ sebelum membahas berbagai permasalahan ushul (prinsip)!.

Ilmu Fiqih Ahlus Sunnah dan Ilmu Fiqih Syi’ah tidaklah bersumberkan dari dalil-dalil yang disepakati antara kedua kelompok. Dasar-dasar fiqih keempat Imam Mazhab Ahlus Sunnah berbeda dengan dasar-dasar fiqih Syi’ah.

Selama tidak terjadi penyatuan dasar-dasar dan ushul sebelum kita mengkaji berbagai permasalahan furu’. Selama tidak ada penyatuan persepsi kedua belah pihak dalam sumber-sumber hukum, yang diimplementasikan pada lembaga-lembaga pendidikan agama yang mereka miliki, maka tidak ada gunanya kita menyia-nyiakan waktu membahas permasalahan furu’. Yang kita maksudkan bukan hanya ilmu ushul fiqih, akan tetapi ushul/dasar-dasar agama kedua belah pihak dari akar permasalahannya yang paling mendasar.

(dinukil dari buku: Mungkinkah Sunnah dan SYi’ah Bersatu?
(Sebuah Tinjauan Kritis Terhadap Prinsip-prinsip Dasar
Sekte Syi’ah Imamiyah Itsnai ‘Asyariyah) Oleh: SYeikh Muhibbuddin Al-Khathiib

Bersambung ;……

Menebar Cahaya Sunnah