Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى
Di dalam kitabnya “Al-Maudhu’at”, beliau menyebutkan sebuah hadits palsu, lalu beliau mengomentarinya dengan mengatakan:
“Ini adalah hadits palsu, yang memalsukannya Musa bin Qois, dia termasuk seorang syiah rofidhoh yang ekstrim, dan dia dijuluki ‘ushfurul jannah’ (burung pipit surga). InsyaAllah dia menjadi ‘hamirun nar’ (keledai neraka)”.
[Kitab Almaudhu’at 1/382].
————-
Sungguh dari dulu para ulama kaum muslimin dari berbagai madzhab ahlussunnah sangat membenci kelompok syiah rofidhoh… sebaliknya, syiah rofidhoh juga sangat membenci ulama-ulama ahlussunnah… dan sejarah yang menjadi saksinya.
Jika demikian, pantaskah ajakan untuk toleran terhadap mereka kita dengar?!
Sungguh kita sebagai Ahlussunnah Waljama’ah sangat menghormati Ahlul Bait dan Para Sahabat Nabi… tapi mereka malah menjadikan tindakan mencela sahabat Abu Bakar dan Umar, tindakan merendahkan Ibunda Aisyah dan Hafshoh dua isteri Nabi, sebagai IBADAH yang mulia.
Pantaskah kita toleran terhadap orang seperti mereka?!
Jika tindakan mencela bapak dan ibu kita saja sangat menyulut kebencian kita… apalagi jika yang dicela adalah tokoh kaum muslimin yang paling mulia setelah Nabi -shollallohu alaihi wasallam-… apalagi bila yang dicela adalah isteri Nabi, yang merupakan IBUNDA kaum mukminin.
Wahai kaum muslimin, bangunlah… berbenahlah…
Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
Bermimpi sukses itu kerjaan setiap orang, dan kagum kepada orang sukses itu adalah perilaku setiap orang. Namun sadarkah anda bahwa hanya berbekalkan rasa kagum dan mimpi menjadi sukses tidak cukup untuk menjadi orang sukses?
Orang yang puas dengan rasa kagum kepada orang sukses, apalagi beranggapan bahwa rasa kagumnya yang hanya dibubuhi dengan doa sudah cukup untuk menjadikannya turut sukses, sejatinya adalah orang yang telat cerdas.
Orang cerdas selalu sadar bahwa setiap kesuksesan biasanya mengandung empat unsur utama:
1. mimpi menjadi orang sukses yang belanjut menjadi tekad kuat.
2. Usaha keras yang diiringi dengan pengorbanan.
3. Doa yang dilandasi oleh keyakinan dan iman.
4. Taufiq dan pertolongan Allah Azza wa Jalla.
Dengan keempat hal inilah orang sukses menggapai suksesnya.
Karena itu, akan lebih bijak bila setiap kali anda melihat orang sukses anda mempelajari langkahnya, melihat pengorbananya bukan hanya menggeleng-gelengkan kepala anda dengan keras karena tak kuasa menahan rasa kagum .
Karena itu bila anda ingin sukses seperti mereka, maka jangan puas dengan kekaguman dan terus hanyut dalam geleng geleng kepala kekaguman. Namun segera bulatkan tekad, langkahkan kaki, lakukan pengorbanan dan teguhkan iman anda. Insya Allah anda segera menyusul menjadi orang sukses.
Contoh nyata, bila anda melihat orang mengendari mobil mewah, maka jangan hanya kagum dengan kemewahan mobilnya, karena hanya kagum anda tidak akan pernah bisa memilikinya. Namun pikirkanlah, berapa harganya dan bagaimana ia dapat memiliki uang sebanyak itu sehingga bisa membelinya.
Anda melihat lelaki memiliki istri cantik, jangan hanya kagum kepada kecantikan istri lelaki itu, namun pikirkan dengan apa wanita secantik itu terpikat kepada lelaki itu dan bagaimana lelaki itu berhasil memiliki hal tersebut, dan dengan apa lelaki itu mengikat wanita itu sehingga setia kepadanya?
Selamat mencoba, semoga sukses.
1390. BBG Al Ilmu
Tanya :
Ustadz, akhir-akhir ini banyak orang yang melecehkan ajaran sunnah dan yang menjalankan sunnah. Namun di pihak lain, mereka yang menjalankan sunnah memperbincangkan hal ini di komunitas mereka masing-masing (WA/BBM/FB dll) dan cenderung mentertawakan/memperolok/mencaci maki ‘kebodohan’ orang tersebut. Apakah ini benar ustadz ?
Jawab :
Syaikh Abdurrazzaq Al Badr, حفظه الله تعالى pernah berkata :
“Membicarakan MUKHOOLIF (orang yang menyelisihi manhaj) tanpa suatu keperluan baik untuk membantah atau mengingatkan ummat adalah GHIBAH. Seperti menjadikan mereka sebagai bahan tertawaan atau pelengkap majelis.”
Lebih lanjut Ustadz Aan Chandra Thalib, حفظه الله تعالى menulis bahwa ada pepatah Arab sebagai berikut :
“Welas asih itu adalah keindahan, sementara diam adalah keselamatan.
Jika engkau berucap, jangan sampai berlebihan. Aku tak pernah menyesali diamku walau sekali saja. Namun sungguh aku menyesali ucapankan berkali-kali.”
Semoga Allah menjaga lisan-lisan kita dari petaka ghibah.”
Ref: http:/bbg-alilmu.com/archives/7812
والله أعلم بالصواب
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى
Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:
“Allah biasa menghukum hambaNya yang beriman dan dicintaiNya -yang dia melihat Allah sebagai Dzat yang maha pemurah-, karena sebab kesalahan yang sangat kecil atau kelengahan, sehingga dia menjadi hamba yang selalu terjaga dan waspada.
Adapun orang yang jatuh dan hina di mata Allah, maka Dia membiarkannya melakukan banyak maksiat. Setiap kali dia melakukan dosa, Allah tambahi lagi kenikmatan untuknya.
Orang yang tertipu mengira bahwa itu termasuk bentuk pemuliaan Allah terhadapnya, dia tidak tahu bahwa itu sejatinya menghinakannya, dan bahwa dengannya Allah menginginkan untuknya siksaan yang keras dan hukuman yang tiada akhirnya”.
[Kitab: Zadul Ma’ad, 3/506].
———-
Jangan terkecoh dengan nikmat dunia, dia bukanlah ukuran mulia dan hinanya seseorang di sisi Allah… dia juga bukan ukuran benar dan salahnya seseorang.
Semua hamba akan diberikan Allah nikmat dunia, sebagaimana firman-Nya:
“Kepada masing-masing golongan itu, baik golongan yang menginginkan dunia maupun golongan yang menginginkan akherat, Kami berikan bantuan dari Tuhanmu”. [Al-Isro: 20].
Ingatlah bahwa kenikmatan dunia ini sangatlah sedikit di mata Allah, oleh karenanya Allah tetap memberikannya walaupun kepada orang kafir, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-:
“Seandainya dunia ini sama di sisi Allah dengan sayap nyamuk, tentu Dia tidak akan meminumi orang kafir, meski hanya seteguk”. [HR. Attirmidzi: 2320 dan yang lainnya, dan disahihkan oleh Syaikh Albani].
Oleh karenanya, tetaplah teguh di atas syariat-Nya… Fokuskan hidupmu untuk meraih kehidupan akherat yang mulia… Dan tenanglah, jangan khawatir, dengannya Allah akan tetap memuliakanmu di dunia.
1389. BBG Al Ilmu
Tanya :
Ustadz, ada sunnah mengucapkan takbir “Allahu Akbar” ketika berjalan pada jalanan menanjak dan mengucapkan tasbih “SubhaanAllah” ketika jalanan menurun.
Apakah hal ini juga berlaku, yaitu mengucapkan “Allahu Akbar” dan SubhaanAllah” ketika kita menaiki/menuruni eskalator atau Lift di gedung-gedung bertingkat, dan apabila kita menaiki/menuruni tangga baik itu di rumah kita sendiri atau masjid ?
Jawab :
Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى
Iya, TERMASUK juga.
والله أعلم بالصواب
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
1388. BBG Al Ilmu – 117
Tanya :
Mohon pencerahan mengenai peristiwa karbala detailnya, sehingga terbunuhnya Hussein.
Jawab :
Dikarenakan terbatasnya ruang, silahkan buka link artikel berikut :
http://almanhaj.or.id/content/2606/slash/0/peristiwa-karbala-dalam-pandangan-ahlussunnah-wal-jamaah/
والله أعلم بالصواب
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
1387. BBG Al Ilmu – 463
Tanya :
Ada event MTQ dengan memungut uang adminstrasi/pendaftaran, apakah ini tergolong perjudian ustadz ?
Jawab :
Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى
Jika uang administrasi dibuat hadiah, maka tidak boleh. Walaupun hanya sebagian uang peserta yang dibuat hadiah, tetap tidak boleh.
Namun bila hadiah murni dari sponsor, maka dibolehkan.
والله أعلم بالصواب
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Penjelasan hadits :
Hadits tersebut berisikan anjuran untuk saling memberikan kebaikan berupa hadiah, baik sesuatu yang besar maupun kecil.
Islam menganjurkan agar umatnya saling mencintai dan bersatu di dalam ukhuwah islamiyah. Oleh karena itulah, islam pun menganjurkan hal-hal yang menjadi sebab tumbuhnya kasih sayang dan persatuan di antara kaum muslimin. Salah satunya, adalah dengan saling memberikan hadiah yang nantinya akan menumbuhkan rasa saling mencintai di antara kita.
Seorang yang diberikan hadiah oleh orang lain dianjurkan untuk menerima hadiah tersebut meskipun hanya sesuatu yang tidak seberapa harganya. Karena, dengan menerima hadiah akan menyenangkan hati orang yang memberikan hadiah tersebut.
Wallahu ta’ala a’lam.
و صلى الله على نبينا محمد.
Ust. Riki (mahasiswa Universitas Islam Madinah)
Courtesy of JODOH.
?Ust Riki