Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (4)

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal keempat yang bisa membantu kita untuk bersabar menghadapi gangguan manusia adalah:

Dengan mengingatkan diri, bahwa jika memaafkan dan berbuat baik kepadanya, itu akan menjadikan hatinya bersih dari membenci saudaranya, hatinya akan suci dari kebencian, kedengkian, niat balas dendam, dan niat buruk lainnya.

Dengan begitu, akan tumbuh pada dirinya manisnya memaafkan… bahkan kelezatan dan manfaat memaafkan itu -baik yang sekarang ataupun yang nanti- menjadi berlipat-lipat melebihi kepuasan yang timbul dari tindakan membalas dendam.

Dan itu masuk dalam firman Allah ta’ala (yang artinya): “Allah mencintai orang-orang berbuat baik.” [Alu Imron: 134], maka jadilah dia hamba yang dicintai Allah.

Dengan demikian, keadaannya seperti orang yang diambil darinya satu dirham perak, lalu dia mendapatkan ribuan dinar emas sebagai gantinya. Tentu saat itu dia akan senang tiada tara atas balasan yang diberikan Allah kepadanya.

(Jami’ul Masa’il, 1/169-170).

———–

Intinya, Ingatlah bahwa dengan bersabar dan memaafkan orang lain, hati Anda akan sehat dan bersih dari penyakit hati… bahwa manfaat dan kelezatan yang ditimbulkan oleh sikap memaafkan, jauh lebih besar dan berlipat-lipat melebihi manfaat dan kepuasan yang ditimbulkan oleh sikap membalas dendam… biarlah orang lain mengambil satu dirham perak dari Anda, bila dengannya Allah berikan untuk Anda ribuan dinar emas.
.

Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (4)

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal keempat yang bisa membantu kita untuk bersabar menghadapi gangguan manusia adalah:

Dengan mengingatkan diri, bahwa jika memaafkan dan berbuat baik kepadanya, itu akan menjadikan hatinya bersih dari membenci saudaranya, hatinya akan suci dari kebencian, kedengkian, niat balas dendam, dan niat buruk lainnya.

Dengan begitu, akan tumbuh pada dirinya manisnya memaafkan… bahkan kelezatan dan manfaat memaafkan itu -baik yang sekarang ataupun yang nanti- menjadi berlipat-lipat melebihi kepuasan yang timbul dari tindakan membalas dendam.

Dan itu masuk dalam firman Allah ta’ala (yang artinya): “Allah mencintai orang-orang berbuat baik.” [Alu Imron: 134], maka jadilah dia hamba yang dicintai Allah.

Dengan demikian, keadaannya seperti orang yang diambil darinya satu dirham perak, lalu dia mendapatkan ribuan dinar emas sebagai gantinya. Tentu saat itu dia akan senang tiada tara atas balasan yang diberikan Allah kepadanya.

[Jami’ul Masa’il, 1/169-170].

———–

Intinya, Ingatlah bahwa dengan bersabar dan memaafkan orang lain, hati Anda akan sehat dan bersih dari penyakit hati… bahwa manfaat dan kelezatan yang ditimbulkan oleh sikap memaafkan, jauh lebih besar dan berlipat-lipat melebihi manfaat dan kepuasan yang ditimbulkan oleh sikap membalas dendam… biarlah orang lain mengambil satu dirham perak dari Anda, bila dengannya Allah berikan untuk Anda ribuan dinar emas.

Indahnya Qona’ah

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Cerita yang menarik dari team verivikasi sip ketika mengunjungi salah satu dluafa di daerah manggarai..
Suami dan istri keduanya buta..
Namun tak pernah putus asa mencari rezeki..
Ketika team mengunjungi langsung ke rumahnya..
Mereka mengatakan bahwa mereka Alhamdulillah usaha jualan kerupuk..
Suaminya walaupun buta..
Ia pergi jualan kerupuk..
Alhamdulillah sebulan kami dapat 1,5 juta..
500 ribu untuk bayar kontrakan..
Sisanya utk makan dan biaya dua anak sekolah, tukasnya.
Ketika team bertanya apa yang bisa dibantu..
Mereka jawab, kami minta bantuan bimbingan agama saja..
Jawaban yang membuat team tertegun..
Ia terlihat bahagia dan qona’ah..
Dia tak mengeluh tentang keadaannya..
Subhanallah..
Itulah iman ketika telah menghunjam di dada..
Tak ada yang ia harapkan kecuali keridlaan sang pencipta

Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (3)

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal ketiga yang bisa membantu kita untuk bersabar menghadapi gangguan manusia adalah:

Dengan mengingatkan diri akan indahnya pahala yang Allah janjikan bagi orang yang memaafkan dan bersabar, sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya):

“Balasan keburukan adalah keburukan yang semisal dengannya. Namun siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat buruk padanya), maka pahalanya ditanggung Allah. Sungguh Dia tidak menyukai orang-orang yang berbuat zalim”. [Asy-Syuro: 40].

Di dalam ayat ini, Allah menyebutkan kelas-kelas manusia dilihat dari sikap mereka ketika diganggu:

(a) Orang yang zalim, yaitu orang yang membalas keburukan melebihi batasan haknya. Ini Allah sebut di akhir ayat.

(b) Orang yang proporsional (muqtashid), yaitu orang yang membalas keburukan sesuai batasan haknya. Ini Allah sebut di awal ayat.

(c) Orang yang mulia (muhsin), yaitu orang yang memaafkan dan meninggalkan haknya sama sekali. Ini Allah sebut di tengah ayat.

Hendaknya seorang hamba juga mengingat panggilan kehormatan di hari kiamat nanti: “Berdirilah, orang pahalanya dalam tanggungan Allah!”, maka tidaklah dapat berdiri melainkan orang yang mengampuni dan berbuat baik kepada orang yang menzaliminya.

Ketika, seseorang ingat hal ini, dan juga mengingat bahwa pahala agung itu akan luput darinya dengan tindakan membalas dan mengambil penuh haknya, tentu akan menjadi mudah baginya untuk bersabar dan memaafkan.

[Jami’ul Masa’il, 1/169].

————

Intinya, dengan mengingatkan diri kepada pahala agung yang dijanjikan Allah ta’ala kepada hamba yang bersabar dan memaafkan saat dizalimi, bahkan di akherat nanti akan mendapatkan panggilan kehormatan… dan dengan membalasnya, dia akan kehilangan kesempatan untuk meraih pahala besar tesebut… maka, kita akan semakin mudah untuk bersabar dalam menghadapi gangguan dan celaan orang lain.

Haruskah Anda Menembak Semua Musuh ?

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat, bermimpi bisa mengalahkan semua musuh dan bahkan menumpas semua musuh itu sangatlah mudah. Namun kenyataannya, sekedar mengalahkan satu musuh saja kadang kala mengharuskan kita menguras segala tenaga dan kemampuan kita. Dalam kondisi semacam ini, anda pasti terpaksa menghemat amunisi anda, memilih sasaran yang tetap lalu membidiknya dengan tepat pula.

Dalam kondisi semacam ini bisa jadi anda harus menerima kenyataan bahwa ada musuh yang harus anda lawan dengan tangan kosong alias dengan kepalan tangan anda, karena sayang kepada amunisi anda bukan kepada musuh anda. Dan bisa jadi anda terpaksa harus membiarkan musuh melenggang pergi karena anda tidak ingin kehabisan tenaga dan amunisi.

Dan bisa jadi ada pula musuh yang terpaksa anda beri “makan” agar ia menjinak sehingga membiarkan anda menghadapi musuh lain yang lebih berbahaya.

Kondisi semacam ini terjadi dalam segala bentuk permusuhan sampaipun permusuhan dalam urusan agama. Alangkah bijaknya bila anda pandai menghemat amunisi untuk ditembakkan kepada musuh yang paling berbahaya dan paling berat, sedangkan sebagian musuh barang kali cukup anda selesaikan dengan kepalan tangan anda. Dan bisa jadi pula anda musuh yang untuk saat ini perlu anda memberinya “umpan” agar jinak walau hanya untuk sementara.

Anda harus paham dan menyadari bahwa amunisi dan tenaga anda tidak akan pernah cukup untuk menumpas seluruh musuh secara bersamaan. Namun percayalah bahwa bila anda pandai mengatur amunisi dan perlawanan anda dengan baik, niscaya anda bisa mengalahkan semua musuh anda.

Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (2)

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal kedua yang bisa membantu seseorang untuk bersabar menghadapi gangguan manusia adalah:
Dengan mengakui dosa-dosanya, bahwa Allah menjadikan mereka melakukan hal buruk kepadanya adalah karena dosa yang ada padanya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

“Musibah apapun yang menimpa kalian, maka itu disebabkan oleh tangan-tangan kalian sendiri, padahal Dia telah banyak memaafkan.” [Asy-Syuro: 30].

Maka, apabila seorang hamba menyadari bahwa semua musibah yang dialaminya adalah disebabkan dosa-dosanya, tentu dia akan menyibukkan dirinya dengan taubat dan istighfar dari dosa-dosanya, karena itulah yang menjadi penyebab datangnya gangguan mereka terhadapnya.

Dengan begitu, dia akan terhindar dari tindakan mencela mereka, atau menyalahkan mereka, atau menjelek-jelekkan mereka.

Bila engkau melihat seseorang menjelek-jelekkan manusia saat mereka menyakitinya, dan dia tidak introspeksi diri dengan menyalahkan dirinya dan beristighfar, maka ketahuilah bahwa musibahnya memang benar-benar nyata.

Dan apabila hal itu menjadikannya bertaubat, beristighfar, dan mengatakan “ini memang karena dosa-dosaku”, maka musibah itu menjadi kenikmatan yang ada pada dirinya.

Sahabat Ali bin Abi Thalib -rodhiallohu anhu- telah mengatakan pesan mutiara: “Jangan sampai seorang hamba berharap melainkan kepada Rabb-nya, dan jangan sampai seorang hamba khawatir kecuali terhadap dosanya.”

Diriwayatkan pula dari beliau dan yang lainnya: “Tidaklah musibah turun, melainkan karena sebab dosa. Dan tidaklah ia diangkat, melainkan dengan taubat.”

[Jami’ul Masa’il, 1/169].

———-

Intinya, jika Anda diganggu atau disakiti orang lain, maka ingatlah bahwa penyebabnya adalah dosa-dosa yang Anda lakukan…

Oleh karenanya, tidak perlu Anda membalasnya, tapi sibukkan diri dengan banyak istighfar dan taubat, sehingga musibah itu diangkat oleh Allah ta’ala…

Dengan langkah ini pula, kita bisa menjadikan musibah itu mendatangkan nikmat kebaikan.

Menebar Cahaya Sunnah