Waspada ! … Do’a Pernikahan Ala Syi’ah…

Muhammad Wasitho, حفظه الله تعالى

Seringkali kita saat menerima Undangan Walimahan/Pernikahan, di kertas undangan tersebut tertulis do’a pernikahan yang katanya Do’a Rosululloh saat pernikahan Ali dengan Fatimah.

“Semoga Allah  menghimpun yang terserak dari keduanya memberkati mereka berdua, meningkatkan kualitas keturunannya sebagai pembuka pintu rakhmat, sumber ilmu dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi umat.”

(Doa Nabi Muhammad shollalahu ‘alayhi wasallam pada pernikahan putrinya Fatimah Az Zahra dengan Ali bin Abi Thalib)

Tahukah Anda bahwa do’a ini TIDAKLAH DITEMUKAN dalam kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah.

Akan tetapi do’a seperti ini justru ada dalam kitab kitab hadits Syi’ah, seperti Bihaar al-Anwaar karya Al-Majlisi 100/274, Khosho-ish Amiirul Mu’miniin no.115.

Dengan demikian, doa tersebut tidak benar dari Nabi Sholallohu ‘alaihi wa sallam.

Hendaklah mendoakan keberkahan kepada pengantin sebagaimana yang diajarkan Rosululloh seperti berikut:

ﺑَﺎﺭَﻙَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻚَ ﻭَﺑَﺎﺭَﻙَ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻭَﺟَﻤَﻊَ ﺑَﻴْنكمَُا ﻓِﻲْ ﺧَﻴْﺮٍ

“Semoga Allah memberi berkah kepadamu dan atasmu serta mengumpulkan kamu berdua (pengantin laki-laki dan perempuan) dalam kebaikan.” 

(Shahih At- Tirmidzi:1/316)

——————–

Disarikan dari jawaban Al-Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA
Copas: Salamdakwah

Kata Nanti…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Nanti…
Sebuah kata yang
mengganjal…
membuat malas…
membuat berat…
membuat rusak banyak rencana…

Al Hasan Al Bashri
berkata,
“Jauhi olehmu “nanti”…
Karena kamu sedang
berada di hari ini…
Dan bukan dihari esok…
Bila hari esok tidak menjelang…
Kamu tidak akan
menyesal…
Bila masih menjelang…
Kamu lebih mampu untuk berbuat seperti hari ini…
(Al Himam Al ‘Aliyah).

Banyak pemuda/pemudi terbuai oleh “nanti”…

Katanya:
Nanti saja berTaubatnya…
Nanti saja meNgajinya…
Nanti saja memBacanya…
Nanti saja berJilbabnya…
Entah sampai kapan
ia akan trus di buai oleh Nanti…
Setiap kali m’dapat kesempatan…
Kata “Nanti”
menghentikan keinginan…

Abdullah bin Umar
berkata,
“Bila kamu berada di
waktu pagi, jangan tunggu waktu sore…
Dan bila berada di waktu sore,jangan tunggu waktu pagi…
Ambil kesempatan Sehat sebelum Sakitmu…
Dan kesempatan hidup tuk bekal keMatianmu…
(HR.Bukhari & Muslim).

Nanti…
Adalah musuh penuntut ilmu…
Ia tak pernah mengenal “nanti”…
Kecuali nanti yang berManfaat…

Bila di ajak nonton
euro…ia berkata,
“Nanti…
Saya mau Tahajjud”
Bila diajak nonton sinetron…ia berkata,
“Nanti…
Masih banyak buku yang belum diBaca”
Bila diajak Ngerumpi…
“Nanti saja kalau saya
udah masuk surga”

1386. Uang asuransi…

1386. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz saya baru dapat uang asuransi, dan saya berniat mengambil uang asuransi itu sebesar yang saya keluarkan saja selama ini dan yang mau saya tanyakan mana yang lebih afdol sisanya saya kembalikan ke perusahaan asuransi itu atau saya berikan ke kerabat saya yang membutuhkan.

Jawab :
Badru Salam, حفظه الله تعالى

Kasih ke faqir miskin.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Dakwah…

Syafiq ibn Riza ibn Hasan ibn Abdul Qadir Basalamah, حفظه الله تعالى

بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Akhi / ukhti, salâmullôh ‘alaikum…

Berdakwah menyampaikan agama الله adalah suatu kewajiban yang agung dan mulia…

Bahkan para pendakwah adalah kekasih pilihan الله…
Kita diperintahkan untuk menyampaikan agama الله pada setiap manusia…
Kepada mereka yang di pasar, di mall, di masjid, di lapangan, di jalanan…

Seorang pendakwah seyogyanya mendatangi orang-orang yang menjadi sasaran dakwah…

Sebagaimana Nabi صلى الله عليه و سلم mendatangi majelis-majelis orang kâfir pada waktu Beliau berdakwah…

Ada yang berucap :

“ilmu itu didatangi, bukan datang kepadamu”…

Na’am, bagi seorang penuntut ilmu seyogyanya ia yang mendatangin para ustadz dan ‘ulama untuk menimba ilmu dari mereka…

Sebaliknya, sebagai seorang pendakwah, seharusnya ia mendatangi orang-orang yang menjadi sasaran dakwah…

Para pendakwah seharusnya mendatangi orang-orang yang berada di pedalaman, di pegunungan, sebagaimana mendatangi mereka di kota-kota… di perkantoran… di rumah-rumah… di mana ada ruang untuk menyampaikan agama Allah… ia tidak boleh menyia-nyiakannya…!

Karena medan dakwah terlalu besar dan tantangan begitu dahsyatnya dengan jumlah penduduk yang tembus 230 juta…

Maka para pendakwah harus berbagi tugas…

Sebagian bergerak di dunia pendidikan…
Formal dan non-formal…

Ada yang tingkat dasar dan ada yang tingkat atas…

Ada yang GRATIS…
Ada yang murah…
Ada yang sedang…
Ada yang MAHAL BANGET dan tidak wajar untuk sebuah Pesantren Islâm…

Pada hakekatnya, PERBEDAAN itu bukan masalah…

Karena yang didakwahi memang berbeda…

Ada yang maunya formal, maka kita pun bikin yang formal…

Ada yang mau bagus dengan fasilitas tinggi, kita pun membuatnya…

Semuanya sedang berdakwah dengan segment yang beda…

Ada yang berdakwah lewat kajian-kajian…

Ada yang mau bikin kajian di perusahaannya untuk karyawannya, kita pun datang kepada mereka…

Ada yang bikin kajian khusus untuk keluarga di rumahnya, kita pun menyambutnya…

Ada yang bikin kajian khusus untuk anak-anak remaja, kita juga tidak membiarkannya…

Ada yang bikin seminar di kampus-kampus untuk mendakwahi para akademisi…

Ada yang membuat kajian khusus untuk para dokter di rumah sakit, kita pun bersegera mengiyakannya…

Ada yang bikin DAUROH KHUSUS untuk para ustadz di vila atau hotel dengan pemateri masyaikh kibar dari luar Indonesia, pesertanya terbatas dan pendaftarannya ketat, BUKAN KARENA INGIN MEMBATASI ILMU bagi penuntut ilmu yang lainnya, tapi ada maslahat dan target yang diburu…

Ada yang bikin kajian buat anak-anak yatim dan janda-janda tua, kita tidak menolaknya…

Ada yang membuat di musholla sebelah rumahnya, kita pun juga tidak meremehkannya…

Ada yang membuat kajian khusus para ummahat dengan tema dan kitab yang bermacam-macam, kita pun tidak sungkan untuk menghadirinya…

Ada yang fokus berdakwah di daerah pedalaman dan membendung kristenisasi, kita pun memberikan apresiasi yang besar kepada mereka…

Ada yang berdakwah lewat media, televisi, dan radio dengan segment yang berbeda-beda…

Terkadang ada yang bertanya kenapa ada beberapa televisi Ahlus-Sunnah, kenapa tidak hanya satu saja…?

Itulah hikmah dalam berdakwah, sasaran dakwahnya berjumlahnya 230 juta dengan berbagai kecenderungan dan level pendidikan yang berbeda-beda…

Ada yang berdakwah lewat tulisan dengan menerbitkan buku-buku yang dijual dengan harga variatif

Ada yang harganya mahal dengan kertas dan sampul buku yang lux, sehingga tidak bisa membelinya kecuali orang yang berdompet tebal…

Ada yang dengan harga standar dengan kertas yang biasa…

Semua dengan segmen yang berbeda-beda karena yang didakwahi memang beragam, bukan satu macam…

Ada yang berdakwah dengan membuat travel umroh dan hajji dengan harga yang disesuaikan dengan keinginan jama’ah…

Ada yang standar bintang 5 sehingga membuat jema’ah terbelalak melihat harganya…

Kenapa kok tidak 1 harga saja…?

Kan tujuannya adalah ibadah, thowaf dan sa’inya di tempat yang sama, kenapa harus pilih-pilih kamar dan membeda-bedakan jemaah…?

Tapi itulah salah satu hikmah dalam berdakwah, yang jadi sasaran memang mereka yang biasa tinggal di hotel bintang 5, kita tidak bisa memaksa mereka untuk ikut paket murah, dengan dalih tidak boleh boros dan berlebih-lebihan…

Ada yang melihat peluang mendakwahi orang-orang yang biasa berlibur di vila-vila mewah atau hotel-hotel berbintang, yang setiap pekan memadati jalan ke puncak, tanpa ada yang menyentuh liburan mereka dengan siraman rohani, maka sebagian ikhwan kita berpikir bagaimana liburan akhir pekan mereka lebih bermanfaat…

Semua sedang berdakwah dengan cara dan metodenya…

Nabi صلى الله عليه و سلم tidak pernah meremehkan siapa pun untuk di dakwahi…

Baik yang kaya, miskin, badui, atau orang kota, semuanya Beliau dakwahi…

Beliau tidak pernah membuang kesempatan dan peluang untuk berdakwah, walaupun celaan dan tuduhan keji sering beliau dapatkan…

Sungguh الله memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk berdakwah dengan hikmah, sebagaimana firman-Nya:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Robb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Robb-mu, Dia lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS.An-Nahl : 125).

Di antara makna hikmah adalah memperlakukan tiap manusia sesuai dengan kondisinya,

Oleh karena itu, Nabi صلى الله عليه و سلم memperlakukan setiap ragam manusia sesuai dengan kedudukan dan karakternya…

Bahkan Beliau berpesan:

إِذَا أَتَاكُمْ كَرِيْمُ قَوْمٍ فَأَكْرِمُوْهُ

“Apabila datang kepadamu yang mulia dari suatu kaum, maka muliakanlah ia.” (Shohîh Sunan Ibnu Mâjah II/303 no 2991 ~ hasan).

▶ Yang suka kehormatan, Beliau kasih kehormatan, seperti kisah Abû Sufyan…
Ibnu Abbâs رضي الله عنهما berkata:

“Tatkala penaklukan kota Makkah maka Abbâs ibn ‘Abdil Muththolib membawa Abû Sufyan ibn Harb, maka Abû Sufyan pun masuk Islâm di Marru ad-Zhorôn (nama suatu tempat dekat Makkah -pen).

Maka Abbas berkata kepada Nabi :

‘Wahai Rosûlullôh, sesungguhnya Abû Sufyan adalah seseorang yang suka kemuliaan, kalau seandainya engkau memberikan sesuatu untuknya?’

Maka Nabi berkata:

‘Iya, barang siapa yang masuk ke rumah Abû Sufyan maka ia aman, dan barang siapa yang menutup pintunya maka ia aman.”
(HR Abû Dâwûd no 3023 ~ dihasankan oleh Syaikh al-Albânî).

▶ Yang suka harta, Beliau kasih harta, seperti kisah ‘Amru ibn Taghlib…

‘Amru ibn Taghlib bercerita:

“Sesungguhnya Rosûlullôh pernah diberi harta atau tawanan, kemudian Beliau membagikannya, lantas Beliau memberikan sebahagian orang dan meninggalkan sebahagian orang. Maka orang-orang yang ditinggalkan (yang tidak diberi) mencela keputusan Rosûlullôh itu.

Kemudian Rosûlullôh memuji Allah, setelah itu Beliau berkata :

‘Maka demi الله, sesungguhnya aku telah memberi sebahagian dan telah meninggalkan sebahagian, dan orang-orang yang kutinggalkan itu lebih aku cintai daripada orang-orang yang kuberi.

Akan tetapi aku memberi kaum yang aku melihat di hatinya masih ada kecemasan dan kekalutan, dan aku membiarkan kaum lain kepada apa yang dijadikan Allah pada hati-hati mereka berupa kekayaan dan kebaikan, di antara mereka adalah ‘Amru ibn Taghlib.’

(Kemudian berkata ‘Amru ibn Taghlib) Maka demi Allah, tidaklah ada yang melebihi kecintaanku pada unta merah kecuali ucapan Rosûlullôh kepadaku tadi.”
(HR.Bukhôrî, no.871).

▶ Yang memiliki iman kuat, maka Beliau berbagi cintanya kepada mereka, seperti kisah orang orang Anshor…

Imâm Muslim meriwayatkan, bahwa (Anas ibn Mâlik) berkata :

“Ketika Makkah telah ditaklukkan, Rosûlullôh صلى الله عليه و سلم membagi-bagikan harta rampasan kepada orang-orang Quraisy.

Maka orang-orang Anshor pun berujar :

‘Ini sungguh-sungguh mengherankan.

Pedang kita masih basah oleh darah musuh, tetapi harta rampasan kita diberikan kepada mereka (orang-orang Quraisy)?’ Lalu ungkapan itu sampai kepada Rosûlullôh صلى الله عليه و سلم,

Akhirnya Beliau pun mengumpulkan mereka.

Beliau bertanya:

‘Benarkah berita yang sampai kepadaku tentang ucapan kalian?’

Mereka menjawab :

‘Apa yang mereka sampaikan itu benar, ya Rosûlullôh! Mereka tidak berdusta.’

Maka Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda :

‘Apakah kalian tidak rela kalau mereka pulang dengan membawa harta benda Dunia, sedangkan kalian semua pulang ke rumah masing-masing bersama dengan Rosûlullôh?

Seandainya manusia berjalan di suatu lembah dan bukit, sedangkan orang-orang Anshor melewati lembah dan bukit yang lain, niscaya saya akan mengikuti lembah dan bukit yang ditempuh kaum Anshor.”

Sikap berbeda Nabi صلى الله عليه و سلم kadang dipandang negative oleh sebahagian Shohâbat, namun setelah Beliau jelaskan bahwa manusia itu berbeda-beda dan cara menghadapinya juga berbeda… akhirnya mereka paham…

▶ Yang bodoh dan tidak mengerti, Beliau tidak langsung menegur dan memarahinya, seperti ketika ada Badui yang masuk ke dalam masjid lalu kencing, tentunya berbeda dengan sikap para Shohâbat yang ingin memukul dan memberi pelajaran kepadanya.

Itulah salah satu makna hikmah dalam berdakwah…

Semua pendakwah Ahlus-Sunnah harus bersinergi demi tercapainya cita-cita bersama…

Yang di pedalaman tidak perlu mencela da’i-da’i kota yang bergelimang harta…

Yang di musholla tidak perlu mencaci da’i-da’i yang muncul di televisi…

Yang di daerah tidak perlu menuduh da’i-da’i yang harga bukunya mahal dan tidak terjangkau..

Yang di kota juga tidak boleh melupakan saudara-saudara mereka yang di pedalaman, pedesaan, pegunungan yang mereka sedang menyelamatkan aqidah ummat dari taring dan cakar missionaris…

Semua sedang berdakwah, dan hendaklah berhusnuzhon kepada saudaranya…

Dan ingat AGAMA INI ADALAH NASEHAT…!

Bila muncul kekeliruan dan kesalahan atau pun penyimpangan, maka para da’i harus saling memberikan masukan dan nasehat…

Kita adalah saudara…

Di samping itu, setiap pendakwah tidak boleh lupa berterima kasih kepada para koordinator dakwah tempat di mana ia berdakwah, bahwa ia bisa duduk nyaman di atas kursi dengan mic yang sudah bisa dipakai, dan jama’ah yang duduk rapi, parkir kendaraan yang diatur, serta semua kenyamanan yang dirasakannya,

semua itu adalah hasil tangan orang banyak…

Kalau bukan karena mereka, tentunya setelah taufiq Allah, niscaya para pendakwah akan mendapatkan berbagai kesulitan…

Untuk semua…
PERBAIKI NIAT
RAPATKAN SHOFF
BERGANDENGAN TANGAN SALING MENDO’AKAN
ALLÔHU AKBAR

Bila yang aku tulis ini benar, maka itu karena taufiq الله…

Bila salah dan kurang berkenan, maka itu dari diriku yang penuh dosa dan dari Syaithôn… Allah & ROSÛL-NYA terbebaskan dari kesalahan itu…

(dari FB Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى )

1385. Bolehkah ikut acara tahun baru Muharram di sekolah…?

1385. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, anak ana di sekolah umum. Pihak sekolah akan mengadakan acara tahun baru Muharram ada makan-makan sesama murid dan guru dan tausiyah. Setiap murid dimintakan partisipasinya dengan hadir dan bawa makanan. Bagaimana hukumnya ustadz menghadiri acara tersebut ? Dan kalau tidak hadir, bolehkah sumbang makanan untuk acara tersebut ? Terima kasih ustadz, jazaakumullahu khoyron.

Jawab :
Ustadz Irfan Helmi, حفظه الله تعالى

Dalam Islam, hanya dikenal dua perayaan hari besar, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Plus hari Jum’at yang dirayakan umat Islam setiap pekan.
 
Para ulama menegaskan bahwa tidak boleh merayakan acara hari besar selain kedua hari raya tersebut. Sebabnya antara lain adalah karena termasuk tasyabbuh bil kuffar, yakni meniru kebiasaan orang-orang kafir yang suka mengadakan acara tahun baru Masehi. Padahal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
 
من تشبَّه بقومٍ فهو منهم (رواه ٲبو داود)

“Barangsiapa meniru suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka” (HR Abu Dawud, shahih) 

Oleh karena itu, tidak boleh menghadiri acara tersebut dan/atau ikut menyumbang makanan atau yang lainnya untuk keperluan acara tersebut. Karena akan terkena larangan dalam Alqur’an berbunyi:
 
ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” [QS Al Maidah: 2]

Penjelasan lebih lengkap, lihat kitab “Al-Bida’ al-Hauliyah” karya Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz at-Tuwaijiry yang sudah diterjemah ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Ritual Bid’ah Dalam Setahun”.
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1384. Sholat minta hujan diturunkan di tempat tertentu…

1384. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, Mau tanya, kayaknya musibah asap yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatera/Kalimantan, masih terus terjadi. Relevan gak yah, atau ada contohnya tidak dalam syariat kalau sholat minta hujan tapi untuk beda lokasi, maksudnya kita sholat di Masjid Baitul Makmur, Bekasi, namun do’a dan sholat ditujukan bagi saudara-saudara kita yang menghadapi bencana kabut asap. Adakah contohnya dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam ?

Jawab :
Ustadz Irfan Helmi, حفظه الله تعالى

Ada! Dalam hadits Anas yang panjang, Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam pernah minta agar hujan diturunkan di luar lokasi beliau dan para sahabatnya. Sabda beliau :

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا ، اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan” (HR Bukhari & Muslim).

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Menebar Cahaya Sunnah