Dzikir ketika terjaga tengah malam…

dzikir terjaga tengah malam

Ustadz Abdullah Taslim, حفظه الله تعالى

Dari ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَن تَعارَّ من الليل فقال: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، ثم قال: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي – أو دعا – استُجِيبَ له، فإنْ توضأ وصلى قُبِلتْ صلاتُه

“Barangsiapa yang terjaga di malam hari, kemudian dia membaca (zikir tersebut di atas):

لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ

[Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syain qodiir. Alhamdulillah wa subhanallah, wa laa ilaha illallah, wallahu akbar, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah] Segala puji bagi Allah Tiada sembahan yang benar kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia maha mampu atas segala sesuatu, segala puji bagi Allah, maha suci Allah, tiada sembahan yang benar kecuali Allah, Allah maha besar, serta tiada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, kemudian dia mengucapkan:

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي

“Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa)ku“, atau dia berdoa (dengan doa yang lain), maka akan dikabulkan doanya, jika dia berwudhu dan melaksanakan shalat maka akan diterima shalatnya” [HSR al-Bukhari (no. 1103), Abu Dawud (no. 5060), at-Tirmidzi (no. 3414) & Ibnu Majah (no. 3878)].

Hadits yang mulia ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang berzikir ketika terjaga di malam hari, kemudian dia berdoa kepada Allah atau melakukan shalat [Lihat kitab “Shahih Ibni Hibban” (6/330) dan “al-Washiyyatu biba’dhis sunani syibhil mansiyyah” (hal. 185).]

Imam Ibnu Baththal berkata: “Allah menjanjikan melalui lisan (ucapan) nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa barangsiapa yang terjaga dari tidurnya (di malam hari) dalam keadaan dia lidahnya selalu mengucapkan (kalimat) tauhid kepada Allah, tunduk pada kekuasaan-Nya, dan mengakui (besarnya limpahan) nikmat-Nya yang karenanya dia memuji-Nya, serta mensucikan-Nya dari (sifat-sifat) yang tidak layak bagi-Nya dengan bertasbih (menyatakan kemahasucian-Nya), tunduk kepada-Nya dengan bertakbir (menyatakan kemahabesaran-Nya), dan berserah diri kepada-Nya dengan (menyatakan) ketidakmampuan (dalam segala sesuatu) kecuali dengan pertolongan-Nya, sesungguhnya (barangsiapa yang melakukan ini semua) maka jika dia berdoa kepada-Nya akan dikabulkan, dan jika dia melaksanakan shalat akan diterima shalatnya. Maka bagi orang sampai kepadanya hadits ini, sepantasnya dia berusaha mengamalkannya dan mengikhlaskan niatnya (ketika mengamalkannya) untuk Allah Ta’ala“ [Dinukil oleh imam Ibnu Hajar dalam kitab “Fathul Baari” (3/41)].

Faidah-faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

– Imam Ibnu Hajar berkata: “Perbuatan yang disebutkan dalam hadits ini hanyalah (mampu dilakukan) oleh orang telah terbiasa, senang dan banyak berzikir (kepada Allah), sehingga zikir tersebut menjadi ucapan (kebiasaan) dirinya sewaktu tidur dan terjaga, maka Allah Ta’alamemuliakan orang yang demikian sifatnya dengan mengabulkan doanya dan menerima shalatnya” [ Kitab “Fathul Baari” (3/40)].

– Keutamaan mengucapkan zikir ini juga berlaku bagi orang yang terjaga di malam hari kemudian dia mengucapkan zikir ini (berulang-ulang) sampai dia tertidur. Imam an-Nawawi berkata: “Orang yang terjaga di malam hari dan ingin tidur (lagi) setelahnya, dianjurkan baginya untuk berzikir kepada Allah Ta’ala sampai dia tertidur. Zikir-zikir yang dibaca (pada waktu itu) banyak sekali yang disebutkan (dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), di antaranya … kemudian beliau menyebutkan hadits di atas [Kitab “al-Adzkaar” (hal. 79 – cet. Darul Manar, Kairo, 1420 H)].

– Di antara para ulama ada yang menjelasakan bahwa peluang dikabulkannya doa dan diterimanya shalat pada saat setelah mengucapkan zikir ini lebih besar dibandingkan waktu-waktu lainnya [Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (9/254)].

Malu Beramal…

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Ini kisah lima tahun silam (kira-kira), namun masih teringat hingga saat ini. Lebih-lebih ketika memasuki awal Dzulhijjah seperti saat ini selalu terkenang.

Saat di kampus Teknik, King Saud University (Jami’ah Malik Su’ud), kami pernah datang lebih awal sebelum masuk waktu shalat Zhuhur di Musholla. Seperti biasa di musholla kampus berukuran 8 x 8 meter persegi akan dipenuhi oleh mahasiswa dan dosen saat waktu shalat.

Kala itu musholla masih sepi. Di karpet hijau nan tebal, kami melangkah menuju shaf pertama. Biasanya kalau mahasiswa lain belum hadir, kami siap kumandangkan azan. Namun kadang, kami selalu kedahuluan. Karena mahasiswa lainnya saling berlomba siapakah yang lebih duluan dalam mengumandangkan azan.

Kala itu, ketika menunggu waktu azan, ada seseorang dari jauh bertakbir keras, sambil melangkah masuk ke pintu Musholla.

“Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaha illallah wallahu Akbar, Allahu akbar walillahil hamd.”

Itu yang terus beliau ucapkan hingga masuk ke shaf depan.

Ada yang komandoi kah?

Tidak, ia seorang diri. Sejak dari ruang kantornya di lantai 2 terus bertakbir hingga masuk musholla di lantai 1.

Beliau yang bertasbih ini adalah seorang dosen. Hanya seorang dosen teknik, bukan dosen agama. Namun ia berlihyah (berjenggot). Sudah amat makruf kalau beliau orang yang giat dalam ibadah. Kami tahu bahwa beliau berasal dari keluarga terhormat, dari keluarga besar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yaitu keluarga ‘Alu Syaikh’.

Apa yang kami kagumi?

▶ Seorang dosen non-agama bisa paham ajaran Rasul seperti ini dan mempraktikannya. Jarang kita bertemu dengan dosen semacam itu di negeri kita. Tak tahulah, mungkin mereka tak kenal sunnah atau tak paham agama atau sedikitnya pengajaran sunnah di negeri ini.

Namun banyak dosen yang kami temui terutama di Kampus Biru kami di Jogja, sudah mulai semangat menjalankan ajaran Rasul, entah karena banyak baca buku, buka website Islam (seperti Rumaysho.Com dan Muslim.Or.Id) bahkan sampai hadir di majelis ilmu seperti berbagai kajian di sekitar Pogung dan Karangbendo di Jogja. Walhamdulillah.

▶ Ini tanda bahwa pendidikan agama di Saudi Arabia sangat baik karena orang yang tidak sekolah agama secara khusus pun bisa paham ajaran Rasul. Kalau di negeri kita, lulusan pondok pesantren belum tentu kenal sunnah bahkan kadang ada yang penghina sunnah Rasul.

▶ Ajaran Rasul begitu menyebar di kalangan awam selain kalangan ulama dan tholabul ilmi di Saudi. Karena di Saudi Arabia, orang yang notabene kuliah umum pun berjenggot dan tak pernah absen dari shalat berjama’ah. Di negeri kita, orang yang berlihyah malah disebut ‘wong bodoh’. Aneh kan. Apa Rasul juga dapat disebut bodoh? Karena Rasul sendiri memerintahkan membiarkan jenggot apa adanya, bahkan keadaan beliau pun berjenggot.

▶ Orang Arab seperti dalam kisah ini tak pernah malu untuk berbuat kebaikan. Kalau kita malah malu tuk beramal karena takut dianggap aneh. Sehingga orang yang ingin memelihara jenggot pun MALU. Orang yang ingin bercelana Anti-Isbal pun MALU. Sama halnya dengan sunnah takbir mutlak ini di awal Dzulhijjah, MALU jika dikeraskan di jalan-jalan.

▶ Saat awal Dzulhijjah seperti sekarang ini, tak aneh di kalangan masyarakat Arab, terus perbanyak takbir. Takbir ini dikenal dengan takbir mutlak. Takbir tersebut seperti takbir hari raya dikumandangkan di mana pun dan kapan di awal-awal Dzulhijjah. Ajaran seperti ini bukan notabene ajaran fikih Hambali seperti di Saudi, namun juga termasuk ajaran ulama Syafi’iyah. Kita saja yang jarang baca dan tak tahu ilmunya yang mungkin anggap aneh. Bahkan ada riwayat yang mendukung pernyataan kami.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah. (Dikeluarkan oleh Bukhari tanpa sanad (mu’allaq), pada Bab “Keutamaan beramal di hari tasyriq”)

▶ Beliau punya garis keturunan yang bagus namun tidak bergantung dengan nasabnya. Beda dengan di negeri kita, yang mengaku sebagai keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal baiknya nasab belum tentu menunjukkan baiknya. Lihat Abu Lahab yang menjadi keluarga dekat Nabi, malah kafir. Jadi siapa yang lambat amalnya, nasabnya tak mungkin mengejar keterlambatannya.

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Barangsiapa yang lamban amalnya, maka nasabnya tidak bisa mengejarnya” (HR. Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah).

Satu point yang ingin kami tekankan, jangan MALU untuk beramal karena takut dinilai baik oleh orang. Karena siapa yang meninggalkan amalan karena manusia bukan karena Allah, sama saja ia terjatuh dalam RIYA’. Apa yang kami sebut ini telah dikatakan oleh Al-Fudhail bin Iyadh sebelumnya,

تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ

“Meninggalkan amalan karena manusia termasuk riya’ dan beramal karena manusia termasuk syirik.” (Majmu’atul Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 23: 174).

Moga jadi faedah berharga. Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a.

Kebenaran Akan Terus Ada

Kisah Fir’aun berakhir dengan air.

Kisah namrud berakhir dengan seekor nyamuk.

Kisah Qarun berakhir dengan ditelan bumi

Kisah Abrahah berakhir dengan batu.

Dan kisah perang ahzab berakhir dengan terjangan badai.

Allah akan menjadikan kebatilan berakhir dengan suatu pelajaran, maka ambillah pelajaran itu wahai pembela kebatilan.

Dan engkau wahai penolong kebenaran, jangan sibukkan dirimu bagaimana kebatilan akan hilang, karena ia pasti akan musnah.

Namun sibukkan dirimu, bagaimana engkau membela kebenaran, karena kebenaran akan terus ada dengan atau tanpamu… sedang engkau akan binasa tanpa kebenaran.

(Terjemahan dari pesan berbahasa arab dengan sedikit penyesuaian)

Penterjemah,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Haruskah Memakai Brand “Salafy” …?

Nama atau kalau boleh bisa juga disebut dengan “brand” memang penting, terlebih bila diperlukan untuk menunjukkan identitas, sehingga dengan nampaknya identitas anda mendapat keuntungan dan terhindar dari kerugian. Para ulama’pun telah dengan tegas menjelaskan bahwa penggunaan brand “salafy” adaah satu hal yang disyari’atkan alias dibenarkan.

Sebutan “salafy” untuk menggambarkan cara anda dalam beragama, memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan Islam.

Salafy, berarti dalam beragama anda meneladani generasi terdahulu dari ummat Islam, yaitu para sahabat, dan ulama’ yang mengikuti jejak mereka.

Penggunaan nama “salafy” serupa dengan penggunaan nama muslim” atau “mukmin”, sama sama identitas diri anda.

Namun demikian, kadang kala karena satu alasan, anda “TERPAKSA” menyembunyikan identitas diri anda sebagai seorang muslim, demi terwujudnya kepentingan yang atau terhindarnya kerugian yang besar.

Kondisi ini terjadi pada para sahabat yang tinggal di kota Makkah pada awal Islam. Mereka merahasiakan identitas mereka sebagai seorang muslim, karena kawatir diintimidasi oleh orang orang kafir Quraisy, sebagaimana dikisahkan dalam surat Al Fateh 25.

Kondisi serupa juga terjadi pada diri seorang mukmin dari pengikut sebagian rasul terdahulu. Ia merahasiakan keislamannya agar dapat menyusup ke barisan orang -orang kafir dan memberikan pembelaan kepada para utusan ALlah tersebut di hadapan musuh musuh mereka, sebagaimana dikisahkan dalam surat Yasiin.

Merahasiaan atau menyembunyikan identitas sebagai seorang muslim dan mukmin bila dirasa perlu tidaklah merusak iman atau menodainya. Bahkan itu sebagai bagian dari kearifan sikap dalam menghadapi kondisi yang kurang menguntungkan.

Hal serupa juga bisa terjadi dan patut anda lakukan dengan identitas anda sebagai seorang “salafy”. Bila dirasa perlu dan tentunya dengan pertimbangan yang masak lagi mendalam, anda juga sepatutnya menyembunyikan brand “salafy” anda. Percayalah bahwa menyebunyikan brand “salafy” bila diperlukan karena pertimbangan yang matang, tidak akan melunturkan ke”salay’an anda, sebagaimana merahasiakan status sebagai “muslim” tidak melnturkan keislaman para sahabat.

Suatu hari, di salah satu perumahan di kota Jember terjadi kondisi yang sedikit meresahkan. Ulah sebagian pemuda yang kurang bijak alias ceroboh telah memantik amarah sebagian pengurus takmir masjid. Akibatnya mereka membuat pengumuman di masjid “SALAFY TIDAK BOLEH SHOLAT DI MASJID INI”.
Tak ayal lagi pengumuman ini meresahkan sebagian staf STDI Imam Syafii dan juga mahasiswanya yang kebetulan tinggal di perumahan tersebut.

Mendapat laporan tentang ini, maka saya segera mengumpulkan suluruh staf dan mahasiswa STDI Imam Syafi’i yang tinggal di perumahan tersebut di atas. Setelah mendengarkan alur masalah dan kondisi yang terjadi, saya berkata kepada mereka: “Al hamdulillah, masalah telah selesai dan tidak perlu ada yang di risaukan. Karena pengumumannya berbunyi “SALAFY TIDAK BOLEH SHOLAT DI MASJID INI”, maka kalian semua tidak perlu kawatir atau risau. Sebab kalian adalah staf dan juga Mahasiswa Imam Syafi’i dan bukan staf atau murid di pondok As Salafy..”

Mereka heran, kok ustadz tahu bahwa masalah sudah selesai, padahal ustadz baru tahu masalahnya dari laporan kami..?

Saya menjawab: “iya, sudah selesai karena yang dilarang sholat di masjid adalah SALAFY sedangkan kalian adalah Imam Syafii dan bukan As Salafy. Kalian harus paham dan membuka mata bahwa di kota kita tinggal ini “Jember” kampus kita dikenal dengan sebutan “IMAM SYAFI’I sedangkan sebutan “SALAFY” dikenal sebagai brand dan merek pondok yang diasuh oleh Ust Luqman Baabduh. Beliau menamai pondoknya dengan AS SALAFY. Jadi pada kondisi ini gunakanlah brand yang telah melekat kepada kalian dan sengaja kita pilih yaitu IMAM SYAFI’I dan jangan merebut brand yang telah melekat pada pondok ustadz Luqman yaitu AS SALAFY..”

Ada salah satu mahasiswa yang nyletuk: “Tapi ustadz, bukankah kita juga salafy..?”

Saya menjawab: “iya , betul kita semua beriman bahwa dalam beragama ini kita harus meneladani generasi salaf, namun dalam kondisi seperti ini jangan sok paham, namun bersikaplah pura pura bodoh. Bersikaplah seperti masyarakat yang kebanyakannya masih belum paham apa beda STDI IMAM SYAFI’I dari pondok AS SALAFY. Terutama untuk memahami tulisan yang dibuat oleh orang yang tidak paham. Jangan pahami tulisan orang bodoh dengan cara piker dan pemahaman orang berilmu. Kalau kalian ditegur oleh takmir masjid: kok masih ke masjid padahal sudah ada pengumuman, maka katakan kepada mereka bahwa : kami dari “Imam Syafii”..”

Alhamdulillah, mereka mengikuti saran saya, dan al hamdulillah masalah dapat terselesaikan dengan aman tanpa ada kegaduhan yang lebih berat. Nampaknya “pura pura bodoh” dalam kondisi tertentu adalah “ilmu” dan sebaliknya : “Sok paham” dalam beberapa kondisi adalah cermin dari kebodohan yang sebenarnya.

Wallahu ta’ala a’alam bisshowab.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Benarkah Celah Shaf itu Diisi Iblis…?

Ustadz Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

Tanya:

Ada salah satu tokoh ormas besar menyatakan bahwa merapatkan shaf ketika shalat jamaah itu gak bener.

Klo iblis hadir di celah shaf, lalu dia bilang: “saya: alhamdulillah kalo Iblis mau jamaah…” videonya bisa disimak di https://youtu.be/lLwY4Eeeynw

Mohon pencerahannya..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sebelumnya kami ingatkan, semua setan bisa disebut Iblis, karena setan bertindak sesuai kemauan Iblis.

Kita akan membaca beberapa hadis yang berisi perintah merapatkan shaf ketika shalat berjamaah,

Pertama, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyiapkan shaf shalat jamaah dengan memerintahkan,

رُصُّوا صُفُوفَكُمْ وَقَارِبُوا بَيْنَهَا وَحَاذُوا بِالأَعْنَاقِ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنِّى لأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ

“Rapatkan shaf kalian, rapatkan barisan kalian, luruskan pundak dengan pundak. Demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, Sungguh aku melihat setan masuk di sela-sela shaf, seperti anak kambing.” (HR. Abu Daud 667, Ibn Hibban 2166, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Kedua, hadis dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenyiapkan shaf shalat jamaah. Beliau memerintahkan makmum,

أَقِيمُوا الصُّفُوفَ فَإِنَّمَا تَصُفُّونَ بِصُفُوفِ الْمَلاَئِكَةِ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا فِى أَيْدِى إِخْوَانِكُمْ وَلاَ تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ

Luruskan shaf, agar kalian bisa meniru shafnya malaikat. Luruskan pundak-pundak, tutup setiap celah, dan buat pundak kalian luwes untuk teman kalian. Serta jangan tinggalkan celah-celah untuk setan. Siapa yang menyambung shaf maka Allah Ta’ala akan menyambungnya dan siapa yang memutus shaf, Allah akan memutusnya. (HR. Ahmad 5724, Abu Daud 666, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Ketiga, hadis dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika merapatkan shaf, beliau mengatakan,

وَسُدُّوا الْخَلَلَ؛ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ فِيمَا بَيْنَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْحَذَفِ

“Tutup setiap celah shaf, karena setan masuk di antara shaf kalian, seperti anak kambing.” (HR. Ahmad 22263 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Wajib Diyakini!

Setan tidak bisa kita lihat. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa melihatnya. Sangat mudah bagi Allah untuk membuat Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa melihat setan.

Kita telah mengikrarkan syahadat, menyatakan beliau sebagai utusan Allah.

Konsekuensinya, kita wajib mengimani dan meyakini setiap informasi yang beliau sampaikan.

Ketika beliau menyatakan, “Setan masuk di celah shaf kalian ketika shalat, seperti anak kambing..” akankah kita tertawakan?

Di mana pengagungan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Kita bisa bayangkan, andai tokoh ormas ini ada di tengah shaf sahabat, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya untuk merapatkan shafnya, agar tidak diisi setan. Lalu dia komentar, “Ya Rasulullah, alhamdulillah kalo setan mau jamaah…”

Di mana kira-kira pukulan Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu akan melayang??

Tujuan Setan Hadir di Tengah Shaf

Semua orang yang membaca tentu sadar, bahwa kehadiran setan di sela-sela shaf tentu saja bukan untuk ikut shalat jamaah. Kehadiran setan adalah untuk menggoda peserta shalat jamaah. Kita simak hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نُودِىَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِينَ ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ ، حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ ، حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطُرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ ، يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا ، اذْكُرْ كَذَا . لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ ، حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لاَ يَدْرِى كَمْ صَلَّى

Ketika adzan dikumandangkan, setan menjauh sambil terkentut-kentut, sehingga tidak mendengarkan adzan. Setelah adzan selesai, dia datang lagi. Ketika iqamah dikumandangkan, dia pergi. Setelah selesai iqamah, dia balik lagi, lalu membisikkan dalam hati orang yang shalat: ingat A, ingat B, menngingatkan sesuatu yang tidak terlintas dalam ingatan. Hingga dia lupa berapa jumlah rakaat yang dia kerjakan. (HR. Ahmad 8361, Bukhari 608, Muslim 885 dan yang lainnya).

Disamping menggoda ingatan, setan juga menggoda konsentrasi dengan diganggu fisiknya, agar dia merasa telah berhadas,

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menasehatkan kepada orang yang suka was-was dengan hadas ketika shalat,

إنَّ الشَّيْطَانَ يَأْتِي أَحَدَكُمْ وَهُوَ فِي الصَّلاَة فَيَبَلُّ إحْلِيلَهُ حَتَّى يَرَى أَنَّهُ قَدْ أَحْدَثَ ، وَأَنَّهُ يَأْتِيهِ فَيَضْرِبُ دُبُرَهُ ، فَيُرِيهِ أَنَّهُ قَدْ أَحْدَثَ ، فَلاَ تَنْصَرِفُوا حَتَّى تَجِدُوا رِيحًا ، أَوْ تَجِدُوا بَلَلا

Sesungguhnya setan mendatangi kalian ketika shalat, lalu dia basahi tempat keluarnya kencing, hingga kalian merasa berhadas (ada kencing yang keluar). Dia juga datang dan menabok dubur kalian, sehingga kalian merasa telah berhadas (kentut). Karena itu, jangan kalian batalkan shalat, sampai mencium bau kentut atau ada yang basah di celana. (HR. Ibnu Abi Syaibah, 8083)

Setan itu Bernama Khinzib

Dalam hadis dari Utsman bin Abil ‘Ash radhiallahu ‘anhu, Beliau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamuntuk mengadukan gangguan yang dia alami ketika shalat. Kemudian, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خِنْزِبٌ فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلاَثًا

“Itu adalah setan. Namanya Khinzib. Jika kamu merasa diganggu, mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah ke kiri tiga kali.”

Kata Utsman, “Aku pun melakukannya, kemudian Allah menghilangkan gangguan itu dariku.” (HR. Muslim 2203)

Benci Karena Nafsu, Menyebabkan Benci Kebenaran

Berkali-kali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kepada para sahabat akan kehadiran setan pada saat kita shalat. Dan tidak ada sahabat yang terbayang, setan ikut shalat jamaah…!

Kita sangat menyayangkan ketika setingkat tokoh ormas besar di Indonesia memiliki pemahaman konyol seperti itu.

Meskipun kami sangat yakin, tokoh ini tidak sebodoh yang kita bayangkan. Dia tahu hadisnya, dia paham sunahnya, tapi semangat kedengkian menutupi itu semua. Setelah dia menyebut wahabi (yang dia maksud salafy) berusaha merapatkan shaf ketika shalat jamaah, dia membencinya dan sekaligus membenci sunahnya.

Laa ilaaha illallaah.

Seerti itulah kebencian karena hawa nafsu. Akhirnnya yang menjadi sasaran kedengkiannya bukan hanya pelaku, sampai atribut kebenaran yang selalu dibawa pelaku.

Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari kejahatan pemikiran orang munafiq.

Allahu a’lam

Ref : http://www.konsultasisyariah.com/celah-shaf-itu-diisi-setan/

Menebar Cahaya Sunnah