Salafi Bodoh; Ndak Bisa Pakai Jimat & Sihir…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat; saya tersenyum bahagia ketika membaca suatu status semakna ungkapan di atas. Bahagia karena merasa ucapan ini benar; tersenyum karena merasa lucu.

Zaman sudah terbalik; kebenaran dijadikan perolokan dan ejekan.

Ucapan di atas semakna dengan ucapan: orang islam itu kolot dan bodoh; melampiaskan syahwat kok hanya ke seorang wanita yaitu istri saja! Atau wanita cantik-cantik kok pasrah menerima satu lelaki saja, yaitu suami!

Sobat! Coba anda renungkan baik baik ungkapan ungkapan di atas. Miris; malu, sedih dan prihatin; semua bercampur satu.

Sobat! Semua orang pasti mengetahui bahwa memakai jimat; sihir; perdukunan adalah beberapa disiplin ilmu; namun ilmu setan dan bukan ilmu al qur’an dan sunnah. Semua itu adalah ilmu yang merusak agama dan menjerumuskan pelakunya ke neraka. Semua itu adalah bagian dari ilmu yang kita diwajibkan untuk memohon perlindungan darinya:

اللهم إنا نعوذ بك من علم لا ينفع ومن قلب لا يخشع ومن نفس لا تشبع ومن دعوة لا يستجاب لها

Ya Allah kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat; hati yang tidak dapat khusyu’/tenang; jiwa yang tiada pernah merasa puas & doa yang tidak dikabulkan.

Berbahagialah menjadi salafi karena terlindung dari ilmu ilmu yang mencelekakan sehingga ilmu semisal sihir; ajimat dan sihir lebih pantas disebut dengan kebodohan.

Beredarnya Hadits PALSU Terkait Keutamaan 10 HARI PERTAMA Bulan DZULHIJJAH

Bismillah.

Diantara hadits-hadits yang banyak beredar di tengah kaum muslimin melalui berbagai media cetak maupun elektronik dan ceramah ialah hadits yang menerangkan tentang keutamaan puasa dan amalan-amalan ibadah lainnya di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Adapun teks haditsnya sebagai berikut:

روي عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال:
1- في أول يوم من ذي الحجة غفر الله فيه لآدم ومن صام هذا اليوم غفر الله له كل ذنب.
2- وفي اليوم الثاني استجاب الله لسيدنا يوسف، ومن صام هذا اليوم كمن عبد الله سنة ولم يعص الله طرفة عين.
3- وفي اليوم الثالث استجاب الله دعاء زكريا، من صام هذا اليوم استجاب الله لدعاه.
4- وفي اليوم الرابع ولد سيدنا عيسى عليه السلام، ومن صام هذا اليوم نفى الله عنه البأس والفقر وفي يوم القيامة يحشر مع السفرة الكرام.
5- وفي اليوم الخامس ولد سيدنا موسى عليه السلام، ومن صام هذا اليوم برئ من النفاق وعذاب القبر.
6- وفي اليوم السادس فتح الله لسيدنا محمد بالخير، ومن صامه ينظر الله إليه بالرحمة ولا يعذبه أبدا .
7- وفي اليوم السابع تغلق فيه أبواب جهنم، ومن صامه أغلق الله له ثلاثين بابا من العسر وفتح الله له ثلاثين بابا من الخير.
8- وفي اليوم الثامن المسمى ” بيوم التروية “، ومن صامه أعطى له من الأجر ما لا يعلمه إلا الله.
9- وفي اليوم التاسع وهو يوم عرفة من صامه يغفر الله له سنة من قبل وسنة من بعد.
10- وفي اليوم العاشر يكون عيد الأضحى وفيه قربان وذبح ذبيحة ففي أول قطرة من دماء الذبيحة يغفر الله ذنوبه وذنوب أولاده.
ومن أطعم فيه مؤمنا وتصدق بصدقة بعثه الله يوم القيامة آمنا ويكون ميزانه أثقل من جبل أُحد.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

1. “Di hari pertama bulan Dzulhijjah Allah mengampuni (nabi) Adam, dan barangsiapa yang berpuasa pada hari tersebut Allah akan mengampuni seluruh dosanya”

2. “Di hari kedua Allah mengabulkan doa sayyidina Yusuf, dan barangsiapa yang berpuasa di hari itu pahalanya seperti beribadah kepada Allah setahun penuh dan tidak bermaksiat walau sekejap mata”

3. “Di hari ketiga Allah mengabulkan doa Zakaria, dan barangsiapa yang berpuasa pada hari itu Allah akan mengabulkan doanya”

4. “Di hari keempat lahir sayyidina ‘Isa ‘alaihissalam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan menghilangkan kefakiran darinya dan pada hari kiamat ia akan dikumpulkan bersama As Safarat Al Kiram (malaikat yang mulia –pent)

5. “Di hari kelima lahirlah Musa ‘alaihissalam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu ia akan dibebaskan dari sifat munafik dan adzab kubur”

6. “Di hari keenam Allah membukakan sayyidina Muhammad ‘alaihis sholatu wassalam kebaikan, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan melihatnya dengan rahmat-Nya dan ia tidak akan diadzab”

7. “Di hari ketujuh ditutup pintu-pintu jahannam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan tutup baginya 30 pintu kesulitan dan Allah bukakan baginya 30 pintu kebaikan”

8. “Di hari kedelapan yang disebut juga dengan hari Tarwiyah, barangsiapa berpuasa pada hari itu akan diberi balasan yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah”

9. “Di hari kesembilan yaitu hari Arafah barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan mengampuni dosanya selama setahun sebelumnya, dan setahun sesudahnya”

10. “Di hari kesepuluh yaitu Idul Adha, di dalamnya terdapat qurban, penyembelihan, dan pengaliran darah (hewan qurban), Allah akan mengampuni dosa anak-anaknya (yaitu orang yang berpuasa tadi –pent). Barangsiapa yang memberi makan orang mukmin dan bershadaqah, maka Allah akan mengutus baginya pada hari kiamat, keamanan dan timbangannya lebih berat dari Gunung Uhud.”

(*) DERAJAT HADITS:

Derajat Hadits ini Maudhu’ (PALSU) karena tidak ada asal-usulnya yang jelas, dan tidak ditemukan di dalam kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama sunnah seperti syaikh Abdurrahman As-Suhaim dan DR. Abdullah Al-Faqih hafizhohumallah.

Oleh karenanya, DILARANG KERAS menyebarluaskannya melalui media apapun seperti internet, sms, bbm, WA, majalah atau ceramah kecuali dengan tujuan untuk menjelaskan dan memperingatkan umat Islam akan kepalsuannya, agar mereka tidak meyakininya sebagai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Semoga bermanfaat. Dan semoga Allah melindungi kita semua dari bahaya HADITS DHO’IF dan PALSU yang sangat banyak beredar di tengah kaum muslim melalui berbagai media. Amiin.

Ustadz Muhammad Wasitho MA, حفظه الله تعالى

Fenomena, “Maling Teriak Maling”…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

 

Itulah yang saya tangkap dari banyak kejadian di negeri kita Indonesia.

Seringkali orang atau kelompok mengambil langkah itu untuk mengamankan dirinya atau menggiring opini masyarakat ke arah yang diinginkannya.

Lihatlah bagaimana kaum liberal yang getol menyuarakan toleransi, dan berteriak bahwa kelompok lain tidak toleransi… nyatanya mereka sendiri selalu menyerang dan memerangi pemahaman kaum muslimin yang berpegang teguh kepada Alquran dan Assunnah, mereka katakan kuno, kaku, ekstrim, dan julukan buruk lainnya… “maling tapi teriak maling”.

Lihatlah bagaimana kaum tradisionalis mengajak untuk saling menghormati, tidak merasa paling benar, dan bersikap bijaksana dalam mengahadapi perbedaan pendapat… nyatanya mereka sendiri yang selalu meneriakkan kesesatan kaum ahlussunnah yang mereka stempeli wahabi… mereka gruduk majelisnya… bahkan berusaha menutup instansi pendidikan mereka… itukah sikap saling menghormati?! tidak merasa paling benar?! dan itukah sikap bijaksananya?! “Maling teriak maling”.

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka meneriakkan “jangan bawa-bawa budaya arab, kita di indonesia”, dan mereka anggap bahwa jenggot dan cadar sebagai budaya arab, bukan bagian dari Islam… tapi nyatanya ketika mereka ke arab, mereka membawa-bawa budaya indonesia; batik, sarung, songkok, rokok, bahkan ritual-ritual agama yang tidak ada tuntunannya pun mereka bawa ke arab… “maling teriak maling”.

Subhanallah, ternyata sikap maling teriak maling ini juga telah dilakukan oleh Fir’aun kepada kaumnya, lihatlah firman Allah ta’ala:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ إِنِّي أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ

Fir’aun mengatakan (kepada para pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan silahkan dia meminta (bantuan) Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”. [QS. Ghofir:26]

Lihatlah, bagaimana Fir’aun menuduh Nabi Musa membuat kerusakan di muka bumi, padahal dialah perusak yang sebenarnya… ya, maling teriak maling… sikap yang tercela, tapi sayang banyak yang menjalankannya.

Saya yakin Anda bukan dari mereka…

Hati Yang Bening

Suatu ibadah yang sangat bernilai di sisi Allah, tapi sedikit wujudnya di tengah-tengah manusia… Dialah “hati yang bening”.

Sebagian dari mereka ada yang mengatakan, “Setiap kali aku melewati rumah seorang muslim yang megah, aku mendo’akannya agar diberkahi..”

Sebagian lagi berkata, “Setiapkali kulihat kenikmatan pada seorang Muslim (mobil, proyek, pabrik, istri sholihah, keturunan yang baik), aku mendo’akan: “Ya Allah, jadikanlah kenikmatan itu penolong baginya untuk taat kepada-Mu dan berikanlah keberkahan kepadanya..”

Ada juga dari mereka yang mengatakan, “Setiapkali kulihat seorang Muslim berjalan bersama istrinya, aku berdo’a kepada Allah, semoga Dia menyatukan hati keduanya di atas ketaatan kepada Allah..”

Ada lagi yang mengatakan, “Setiapkali aku berpapasan dengan pelaku maksiat, kudo’akan dia agar mendapat hidayah..”

Yang lain lagi mengatakan, “Aku selalu berdo’a semoga Allah memberikan hidayah kepada hati manusia seluruhnya, sehingga leher mereka terbebas (dari neraka), begitu pula wajah mereka diharamkan dari api neraka..”

Yang lainnya lagi mengatakan: “Setiapkali hendak tidur, aku berdo’a: ‘Ya Robb-ku, siapapun dari kaum Muslimin yang berbuat zholim kepadaku, sungguh aku telah memaafkannya, oleh karena itu, maafkanlah dia, karena diriku terlalu hina untuk menjadi sebab disiksanya seorang muslim di neraka..”

Itulah hati-hati yang bening. Alangkah perlunya kita kepada hati-hati yang seperti itu..

Ya Allah, jangan halangi kami untuk memiliki hati seperti ini, karena hati yang jernih adalah penyebab kami masuk surga..

Suatu malam, Hasan Bashri rohimahullah berdo’a, “Ya Allah, maafkanlah siapa saja yang men-zholimiku”… dan ia terus memperbanyak do’a itu..!

Maka ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Sai’d… Sungguh, malam ini aku mendengar engkau berdo’a untuk kebaikan orang yang men-zholimimu, sehingga aku berangan-angan, andai saja aku termasuk orang yang men-zholimimu, maka apakah yang membuatmu melakukannya..?

Beliau menjawab: “Firman Allah (yang artinya):

“Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya kembali kepada Allah..” [Q.S. Asy-Syuuro: 40]

[Kitab Syarah Shohih Bukhori, karya Ibnu Baththol, 6/575-576]

Sungguh, itulah hati yang dijadikan sholih dan dibina oleh para pendidik dan para guru dengan berlandaskan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka, selamat atas surga yang didapatkan oleh mereka..

Janganlah engkau bersedih meratapi kebaikanmu. Sebab jika di dunia ini tidak ada yang menghargainya, yakinlah bahwa di langit ada yang memberkahinya..

Hidup kita ini bagai bunga mawar. Padanya terdapat keindahan yang membuat kita bahagia, namun padanya juga terdapat duri yang menyakiti kita..

Apapun yang ditakdirkan menjadi milikmu akan mendatangimu walaupun engkau lemah..!

Sebaliknya apapun yang tidak ditakdirkan menjadi milikmu, engkau tidak akan dapat meraihnya, bagaimanapun kekuatanmu..!

Segala puji bagi Allah atas segala nikmat, karunia, dan kebaikan-Nya. Semoga Allah menjadikan hari-harimu bahagia dengan segala kebaikan dan keberkahan..

[Terjemahan dari status berbahasa arab].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

Mengenal Allah Sebagai Pemberi Rizqi…

Ustadz Abdullah Roy, حفظه الله تعالى

Di antara nama Allāh ‘Azza wa Jalla adalah Ar-Razzaq yang artinya Yang Maha Memberi Rizqi.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menciptakan makhluq dan memberikan rizqi kepada mereka. Bahkan Allāh ‘Azza wakīl Jalla telah menulis rizqi makhluk-Nya sebelum Allāh menciptakan mereka.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

قدر الله مقادير الخلائق قبل أن يخلق السموات والأرض بخمسين ألف سنة

“Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menentukan (telah menulis) taqdir bagi makhluk-makhlukNya 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.”

(HR. Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menciptakan rizqi tersebut dan menyampaikannya kepada makhluq sesuai dengan waktu yang sudah Allāh tentukan sebelumnya.

Dan tidak akan meninggal seseorang sampai dia mendapatkan rizqi yang terakhir, meskipun rizqi tersebut ada di puncak gunung atau bahkan ada di bawah lautan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Tidak ada suatu binatang yang melata yang ada di permukaan bumi ini melainkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang akan memberikan rizqinya.”

(QS. Surat Hūd:6)

Siapa sesembahan selain Allāh yang bisa melakukan yang demikian?

Adakah selain Allāh sesembahan yang bisa memberi makan sekali saja untuk seluruh makhluq yang ada di bumi ini mulai dari manusia, jin, hewan dan juga tumbuhan?

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

“Wahai manusia hendaklah kalian mengingat nikmat Allāh atas kalian. Adakah yang mencipta selain Allāh, yang memberikan rizki kepada kalian dari langit maupun dari bumi? Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia. Oleh karena itu kenapa kalian dipalingkan?.”

(QS Surat Fāthir:3)

Itulah halaqah yang ke-3 dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.

وبالله التوفيق والهداية
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Menebar Cahaya Sunnah