Keutamaan Membaca 50, 100, 200, 500 Ayat Sehari Semalam…

Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى

Barang siapa membaca 50 ayat Al-Qur’an sehari semalam, maka dia tidak ditulis ke dalam golongan orang-orang yang lalai.

Barang siapa yang membaca 100 ayat, maka dia ditulis ke dalam golongan orang-orang yang taat.

Barang siapa membaca 200 ayat, maka Al-Quran tidak akan mendebatnya pada Hari Kiamat..

dan barang siapa yang membaca 500 ayat, maka ditulis untuknya pahala yang banyak melimpah..

(Hadits Hasan diriwayatkan oleh ibn assunni dalam amal alyaumi wallailah 437)

Ref : http://salamdakwah.com/baca-artikel/keutamaan-membaca-50–100–200–500-ayat-sehari-semalam.html

Wirid-wirid membaca ayat al Qur-aan berdasarkan hadits yang shahiih

1. Membaca ayat kursi [1 ayat]

dibaca setiap selesai shalat [total 5x], pagi [1x] dan petang [1x], sebelum tidur malam [1x];

[total 8]

2. al-ikhlash, al-falaq dan an-Naas [total 15 ayat]

dibaca masing-masing SEKALI setiap selesai shalat [5×15 = 75], pagi petang (masing-masing 3x) [2 x (3×15) = 2 x 45 = 90], sebelum tidur (dibaca secara berurutan 3x) [45]

[total 210]

3. ‘Aali Imran 190-200 [10 ayat]

dibaca ketika bangun tidur [10 ayat]

[total 10 ayat]

4. al Baqarah 285-286 [2 ayat]

dibaca ketika sebelum tidur [2 ayat]

[total 2 ayat]

5. Surat as-Sajadah [30 ayat] dan Surat al-Mulk [30 ayat]; total [60 ayat]

dibaca ketika sebelum tidur [60 ayat]

TOTAL POINT 1 – 5 = 290

untuk ini saja totalnya sudah, 290 ayat yang kita baca dalam sehari semalam.

maka kita tinggal memerlukan 210 ayat (dan ini kira-kira setara dengan satu juz, lebih sedikit) al Qur-aan untuk mencapai 500 ayat sehingga kita bisa dicatat pembendaharaan harta berupa pahala..

marilah kita meraih keutamaan ini… TAPI ingatlah, amalan yang dicintai Allah adalah yang sedikit, tapi KONTINYU..

Bertahaplah dalam mengamalkan sesuatu, sehingga kita tidak terbebani dengan beban yang berat, yang malah nantinya kita meninggalkannya yang ini tidak baik bagi kita sendiri.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ



“Wahai ‘Abdullah ‪(‬ibn ‪’‬Amr ibnul ‪’‬Ash‪)‬, janganlah engkau seperti si fulaan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.”

(HR. Bukhari no. 1152; sumber penomoran: http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2724-di-balik-amalan-yang-sedikit-namun-kontinu.html )

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ فَوَاللَّهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى تَمَلُّوا إِنَّ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَى اللَّهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ

“Hendaknya kalian melakukan sesuatu yang kalian mampui. Demi Allah, Allah Azzawajalla tidak akan pernah bosan hingga kalian sendiri yang bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai oleh Allah adalah yang paling kontinyu (terus menerus).”

[Hadits shahih, dikeluarkan oleh Ahmad 6/247, Muslim 6/73, Ath-Thabrany, hadits nomor 564 di dalam Al-Kabir; sumber penomoran: almanhaj.or.id/content/1912/slash/0 ]

Bukankah kita MAMPU

Membaca ayat kursi dalam setiap selesai shalat [total 5x], pagi [1x] dan petang [1x], sebelum tidur malam [1x]

bukankah kita MAMPU

Membaca surat al-ikhlash, al-falaq dan an-Naas dalam setiap shalat 5 waktu (masing-masing sekali); pagi dan petang (masing2 3x), dan sebelum tidur (secara berurutan masing2 3x)?!

Untuk kedua hal ini saja, bacaan rutin ayat al qur-aan kita dalam sehari sudah 218 ayat; yang semoga kita termasuk dalam orang-orang yang tidak dibantah al Qur-aan di hari kiamat.

Maka semoga Allah memberikan kita kekuatan dan kemudahan dalam menjalankan agamaNya yang mulia dan agung ini.. aamiin

Ref : https://abuzuhriy.wordpress.com/2011/02/08/bacaan-qur-aan-sehari-semalam/

Membaca Beberapa Ayat Terakhir Dari Surat Ali Imran Pada Malam Hari…

IslamQA / Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, حفظه الله تعالى

Pertanyaan :
Saya diberi buku oleh salah seorang teman, dan saya mendapatkan bahwa bagi siapa yang membaca 10 ayat terakhir dari surat Ali Imran, maka pahalanya sama dengan seseorang yang beribadah kepada Allah sepanjang malam, apakah ada hadits shahih yang menjelaskan akan hal itu?

 

 Jawaban:
Alhamdulillah

Pertama:

Kami tidak mengetahui hadits shahih dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang menunjukkan bahwa bagi siapa saja yang membaca 10 ayat terakhir dari surat Ali Imron akan mendapatkan pahala sama dengan pahala shalat malam semalam penuh. Akan tetapi riwayat tersebut dari Utsman bin ‘Affan –radhiyallahu ‘anhu-, ad Darimi (3396) meriwayatkan dari beliau –radhiyallahu ‘anhu- berkata:

(من قرأ آخر آل عمران في ليلة كتب له قيام ليلة) غير أن سنده ضعيف ، فيه ابن لهيعة . وذكره القرطبي في كتابه “التذكار” (صـ 235) ، وقال الأرناؤوط في تحقيقه : إسناده ضعيف .

“Barang siapa yang membaca ayat-ayat terakhir dari surat Ali Imran pada malam hari, maka ia mendapatkan pahala qiyamul lail semalam penuh”. (Namun sanad hadits ini lemah, di dalamnya terdapat Ibnu Luhai’ah, al Qurtubi juga menyebutkan dalam bukunya “Adz Tidzkar” hal.235. al Arna’uth berkata dalam tahqiqnya: “sanadnya lemah”.

Yang benar tentang keutamaan ayat-ayat tersebut adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhori 183 dan Muslim 763, dari Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- bahwa ia pernah bermalam di rumah Maimunah istri Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang juga bibi dari jalur ibunya, berkata:

(فَنَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى إِذَا انْتَصَفَ اللَّيْلُ أَوْ قَبْلَهُ بِقَلِيلٍ أَوْ بَعْدَهُ بِقَلِيلٍ اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَلَسَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بِيَدِهِ ثُمَّ قَرَأَ الْعَشْرَ الْآيَاتِ الْخَوَاتِمَ مِنْ سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ ، ثُمَّ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ، ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي) .

“Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidur sampai setengah malam, atau menjelang tengah malam atau lewat sedikit, beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bangun, lalu beliau duduk dengan mengusap wajahnya, kemudian beliau membaca 10 ayat terakhir dari surat Ali Imran, kemudian beliau berwudhu’ dan menyempurnakannya, lalu beliau shalat malam”.

Imam Nawawi –rahimahullah- berkata:

Riwayat di atas menunjukkan akan sunnahnya membaca ayat-ayat di atas setelah bangun tidur.

Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dalam “al Awsath” 6777, dan Ibnu Sinni dalam “Amal Yaum wal Lailah” 587, dan al Uqaili dalam “Dhu’afa” 713, dan Ibnu ‘Ady dalam “al Kamil” 6/449, dan al Khotib dalam “al Muttafaq wal Muftaraq” 617, dan Ibnu ‘Asakir dalam “Tarikh Dimasqa” 22/393, dari jalur Madzahir bin Aslam berkata: “Telah meriwayatkan kepadaku Sa’id bin Abi Sa’id al Maqbari, dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-

(أنه كان يقرأ عشر آيات من أول سورة آل عمران كل ليلة)

“Bahwa beliau telah membaca sepuluh ayat dari awal surat Ali Imran setiap malamnya”.

Dengan sanad yang lemah sekali, Madzahir bin Aslam haditsnya matruk, Yahya bin Mu’in berkata: Tidak dianggap, Bukhori dan Abu Hatim berkata: hadits mungkar.

(“Jarh wa Ta’dil”: 8/439, “adh Dhu’afa’ karangan al ‘Uqaily 2/141)

Kedua:

Telah diriwayatkan keutamaan yang disebutkan oleh penanya di atas, bagi siapa yang membaca pada malam hari sebanyak 100 ayat. Imam Ahmad (16510) meriwayatkan dari Tamim ad Daari –radhiyallahu ‘anhu- berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

(مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِي لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ) وصححه الألباني في “الصحيحة” (644) .

“Barang siapa yang membaca 100 ayat pada malam hari, maka ia akan mendapatkan pahala sama dengan qunut semalam”. (Dishahihkan oleh al Baani dalam “ash Shahihah” 644)

Al Manawi dalam “Faidhul Qadir” 6/261 berkata: “Makna “Qunut Lailah” adalah ibadah pada malam hari”.

Ali al Qaari berkata dalam “Murqaatul Mafatiih” 4/1495: “Makna “Qunut Lailah” adalah melakukan shalat atau ketaatan pada malam itu”.

Ada kemungkinan makna hadits tersebut adalah: “Membaca 100 ayat pada shalat malam, juga ada kemungkinannya membaca 100 ayat secara umum baik pada waktu shalat atau tidak”.

Wallahu a’lam.

Obat Ampuh Bagi Yang Malas Muroja’ah Hapalan Alqur’annya

Bagi Anda yang sudah hapal Alqur’an, baik hapal semuanya atau SEBAGIANNYA.. Mungkin ada yang malas muroja’ah atau menjaga hapalannya.. Jika rasa malas itu menghinggapi Anda, maka ingatlah sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-:

“Bahwa nanti (di surga) dikatakan kepada orang yang mempunyai (hapalan) Qur’an “Bacalah, dan naiklah..!

Bacalah secara tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil ketika di dunia.

Karena tingkatanmu (di surga) adalah di akhir ayat yang bisa engkau baca..” [HR. Abu Dawud: 1464, derajat: hasan shohih].

———

Bagi yang hapalan Qur’an nya sedikit, maka giatlah dalam menambah hapalan.. dan bagi yang sudah hapal semuanya, maka giatlah dalam menjaga hapalannya.. karena itu akan menjadi penentu tingkatan Anda di surga kelak.

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

1377. Jari dan tangan mana yang kita dibolehkan memakai cincin ?…

1377. BBG Al Ilmu – 463

Tanya :
Pake cicin di tangan kanan, di jari telunjuk…bolehkah itu ustadz ?

Jawab :
Disebutkan dalam hadits ‘Ali bin Abi Tholib, radhiyallahu ‘anhu, ia berkata (yang artinya),
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang padaku memakai cincin pada jari ini atau jari ini.” Ia berisyarat pada jari tengah dan jari setelahnya. (HR. Muslim no. 2095).

Imam Nawawi menyebutkan dalam riwayat lain selain Muslim disebutkan bahwa yang dimaksud adalah jari telunjuk dan jari tengah.

Dari Anas bin Malik  radhiyallahu ‘anhu, ia berkata (yang artinya),
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengenakan cincin di sini.” Anas berisyarat pada jari kelingking di tangan sebelah kiri. (HR. Muslim no. 2095).

Imam Nawawi menyatakan bahwa para ulama sepakat bolehnya memakai cincin di jari tangan kanan atau pun di jari tangan kiri.

Tidak ada disebut makruh di salah satu dari kedua tangan tersebut. Para ulama cuma berselisih pendapat saja manakah di antara keduanya yang afdhal.

Kebanyakan salaf memakainya di jari tangan kanan, kebanyakannya lagi di jari tangan kiri. Imam Malik sendiri menganjurkan memakai di jari tangan kiri, beliau memakruhkan tangan kanan.

Sedangkan ulama Syafi’iyah yang shahih, jari tangan kanan lebih afdhal karena tujuannya adalah untuk berhias diri. Tangan kanan ketika itu lebih mulia dan lebih tepat untuk berhias diri dan juga sebagai bentuk pemuliaan. Lihat Syarh Shahih Muslim, 14: 66.

Kesimpulannya, jari tangan yang terbaik untuk memakai cincin bagi laki-laki adalah jari kelingking pada tangan kiri. Adapun jari yang terlarang (makruh) dipakaikan cincin adalah jari tengah dan jari telunjuk. Sedangkan jari manis, masih bisa dikenakan. Adapun untuk wanita, bebas memakai cincin di jari mana saja. Wallahu a’lam

Ref : http://rumaysho.com/10391-dilarang-memakai-cincin-di-jari-tengah-dan-telunjuk-benarkah.html  

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Utarakanlah RASA CINTA Anda Kepada Orang Yang Anda Nasehati…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Utarakanlah RASA CINTA Anda kepada orang yang Anda nasehati… karena itu akan lebih memudahkan hatinya terbuka menerima nasehat Anda.

======

Cobalah Anda renungkan hadits mulia yang sangat inspiratif berikut ini, Nabi -shollallohu alaihi wasallam- suatu hari memegang tangan Mu’adz dan mengatakan:

“Wahai Mu’adz, demi Allah sungguh aku benar-benar mencintaimu, demi Allah sungguh aku benar-benar mencintaimu”… kemudian beliau mengatakan: “Aku BERWASIAT kepada wahai Mu’adz, janganlah engkau sekali-kali meninggalkan di penghujung setiap sholat untuk mengucapkan:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allah, bantulah aku dalam berdzikir mengingatMu, mensyukuriMu, dan membaikkan ibadah kepadaMu”. [HR. Abu Dawud: 1522, dishahihkan oleh Syaikh Albani].

Subhanallah… cobalah Anda renungkan beberapa hal berikut ini:

1. Beliau adalah seorang Nabi dan Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, namun tidak gengsi untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada sahabatnya Mu’adz.

2. Beliau memberikan penegasan dalam ungkapan cinta tersebut dengan empat penegasan, yaitu: dengan sumpah “demi Allah”, “sesungguhnya aku”, “benar-benar”, dan beliau mengulangi 3 kalimat itu sebanyak dua kali… Ini menunjukkan bahwa beliau tidak main-main dalam mengungkapkan kecintaannya kepada sahabatnya tersebut.

3. Bayangkanlah bagaimana usaha beliau menyampaikan kebaikan kepada Sahabat Mu’adz, beliau memegang tangannya tanda keakraban, menyatakan kecintaannya kepadanya dengan sungguh-sungguh, dan memilih kata “berwasiat” untuk mengungkapkan makna berpesan, agar pengaruhnya lebih mengena dan menancap di hati Sahabat Mu’adz.

Oleh karenanya, hendaknya para da’i yang mengajak kepada Allah juga meneladani ini, sehingga dakwahnya mudah diterima, atau bahkan mereka tertawan hatinya untuk menerima dakwah Sunnah yang dibawa… wallohu a’lam.

Semoga bermanfaat…

 

1376. Mengirim Al Fatihah untuk orangtua yang sudah wafat…

1376. BBG Al Ilmu

Tanya :
Mau tanya, bukankah mengirim fatihah sebuah wujud dari sikap anak sholih kepada orangtuanya yang sudah wafat dalam mengirim do’a ?

Jawab :
Ustadz Irfan Helmy, حفظه الله تعالى

Mengirim Al-Fatihah kepada mayit merupakan masalah yang diperselisihkan para ulama (khilafiyah). Bagi yang mengikuti pendapat bahwa bacaan Al Fatihah akan sampai kepada mayit (seperti pendapat madzhab Hambali), maka mengirim Al Fatihah bagi orangtua yang sudah wafat akan dinilai sebagai wujud sikap anak yang shalih kepada orangtuanya.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Ambillah Pelajaran Dari Perjalanan Hidup Ini

Saat umurku 4 th: “Ayahku adalah orang yang paling hebat..”

Saat umurku 6 th: “Ayahku tahu semua orang..”

Saat umurku 10 th: “Ayahku istimewa, tapi cepet marah..”

Saat umurku 12 th: “Ayahku dulu penyayang, ketika aku masih kecil..”

Saat umurku 14 th: “Ayahku mulai lebih sensitif..”

Saat umurku 16 th: “Ayahku tidak mungkin mengikuti zaman ini..”

Saat umurku 18 th: “Ayahku seiring berjalannya waktu akan menjadi lebih susah..”

Saat umurku 20 th: “Sulit sekali aku memaafkan ayahku, aku heran bagaimana ibuku bisa tahan hidup dengannya..”

Saat umurku 25 th: “Ayahku menentang semua yang ingin ku lakukan..”

Saat umurku 30 th: “Susah sekali aku setuju dengan ayah, mungkin saja kakekku dulu capek ketika ayahku muda..

Saat umurku 40 th: “Ayahku telah mendidikku dalam kehidupan ini dengan banyak aturan, dan aku harus melakukan hal yang sama..”

Saat umurku 45 th: “Aku bingung, bagaimana ayahku dulu mampu mendidik kami semua..?”

Saat umurku 50 th: “Memang susah mengatur anak-anak, bagaimana capeknya ayahku dulu dalam mendidik kita dan menjaga kita..?”

Saat umurku 55 th: “Ayahku dulu punya pandangan yang jauh, dan telah merencanakan banyak hal untuk kita, ayah memang orang yang istimewa dan penyayang..”

Saat umurku 60 th: “Ayahku adalah orang yang paling hebat..”

Lingkaran perjalanan ini menghabiskan waktu 56 tahun untuk kembali ke titik semula di umur 4 th, saat ku katakan “Ayahku adalah orang yang paling hebat..”

====================

Maka hendaklah kita berbakti kepada orangtua kita sebelum kesempatan itu hilang, dan hendaklah kita berdo’a kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita lebih baik dalam bermu’amalah dengan kita melebihi mu’amalah kita dengan orangtua kita.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):
“Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu bapak dengan sebaik-baiknya..

Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya telah sampai usia lanjut di sisimu, maka janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia..

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil..” [Al-Isro’: 23-24].

Ini adalah risalah dari seseorang yang telah menjalani semua perjalanan hidup di atas, maka aku senang meringkasnya untuk diambil ibrah dan pelajaran.

Ya Allah ampunilah kami dan orangtua kami serta siapapun yang berjasa kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami semua Surga Firdaus-Mu..

Ditulis oleh,
Ustadz  Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Berkurban ? Ah, Sayang Uangnya..!

Mungkin sebagian orang berkata seperti di atas, dan bisa jadi anda salah satu dari mereka.

Sobat, sebelum anda memutuskan untuk mempertahankan ungkapan di atas, alangkah baiknya bila anda membaca lalu merenungkan hadits berikut dengan seksama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

Barang siapa memiliki kelapangan namun ia tidak berkurban (menyembelih hewan kurban) maka hendaknya ia tidak mendekat dari tepat sholat (iedul adha) kami.” (Riwayat Ahmad dan lainnya)

Sobat! Anda penasaran ingin mengetahui berapa besar keutamaan dan pahala menyembelih hewan kurban? Temukan jawabannya pada hadits berikut:

ما عمل ابن آدم يوم النحر أحب إلى الله من إهراق الدم، وإنه ليؤتى يوم القيامة بقرونها وأشعارها وأظلافها، وإن الدم ليقع من الله بمكان قبل أن يقع بالأرض، فطيبوا بها نفسا.

Tidaklah seorang hamba mengamalkan suatu amalan pada hari AN Naher (10 Zul Hijjah) yang lebih utama dibanding menyembelih hewan kurban. Kelak pada hari Kiyamat, hewan kurban akan datang menghadap kepada Allah lengkap dengan tanduk, bulu dan kuku kakinya. Sesungguhnya darah hewan kurban benar benar mendapat kedudukan yang tinggi (diterima oleh Allah dan mendapat imbalan yang besar) sebelum darah itu jatuh ke tanah, karena itu sembelihlah hewan kurbanmu dengan suka rela.” (At Tirmizy, Ibnu Majah dan lainnya)

Sobat! Mari bulatkan tekad untuk membuktikan keimanan kita dan cinta kita kepada Allah dengan mengurbankan sebagian hewan ternak.

Semoga Allah menerima amal ibadah anda semua.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah