Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Kajian.
Lihat video : http://carasholat.com/tata-cara-takbiratul-ihram-dalam-shalat-video/
1. Takbiratul Ihram merupakan rukun shalat. Harus dilakukan baik menjadi imam, makmum, maupun shalat sendirian.
Nabi bersabda: “Kunci shalat adalah bersuci, memulainya dengan takbir, dan mengakhirinya dengan salam.” (HR. Abu Daud dan disahihkan Al Albani)
2. Yang dimaksud takbiratul ihram adalah ucapan: Allaahu akbar…, bukan mengangkat tangan ketika takbir.
3. Mengangkat tangan hanyalah gerakan yang disunnahkan untuk dilakukan ketika mengucapkan takbiratul ihram.
4. Keadaan tangan ketika takbir:
5. Cara mengangkat tangan ketika takbir ada 3:
6. Takbiratul ihram harus dilakukan dalam keadaan posisi tubuh tegak sempurna dan tidak boleh sambil condong mau rukuk. Karena syarat sah-nya takbiratul ihram adalah dilakukan sambil berdiri bagi yang mampu.
7. Takbiratul ihram hanya dilakukan sekali dan tidak perlu diulang-ulang.
8. Takbiratul ihram tidak disyaratkan harus dibarengkan dengan niat shalat. Menggabungkan dua hal ini adalah mustahil. Karena anggapan inilah, banyak orang yang ditimpa penyakit was-was ketika takbir, sehingga takbirnya dilakukan berulang-ulang.
9. Orang yang shalat sendirian atau makmum, takbirnya dibaca pelan. Hanya terdengar dirinya sendiri.
10. Jika ada kebutuhan, misalnya suara imam terlalu pelan, sehingga dikhawatirkan tidak terdengar makmum yang di belakang maka dibolehkan bagi sebagian makmum untuk mengulang suara imam dengan keras. Namun, jika tidak ada kebutuhan maka tidak boleh. Misalnya suara imam sudah ada pengeras suara (mikrofon). Hal ini berlaku untuk semua shalat.
11. Cara membaca takbir: Allaahu akbar. Yang dipanjangkan hanya lafal: Allaa..h. sedangkanAkbar dibaca pendek.
1. Telapak tangan tidak dibuka sempurna, tetapi agak menggenggam.
2. Telapak tangan tidak dihadapkan ke kiblat.
3. Mengangkat tangan tidak setinggi bahu atau telinga.
4. Was-was ketika takbir, sehingga dilakukan secara berulang-ulang.
5. Takbir sambil tergesa-gesa untuk melakukan rukuk. Hal ini biasa dilakukan untuk makmum masbuq yang menjumpai imam sedang rukuk. Agar mendapatkan satu rakaat bersama imam. Namun kesalahan ini menyebabkan batalnya takbir yang dia lakukan. Karena syarat sahnya takbir adalah dilakukan sambil berdiri. Dan jika takbiratul ihram batal maka shalatnya juga batal. Mula Ali Qari mengatakan, “Adapun orang yang bertakbir sambil menunduk sebagimana yang dilakukan orang-orang awam karena terburu-buru maka shalatnya tidak sah. Karena berdiri adalah syarat sahnya takbiratul ihram bagi yang mampu.”
6. Kesalahan dalam membaca takbir:
Kesalahan-kesalahan dalam membaca lafal takbir menyebabkan kesalahan arti. Semua arti yang salah di atas merupakan kalimat kekufuran. Orang mengatakan: “Apakah Allah Maha Besar??” Berarti telah meragukan sifat Maha Besar Allah.
7. Makmum bertakbir dengan suara keras sehingga mengganggu orang lain ketika shalat jamaah. Yang boleh bertakbir dengan keras hanyalah imam.
8. Ada sebagian makmum yang mengulang suaranya imam padahal suara imam sudah keras dan terdengar ke semua jamaah. Biasanya ini dilakukan ketika shalat id, karena meniru yang ada di masjidil haram. Padahal ini adalah satu hal yang tidak perlu dilakukan. Karena riwayat yang menyebutkan Abu Bakr mengeraskan suara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat jamaah terjadi ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit, sehingga suara beliau pelan.
9. Tidak menggerakkan lidah ketika membaca takbir, atau bertakbir namun di hati. Sebagian ulama menganggap orang yang bertakbir di batin (hati) dan tidak diucapkan bisa membatalkan shalat. Diantara yang berpendapat demikian adalah Imam Syafi’i. Karena shalat adalah ibadah zikir dan gerakan. Bertakbir merupakan bagian dari zikir ketika shalat. Bertakbir baru bisa dianggap sah jika diucapkan.
Ustadz Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى
Saudaraku yang baik hatinya, Semoga hati kita sekalian selalu disinari kesejukan, keselamatan dan kebahagiaan.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo’a:
اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ ابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ وَنُوْرَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ
“Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku”. Maka akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan.”
Tiba-tiba ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do’a ini (kepada orang lain)”? Maka Rasulullah menjawab: “Ya, selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain)”.
(HR. Ahmad no.3712 dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani)
Ust. Badru Salam, حفظه الله تعالى
Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya…
Alam nasyroh laka shodrok…
Bukankah kami telah melapangkan dadamu…
Saudaraku…
Hati yang lapang adalah nikmat Allah yang besar…
Ia adalah Hati yang dipenuhi oleh iman dan islam…
Kelapangan hanya dirasakan oleh yang mentauhidkan Allah…
Yang hanya bertawakkal kepadaNya…
Dan yakin akan adanya hari pembalasan…
Di saat musiibah datang menerpa…
Iya, Ridho dengan keputusan-Nya…
Ia pun tenang dan lapamg dada…
Di saat badai ujian menghantamnya…
Ia berharap akan pahalaNya…
Ia pun sabar dan lapang dada…
Ust. Badru Salam, حفظه الله تعالى
terima kasih ibu..
engkau telah mendidikku semasa kecil..
masih teringat dalam memoriku..
engkau ajari aku membaca al qur’an..
membimbingku tentang adab dan tatakrama..
di saat aku sekolah dasar..
engkau ajari aku sholat tahajjud..
dan bimbing aku untuk menghafal al quran..
terasa sejuk ketika aku tidur di dekatmu di akhir malam..
dengan lantunan al quranmu..
terima kasih ibu..
kau didik aku dengan kelembutan dan kasih sayang..
senyummu memberi arti yang dalam..
marahmu untuk kebaikan diriku..
ucapanmu penuh makna dan motivasi..
bahkan aku malu padamu ibu..
kau tak pernah lelah untuk berdzikir..
tak pernah meninggalkan puasa senin dan kamis..
malam malammu tak pernah kosong dari sholat..
bahkan di saat sakit..
selalu engkau memohon ampunan akan dosa dosamu..
selamat jalan ibu..
semoga Allah mengampuni dosa dosamu..
mengangkat derajatmu dalam illiyyin..
meluaskan kuburmu dan memberimu cahaya padanya..
dan memasukkanmu ke dalam surga firdaus yang paling tinggi..
Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
Sobat! Di beberapa tempat; ada orang orang yang membaca al qur’an atau berdzikir hingga lewat tengah malam; kira kira mereka itu ingin memperdengarkan bacaan Al Qur’an atau Dzikirnya kepada siapa ya?
Kepada masyarakat? Kan kemungkinan besar sudah pada istirahat.
Kepada Allah Ta’ala? Kan tanpa pengeraspun Allah Ta’ala pasti mendengarnya.
Ustadz Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى
Apa mungkin jin sejagat menjaga muktamar? Atau ini hanya dusta? Ini pengakuan pihak penjaga muktamar.
Dia juga mengaku jauh-jauh hari sebelum Muktamar, personilnya telah telah di-ijazahi sebelum melaksanakan tugas pengamanan. Pihaknya juga melakukan sejumlah ritual, di antaranya menanam ramuan campuran minyak Funni Basalwa dan Kasturi di punjer (pusar) alun-alun.
Dia mengatakan, tujuannya adalah penyelarasan daya, atau menetralisir kemungkinan adanya gangguan energi gaib negatif..
Dari Nur Kediri
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Apa yang perlu dibanggakan dari penjagaan jin. Sementara mereka tidak lebih mulia dibandingkan manusia. Sama-sama makhluk yang mendapat beban syariat. Karena itulah, Allah justru melarang manusia untuk meminta perlindungan kepada jin. Karena bagian dari tradisi orang musyrikin jahiliyah. Yang membuat jin semakin sombong, dan membuat manusia semakin hina di hadapan jin.
Allah berfirman menceritakan dialog jin kepada sesama mereka,
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
“Ada beberapa orang dari kalangan manusia meminta perlindungan kepada beberapa lelaki dari kalangan jin, sehingga membuat mereka semakin hina.” (QS. al-Jin: 6)
Al-Hafidz Ibnu Katsir menjelaskan,
أي: كنا نرى أن لنا فضلا على الإنس؛ لأنهم كانوا يعوذون بنا، إي: إذا نزلوا واديا أو مكانا موحشا من البراري وغيرها – كما كان عادة العرب في جاهليتها – يعوذون بعظيم ذلك المكان من الجان، أن يصيبهم بشيء يسوؤهم
Maksud ayat, kami (para jin) dulu menganggap bahwa kami lebih mulia dari pada manusia. Karena mereka meminta perlindungan kepada kami. Ketika mereka singgah di sebuah lembah atau tempat yang angker – sebagaimana tradisi arab di masa jahiliyah – mereka meminta perlindungan kepada jin yang diyakini menjadi penguasa tempat itu, agar tidak mengganggu perjalanan mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/239).
Kita sepakat tujuannya bagus, menjaga keamanan kaum muslimin yang sedang muktamar. Namun dengan adanya ritual menanam ramuan di punjer alun-alun, untuk menghindari gangguan energi ghaib negatif (baca: gangguan jin), menjadi masalah besar, Karena ini kesyirikan. Tidak ada bedanya dengan ritual orang musyrikin jahiliyah sepeti yangg disampaikan Ibnu Katsir di atas.
Bagian inilah yang lebih penting untuk diperhatikan. Karena ritual orang ini, kesyirikan.
Allah mengajarkan kepada kita, ketika kita khawatir dengan gangguan jin dan setan kita berdoa kepada-Nya. Bukan malah memberi sesajian ke jin. Allah ajarkan ini di dua ayat dengan kalimat yang sama,
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ
Apabila setan membisikkan was-was kepadamu, mintalah perlindungan kepada Allah. (QS. al-A’raf: 200 dan Fushilat: 36).
Ada banyak peristiwa genting yang dialami Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam an para sahabat. Terutama ketika mereka sedang berperang. Tidak ada satupun sahabat yang melakukan ritual dalam rangka mencari bala bantuan jin.
Anda bisa lihat, yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang perang Badar. Setelah beliau mengetahui jumlah pasukannya hanya 1/3 dari pasukan musuh. Beliau tidak meminta bantuan para jin di lembah itu. Beliau juga tidak memanggil-manggil jibril. Namun yang beliau lakukan adalah berdoa kepada Allah.
Umar bin Khatab menceritakan,
Ketika perang badar, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat orang musyrikin yang jumlahnya 1000 pasukan. Sementara sahabatnya ada 319 orang. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kiblat, menengadahkan tangannya, dan bermunajat kepada Allah,
اللهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي ، اللهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي ، اللهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ ، لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ
Ya Allah, buktikanlah janjimu kepadaku, ya Allah wujudkanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau hancurkan kaum muslimin yang sedikit ini, maka Engkau tidak akan di sembah di muka bumi. (HR. Muslim 1763)
Untuk menilai kebenaran pengakuannya, tidak ada bukti yang pasti. Apalagi dia mengklaim, jin sejagat.
Karena pada asalnya, jin tidak bisa dilihat oleh manusia. Jin dalam bahasa arab: الجن dari kata: janna – yajunnu [arab: جَنَّ – يَجُنُّ], yang artinya menutupi.
Ibnul Faris dalam kamusnya mengatakan,
فالجن سموا بذلك لأنهم مستترون عن الإنس
Jin dinamakan jin, karena mereka tidak terlihat oleh manusia. (Maqayis al-Lughah, madah; janna)
Keterangan bahwa manusia tidak bisa melihat jin, Allah tegaskan dalam al-Quran,
يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ …
“Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga; ia menanggalkan pakaiannya dari keduanya untuk memperlihatkan–kepada keduanya–‘auratnya. Sesungguhnya, iblis dan golongannya bisa melihat kamu dari suatu tempat yang (di sana) kamu tidak bisa melihat mereka.” (Qs. Al-A’raf:27)
Jika benar dia melihat jin, tidak mungkin dia bisa melihat jin sebanyak itu. Jin sejagat. Sehingga sebenarnya klaim semacam ini sama sekali tidak selayaknya dibesar-besarkan. Apalagi dijadikan kebanggaan.
Allahu a’lam.
Ref : http://www.konsultasisyariah.com/muktamar-dijaga-jin-sejagat/
Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
Menurut anda, Islam Nusantara sama atau berbeda dari Islam Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Kalau sama, buat apa nama baru @Islam Nusantara@? karena ternyata sama dengan Islam Arab, karena beliau adalah orang arab.
Kalau beda, maka kelak surganya sama atau beda ya?
Nampaknya, yang jelas, Islam Arab akan satu surga dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sama-sama arab, al qur’annya arab, dan haditsnya juga arab.
Namun @Islam Nusantara@ kira kira kitabnya berbahasa apa ya?
Nama tuhannya, pakai bahasa arab atau bahasa nusantara ya? Nabinya juga pakai nama arab atau nusantara ya?
Dan, kata @Islam@ itu sendiri kira kira bahasa apa ya, arab atau nusantara?
Setahu saya, @Islam@ itu bahasa arab, seharusnya, kalau mau pakai @nusantara@ ya jangan pakai nama @Islam@ tapi pakai nama yang benar benar nusantara.
Jadi usulan saya, @Islam nusantara@ ndak pantas pakai nama agama @Islam@ tapi diganti agama @berserah diri nusantara@, tuhannya bernama @gusti@ dan nabinya bernama @Pujianto@ atau @Pujiono@.
Bagaimana anda setuju dengan usulan saya?
Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
Sobat! Betapa sering ketika ada satu rumah /warung makan yang laris manis; segera di sekitar tempat tersebut berdiri rumah/warung makan serupa.
Menurut anda; salahkah mereka yang ikut serta mengais rejeki di dekat warung yang laris tersebut? Perlu diketahui bahwa mereka sebagaimana juga pemilik warung pertama; membuka usahanya di tempat sendiri; tanpa mengganggu siapapun ermasuk pemilik warung pertama.
Namun demikian; betapa sering pemilik warung pertama berang dan mulai unjuk taringnya kepada pemilik warung kedua atau ketiga. Alasannya sederhana; ia meyakini bahwa keberadaan warung kedua dan ketiga “mengurangi rejekinya” atau “mengurangi pelanggannya”.
Padahal urusan rejeki; sepenuhnya urusan Allah; masing masing telah mendapat kodrat rejekinya; tiada akan pernah berkurang atau direbut orang. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إن روح القدس نلث في روعي أنها لن تموت نفس حتى تستوفي رزقها فأجملوا في الطلب خذوا الحلال ودعوا الحرام
“Sesungguhnya ruhul qudus ( Malaikat Jibril) telah membisikkan ke dalam jiwaku bahwa tiada pernah ada seorang jiwapun yang akan mati hingga ia telah mengenyam seluruh rizkinya. Karena itu bersikaplah yang baik dalam mencari rizkimu; tempuhlah jalan yang halal dan jauhilah jalan yang haram.” (Al Bazzar dan lainnya)
Walau demikian, tetap saja ada kekawatiran yang akhirnya memancing terjadinya persaingan yang tidak sehat dan sikap sikap yang tercela. Ada iri, dengki, hasad, dan perilaku melampaui batas dan bahkan kesengajaan untuk mengambil hak saudaranya dengan lancang. Itulah manusia; memang manusia dan lagi lagi manusia.
Kondisi serupa juga terjadi antara para pemuda atau para penyeru dakwah; kekawatiran kehilangan murid; pamor tersalip; popularitas surut dan lainnya kadang kala merusak hubungan. Muncullah iri; dengki; hasad, sombong dan perilaku buruk lainnya.
Padahal urusan hati dan hidayah sepenuhnya milik Allah; sebagaimana ditegaskan pada ayat berikut:
إنك لا تهدي من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء
“Sesungguhnya engkau tiada kuasa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, namun Allah-lah yang kuasa memberi hidayah kepada siapa saja yang Ia kehendaki.”
Demikian pula urusan derajat pangkat dan popularitas; semuanya adalah rahasia dan kuasa Allah, untuk apa diperebutkan? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
اذا أحب الله العبد قال لجبريل عليه السلام إني أحببت فلانا فأحبه فيحبه جبريل ثم ينادي في اهل السماء إن الله تبارك وتعالى قد أحب فلانا فأحبوه فيحبه أهل السماء ثم يوضع له القبول في الأرض
“Bila Allah mencintai seorang hamba; maka segera Allah berfirman kepada malaikat Jibril alaihissalam: sesungguhnya Aku mencintai si fulan; maka cintailah dia; dan Jibrilpun segera mencintai orang itu. Selanjutnya malaikat Jibril berkata kepada penduduk langit: sesungguhnya Allah Yang Maha Suci lagi Maha Mulia mencintai si fulan maka cintailah dia; segera seluruh penduduk langit mencintainya. Dan selanjutnya dijadikanlah orang itu menjadi orang yang selalu diterima di muka bumi.” (Ahmad dan lainnya)
Jadi untuk apa iri dan dengki; namun waspadalah bisa jadi keberadaan anda dianggap sebagai ancaman oleh orang lain.
Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
Sobat; mencari istri cantik sah sah saja. Sebagaimana mencari istri sholehah itu adalah satu keniscayaan atas setiap insan. Dan mendapatkan istri cantik nan sholehah apalagi kaya raya itu adalah impian setiap pemuda.
Namun demikian; kalaupun anda telah berhasil mendapatkan istri cantik; sholehah dan kaya raya; tetap saja kalau dia kentut anda akan kebauan dan akhirnya tutup hidung. Dan bila dia sedang buang hajat alias kotoran; toh tetap saja anda tidak suka untuk melihatnya.
Bukan sekedar anda tidak suka untuk melihat atau menciumnya, anda pasti segera mengarahkannya agar menjauh ketika kentut dan buang hajat; dan juga segera membersihkan dirinya; agar kotoran itu tidak merusak keharmonisan hubungan anda. Mustahil anda berkata kepadanya: karena aku cinta maka tidak mengapa engkau kentut sebarangan dan kencing sembarangan dan tidak usah bersuci. Joroook dan menjijikkan bukan?
Bisa dibayangkan apa yang terjadi bila anda sedang bermesraan dengan istri yang cuuuuuantik juuueelita, tiba tiba dia ngompol atau minimal kentut. Waaah bisa kacau tuh keharmonisan anda berdua; dan sejuta rayuan gombal andapun bisa buyar semua.
Tetapi; sebau apapun kentut dan kotoran istri anda; pastilah setelah semuanya hilang dan dibersihkan anda segera lengket kayak perangko; dan sejuta rayuan gombalpun segera mengalir deras kembali. Bukankah demikian sobat?
Sobat! Kondisi di atas hanyalah ilustrasi sederhana bagi kita semua dalam membangun hubungan sosial kemasyarakan dengan sesama ummat Islam yang dibangun di atas ukhuwah islamiyah.
Setiap muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; sebagaimana Allah Ta’ala tegaskan:
إنما المؤمنون إخوة
“Sejatinya sesama orang orang yang beriman adalah saling bersaudara.”
Sekuat apapun persaudaraan antara kita; bukan berarti kita buta; menutup mata dari segala kekurangan dan kesalahan yang ada. Ukhuwah antara kita mengharuskan kita untuk saling mencintai dan membela.
Dan di saat yang sama bila saudara kita berbuat salah; dosa dan khilaf; baik dalam hal amalan; ucapan atau keyakinan; maka sepatutnya kita menegurnya agar segera membersihkan dirinya dengan istighfar dan taubat; sebagaimana yang kita lakukan kepada istri kita tercinta bila dirinya ternodai dengan kotoran atau najis.
Karen itu; pahamilah sobat bahwa teguran yang tulus dan santun sejatinya adalah implementasi dari kasih sayang dan ukhuwah. Demikianlah dahulu Rasulullah shallahu alaihi wa sallam menjelaskan hubungan antara ukhuwah dan amar ma’atuf nahi mungkar, beliau bersabda:
انصر أخاك ظالما أو مظلوما. قالوا: يا رسول الله ننصره مظلوما فكيف ننصره ظالما؟قال: تكفه عن الظلم فذاك نصرك إياه.
“Tolonglah saudaramu; baik dia berbuat zholim atau dia dizholimi. Spontan para sahabat bertanya keheranan: wahai Rasulullah, kita menolongnya di saat ia dizholimi itu adalah wajar; namun bagaimana halnya kita menolongnya di saat ia berbuat zholim? Beliau menjawab: dengan cara engkau menghalanginya dari perbuatan zholimnya maka itulah bentuk pertolongan kepadNya.” (Bukhori; At Tirmizi dll)
Karena itu tidak sepatutnya anda risau dengan adanya teguran; nasehat; ingkar mungkar; bantahan yang terjadi sesama ummat islam dan juga para ulama’ selama itu semua dilakukan secara SANTUN; OBYEKTIF & TANPA PAMRIH alias LILLAH semata. Wallahu a’alam bisshawab; selamat mencari istri yang cuuuantik; sholehah dan kalau kentut baunya huuaaruuuum & kalau dapat segera kabari saya.