Manusia Tuntunan & Tontonan…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Dalam kehidupan; setiap insan pastilah butuh kepada tuntunan; agar setiap derap langkah kehidupannya selalu berada di atas kebenaran.

Sungguhlah nista dan sengsara hidup orang orang yang lepas dari tuntunan. Bagi mereka kotoran bisa saja mereka jadikan perhiasan; dan kebenaran mereka anggap sebagai kesalahan; sehingga mereka memeranginya dengan segala cara.

Sebaliknya kesalahan akan terus mereka perjuangkan dengan segala cara. Semua itu akibat dari hilangnya tuntunan dari kehidupan.

Karena itu; orang yang berakal sehat pastilah mencari tuntunan dan mengikuti tuntunan karena dengan tuntunan mereka akan terpuji; selamat dari kenistaan dan hidup mulia. Bukan hanya mulia; bahkan pada saatnya nanti setiap sikap dan ucapan mereka dapat dijadikan sebagai tuntunan bagi orang lain yang sedang kehilangan tuntunan. Allah Ta’ala berfirman:

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

Maka bertanyalah kepada ahluz zikri ( ulama) bila engkau tidak mengetahui. (( al anbiya’ 7))

Adapun orang orang yang telah kehilangan tuntunan apalagi sengaja mencampakkannya; maka setiap ucapan dan tingkahnya akan menjadi tontonan alias cibiran bagi orang lain.

Sungguhlah nista dan sengsara mereka yang telah terlepas dari tuntunan. Bagi mereka kotoran bisa saja mereka jadikan sebagai perhiasan; dan kebenaran mereka anggap sebagai kesalahan; sehingga mereka memeranginya dengan segala cara.

Sebaliknya kesalahan akan terus mereka perjuangkan dengan segala cara. Semua itu akibat dari hilangnya tuntunan dari kehidupan. Bagi mereka hanya ada satu harapan dan keinginan yaitu nafsu dan nafsu; sebagaimana yang Allah gambarkan dalam firmannya:

فمثله كمثل الكلب إن تحمل عليه يلهث أو تتركه يلهث

Perumpamaan mereka bagaikan anjing yang bila engkau mengusirnya maka anjing itu menjulurkan lidahnya dan kalaupun engkau membiarkannya maka anjing itu juga tetap menjulurkan lidahnya. (( al aaraf 176))

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa anjing selalu menjulurkan lidahnya; karena adanya nafsu makan yang sangat besar. Demikian pula orang yang telah kehilangan tuntunan; hanya ada satu keinginan baginya yaitu memuaskan nafsunya dengan segala cara.

Orang orang seperti ini tidaklah pantas menjadi tuntunan namun sebaliknya biasanya masyarakat menjadikannya sebagai tontonan alias cibiran. Na’uzubillah min zaalika.

Takbiratul Ihram Dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan..

Kajian.

Lihat video : http://carasholat.com/tata-cara-takbiratul-ihram-dalam-shalat-video/

1. Takbiratul Ihram merupakan rukun shalat. Harus dilakukan baik menjadi imam, makmum, maupun shalat sendirian.

Nabi bersabda: “Kunci shalat adalah bersuci, memulainya dengan takbir, dan mengakhirinya dengan salam.” (HR. Abu Daud dan disahihkan Al Albani)

2. Yang dimaksud takbiratul ihram adalah ucapan: Allaahu akbar…, bukan mengangkat tangan ketika takbir.

3. Mengangkat tangan hanyalah gerakan yang disunnahkan untuk dilakukan ketika mengucapkan takbiratul ihram.

4. Keadaan tangan ketika takbir:

  • Telapak tangan dibentangkan secara sempurna dan tidak menggenggam.
  • Jari-jari telapak tangan tidak terlalu lebar dan tidak terlalu rapat.
  • Telapak tangan dihadapkan ke kiblat dan diangkat setinggi pundak atau telinga

5. Cara mengangkat tangan ketika takbir ada 3:

  • Mengangkat tangan lalu bersedekap sebelum takbir (HR. Bukhari dan Nasa’i)
  • Mengangkat tangan lalu sedekap bersamaan dengan takbir (HR. Bukhari)
  • Mengangkat tangan lalu bersedekap sesudah takbir (HR. Bukhari dan Abu Daud)

6. Takbiratul ihram harus dilakukan dalam keadaan posisi tubuh tegak sempurna dan tidak boleh sambil condong mau rukuk. Karena syarat sah-nya takbiratul ihram adalah dilakukan sambil berdiri bagi yang mampu.

7. Takbiratul ihram hanya dilakukan sekali dan tidak perlu diulang-ulang.

8. Takbiratul ihram tidak disyaratkan harus dibarengkan dengan niat shalat. Menggabungkan dua hal ini adalah mustahil. Karena anggapan inilah, banyak orang yang ditimpa penyakit was-was ketika takbir, sehingga takbirnya dilakukan berulang-ulang.

9. Orang yang shalat sendirian atau makmum, takbirnya dibaca pelan. Hanya terdengar dirinya sendiri.

10. Jika ada kebutuhan, misalnya suara imam terlalu pelan, sehingga dikhawatirkan tidak terdengar makmum yang di belakang maka dibolehkan bagi sebagian makmum untuk mengulang suara imam dengan keras. Namun, jika tidak ada kebutuhan maka tidak boleh. Misalnya suara imam sudah ada pengeras suara (mikrofon). Hal ini berlaku untuk semua shalat.

11. Cara membaca takbir: Allaahu akbar. Yang dipanjangkan hanya lafal: Allaa..h. sedangkanAkbar dibaca pendek.

Kesalahan ketika Takbiratul Ihram

1. Telapak tangan tidak dibuka sempurna, tetapi agak menggenggam.

2. Telapak tangan tidak dihadapkan ke kiblat.

3. Mengangkat tangan tidak setinggi bahu atau telinga.

4. Was-was ketika takbir, sehingga dilakukan secara berulang-ulang.

5. Takbir sambil tergesa-gesa untuk melakukan rukuk. Hal ini biasa dilakukan untuk makmum masbuq yang menjumpai imam sedang rukuk. Agar mendapatkan satu rakaat bersama imam. Namun kesalahan ini menyebabkan batalnya takbir yang dia lakukan. Karena syarat sahnya takbir adalah dilakukan sambil berdiri. Dan jika takbiratul ihram batal maka shalatnya juga batal. Mula Ali Qari mengatakan, “Adapun orang yang bertakbir sambil menunduk sebagimana yang dilakukan orang-orang awam karena terburu-buru maka shalatnya tidak sah. Karena berdiri adalah syarat sahnya takbiratul ihram bagi yang mampu.”

6. Kesalahan dalam membaca takbir:

  • Aaallaa..hu (AaaL..dibaca panjang). Lafal ini artinya: Apakah Allah Maha-Besar?
  • Aaa..k-bar (Aaa..k..dibaca panjang). Lafal ini artinya: Apakah Allah Maha-Besar?
  • Akbaa…r (baa..r..dibaca panjang). Akbaa..r artinya beduk. Sehingga kalimat Allaahu Akbaa..r artinya Allah adalah beduk. Maha Suci Allah…

Kesalahan-kesalahan dalam membaca lafal takbir menyebabkan kesalahan arti. Semua arti yang salah di atas merupakan kalimat kekufuran. Orang mengatakan: “Apakah Allah Maha Besar??” Berarti telah meragukan sifat Maha Besar Allah.

7. Makmum bertakbir dengan suara keras sehingga mengganggu orang lain ketika shalat jamaah. Yang boleh bertakbir dengan keras hanyalah imam.

8. Ada sebagian makmum yang mengulang suaranya imam padahal suara imam sudah keras dan terdengar ke semua jamaah. Biasanya ini dilakukan ketika shalat id, karena meniru yang ada di masjidil haram. Padahal ini adalah satu hal yang tidak perlu dilakukan. Karena riwayat yang menyebutkan Abu Bakr mengeraskan suara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat jamaah terjadi ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit, sehingga suara beliau pelan.

9. Tidak menggerakkan lidah ketika membaca takbir, atau bertakbir namun di hati. Sebagian ulama menganggap orang yang bertakbir di batin (hati) dan tidak diucapkan bisa membatalkan shalat. Diantara yang berpendapat demikian adalah Imam Syafi’i. Karena shalat adalah ibadah zikir dan gerakan. Bertakbir merupakan bagian dari zikir ketika shalat. Bertakbir baru bisa dianggap sah jika diucapkan.

Hati Yang Sejuk…

Ustadz Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Saudaraku yang baik hatinya, Semoga hati kita sekalian selalu disinari kesejukan, keselamatan dan kebahagiaan.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ ابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ وَنُوْرَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ

“Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku”. Maka akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan.”

Tiba-tiba ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do’a ini (kepada orang lain)”? Maka Rasulullah menjawab: “Ya, selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain)”.
(HR. Ahmad no.3712 dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani)

Kunci Kebahagiaan…

Ust. Badru Salam, حفظه الله تعالى

Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya…
Alam nasyroh laka shodrok…
Bukankah kami telah melapangkan dadamu…

Saudaraku…
Hati yang lapang adalah nikmat Allah yang besar…
Ia adalah Hati yang dipenuhi oleh iman dan islam…
Kelapangan hanya dirasakan oleh yang mentauhidkan Allah…
Yang hanya bertawakkal kepadaNya…
Dan yakin akan adanya hari pembalasan…
Di saat musiibah datang menerpa…
Iya, Ridho dengan keputusan-Nya…
Ia pun tenang dan lapamg dada…
Di saat badai ujian menghantamnya…
Ia berharap akan pahalaNya…
Ia pun sabar dan lapang dada…

Terima Kasih Ibu…

Ust. Badru Salam, حفظه الله تعالى

terima kasih ibu..
engkau telah mendidikku semasa kecil..
masih teringat dalam memoriku..
engkau ajari aku membaca al qur’an..
membimbingku tentang adab dan tatakrama..
di saat aku sekolah dasar..
engkau ajari aku sholat tahajjud..
dan bimbing aku untuk menghafal al quran..
terasa sejuk ketika aku tidur di dekatmu di akhir malam..
dengan lantunan al quranmu..
terima kasih ibu..
kau didik aku dengan kelembutan dan kasih sayang..
senyummu memberi arti yang dalam..
marahmu untuk kebaikan diriku..
ucapanmu penuh makna dan motivasi..
bahkan aku malu padamu ibu..
kau tak pernah lelah untuk berdzikir..
tak pernah meninggalkan puasa senin dan kamis..
malam malammu tak pernah kosong dari sholat..
bahkan di saat sakit..
selalu engkau memohon ampunan akan dosa dosamu..
selamat jalan ibu..
semoga Allah mengampuni dosa dosamu..
mengangkat derajatmu dalam illiyyin..
meluaskan kuburmu dan memberimu cahaya padanya..
dan memasukkanmu ke dalam surga firdaus yang paling tinggi..

Dzikir Keras Hingga Larut Malam…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Di beberapa tempat; ada orang orang yang membaca al qur’an atau berdzikir hingga lewat tengah malam; kira kira mereka itu ingin memperdengarkan bacaan Al Qur’an atau Dzikirnya kepada siapa ya?

Kepada masyarakat? Kan kemungkinan besar sudah pada istirahat.

Kepada Allah Ta’ala? Kan tanpa pengeraspun Allah Ta’ala pasti mendengarnya.

Dijaga Jin Sejagat ?…

Ustadz Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

Apa mungkin jin sejagat menjaga muktamar? Atau ini hanya dusta? Ini pengakuan pihak penjaga muktamar.

Dia juga mengaku jauh-jauh hari sebelum Muktamar, personilnya telah telah di-ijazahi sebelum melaksanakan tugas pengamanan. Pihaknya juga melakukan sejumlah ritual, di antaranya menanam ramuan campuran minyak Funni Basalwa dan Kasturi di punjer (pusar) alun-alun.

Dia mengatakan, tujuannya adalah penyelarasan daya, atau menetralisir kemungkinan adanya gangguan energi gaib negatif..

Dari Nur Kediri

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Apa yang perlu dibanggakan dari penjagaan jin. Sementara mereka tidak lebih mulia dibandingkan manusia. Sama-sama makhluk yang mendapat beban syariat. Karena itulah, Allah justru melarang manusia untuk meminta perlindungan kepada jin. Karena bagian dari tradisi orang musyrikin jahiliyah. Yang membuat jin semakin sombong, dan membuat manusia semakin hina di hadapan jin.

Allah berfirman menceritakan dialog jin kepada sesama mereka,

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Ada beberapa orang dari kalangan manusia meminta perlindungan kepada beberapa lelaki dari kalangan jin, sehingga membuat mereka semakin hina.” (QS. al-Jin: 6)

Al-Hafidz Ibnu Katsir menjelaskan,

أي: كنا نرى أن لنا فضلا على الإنس؛ لأنهم كانوا يعوذون بنا، إي: إذا نزلوا واديا أو مكانا موحشا من البراري وغيرها – كما  كان عادة العرب في جاهليتها – يعوذون بعظيم ذلك المكان من الجان، أن يصيبهم بشيء يسوؤهم

Maksud ayat, kami (para jin) dulu menganggap bahwa kami lebih mulia dari pada manusia. Karena mereka meminta perlindungan kepada kami. Ketika mereka singgah di sebuah lembah atau tempat yang angker – sebagaimana tradisi arab di masa jahiliyah – mereka meminta perlindungan kepada jin yang diyakini menjadi penguasa tempat itu, agar tidak mengganggu perjalanan mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/239).

Kita sepakat tujuannya bagus, menjaga keamanan kaum muslimin yang sedang muktamar. Namun dengan adanya ritual menanam ramuan di punjer alun-alun, untuk menghindari gangguan energi ghaib negatif (baca: gangguan jin), menjadi masalah besar, Karena ini kesyirikan. Tidak ada bedanya dengan ritual orang musyrikin jahiliyah sepeti yangg disampaikan Ibnu Katsir di atas.

Bagian inilah yang lebih penting untuk diperhatikan. Karena ritual orang ini, kesyirikan.

Mintalah Perlindungan Kepada Allah

Allah mengajarkan kepada kita, ketika kita khawatir dengan gangguan jin dan setan kita berdoa kepada-Nya. Bukan malah memberi sesajian ke jin. Allah ajarkan ini di dua ayat dengan kalimat yang sama,

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ

Apabila setan membisikkan was-was kepadamu, mintalah perlindungan kepada Allah. (QS. al-A’raf: 200 dan Fushilat: 36).

Ada banyak peristiwa genting yang dialami Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam an para sahabat. Terutama ketika mereka sedang berperang. Tidak ada satupun sahabat yang melakukan ritual dalam rangka mencari bala bantuan jin.

Anda bisa lihat, yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang perang Badar. Setelah beliau mengetahui jumlah pasukannya hanya 1/3 dari pasukan musuh. Beliau tidak meminta bantuan para jin di lembah itu. Beliau juga tidak memanggil-manggil jibril. Namun yang beliau lakukan adalah berdoa kepada Allah.

Umar bin Khatab menceritakan,

Ketika perang badar, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat orang musyrikin yang jumlahnya 1000 pasukan. Sementara sahabatnya ada 319 orang. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kiblat, menengadahkan tangannya, dan bermunajat kepada Allah,

اللهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي ، اللهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي ، اللهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ ، لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ

Ya Allah, buktikanlah janjimu kepadaku, ya Allah wujudkanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau hancurkan kaum muslimin yang sedikit ini, maka Engkau tidak akan di sembah di muka bumi. (HR. Muslim 1763)

Apakah Pengakuannya Benar?

Untuk menilai kebenaran pengakuannya, tidak ada bukti yang pasti. Apalagi dia mengklaim, jin sejagat.

Karena pada asalnya, jin tidak bisa dilihat oleh manusia. Jin dalam bahasa arab: الجن  dari kata: janna – yajunnu [arab: جَنَّ – يَجُنُّ], yang artinya menutupi.

Ibnul Faris dalam kamusnya mengatakan,

فالجن سموا بذلك لأنهم مستترون عن الإنس

Jin dinamakan jin, karena mereka tidak terlihat oleh manusia. (Maqayis al-Lughah, madah; janna)

Keterangan bahwa manusia tidak bisa melihat jin, Allah tegaskan dalam al-Quran,

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ …

“Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga; ia menanggalkan pakaiannya dari keduanya untuk memperlihatkan–kepada keduanya–‘auratnya. Sesungguhnya, iblis dan golongannya bisa melihat kamu dari suatu tempat yang (di sana) kamu tidak bisa melihat mereka.” (Qs. Al-A’raf:27)

Jika benar dia melihat jin, tidak mungkin dia bisa melihat jin sebanyak itu. Jin sejagat. Sehingga sebenarnya klaim semacam ini sama sekali tidak selayaknya dibesar-besarkan. Apalagi dijadikan kebanggaan.

Allahu a’lam.

Ref : http://www.konsultasisyariah.com/muktamar-dijaga-jin-sejagat/

Menebar Cahaya Sunnah