LAPORAN ZIS PLUS – 1 SYAWWAAL 1436 H ( 17 JULI 2015 )

بسـم الله الرحمن الرحيـم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Berikut ini adalah laporan ringkas dana ZIS Plus yang terkumpul dan tersalurkan hingga 1 SYAWWAAL 1436 H ( 17 JULI 2015 ) :

Zakat :
Masuk : 42.821.994
Keluar : 42.766.000
Saldo :              55.994

Riba :
Masuk : 121.637.669
Keluar : 119.265.000
Saldo :          2.372.669

Infaq :
Masuk : 11.471.626
Keluar :    7.093.000
Saldo :       4.378.626

Rincian pemasukan dan pengeluaran sampai dengan 1 syawwaal 1436 H (17 Juli 2015), dapat dilihat di : https://bbg-alilmu.com/archives/13832

Sedangkan rincian pemasukan dan pengeluaran sampai dengan 20 Romadhon 2015, dapat dilihat di : https://bbg-alilmu.com/archives/13690

Semoga Allahu Ta’ala memberikan ridho-Nya atas program ini dan menjadikannya wasiilah amal kebaikan bagi kita semua di akhirat kelak.

أميــــن يــارب العـالــمي

بارك الله فيكم

Laporan ZAKAT
Saldo Awal                3,555,994
Pemasukan
10/07/2015 10:41 Zakat Maal                2,000,000
14/07/2015 14:14 Zakat Maal              10,000,000
16/07/2015 06:41 Zakat Maal                1,000,000
Pengeluaran
Dusun di lereng Gunung Merapi via Ust. Wujud              (8,500,000)
Warga Miskin di Kab Bogor via Ust. Irfan Helmi              (8,000,000)
Saldo Akhir                    55,994
Laporan RIBA
Saldo Awal                6,556,959
Pemasukan
09/07/2015 08:18 Ribaa 25,000
09/07/2015 09:08 Ribaa 7,505,000
09/07/2015 10:17 Ribaa 195,000
13/07/2015 08:50 Ribaa 500,000
14/07/2015 15:04 Ribaa 250,000
14/07/2015 16:03 Ribaa 300,000
15/07/2015 21:22 Ribaa 1,053,710
Pengeluaran
biaya bank transfer                   (13,000)
biaya RS              (1,500,000)
inst air masjid ‘Menara Kudus’              (5,000,000)
inst air Ma’had Tahfizh Putra, Boyolali              (7,500,000)
 Saldo Akhir                2,372,669
Laporan INFAQ
Saldo Awal                3,768,626
Pemasukan
08/07/2015 20:54 Infaq 100,000
14/07/2015 06:20 Infaq 500,000
Pengeluaran
Biaya adm bank                   (10,000)
 Saldo Akhir                4,358,626

Hukum Menggabung Niat Puasa Syawwal Dengan Puasa Senin-Kamis Atau Ayyaamul Biidh

هل يحصل الفضل لمن صام ثلاث من الست من شوال مع البيض بنية واحدة ؟
الحمد لله
سألت شيخنا الشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز عن هذه المسألة فأجاب بأنه يُرجى له ذلك لأنّه يصدق أنه صام الستّ كما يصدق أنه صام البيض وفضل الله واسع .
وعن المسألة نفسها أجابني فضيلة الشيخ محمد بن صالح العثيمين بما يلي :
نعم ، إذا صام ست أيام من شوال سقطت عنه البيض ، سواء صامها عند البيض أو قبل أو بعد لأنه يصدق عليه أنه صام ثلاثة أيام من الشهر ، وقالت عائشة رضي الله عنها : ” كان النبي صلى الله عليه وسلم يصوم ثلاثة أيام من كل شهر لا يبالي أصامها من أول الشهر أو وسطه أو آخره ” ، و هي من جنس سقوط تحية المسجد بالراتبة فلو دخل المسجد وصلى السنة الراتبة سقطت عنه تحية المسجد … و الله أعلم .

PERTANYAAN:
“Apakah mendapatkan keutamaan bagi orang yang menggabungkan niat puasa 6 syawal dengan puasa ayyamul biidh..?”

JAWAB:
Aku pernah menanyakan kepada syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullah. beliau menjawab:

“diharapkan dia mendapatkan itu. karena ia dianggap berpuasa 6 syawal sebagaimana dianggap puasa ayyamul biidh, dan karunia Allah itu luas..”

Tentang masalah ini juga, Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin rohimahullah menjawab:

“ya, bila ia berpuasa 6 syawal maka gugur darinya puasa ayyamul biidh, baik ia berpuasa 6 syawal sebelum ayyamil biidh atau bertepatan dengannya atau setelahnya. karena ia telah dianggap berpuasa tiga hari.

Aisyah rodiyallahu ‘anha berkata: Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa tiga hari setiap bulan, baik di awal bulan atau pertengahan atau di akhir bulan.

Ini sama jenisnya dengan sholat tahiyat masjid yang gugur oleh sholat lainnya. Bila ada seseorang masuk masjid lalu ia langsung sholat sunnah rowatib, maka gugur darinya sholat tahiyat masjid..”

wallahu a’lam.

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Serba Serbi Masalah Seputar Syawwal

Amalan Yang Sholeh…

Prof DR Abdurrozak Al-Badr, حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ala Rosulillah, wa ba’du :

Sesungguhnya amalan saleh merupakan perniagaan yang menguntungkan serta bekal yang membawa keberuntungan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَٰرَةً لَّن تَبُورَ ﴿٢٩﴾
لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِۦٓ ۚ إِنَّهُۥ غَفُورٌ شَكُورٌ ﴿٣٠﴾

” Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,” “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Q.S.35 Fa’thir : 29-30)

Amal saleh senantiasa mendatangkan kebahagiaan dan menjauhkan dari kesengsaraan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

” Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S.16 An-Nahl :97)

Amal saleh merupakan harapan yang pasti dah simpanan yang istimewa, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

مَن كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُۥ ۖ وَمَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا فَلِأَنفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ ﴿٤٤﴾ لِيَجْزِىَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِن فَضْلِهِۦٓ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْكَٰفِرِينَ ﴿٤٥﴾

“Barangsiapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan

barangsiapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan). ” Agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar.” (Q.S.30 Ar-Ruum :44-45)

Amal saleh merupakan sarana untuk menggapai surga dan ridho Ar-Rahman, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ ٱلْبَرِيَّةِ ﴿٧﴾
جَزَآؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبَّهُۥ ﴿٨﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” ” Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (Q.S.98 Al-Bayyinah:7-8)

Sesungguhnya amal saleh dan hati merupakan barometer yang akan dipandang oleh Allah Ta’ala dan dari sana seseorang akan mendapatkan balasan yang setimpal, sebagaimana diriwayatkan dari hadist Abu Hurairah radhiyallahu anhu bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

((إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ))

” Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat kepada rupa-rupa kalian dan harta kalian, akan tetapi Allah Ta’ala melihat kepada hati – hati dan amal – amal kalian “. (HR. Muslim )

Amal saleh merupakan pendamping yang setia dan senantiasa menyertai setiap orang, sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

((يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ ؛ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ))

” Sesungguhnya akan mengikuti setiap orang yang telah wafat tiga perkara, dan dua diantaranya akan kembali, dan tersisa satu perkara, keluarganya, hartanya, dan amalnya, dan keluarga serta hartanya akan kembali dan amalnya akan senantiasa mendampinginya “. (HR. Al-Bukhary dan Muslim )

Dikatakan kepada ahli hikmah, siapakah pendamping yang setia? Maka dijawab, ” Amal saleh “.

Hendaknya setiap dari kita merenungkan tentang pendamping nya kelak tatkala ia terbaring di alam kubur, sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Baro’ ibnu A’zib radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam hadist yang panjang tentang kematian, tatkala seorang mukmin di cabut nyawanya dan dimasukkan ke dalam kubur,

(( وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ : أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ ؛ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ ، فَيَقُولُ لَهُ مَنْ أَنْتَ ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ ؛ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ))

” Dan datang seseorang yang berwujud rupawan dan berpakaian indah dan beraroma wangi semerbak, dan ia berkata, ” Berbahagialah dengan kesenangan ini, di hari yang telah di janjikan ini, maka orang yang meninggal tersebut bertanya, siapakah gerangan dirimu, ….wajahmu berseri-seri penuh dengan kebaikan. ..? Maka ia menjawab, “ Aku adalah amal saleh mu “. ( HR. Ahmad )

Alangkah bahagianya orang tersebut, dipertemukan dengan amal ibadah saleh nya, sungguh beruntung dan mengharukan, di hari merugi orang yang malas dan menyesal orang yang tidak beramal.

Ini semua, dikatakan suatu amalan menjadi saleh jika terpenuhi dua syarat yaitu ikhlas dan mengikuti sunnah, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

ٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.” (Q.S.18: Al-Kahfi : 110)

Allah Ta’ala berfirman,

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

” Untuk menguji, mana diantara kalian yang paling baik amalnya “. ( Q.S. Al-Mulk 2)

قال الفضيل ابن عياض رحمه الله تعالى : «أخلصه وأصوبه» ، قيل يا أبا علي وما أخلصه وأصوبه ؟ قال : «إن العمل إذا كان خالصًا ولم يكن صوابًا لم يُقبل ، وإذا كان صوابًا ولم يكن خالصا لم يُقبل ؛ حتى يكون خالصًا صوابا ، والخالص : ما كان لله ، والصواب : ما كان على السنة» .

Berkata Al-Fudhail ibnu Iyadh rahimahullah, tentang ayat ini, yaitu yang ikhlas dan mengikuti sunnah, dikarenakan sesuatu amalan jika ia ikhlas akan tetapi tidak benar sesuai sunnah maka ia tertolak. Dan jika benar sesuai dengan sunnah akan tetapi tidak ikhlas maka tidak diterima. Sehingga suatu amalan tersebut ikhlas dan sesuai dengan sunnah, ikhlas jika ia hanya berniat karena Allah Ta’ala semata, dan benar sesuai dengan sunnah jika ia mencontoh perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam “.

اللهم اجعل أعمالنا كلها لك خالصة ، ولسنة نبيك صلى الله عليه وسلم موافقة ، ولا تجعل لأحدٍ فيها شيئا .

Semoga Allah Ta’ala menjadikan amalan amalan kita ikhlas semata-mata karena Allah Ta’ala, dan sesuai dengan perbuatan yang di contohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan semoga tidak dijadikan untuk suatu makhluk sedikit pun.

Sabar Yang Hakiki

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Sabar yang hakiki adalah tatkala pertama kali terkena musibah.

Adapun bersabar setelah esok hari…minggu depan…bulan depan…, maka hewanpun bisa melakukannya. Lihatlah seekor induk ayam tatkala anaknya dimangsa kucing, maka iapun akan gelisah kebingungan dan berteriak-teriak. Akan tetapi keesokan harinya kondisi induk ayam tersebut sudah normal kembali seperti tidak terjadi apa-apa.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallah bersabda :

إِنَّماّ الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى

“Hanyalah kesabaran tatkala di awal benturan”

Latihlah diri kita tatkala tertimpa musibah apa saja untuk langsung berkata ;

“Alhamdulillah ‘alaa kulli haal”

(Segala puji bagi Allah pada seluruh keadaan).

Kita mengucapkannya dengan penuh keyakinan bahwa Allah memiliki hikmah yang tinggi dibalik musibah yang menimpa kita.

Tapi…memang teori memang mudah…yang sulit adalah mempraktekannya…kecuali bagi orang yang beriman kepada Allah dengan penuh keyakinan.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Seharusnya Ulama’ Beri Solusinya, Dong!…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Demikian celotehan sebagian orang di saat mendengar fatwa ulama bahwa “bunga bank” riba, ” BPJS tidak sesuai syariat Islam” dan fatwa fatwa serupa lainnya.

Sekilas celotehan ini nampak manusiawi dan logis, kalau ini dan itu haram maka masyarakat pasti bingung dan ingin mengetahui apa solusi atau alternatifnya?

Namun kalau dipikir ulang, menuntut agar ulama selalu memberi solusi setiap kali memfatwakan “haram” sesuatu sama halnya “MENUHANKAN” alias menganggap para ulama’ seakan tuhan. Orang orang yang berceloteh demikian ini, seakan beranggapan bahwa ulama’ berwenang, mengetahui dan memiliki segala sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Seakan mereka belum mengetahui bahwa urusan dunia ini melibatkan banyak pihak, dari rakyat jelata, penguasa,, ilmuwan, pengusaha, konsumen, produsen, politikus dan lainnya.

Sehingga idealnya fatwa ulama’ haruslah didukung oleh seluruh elemen masyarakat, bukan malah semuanya dibebankan kepada ulama’, dan semua elemen masyarakat menghujat para ulama’ yang berfatwa, seakan fatwa ulama’ adalah biang masalah dan carut marutnya urusan masyarakat.

Hasbunallahu wa ni’mal wakiil.

Menebar Cahaya Sunnah