Amalan Yang LUAR BIASA Tapi Banyak Yang Melalaikannya

Itulah amalan membantu seorang JANDA, Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah bersabda:

“Orang yang membantu kebutuhan seorang JANDA dan seorang miskin; itu seperti orang yang berjihad perang di jalan Allah, atau seperti orang yang malamnya sholat siangnya puasa..”

[Muttafaqun Alaih, Bukhori: 5353, Muslim: 2982].

Subhanallah… pahala jihad atau pahala orang yang malamnya sholat siangnya puasa, ternyata bisa kita raih dengan membantu SATU orang janda..! Sungguh betapa maha pemurahnya Allah ta’ala.

Tidakkah Anda ingin mendapatkan keutamaan ini… Mari peduli dengan para janda yang ada di sekitar kita.. bantulah kebutuhannya dalam mengarungi sisa hidupnya, apalagi bila memiliki banyak anak yang menjadi tanggung jawabnya.

Bantulah dia karena Allah… sungguh kebutuhan kita terhadap pahala amalan ini, jauh lebih besar daripada kebutuhan dia terhadap bantuan kita.

Karena pahalanya disamping sangat besar, juga akan KEKAL menjadi milik kita.

Sedang bantuan kita, seringkali tidak seberapa dibanding kebutuhannya, itupun hanya akan dinikmatinya untuk sementara, wallohu a’lam.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

=====
mau ikutan..?

Terbuka program Santunan Bulanan dalam bentuk sembako bagi sekitar 150 janda dan dhu’afa, info lengkapnya, silahkan baca artikel berikut :

https://bbg-alilmu.com/archives/59605

Begini Mereka Sholat..!

Sobat, banyak dari kaum muslim yang merasa bahwa urusan sholat dan tatacaranya adalah masalah yang sudah mereka kuasai.

Mereka menduga bahwa tidak perlu lagi masalah sholat diajarkan karena sudah basi dan tidak ada yang baru. Menurut mereka; masalah yang lebih mendesak untuk disampaikan adalah masalah seputar problematika pemerintah yang jauh dari syafiat Islam atau bahkan memusuhinya.

Sobat, berikut ada satu hadits yang menurut hemat saya dapat menjadi bukti kebenaran atau kesalahan persepsi di atas.

عن البراء بن عازب (كانوا يصلون مع رسول الله صلى الله عليه وسلم , فإذا ركع ركعوا , و إذا قال ; سمع الله لمن حمده ; لم يزالوا قياما حتى يروه قد وضع وجهه ( و في لفظ : جبهته ) في الأرض , ثم يتبعونه )

Sahabat Al Bara’ bin Aazib menceritakan bahwa dahulu para sahabat mendirikan sholat berjamaah bersama Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Dan bila beliau ruku’ maka para sahabat pun turut serta ruku’ dan bila beliau mengucapkan : “sami’allahu liman hamidahu” maka para sahabat akan tetap berdiri tegak (tidak segera sujud) hingga beliau benar benar telah meletakkan dahinya di lantai, barulah mereka turun untuk sujud. (Muslim dan lainnya)

Imam An Nawawi As Syafii rohimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dasar bahwa setelah i’itidal, makmum disunnahkan untuk sedikit menunggu dan tidak tergesa gesa sujud sampai imam benar benar sujud dengan meletakkan dahinya di lantai .. kecuali bila mereka kawatir akan ketinggalan karena sujud imamnya pendek/cepat.

Sobat, siapakah dari kita yang telah mengetahui sunnah ini..? Dan siapakah dari kita yang sudah menerapkan sunnah ini..?

Masihkah ada anggapan bahwa masalah shalat sudah basi untuk dipelajari..? Dan masihkah ada dari kita yang merasa bahwa sudah waktunya bagi kita untuk memimpin dunia..?

Sholat kita saja masih jauh dari praktek sholat yang dicontohkan oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam; apalagi yang lainnya..?

Karena itu marilah kita belajar dan belajar .. belajar ilmu dan belajar amal. Mulailah pembelajaran kita sejalan dengan urutan rukjn islam dan rukun iman kita.

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

1347. Jual-Beli Dengan Konsep Tempo/Waktu

1347. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ana mau bertanya soal bermuamalah.

Ana jual barang dengan kontan lain harga dan jual barang yang sama dengan tempo waktu 2 minggu lain harga dan begitu pula jual dengan tempo waktu 1 bulan lain harga.

Pertanyaannya apakah boleh jual-beli ini ? (secara tempo bukan dengan kredit)

Jawab :
Ustadz Nuzul Dzikri, Lc, حفظه الله تعالى

BOLEH, tapi harus diingat bahwa tidak boleh ada PENALTI bila ada keterlambatan dalam pembayarannya.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1346. Ketika Shof Ke 2 Tidak Dimulai Dari Tengah

1346. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, kalau kita masbuk sholat berjama’ah dan dapat di shaf kedua atau dibelakangnya kita mendapatkan shaf itu baru terisi beberapa jama’ah dan letaknya agak menjauh ke kanan atau ke kiri dari belakang imam apakah kita ikut shaf melanjutkan di kanan jamaah paling kanan atau agak misah dan berdiri lurus dengan imam ?

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Wa alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh.

Jika mendapatkan barisan shof, agak ke kiri atau ke kanan, maka hendaknya mengisi dengan menyeimbangkan shof tersebut, tanpa memutuskan dengan memisahkan diri, akan tetapi tetap menyambung dengan mengisi di sebelah kiri/kanan yang mendekati posisi imam.

Memisahkan diri dan mulai shof dari tengah adalah kesalahan karena itu memutus shof.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Kelembutan Sebuah Hati

Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ala’ Rosulillah, wa ba’du :

Sesungguhnya lembut dan khusyuknya sebuah hati serta tunduknya dihadapan Al-Ka’liq Subhaanahu Wa Ta’ala merupakan karunia dan semata-mata anugrah dari Allah Ta’ala, yang membuahkan ampunan dan magfiroh sekaligus menjadikan perisai dan benteng dari berbuat tugyan dan kemaksiyatan.

Tidaklah seseorang yang lembut hatinya dan tunduk kepada Allah Ta’ala melainkan ia tergolong orang-orang yang bersegera dalam berbuat kebajikan, senantiasa meraih ketaatan dan keridhoan dan bersemangat untuk mengerjakan perbuatan taat dan perkara yang mendatangkan kecintaan Allah Ta’ala, ketika ia diingatkan, maka ia segera ingat dan kembali, tatkala ditunjukkan kebenaran, ia segera sadar dan mengikuti, hatinya selalu tenang mengingat Allah Ta’ala, lisannya senantiasa memuji dan mensyukuri, jauh dari perbuatan maksiat dan durhaka.

Hati yang lembut adalah hati yang tunduk kepada Allah Ta’ala, merasa takut dan khawatir atas keagungan dan keperkasaan Dzat Yang Maha Kuasa, para penyeru setan tidaklah berhenti dari menyerukan jalanya kecuali dikarenakan rasa takut kepada Allah Ta’ala, demikian pula seorang penyeru kesesatan dan hawa nafsu berhenti dari jalan yang mereka tempuh kecuali karena takut kepada Allah Ta’ala.

Maka seseorang yang memiliki hati yang lembut mereka merupakan teman setia, kawan yang baik hati, akan tetapi perlu diingat, siapakah yang menjadikan seseorang memiliki hati yang lembut, memiliki hati yang bersih, siapakah yang menjadikan hatinya takut kepada Tuhan nya, siapakah yang melembutkan hatinya tatkala ia menyebut Robb nya, khusyuk terhadap ayat ayat Tuhan nya. ..? Tidak lain adalah Allah Ta’ala tiada Ilah melainkan hanya Dia Maha Suci dari segala sekutu dan tandingan.

Tatkala engkau menjumpai seseorang yang memiliki hati yang sangat keras dan kaku, akan tetapi Allah Ta’ala memberikan limpahan karunia dan hidayah Nya, sehingga dalam waktu sekejap,

Ia berubah menjadi hati yang lembut, sehingga menumbuhkan iman yang kokoh, dan Allah Ta’ala memilih diantara para hamba Nya, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, membolak balikkan hati dari yang sebelumnya memiliki hati yang keras dan keruh menjadi hati yang lembut dan bersih, dari hati yang kelam dan mati menjadi hati yang bersinar dan bercahaya, dari yang sebelumnya tidak mengenal makruf dan mengetahui mungkar, kecuali hanya mengikuti hawa nafsunya, tiba-tiba ia mengharapkan diri kepada Allah Ta’ala secara lahir dan batin.

Ikhwati fillah, sesungguhnya ini merupakan suatu nikmat yang tiada bandingnya di muka bumi ini, yang lebih besar dan agung dari nikmat kelembutan hati, ber – inabah kepada Allah Ta’ala, dikarenakan Allah Ta’ala telah memberikan kabar bahwasanya seseorang yang tidak memiliki sifat kelembutan hati, ia terancam oleh adzab dan siksa yaitu neraka .

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِۦ ۚ فَوَيْلٌ لِّلْقَٰسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

Artinya, ”  Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S.39: Azzumar : 22)

Yaitu, siksa dan neraka bagi mereka yang hatinya membatu, keras, tidak tersentuh iman, tidak memiliki rasa takut dan khawatir atas keperkasaan Allah Ta’ala, dan dahsyatnya adzab hari kiamat, dan sebaliknya, berbahagialah orang orang yang senantiasa jiwa dan hatinya lembut, tunduk dan patuh kepada syariah Allah Ta’ala, sehingga tidak menerjang batasan dan larangan yang telah digariskan.

Oleh karena itu, sepantasnya seorang mukmin yang benar-benar memiliki iman, ia berusaha maksimal untuk mendapatkan nikmat yang agung ini, berupaya untuk meraih kelembutan hati, sehingga dirinya menjadi kekasih dari kekasih-kekasih Allah Ta’ala, meraih ridho Allah Ta’ala, sehingga ia tidak kenal lelah, letih, sunyi, gembira, kecuali jika menggapai kecintaan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala, karena ia sadar dan yakin, bahwasanya jika ia terhalangi dari nikmat ini, maka ia terharamkan kebaikan yang tiada tara, sehingga betapa banyak orang-orang saleh masa dahulu, mereka membutuhkan waktu sejenak untuk berupaya melembutkan hatinya, karena hati merupakan sesuatu yang sangat mengherankan, di waktu tertentu ia lembut dan ringan melakukan kebajikan, sekiranya diminta untuk menginfakkan seluruh hartanya karena Allah Ta’ala , ia segera menunaikan, sekiranya ia berjuang dan berperang di jalan Allah Ta’ala, niscaya ia bersedia mengorbankan nyawanya karena Allah Ta’ala, waktu-waktu tertentu, hatinya tertanam untuk mengerjakan ketaatan, dan lain waktu, hatinya jauh dari Allah Ta’ala, keras, bahkan membatu, dan kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari segala keburukan.

Ditulis oleh,
Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Rahasia Di Balik Lamanya Ruku’ Dan Sujud Dalam Sholat

Mungkin orang Indonesia yang pernah pergi ke dua tanah suci heran dengan lamanya ruku’ dan sujud saat sholat di sana.

Melamakan ruku’ dan sujud itu bukan tanpa alasan, tapi berdasarkan sandaran dari tuntunan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, simaklah hadits berikut ini:

Suatu hari Abdullah bin Umar -rodhiallohu ‘anhumaa- melihat seorang pemuda sedang sholat, dia memanjangkan sholatnya dan melamakannya, maka beliau bertanya: “siapa yang kenal orang itu..?” Maka ada yang menjawab: ” saya..”

Beliaupun mengatakan: “seandainya aku mengenalnya, tentu aku akan menyuruhnya untuk MEMANJANGKAN ruku’ dan sujudnya, karena aku pernah mendengar Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

Sungguh, jika seorang hamba berdiri untuk sholat, semua dosanya didatangkan, dan diletakkan di atas pundaknya. Maka setiap kali dia ruku’ dan sujud, dosa-dosa tersebut menjadi berjatuhan..”

[Lihat Silsilah shohihah: 1398, sanadnya shohih].

Ternyata semakin lama kita ruku’ dan sujud, semakin banyak dosa kita yang dilepaskan dari kita, tidak inginkah dosa Anda banyak diampuni..?!

Maka lamakanlah ruku’ dan sujud Anda.

Silahkan disebarkan, semoga bermanfaat.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah