Beriman Kepada TAKDIR Itu Ada 4 Derajat…

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى   berikut ini yang diambil dari kitab “Al-Irsyad ila Shahih Al-Itiqad” karya Asy Syaikh Al Allamah Dr Shalih Al Fauzan, حفظه الله تعالى

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Jika Anda Sepertiku, Maka Berubahlah Sebelum Terlambat

Aku mulai lupa dengan bacaan dzikir pagi dan sore, karena telah lama aku tidak membacanya.

Shalat sunnah “rowatib” (yang dilakukan sebelum dan sesudah sholat wajib) telah kuabaikan, tidak tersisa kecuali sholat sunnah fajar, itu pun tidak setiap hari.

Tidak ada lagi bacaan Alquran secara rutin, tidak ada lagi malam yang dihidupkan dengan sholat, dan tidak ada lagi siang yang dihiasi dengan puasa.

Sedekah, seringkali dihentikan oleh kebakhilan, keraguan, dan kecurigaan.. berdalih denga sikap hati-hati, harus ada cadangan uang, dan puluhan bisikan setan lainnya.

Jika pun sedekah itu keluar dari saku, nominalnya sedikit dan setelah ditunda-tunda.

Satu dua hari, atau bahkan sepekan berlalu, tanpa ada kegiatan membaca kitab yang sungguh-sungguh.

Seringkali sebuah majlis berakhir dan orang-orangnya bubar, mereka telah makan sepenuh perut dan tertawa sepenuh mulut, bahkan mungkin mereka telah makan daging bangkai si A dan si B, serta saling tukar info tentang harga barang dan mobil.. Tapi, mereka tidak saling mengingatkan tentang satu ayat, atau hadits, atau faedah ilmu, atau bahkan do’a kaffarotul majlis.

Inilah fenomena zuhud dalam sunnah, berluas-luasan dalam perkara mubah, dan menyepelekan hal yang diharamkan.

Sholat dhuha dan witir sekali dalam sepekan.

Berangkat awal waktu ke jum’atan dan sholat jama’ah; jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah.

Berlebihan dalam makanan, pakaian, dan kendaraan.. tanpa rasa syukur.

Musik selingan dalam tayangan berita dan tayangan dokumenter menjadi hal yang biasa.

Orang seperti ini apa mungkin memberikan pengaruh di masyarakatnya, sedang pada diri dan keluarganya saja tidak.

Orang seperti ini, apa pantas disebut pembawa perubahan, ataukah yang terbawa arus lingkungan..?

Pantasnya, dia disebut penelur prestasi atau penikmat produksi..?

Maka, hendaknya kita koreksi diri masing-masing.. semoga Allah mengampuni keteledoran kita selama ini.

Sebagian ulama mengatakan:

“Tidaklah kepercayaan masyarakat terhadap sebagian penuntut ilmu menjadi goncang, melainkan saat melihat mereka di shoff terakhir melengkapi rokaat sholatnya yang tertinggal..”

Semoga Allah merahmati orang yang mengingatkan kita dengan pesan ini.

[Terjemahan dari status berbahasa arab dengan sedikit penyesuaian].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban…

Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يطلع الله تبارك وتعالى إلى خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Allah Tabaraka wa ta’ala akan melihat kepada makhlukNya pada malam nishfu sya’ban, lalu mengampuni semua makhlukNya (yang beriman) kecuali musyrik dan orang yang sedang bertengkar.”
(Hadits shahih diriwayatkan oleh banyak shahabat yaitu Mu’adz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al Khusyani, Abdullah bin Amru, Abu Musa Al Asy’ari, Abu Hurairah, Abu Bakar Ash Shidiq, Auf bin Malik dan Aisyah dan riwayat-riwayat ini saling menguatkan. Lihat silsilah shahihah no 1144).

Hadits ini menunjukkan keutamaan malam nishfu Sya’ban..
Namun tidak ada ritual ibadah tertentu di malam itu..

Adapun sholat nishfu sya’ban, haditsnya palsu..
Ibnul Jauzi berkata, “Hadits itu tidak diragukan lagi kepalsuannya..
Lihat kitab al maudlu’aat 2/127-129..

Imam Nawawi menyatakan bahwa sholat nishfu sya’ban adalah bid’ah..
Demikian dalam kitab fatawanya..

Lalu..
Ibadah apa yang bisa kita lakukan di malam itu..
Tentu ibadah apa saja yang disyari’atkan..
Seperti membaca al qur’an, shalat tahajjud dan sebagainya..

Moga kita termasuk yang mendapat ampunan di malam itu..
Amiin..

Gaduh Di Masjid…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Apa perasaan anda di saat anda sedang beribadah ; sholat atau berdzikir atau berdoa, sedangkan orang disekitar anda membuat kegaduhan?

Mungkinkah anda merasa nyaman menjalankan ibadah anda?

Bila anda merasa terusik dan terganggu dengan suara-suara keras yang terdengar di saat anda beribadah, maka sudah sepatutnya anda juga bersikap bijak; janganlah anda mengeraskan suara anda di saat orang lain sedang beribadah.

Sebagai aplikasi dari kepekaan sosial di atas ialah anda menjaga suasana masjid agar tetap tenang, dan kondusif bagi saudara saudara anda yang sedang menjalankan ibadah termasuk sholat sunnah. Mereka mendirikan sholat sunah yang disebut dengan sholat rawatib mengharapkan pahala dari Allah Azza wa Jalla.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

( من ثابر على ثنتي عشرة ركعة من السنة بنى له بيت في الجنة . أربع قبل الظهر وركعتين بعد الظهر وركعتين بعد المغرب وركعتين بعد العشاء وركعتين قبل الفجر )

“Barang siapa setiap hari dengan tabah mendirikan shalat sunnah sebanyak 12 rakaat, niscaya Allah membangunkan untuknya satu rumah di dalam surga; empat rakaat sebelum shalat zhuhur, dua rakat setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya’ dan dua rakaat sebelum sholat fajar (subuh).” (Riwayat Ibnu Majah dan lainnya).

Dan kalaupun mereka tidak sedang mendirikan shalat, maka banyak dari mereka yang sedang berdoa atau berdikir kepada Allah Azza wa Jalla. Ketahuilah bahwa jeda waktu antara azan dan iqamah adalah salah satu waktu yang spesial untuk berdoa alias waktu yang mustajabah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدعاء ﻻ يرد بين اﻷذان واﻹقامة

“Doa tidak akan ditolak bila dipanjatkan antara azan dan iqamah.” (Abu Dawud, At Tirmizy dan lainnya)

Dan bila anda berdalih bahwa kami sedang berdzikir dan berdoa seusai sholat maka ketahuilah bahwa anda berdzikir atau berdoa bukan alasan yang dapat dibenarkan untuk mengusik konsentrasi orang lain yang juga sedang berdzikir atau sholat.

Sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma mengisahkan:

أن النبي صلى الله عليه و سلم اعتكف وخطب الناس فقال أما إن أحدكم إذا قام في الصلاة فإنه يناجي ربه فليعلم أحدكم ما يناجي ربه ولا يجهر بعضكم على بعض بالقراءة في الصلاة

“Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang beri’itikaf, lalu beliau menyampaikan peringatan dengan bersabda: Sesungguhnya bila salah seorang dari kamu sedang mendirikan sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat dengan Tuhannya, karena itu hendaknya engkau seutuhnya memahami apa yang engkau ucapkan kepada Tuhan-nya. Dan jangalah sebagian dari kalian ketika sedang sholat mengeraskan bacaannya sehingga mengganggu sebagian yang lain.” (Ahmad dan lainnya)

Bila anda dilarang mengeraskan bacaan dalam sholat sehingga menggangu kekhidmatan orang lain yang juga sedang sholat, tentu dengan alasan yang sama, bacaan bacaan lain lebih pantas untuk dilarang.

Apalagi bila anda hanya sebatas membaca bait bait syair atau bacaan lainnya guna memanggil masyarakat agar datang ke masjid maka ketahuilah bahwa panggilan sholat yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah seruan Azan dan iqamah. Dengan demikian, masih adakah alasan bagi anda untuk menyia-nyiakan waktu spesial antara azan dan iqamah?

Dan masihkah anda sampai hati untuk mengangkat suara keras-keras sehingga sedikti atau banyak mengusik konsentrasi orang yang sedang sholat sunnah atau sedang memanjatkan doa atau dzikir kepada Allah?

Tertidur Tatkala Menyusui Bayi, Saat Terbangun Didapati Bayi Itu Telah Mati…

Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid, حفظه الله تعالى

Tanya :                                                                                                                        Seorang ibu menyusui bayi perempuannya, lalu tertidur. Saat terbangun, ia dapati bayi itu telah mati?

 

 Jawab :
Alhamdulillah, saya telah bertanya kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah tentang masalah tersebut, beliau menjawab sebagai berikut:
“…Jika tidak teringat olehnya bahwa ia telah menimpa bayi itu, maka tidak ada sanksi apapun atasnya. Wallahu a’lam…”

Hukum Berlangganan Majalah Yang Memuat Foto-Foto Makhluk Bernyawa…

Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid, حفظه الله تعالى

Tanya :                                                                                                                                   Apa hukumnya berlangganan majalah islami yang memuat gambar dan foto makhluk bernyawa?

 

Jawab :                                                                                                            Alhamdulillah, boleh-boleh saja berlangganan majalah islami yang memuat foto-foto makhluk bernyawa. Sebab ia berlangganan karena faidah yang terdapat di dalamnya bukan karena gambar dan foto-foto tersebut. Adapun majalah yang memang khusus diterbitkan untuk memuat gambar-gambar dan para pelanggan juga membelinya untuk itu tentu saja hukumnya haram, tidak boleh membelinya. Sebab malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat gambar (makhluk yang bernyawa).

Dinukil dari kitab Liqa’ Al-Baab Al-Maftuh karya Syaikh Ibnu Utsaimin 52/52.

Dan ia boleh menyimpan majalah tersebut jika memang banyak faidahnya dengan catatan setelah mencoret gambar-gambar yang terpampang di sampulnya. Wallahu A’lam.

Ref : http://islamqa.info/id/1699

Ada Apa Saudi Dengan Islam ?

Ustadz Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Sobat! Disaat terjadi kejadian yang merugikan Islam, betapa sering kita mendengar atau membaca atau bahkan mungkin kita salah satu dari mereka yang berkata: Kemana Saudi? Apa Peran Saudi? Mengapa Saudi Demikian? Mengapa Saudi Tidak Menyerang Israel? Dan masih banyak lagi ungkapan senada.

Sobat! Ijinkan saya bertaya: memangnya Islam itu agamanya siapa? Apakah Islam milik Saudi? Lalu anda sendiri apa agama yang anda yakini? Dan menurut anda apakah Islam adalah Saudi dan sebaliknya apakah Saudi adalah Islam?

Bila Islam adalah Saudi maka sial besar bagi selain warga negara Saudi Arabia, karena tidak akan pernah bisa menjadi ummat Islam.

Namun bila sebaliknya Saudi adalah Islam, maka kerugian besar pula bagi ummat seluruh ummat Islam di berbagai belahan bumi lainnya, karena ternyata pemahan dan praktek keislamannya berbeda dengan yang dipahami dan diamalkan oleh masyarakat Saudi Arabia.

Sobat! Saya yakin anda memahami bahwa Saudi Arabia hanyalah bagian dari Ummat Islam, yang kebetulan mendapat karunia dari Allah berupa menaungi dua kota suci Islam; Makkah dan Madinah.

Saya juga yakin bahwa anda telah memahami bahwa Islam anti dengan yang namanya fanatik golongan dan negara. Islam mengajarkan agar ummatnya bersatu karena iman bukan karena kesukuan atau kenegaraan. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah bersaudara. (Al Hujurat 10)

Karena hanya iman yang menyatukan ummat Islam maka wajar bila orang yang paling mulia adalah orang yang paling sempurna imannya. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya orang yang paling mulia dari kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa, sejatinya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti. (AL Hujurat 13)

Bila demikian, mengapa ada ucapan: kemana Saudi? Apa yang dilakukan oleh Saudi?

Walaupun pada kenyataannya Saudi dalam urusan sholat; zakat; puasa dan haji telah membuktikan kesungguhannya melebihi kebanyakan orang yang membencinya.

Bukankah akan lebih bijak bila kita berkata: kemanakah saya? Apakah yang telah saya lakukan untuk Islam? Atau bahkan : sudahkah saya mengenal Islam dengan sebenarnya? Ataukah selama ini saya hanya kenal kulit dan namanya semata. Adapun isi dan intinya masih jauh dari jangkauan kita.

Anda pasti menyadari bahwa sebagaimana diri anda dan juga diri saya selama ini berlumuran dan belepotan dengan kekurangan dan kesalahan, belum banyak yang kita lakukan untuk Islam. Maka demikian juga halnya dengan Saudi Arabia, mereka juga manusia biasa tak ubahnya kita semua. Namun coba bandingkan, apa yang telah anda lakukan dengan yang dilakukan oleh Saudi Arabia?

Bila anda berkata: mengapa Saudi tidak memerangi Israel? Maka coba lontarkan pertanyaan serupa kepada diri anda sendiri: mengapa anda atau bahkan negara anda juga tidak memerangi Israel?

Bila anda berkata: Saya tidak atau belum mampu maka tidakkah anda menyadari bahwa hal serupa juga terjadi dengan Saudi Arabia?

Sobat! Bila kita menyadari Islam adalah agama kita bersama, mengapa selama ini dalam diri kita hanya ada semangat untuk menjadi penonton dan bukan sebagai pelaku perjuangan dan penegak Islam?

Adakah yang salah dengan diri kita?

Muslimin Disibukkan Dengan Dagelan, Agar Pengikut Iblis Lancar Melenggang…

Ustadz Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Akhir akhir ini ummat islam disibukkan dengan berbagai kegaduhan, obok-obok parpol , ngaji kayak nyanyian setan, statemen aktor sewaan tetang Allah, dll .

Semua itu bila direnungkan dengan baik sejatinya hanyalah upaya memuluskan agar para pengikut setan bebas melenggang. Para pengikut setan dari kalangan komunis, generasi penerus penyembah api dari bangsa persia, & penyembah kayu bersilang dalam kondisi gaduh semacam ini bebas melenggang.

Saudaraku! Ingatlah pepatah nenek moyang: air beriak tanda tak dalam, sedang air diam menghanyutkan.

Setiap kali ummat islam gaduh, dengan sederhana para budak bayaran berkata: minta maaf, mengaku tidak paham dan akhirnya selesailah masalah. Namun yang jelas energi dan perhatian ummat islam telah terkuras untuk urusan urusan semacam ini & kita semua lalai dari penyembah setan yang terus melenggang.

Mereka benar benar telah berkonspirasi dengan musuh musuh islam dan tentunya Allah pasti mengetahui ini semua dan sudah menyiapkan balasannya.

Allah berfirman:

وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

“Dan sungguh mereka telah menyusun makar, dan Allah-pun pasti membalas makar mereka sedangkan mereka tidak menyadari hal ini.” ( An Namel 50)

Karena itu, marilah kiaa terus berjuang dengan tenang tidak usah hanyut dalam kegaduhan hasil rekayasa manusia manusia bayaran dan pesuruh budak budak setan. Fokus ajarkan islam yang sebenarnya kepada masyarakat dan terus dekatkan diri kita kepada Allah, niscaya kemenangan ada bersama orang orang yang beriman dan membela agama Allah bukan pada manusia manusia bayaran pemuja setan.

Pekikkan takbir : Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar.

Menebar Cahaya Sunnah