Alangkah Beruntungnya Ahlussunnah…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

 

Mereka banyak mendapatkan pahala, tanpa harus lelah dan bersusah payah.

Terutama di zaman ini…  seringkali sebagian kaum muslimin menjalankan amalan-amalan yang dianggap ibadah, tapi tidak ada tuntutannya dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Mereka mengorbankan banyak harta, tenaga, waktu, dll untuk melakukanya, tapi itu semua menjadi sia-sia, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-:

“Barangsiapa melakukan amalan (ibadah) yang tidak sesuai dengan tuntunan kami, maka ia ditolak”.

Sebaliknya Ahlussunnah… mereka akan mendapatkan banyak pahala dengan meninggalkan amalan-amalan itu, karena mereka meninggalkannya untuk menjauhi larangan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-:

“Jauhilah perkara-perkara baru (dalam agama)”.

Jadi, janganlah merasa RUGI ketika Anda tidak melakukan amalan mereka, karena justeru dengan begitu Anda mendapatkan pahala, sedang amal mereka menjadi sia-sia, bahkan bisa jadi mereka menuai dosa.

Ingatlah bahwa KETAATAN itu bisa dalam melakukan sesuatu, bisa juga dalam meninggalkan sesuatu… Allah telah mengaskan hal ini dalam firmanNya (yang artinya):

“Apapun yang diberikan Rosul kepada kalian, maka AMBILLAH. Sebaliknya apapun yang dia larang, maka BERHENTILAH darinya”. [QS. Alhasyr:7].

Apakah Allah Boleh Disifati Dengan Sifat Makar, Khianat dan Menipu…?

IslamQA

Tanya:

Apakah Allah boleh disifati dengan sifat makar, menipu, khianat, sebagaimana firman-Nya,
(وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ (سورة الأنفال: 30
“Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al-Anfal: 30)
(إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ (سورة النساء: 142
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.” (QS. An-Nisa: 142)

 

 Jawab:

Alhamdulillah

Sifat-sifat Allah Ta’ala seluruhnya merupakan sifat sempurna, menunjukkan makna yang paling indah dan sempurna. Allah Ta’ala berfirman,

(وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الأَعْلَى وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ  (سورة النحل: 60

“Dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nahl: 60)

(وَلَهُ الْمَثَلُ الأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (سورة الروم: 27

“Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ar-Rum: 27)

Makna dari (المثل الأعلى) adalah sifat sempurna.

As-Sa’dy berkata dalam tafsirnya (hal. 718, 1065), berkata,

“(المثل الأعلى) adalah sifat sempurna.”

Sifat-sifat itu ada 3 macam;

Pertama: Sifat sempurna, tidak ada kekurangan padanya dari berbagai sisi. Sifat-sifat ini boleh disematkan kepada Allah Ta’ala secara mutlak tanpa dikaitkan dengan sesuatu. Seperti sifat ilmu, kuasa, mendengar, melihat, kasih sayang, dll.

Kedua: Sifat yang menunjukkan kekurangan, tidak ada kesempurnaan padanya. Sifat seperti ini sama sekali tidak boleh disematkan pada Allah Ta’ala. Seperti tidur, lemah, zalim, khianat, dll.

Ketiga: Sifat yang mungkin mengandung kesempurnaan dan mungkin juga mengandung kekurangan, sesuai kondisi bagaimana hal tersebut disebutkan.

Sifat seperti ini tidak disematkan kepada Allah secara mutlak, tapi juga tidak dinafikan secara mutlak. Akan tetapi wajib diperinci. Pada kondisi yang menunjukkan kesempurnaan bagi Allah, maka Dia boleh disifati dengannya, namun pada kondisi yang menunjukkan kekurangan bagi Allah, maka Dia tidak boleh disifati dengannya. Misalnya sifat ‘makar’, ‘menipu’ atau ‘menghina’

‘Makar, ‘Menipu’ atau ‘Menghina’ jika diarahkan kepada musuh, maka dia merupakan sifat sempurna, karena semua itu menunjukkan kesempurnaan ilmu, kekuasaan dan kekuatan-Nya. Dan semacamnya.

Adapun ‘makar’ terhadap orang mukmin yang jujur, maka dia merupakan sifat kekurangan.

Karena itu tidak terdapat pensifatan Allah dengan sifat-sifat ini secara mutlak, akan ditetapi disebutkan dengan mengaitkan sesuatu yang menunjukkan kesempurnaan.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

(إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ  (سورة النساء: 142

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.” (QS. An-Nisa: 142)

Maksudnya adalah menipu orang-orang munafik.

Dia berfirman,

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ ((سورة الأنفال: 30)

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al-Anfal: 30)

Itu merupakan makar terhadap musuh-musuh Allah yang telah melakukan makar terhadap Raslullah shallallahu alaihi wa sallam.

Kemudian Dia berfirman tentang orang-orang munafik;

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ * اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ (سورة البقرة: 14-15)

“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok.” Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (QS. Al-Baqarah: 14-15)

Ini merupakan bentuk penghinaan terhadap orang-orang munafik.

Maka, sifat-sifat tersebut dianggap sempurna dalam susunan redaksi demikian. Karena itu dapat dikatakan bahwa Allah menghina orang-orang munafik, memperdayi mereka serta berbuat makar terhadap musuh-musuh-Nya… dan semacamnya. Akan tetapi, tidak boleh Allah disifati dengan sifat; makar, penipu secara mutlak, karena ketika itu sifat tersebut tidak dianggap sempurna.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, apakah Allah dapat disifati dengan sifat makar, atau diberi nama dengan sifat tersebut?

Beliau menjawab;

“Allah tidak disifati dengan sifat makar kecuali jika dikaitkan. Allah tidak boleh disifati dengan sifat itu secara mutlak. Allah Ta’ala berfirman,

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ  (سورة الأعراف: 99)

“Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99)

Dalam ayat ini menunjukkan bahwa Allah memiliki makar. Yang dimaksud makar adalah menimpakan sesuatu kepada lawan dengan cara yang tidak dia ketahui. Di antaranya adalah seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, “Perang itu adalah tipudaya.”

Jika ada yang mengatakan, “Bagaimana Alalh disifati dengan sifat makar padahal secara zahir sifat ini tercela.”

Maka dikatakan, “Makar yang dimaksud di sini adalah terpuji, yaitu kekuatan untuk melakukan tipu daya dan bahwa Dia pasti dapat mengalahkan musuhnya. Karena itu Allah tidak disifati dengan sifat tersebut secara mutlak. Maka tidak boleh anda mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala suka menipu.” Akan tetapi anda hanya boleh menyebutkan sifat ini dalam posisi memuji. Seperti dalam firman Allah Ta’ala,

وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ   (سورة الأنفال: 30)

“Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu.” (QS. Al-Anfal: 30)

وَمَكَرُوا مَكْراً وَمَكَرْنَا مَكْراً وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (سورة النمل: 50)

“Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml: 50)

Akan tetapi, sifat ini juga tidak boleh dinafikan dari Allah secara mutlak. Akan tetapi disebutkan sifat tersebut dalam posisi pujian. Akan tetapi pada posisi yang didalamnya tidak mengandung pujian, maka Dia tidak disifati dengan sifat tersebut. Demikian pula halnya, Allah tidak diberi nama dengan nama-nama seperti itu. Maka tidak boleh dikatakan, “Sesungguhnya di antara nama-nama Allah adalah Al-Makir (penipu). Maka makar, merupakan sifat perbuatan Allah, karena terkait dengan kehendak Allah Ta’ala.” (Fatawa Syekh Ibnu Utsaimin, 1/170)

Beliau juga ditanya, “Apakah Allah disifati dengan sifat khianat dan penipu seperti dalam firman Allah Ta’ala, “Mereka menipu Allah dan Dia yang menipu mereka.”

Beliau menjawab, “Adapun khianat, maka Allah tidak boleh sama sekali disifati dengan sifat seperti itu. Karena sifat ini sama sekali tercela. Karena itu artinya adalah makar saat diberi amanah. Itu tercela. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ يُرِيدُوا خِيَانَتَكَ فَقَدْ خَانُوا اللَّهَ مِنْ قَبْلُ فَأَمْكَنَ مِنْهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ  (سورة الأنفال: 71)

“Akan tetapi jika mereka (tawanan-tawanan itu) bermaksud hendak berkhianat kepadamu, Maka Sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini, lalu Allah menjadikan(mu) berkuasa terhadap mereka. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 71)

Dia tidak mengatakan, “Kemudian dia berbuat khianat kepada mereka.”

Adapun tipu daya, itu seperti makar. Allah disifati demikian dalam posisi terpuji, namun tidak disifati dengannya secara mutlak.

Firman Allah Ta’ala,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ   (سورة النساء: 142)

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.” (QS. An-Nisa: 142)

Fatawa Syekh Ibnu Utsaimin, 1/171

Wallahua’lam .

1328. Cara Wudhu Anggota Tubuh Yang Diperban

1328. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ada luka di tubuh saya dan ada perban diatasnya. Bagaimana cara wudhunya ? Apakah harus dilepas perbannya ?

Jawab :
Al ljnah ad daimah (komisi fatwa Arab Saudi) pernah ditanya sebagai berikut :

“Pada kaki saya tumbuh benjolan seperti bisul. Tindakan pengobatan yang saya lakukan adalah membalut bisul tersebut dengan pembalut agar tidak terkena air saat berwudhu’. Bagaimanakah status wudhu’ saya itu?

Alhamdulillah, wudhu’ Anda sah bila Anda mengusap pembalut itu dengan air atau mengalirkan air di atasnya.
(Fatawa Lajnah Daimah V/248).

Ref : http://islamqa.info/id/2173
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Seputar Sholat HAJAT…

Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, حفظه الله تعالى

Datanganya masalah ini atas pertanyaan seorang shahabat, tentang shalat hajat yang terdapat dalam kitab pedoman shalat (hal. 503) karangan Al-Ustadz Hasbi.

Sesuatu amal ibadah tidak boleh kita kerjakan sebelum mengetahui dua syarat utamanya.

Pertama : Dalilnya, baik Qur’an maupun Hadits

Kedua :Jika dalilnya itu dari hadits, maka jangan kita amalkan dulu sebelum kita mengetahui derajat hadits itu, sah (shahih dan hasan) datangnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau tidak (dla’if/lemah)

Jika kedapatan hadits itu shahih atau hasan, maka bolehlah kita amalkan. Akan tetapi jika ternyata hadits itu dla’if, baik dla’ifnya ringan maupun berat, maka tidak boleh kita amalkan.

Tentang shalat hajat itu telah saudara ketahui ada dalilnya dari hadits sebagaimana tersebut di kitab pedoman shalat. Hanya sekarang yang perlu kita ketahui dalilnya itu sah atau tidak? Di bawah ini akan saya bawakan haditsnya sekalian saya terangkan derajatnya.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ لَهُ إِلَى اللَّهِ حَاجَةٌ أَوْ إِلَى أَحَدٍ مِنْ بَنِي آدَمَ فَلْيَتَوَضَّأْ فَلْيُحْسِنْ الْوُضُوءَ ثُمَّ لِيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ لِيُثْنِ عَلَى اللَّهِ وَلْيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ لِيَقُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ ……. يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

“Artinya ; Dari Abdullah bin Abu Aufa, ia berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barangsiapa yang mempunyai hajat kepada Allah, atau kepada salah seorang dari bani Adam (manusia), maka hendaklah ia berwudlu serta membaguskan wudlu’nya kemudian shalat dua raka’at. Terus (setelah selesai shalat) hendaklah ia menyanjung Allah dan bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia mengucapkan (do’a) : Laa ilaaha illallahul haliimul kariim’ (dan seterusnya sampai) ‘ya arhamar rahimin”. [Riwayat Tirmidzi (dan ini lafadznya), Hakim dan Ibnu Majah]

Sanad hadits ini sangat lemah karena di sanadnya ada seorang rawi bernama Faaid bin Abdurrahman Abu Al-Waruqa.

Imam Tirmidzi sendiri setelah meriwayatkan hadits ini berkata.
“Hadits ini gahrib (asing), diisnadnya ada pembicaraan (karena) Faaid bin Abdurrahman telah dilemahkan di dalam hadits(nya)”.

Di bawah ini keterangan para ulama ahli hadits tentang Faaid bin Abdurahman.

[1]. Kata Abdullah bin Ahmad dari bapaknya (Imam Ahmad), “Matrukul hadits (orang yang ditinggalkan haditsnya)”.
[2]. Kata Imam Ibnu Ma’in, “Dla’if, bukan orang yang tsiqat (kepercayaan)”.
[3]. Kata Imam Abu Dawud, “Bukan apa-apa (istilah untuk rawi lemah)”.
[4]. Kata Imam Nasa’i, “Bukan orang yang tsiqat, matrukul hadits”.
[5]. Kata Imam Abu Hatim, “Hadits-haditsnya dari Ibnu Abi Aufa batil-batil (sedng hadits ini Faaid riwayatnya dari Ibnu Abu Aufa)”
[6]. Kata Imam Al-Hakim, “Ia meriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa hadits-hadits maudlu (palsu)”.
[7]. Kata Imam Ibnu Hibban, “Tidak boleh berhujjah dengan (riwayat)nya”
[8]. Kata Imam Bukhari, “Munkarul hadits (orang yang diingkari haditsnya)”.

Imam Bukhari pernah mengatakan, “Setiap rawi yang telah aku katakan padanya munkarul hadits, maka tidak boleh (diterima) riwayatnya” [Lihat Mizanul I’tidal jilid 1 halaman 6]

Setelah kita ikuti keterangan-keterangan di atas, maka tahulah kita bahwa derajat hadits shalat hajat sangat lemah yang tidak boleh diamalkan. Jika ada hadits lain dan telah sah riwayatnya, baru boleh kita amalkan.

Periksalah kitab-kitab:
Al-Mustadrak Hakim 1/320
Sunan Tirmidzi 1/477
Sunan Ibnu Majah no. 1384
Tahdzibut Tahdzib 8/255
Al-Adzkar halaman 156. [1]

[Disalin da kitab Al-Masa’il (Masalah-Masalah Agama) Jilid 2, Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat, Penerbit Darul Qolam, Jakarta. Cetakan I Th 1423/2002M]
_______
Footnote
[1]. Ditulis pada tanggal 10-3-1986

Ref : http://almanhaj.or.id/content/2298/slash/0/derajat-hadits-shalat-hajat-shalat-arbain/

Menebar Cahaya Sunnah