Hukum Qunut Witir…

Ustadz Kholid Syamhudi, Lc, حفظه الله تعالى

Secara umum, para ulama memandang qunut dalam Witir disyariatkan, namun mereka berselisih tentang hukumnya, wajib ataukah sunnah? Apakah juga disunnahkan sepanjang tahun setiap malam, ataukah hanya saat Ramadhan saja atau di akhir Ramadhan? [Shahîh Fikih Sunnah, 1/390]

Yang râjih –wallahu a’lam- qunut Witir disunnahkan di sepanjang tahun, inilah pendapat madzhab Hambali dan pendapat Ibnu Mas’ud, Ibrahiim, Ishâq dan ash-hab ar-ra’yi. Hal ini berdasarkan amalan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana terdapat dalam riwayat Ubai bin Ka’ab Radhiyallahu anhu, ia berkata:

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوْتِرُ فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ. أخرجه ابن ماجه.

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan Witir lalu melakukan qunut sebelum ruku`. [HR Ibnu Mâjah, dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Irwa` al-Ghalil 2/167, hadits no. 426].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada al-Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu anhu untuk mengucapkan doa qunut, sebagaimana terdapat dalam perkataan beliau Radhiyallahu anhu :

عَلَّمَنِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُوْلُهُنَّ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ: ” اللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ ، وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَ ، وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا أَعْطَيْتَ ، وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ ؛ إِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ ، وَ إِنَّهُ لاَ يُذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepadaku doa yang aku ucapkan pada Witir: “Ya Allah, tunjukilah aku sebagaimana Engkau berikan petunjuk (kepada selainku), berilah keselamatan sebagaimana Engkau berikan keselamatan (kepada selainku), jadikanlah aku wali-Mu sebagaimana Engkau jadikan (selainku) sebagai wali, berilah keberkahan kepadaku pada semua pemberian-Mu, lindungilah aku dari kejelekan takdir-Mu; sesungguhnya Engkau mentakdirkan dan tidak ditakdirkan, dan sesungguhnya tidak terhinakan orang yang menjadikan Engkau sebagai wali, dan tidak mulia orang yang Engkau musuhi. Maha suci dan Maha tinggi Engkau, wahai Rabb kami”. [HR Abu Dawud, dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Irwa` al-Ghalil, 2/172].

Demikian juga para sahabat yang meriwayatkan shalat Witir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka tidak menyebutkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berqunut. Seandainya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya terus-menerus, tentulah para sahabat akan menukilkannya. Memang ada sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yaitu Ubai bin Ka’ab Radhiyallahu anhu yang meriwayatkan qunut Witir Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Hal ini menunjukkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang melakukannya, dan juga berisi dalil bahwa qunut dalam Witir tidak wajib.[Shifat Shalat Nabi n , Syaikh al-Albâni, hlm. 179]

Dalil lainnya, yaitu amalan sebagian sahabat dan Tabi’in yang tidak melakukan qunut Witir, dan sebagian lainnya hanya melakukannya pada bulan Ramadhan. Juga ada sebagian lainnya melakukan qunut Witir sepanjang tahun.[Lihat riwayat-riwayat dari mereka dalam kitab Mukhtashar Kitab al-Witri, hlm.118-129]

Perbedaan ini disampaikan Imam at-Tirmidzi dalam pernyataan beliau: “Para ulama berbeda pendapat dalam qunut Witir. ‘Abdullah bin Mas’ud z memandang qunut Witir dilakukan sepanjang tahun dan memilih melakukan qunut sebelum ruku’. Ini merupakan pendapat dari sebagian ulama dan pendapat Sufyaan ats-Tsauri rahimahullah, Ibnu al-Mubarak rahimahullah, Ishaaq rahimahullah dan Ahlu Kufah. Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu , bahwa beliau tidak qunut kecuali di separuh akhir dari bulan Ramadhan dan melakukannya setalah ruku`. Inilah pendapat sebagian ulama, dan menjadi pendapat asy-Syafi’i rahimahullah dan Ahmad rahimahullah”.[Sunan at-Tirmidzi, 2/329]

Semua ini menunjukkan qunut Witir TIDAK WAJIB. Sedangkan yang menunjukkan dilakukan di sepanjang tahun, yaitu keumuman amalan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak dijelaskan kekhususannya dalam bulan tertentu. Ini menunjukkan, boleh dilakukan sepanjang tahun, dan LEBIH UTAMA LAGI TIDAK TERUS-MENERUS MELAKUKANNYA sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Inilah yang dirâjihkan Syaikh al-Albâni dalam Shifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .[Shifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , hlm. 179]

Wallahu a’lam.

Ref: http://almanhaj.or.id/content/2592/slash/0/bagaimana-qunut-witir-dilakukan/

NB : Bacaan do’a dalam latin

ALLAUMMAH-DINII FIIMAN HADAYTA,

WA ‘AAFINII FIIMAN ‘AAFAYTA,

WA TAWALLANII FIIMAN TAWALLAYTA,

WA BAARIK II FIIMAA A’THOYTA,

WA QINII SYARRO MAA QODHOYTA,

INNAKA TAQDHII WA LAA YUQDHO ‘ALAYKA,

WA INNAHU LAA YADZILLU MAN WALAYTA,

WA LAA YA’IZZU MAN ‘AADAYTA,

TABAAROKTA WA TA’AALAYTA,

WA LAA MAN-JA-A MINKA ILLA ILAYKA

 

Daun Bidara Memanjakan Wanita Agar Suami Bahagia…!

Ustadz Muhammad Arifin Badr, MA, حفظه الله تعالى

Sobat, salah satu sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang nampaknya kini telah diabaikan oleh banyak orang ialah penggunaan daun bidara di saat wanita bersuci dari haidh atau nifas.

Padahal anjuran menggunakan daun bidara untuk mensucikan organ kewanitaan pada saat mandi bersuci dari haidh dan nifas memiliki manfaat yang sangat besar, tentunya tidak ketinggalan manfaat untuk suami tercinta.

SImak hadits berikut, agar anda mengetahui langsung anjuran nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut :

‘Aisyah mengisahkan: Suatu hari Asma’ binti Abi Bakar radhiallahu ‘anhum bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perihal tatacara mandi janabah seusai suci dari haidh. Beliau bersabda:
تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ. ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِهَا ». فَقَالَتْ أَسْمَاءُ وَكَيْفَ تَطَهَّرُ بِهَا فَقَالَ « سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِينَ بِهَا ». فَقَالَتْ عَائِشَةُ كَأَنَّهَا تُخْفِى ذَلِكَ تَتَبَّعِينَ أَثَرَ الدَّمِ. وَسَأَلَتْهُ عَنْ غُسْلِ الْجَنَابَةِ فَقَالَ « تَأْخُذُ مَاءً فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ – أَوْ تُبْلِغُ الطُّهُورَ – ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ ». فَقَالَتْ عَائِشَةُ نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الأَنْصَارِ لَمْ يَكُنْ يَمْنَعُهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِى الدِّينِ.

“Hendaknya engkau mengambil air dan daun bidara, kemudian dia bersuci dan menyempurnakan mandi bersucinya. Selanjutnya, engkau menyiramkan air dari atas kepalamu lalu menggosok-gosoknya dengan kuat sehingga air membasahi seluruh kulit kepalamu. Bila telah basah seluruh kulit kepalanya, maka hendaknya engkau menyiramkan air ke seluruh badanmu. Bila telah selesai, ambillah sepotong kain atau kapas yang telah dibubuhi minyak misik (wangi), kemudian dia bersuci dengannya. Asma’ kembali bertanya : “Bagaimana caranya aku bersuci dengan kain atau kapasnya?” Beliau bersabda: “Subhanallah, bersucilah dengannya”. Aisyah memahami bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa risih untuk menjelaskan lebih detail, maka ia segera memberikan penjelasan kepada saudarinya Asma’ “Engkau mengusapkan kain/kapas itu ke area yang terkena darah haidh.” HR Imam Muslim.

Selamat mencoba, insyaAllah suami tambah lengket kayak perangko.

Beginilah Cara Memahami Dan Mengamalkan Ajaran Islam Dengan Benar…

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA حفظه الله تعالى

Bismillah.

Bingung, pusing, heran, itulah yang dirasakan kalau memikirkan banyaknya kelompok dalam Islam.
Bagaimana bisa berbeda dan berpecah belah, padahal katanya sama-sama berpegang teguh pada Al-Quran dan Al-Hadits. Koq bisa beda dalam memberikan jawaban dan menyikapi permasalahan, padahal dalilnya sama dari ayat Al-Quran dan Al-Hadits juga. Apakah tidak ada suatu metode atau cara yang tepat dan benar dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam?

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu”. (QS. Al-Maidah: 3).

Kesempurnaan dan kejelasan ajaran Islam pun telah ditegaskan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wasallam di dalam hadits berikut ini:

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغُ عَنْهَا بَعْدِيْ إِلاَّ هَالِكٌ

» “Sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian (syariat) yang putih cemerlang (jelas), malamnya seperti siangnya. Tidak akan menyeleweng daripadanya sepeninggalku melainkan dia akan binasa”. (HR. Ibnu Majah I/16 no.43, dan Ahmad IV/126 no.17182, dari jalan Al-‘Irbadh bin Sariyah rodhiyallahu anhu).

Juga diriwayatkan dari Muththalib bin Hanthab radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

مَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا أَمَرَكُمُ اللهُ بِهِ إِلاَّ قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ, وَمَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا نَهَاكُمْ عَنْهُ إِلاَّ قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ

» “Tidak kutinggalkan sesuatu pun dari yang Allah perintahkan kecuali telah aku perintahkan kepada kalian, dan tidaklah aku tinggalkan sedikit pun perkara yang Allah larang melainkan sungguh telah aku larang kalian dari padanya”. (HR. Imam Asy-Syafi’i di dalam Musnadnya I/233 no.1153).

Jelas sudah bagi yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya bahwa Islam telah sempurna dan lengkap serta tidak membutuhkan perubahan dan penambahan atau pengurangan. Selain itu, Allah sendiri yang menjamin kemurniannya, seperti dalam firman-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

» “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Adz-Dzikr (Al-Quran) dan sesungguhnya Kamilah yang menjaganya”. (QS. Al-Hijr: 9).

Sebagaimana Allah telah menjamin keaslian Al-Quran, seperti itu pulalah Allah menjamin kemurnian Islam. Karena itu tidak akan ada pertentangan apapun di antara segala perkara yang terdapat di dalamnya. Sebagaimana firman-Nya:

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا “

» “Apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Sekiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentu mereka akan mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya”. (QS. An-Nisa’: 82).

Demikianlah keseluruhan ajaran Islam. Pada asalnya tidak sedikit pun mengandung unsur pertentangan. Pertentangan hingga perpecahan umat Islam di dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam tidaklah terjadi melainkan disebabkan tersendatnya hal-hal berikut ini:
1. Hawa nafsu,
2. Syahwat,
3. Syubhat,
4. Keras hati dalam menerima kebenaran,
5. Kurang atau bahkan tidak mengikuti tuntunan Nabi,
6. Melemah dan hilangnya Sunnah dan tersebarnya bid’ah, dan
7. Mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan seperti mencampur Islam dengan filsafat, ilmu kalam dan lain sebagainya.

Memang berbagai macam manhaj (konsep memahami agama) yang diikuti kebanyakan umat Islam yang tidak sesuai dan tidak berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang shahih, pasti tidak akan membawa manfaat apa pun, kecuali semakin menjauhkan umat ini dari jalan yang benar.

Hal ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam di dalam hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ ، قَالَ : خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ، ثُمَّ قَالَ : هَذَا سَبِيلُ اللهِ ، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ، ثُمَّ قَالَ : هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ، ثُمَّ قَرَأَ : {وَإِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ ، فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}.

» Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, ia berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam membuat garis dengan tangannya lalu berkata, “Inilah jalan Allah yang lurus”. Kemudian membuat garis lagi di sebelah kanan dan kirinya, seraya berkata, “Ini adalah jalan-jalan yang lain. Tiada satu pun darinya tersebut kecuali di sana ada setan yang menyeru kepadanya”.

Kemudian beliau membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah engkau mengikuti jalan-jalan lain, karena kan mecerai-beraikanmu dari jalan-Nya. Demikian itulah Allah wasiatkan kepadamu agar kamu bertakwa”. (HR. Ahmad I/435 no.4142).

Jelas dari dalil di atas, bahwa manhaj (metode/pemahaman) yang benar itu hanya satu dan sikap mengikuti manhaj selainnya akan membawa pertentangan, perpecahan, dan kesesatan. Padahal sebelumnya, prinsip-prinsip ajaran Islam sendiri adalah satu sejak zaman Nabi Adam hingga Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Demikian juga halnya dengan kondisi umat yang ada.

Namun karena berbagai penyelewengan itulah akhirnya terjadi pertentangan dan perpecahan. Hal ini dijelaskan Allah di dalam firman-Nya:

وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

» “Tidaklah manusia itu (dahulu) melainkan umat yang satu, kemudian mereka berselisih. Kalau tidak karena ketetapan yang telah berlalu dari Rabb-mu, niscaya telah diberi keputusan di antara mereka mengenai apa yang mereka perselisihkan”. (QS. Yunus: 19).

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut, bahwa akan ada generasi manusia berikutnya yang beraneka ragam agama, keyakinan, ajaran, kelompok, dasar pijakan, dan pikiran mereka. Sedangkan Ikrimah mengatakan bahwa mereka berselisih dalam petunjuk. Tetapi di antara mereka ada yang dikecualikan, sebagaimana firman-Nya:

وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ

“Mereka senantiasa berselisih pendapat kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu”. (QS. Huud: 118-119).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Allah mengabarkan bahwa orang-orang yang dirahmati-Nya tidak akan berselisih. Mereka adalah para pengikut Nabi dengan perkataan dan perbuatan, dan mereka adalah ahli Al-Quran dan hadits dari umat ini”. Yakni mereka yang mendapat rahmat Allah dari setiap pengikut para Nabi yang berpegang teguh dengan segala yang diperintahkan agama. Mereka itu dikenal dengan golongan yang selamat (Al-Firqoh An-Najiyah).

Hal ini diperkuat dengan sabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam:

أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ, ثِنْتَانِ وَسَبْعِيْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

» “Ketahuilah, sesungguhnya orang sebelum kamu dari ahli kitab telah berpecah belah menjadi 72 kelompok. Dan sungguh umat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan. 72 berada di neraka dan hanya satu dalam surga, yaitu al-jama’ah”. (HR. Ahmad IV/102 no.16979, Abu Dawud II/608 no.4597, Ibnu Majah II/1322 no.3992).

Sekarang, permasalahan yang lebih penting untuk diketahui adalah manhaj (cara/pemahaman) yang bagaimana dan siapa tokoh-tokoh yang harus diikuti dalam mempelajari, memahami, meyakini, dan mengamalkan ajaran Islam tersebut?

(*) Ciri-ciri manhaj mereka adalah berdasarkan pada prinsip-prinsip berikut ini:

1. Al-Quran Al-Karim

Pedoman pertama dan paling tinggi dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam yang paling benar dan selamat, tiada lain adalah Al-Quran Al-Karim yang merupakan wahyu Allah subhanahu wa ta’ala. Barangsiapa yang mengingkari wajibnya berpegang teguh dengan Al-Quran Al-Karim, maka dia itu kafir menurut kesepakatan (ijma’) umat Islam. Wajibnya berpegang teguh dengan Al-Quran Al-Karim tampak dari firman Allah ta’ala berikut ini:

وَهَذَا كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

» “Dan itulah kitab. Kami telah menurunkannya dengan penuh keberkahan, maka ikutilah dan berdakwalah agar kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-An’am:155).

Dan dari sabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam:

أَلاَ وَإِنِّيْ تَارِكٌ فِيْكُمْ ثِقَلَيْنِ, أَحَدُهُمَا كِتَابُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ حَبْلُ اللهِ مَنِ اتَّبَعَهُ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ تَرَكَهُ كَانَ عَلَى ضَلاَلَةٍ

» “Sesungguhnya aku tinggalkan bagimu 2 perkara, salah satunya ialah kitab Allah ‘azza wa jalla, ia itu tali Allah, barangsiapa mengikutinya, maka ia berada di atas hidayah. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia dalam kesesatan”. (HR. Muslim IV/1873 no.2408).

2. Hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam yang shahih.

Pedoman yang kedua adalah Hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam yang shahih. Hal ini dapat dimaklumi dan tidak bisa diingkari. Dalam memahami dan mengamalkan Al-Quran Al-Karim, baik dari segi akidah, ibadah, muamalah, adab dan akhlak tidak dapat dilepaskan dari peranan hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, karena hadits merupakan penjelasan yang rinci dan detail terhadap apa yang dikandung Al-Quran secara global dan umum. Bahkan ini merupakan metode yang ditentukan oleh firman Allah ta’ala:

وَأَنزلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نزلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

» “Dan Kami telah menurunkan Adz-Dzikr (Al-Quran) agar kamu (Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam) menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan agar mereka memikirkannya”. (QS. An-Nahl: 44).

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda:

أَلاَ إِنِّيْ أُوْتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

» “Ketahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Quran dan yang serupa bersamanya (As-Sunnah/hadits Nabi)”. (HR. Ahmad IV/130 no.17213, dan Abu Dawud II/610 no.4604).

Berepegang dengan Al-Quran dan As-Sunnah belumlah cukup. Banyak dijumpai dalam buku atau pengajian-pengajian yang mengupas masalah yang sama, tapi penjelasannya berbeda atau malah berlawanan, hal ini bisa bahaya sebab kalau menyangkut masalah akidah jika salah maka neraka akibatnya. Contohnya golongan Ahmadiyah membelokkan makna sabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, (لاَ نَبِيَّ بَعْدِيْ ) “Tidak ada Nabi sesudahku”. Dengan mengatakan bahwa, “Bersamaku tidak ada Nabi, akan tetapi jika aku telah mati akan ada Nabi”.

Mereka juga mengartikan makna (خَاتَمَ) khatam dari ayat di bawah ini,

(…وَلَكِنْ رَسُوْلَ اللهِ وَ خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ …)

“Tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi”. (QS. Al-Ahzab: 40). Dengan arti yang berbeda yaitu “perhiasan para nabi”, karena khatamu kalau diterjemahkan adalah perhiasan jari (cincin). Dari sini dapat diketahui bahwa pemahaman terhadap Al-Quran dan As-Sunnah/Al-Hadits tidak boleh dilakukan oleh semua orang, karena bisa menjerumuskan pada kesesatan.

3. Atsar (perkataan atau perbuatan) para sahabat Nabi.

Untuk dapat memahami dan mengamalkan dua pedoman di atas dengan benar, maka haruslah merujuk kepada atsar (riwayat berupa perkataan dan perbuatan) para sahabat. Hal ini jelas terlihat dalam berbagai riwayat hadits iftiraq al-ummah (perpecahan umat) yang jalur periwayatannya banyak sekali. Semuanya menyatakan bahwa hanya satu golongan yang selamat dari perpecahan tersebut, yaitu yang mengikuti jejak Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dan para sahabat. Allah subhanahu wa ta’ala sendiri telah ridha terhadap mereka, seperti dalam firman-Nya:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

» “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang mukmin yang berjanji setia kepadamu di bawah pohon (bai’at al-ridwan). Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan bagi mereka kemenangan yang dekat”. (QS. Al-Fath: 18).

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ’anhuma berkata: “Kami (saat itu) berjumlah 1400 orang”. (HR. Bukhari).

Dan di dalam ayat lain Allah berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

» “Orang-orang terdahulu yang pertama masuk Islam dari orang-orang Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung”. (QS. At-Taubah: 100).

Dalam tafsir Ibnu Katsir dinyatakan bahwa orang yang membenci dan mencela baik sebagian atau semua sahabat Nabi, akan mendapat kecelakaan. Sebagaimana kelompok Syi’ah (Rofidhoh) yang kerjaannya hanya membenci, mencela dan menentang keutamaan para sahabat Nabi. Padahal Nabi sendiri bersabda:

أَكْرِمُوْا أَصْحَابِيْ ، فَأِنَِّهُمْ خِيَارُكُمْ

» “Muliakanlah para sahabatku, karena sesungguhnya mereka adalah orang terbaik di antara kalian”. (Dikeluarkan oleh ‘Abd bin Humaid di dalam Musnadnya no.23, Ibnu Baththoh di dalam Al-Ibanah Al-Kubro no.84, dan selainnya. Dan dinyatakan SHOHIH oleh Syaikh al-Albani di dalam Misykat Al-Mashobih III/308 no.6003).

Dalam hadits lain Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَسُبُّوْا أَ صْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أّحَدَكُمْ أّنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ

» “Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya”. (HR. Bukhari III/1343 no.3470, dan Muslim IV/1967 no.2540, dan Ahmad III/63 no.11626).

Beliau shallallahu ’alaihi wasallam Juga bersabda:

مَنْ سَبَّ أَصْحَابِيْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ

» “Barangsiapa mencela sahabatku, maka ia mendapat laknat Allah”. (HR. Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushonnaf no.1741, dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no.832. Dan dinyatakan HASAN oleh syaikh Al-Abani di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah V/446 no.2340).

Imam Thahawi berkata: “Benci terhadap sahabat adalah kekafiran, kemunafikan dan tindakan melampaui batas”.

Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata: “Jika kamu melihat seseorang melecehkan seorang sahabat Nabi, maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq (munafik). Karena menurut kita (umat Islam), Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam adalah benar dan Al-Quran juga benar. Sedangkan yang menyampaikan Al-Quran dan Hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam kepada kita adalah para sahabat. Mereka hanya ingin mencela para saksi kita untuk menghancurkan Al-Quran dan As-Sunnah (Al-Hadits). Celaan kepada mereka (para pencela sahabat Nabi) lebih pantas, dan mereka adalah zindiq (orang-orang munafik)”.

Mengenai keadilan dan keutamaan para sahabat sudah banyak dijumpai baik di dalam Al-Quran maupun As-Sunnah yang shahih. Keharusan mengikutinya adalah suatu hal yang wajib, masuk akal, bisa diterima serta maklum adanya. Merekalah saksi hidup yang dibimbing langsung oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, sehingga lebih mengetahui dan paham mengenai ajaran Islam dan pengamalannya.

4. Jejak para tabi’in dan tabiut tabi’in.

Setelah masa sahabat, terdapat suatu generasi yang masih komitmen mengikuti jejaknya. Demikian pula para ulama sesudah generasi mereka. Anjuran untuk senantiasa bersama-sama dengan generasi yang utama dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam didasarkan firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat At-Taubah ayat 100 yang telah kita sebutkan di atas.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ, ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ, ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

» “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang sesudah mereka, lalu yang sesudahnya lagi”. (HR. Al-Bukhari II/938 no.2509. lihat pula hadits nomor. 3451, 6065, 6282, dan Muslim IV/1962 no.2533).

Semoga setelah mengetahui cara memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara benar, akan lebih memperkokoh dalam menghadapi suara-suara sumbang baik musuh dalam diri Islam (orang munafik dan ahli bid’ah) maupun orang-orang kafir. Jangan mudah tertipu propaganda palsu yang menyesatkan, yang berkedok Al-Quran dan As-Sunnah namun pemahamannya keliru. Yang lebih penting, semoga kita bisa beramal dan berdakwah dengan landasan yang kuat.

(Sumber: Buletin Dakwah Al-Ittiba’ Edisi 1 Tahun I, Pesantren Islam Al-Ittiba’, Klaten – Jawa Tengah).

Kenikmatan Dunia Berganti Azab Allah Bila Terlena Di Dunia…

Ustadz Syafiq Basalamah, MA, حفظه الله تعالى

Akhi ukhti

Betapa nikmatnya menyeruput secangkir teh hangat di pagi hari yang sejuk

Betapa lezatnya menikmati suguhan es teler di tengah panasnya terik mentari yang menyengat

Betapa indahnya duduk di sebuah taman yang indah bersama orang-orang yang dicintai

Namun semua kenikmatan itu akan terputus

Akan sirna dan lenyap

Berganti dengan azab Allah dan siksanya bila ternyata kita terlena selama berada di dunia

Tersilaukan dengan kenikmatan sementara sehingga lupa

Bahwa setiap detik yang berlalu akan ditanya

Mereka yang tidak lulus dalam menjawab soal-soal tersebut

Maka tiada lagi senyum yang menghias di bibir

Tiada lagi secangkir teh hangat

Atau semangkuk es teler

Yang ada hanyalah siksaan dan siksaan

Tiada pernah berhenti sejenakpun

Pernahkah kau melihat ikan goreng yang telah mengelupas kulitnya

Bagaimana kiranya bilah wajahmu yang digoreng??

Tengoklah rintihan penghuni neraka

وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ (٥٠)

“Dan penghuni neraka menyeru penghuni syurga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir.” (Qs. Al-A’raf: 50)

Bahkan karena pedihnya siksaan yang diterima, mereka minta mati

iya mereka minta mati…

Mereka menyeru MALIK penjaga neraka

“Mereka berseru: “Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja”.

Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)..” (Qs. Az-Zukhruf: 77)

Tiada kematian di sana….

Akhi ukhti…

Sebelum nasi menjadi bubur

Saatnya mengoreksi diri

Setiap kau meneguk air

Tanyakan pada dirimu apakah kelak aku akan meneguknya di akhirat?

Atau……

YAA ALLAH MASUKKAN HAMBA KE SYURGAMU

DAN JAUHKAN HAMBA DARI NERAKAMU

AAMIIN

Yang Lagi Demam AKIK, Apa Tujuan Anda Memakainya…?

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

1. Jika tujuan Anda meniru Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, ketahuilah bahwa beliau memakainya karena tuntutan keadaan, kalau saja bukan karena tuntutan tentu beliau tidak mengenakannya, cobalah perhatikan hadits berikut:

Sahabat Anas -rodhiallohu anhu- mengatakan:

“Ketika Nabi -shollallohu alaihi wasallam- ingin menulis surat kepada raja kisro (raja persia), qoishor (raja romawi), dan raja najasyi, beliau diberi kabar bahwa mereka tidaklah menerima surat kecuali dengan STEMPEL.

Maka Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pun membuat CINCIN yang lingkarannya terbuat dari perak, dan diukirlah padanya tulisan ‘Muhammadur Rosululloh’.” [HR. Muslim: 2092].

2. Jika tujuan Anda karena senang memakai cincin, maka silahkan memakainya, tapi janganlah mendakwakan bahwa itu sunnah Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, karena beliau memakainya bukan karena kesenangan, tapi karena tuntutan dan kebutuhan.

Pegang teguhlah perkataan Imam Syafi’i -rohimahulloh-: “Aku beriman kepada Rosululloh, dan apapun yang datang dari Rosululloh, sesuai yang DIINGINKAN oleh Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-“. [Lum’atul I’tiqod, hal:7].

3. Jika tujuan Anda ingin menggunakannya untuk “keberuntungan” atau “pesugihan”, atau “pelet”, maka ini tidak hanya bukan sunnah Nabi, tapi sudah masuk dalam ranah kesyirikan, karena ini sama dengan menggunakan jimat, padahal Baginda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda:

“Barangsiapa menggantungkan tamimah (jimat), maka dia telah jatuh dalam kesyirikan”. [HR. Ahmad: 17422, shahih].

4. Jika Anda menggunakannya karena ikut-ikutan tren, maka ini tidak sepantasnya dilakukan, karena perangai ikut-ikutan itu menunjukkan tidak adanya prinsip/pegangan hidup.

Abdulloh bin Mas’ud -rodhiallohu anhu- pernah mengatakan:

“Janganlah kalian sekali-kali jadi orang yang ikut-ikutan… yaitu orang yang mengatakan: aku (akan) bersama manusia, jika mereka mendapatkan petunjuk; aku pun mendapatkan petunjuk, dan jika mereka tersesat; aku pun akan tersesat”. [Hilyatul Aulia 1/136].

5. Jika Anda menggunakannya, tanpa alasan apapun… maka hati-hatilah, mungkin saja Anda sedang tidak sadar atau lagi kena guna-guna penjual akik…

Didiklah Anakmu…

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu :

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا}

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)

Seorang ibu, ayah, serta pengajar, akan ditanya di hadapan Allah tentang pendidikan generasi ini. Apabila mereka baik dalam mendidik, maka generasi ini akan bahagia dan begitu pula mereka juga akan bahagia di dunia dan akhirat. Namun, apabila mereka mengabaikan pendidikan generasi ini, maka generasi ini akan celaka, dan dosanya akan ditanggung oleh pundak-pundak mereka. Oleh karena itu dikatakan dalam sebuah hadits,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan pemimpin akan ditanyai tentang kepemimpinannya” (Muttafaqun ‘alaihi).

Berita gembira bagimu wahai para pengajar, dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam,

فَوَاللهِ لَيَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ خُمْرِ النَّعَمَ

“Demi Allah, jika Allah menunjuki seseorang lewatmu, ini lebih baik daripada unta-unta merah”

Berita gembira bagi kalian berdua wahai ayah dan ibu, dengan sebuah hadits yang shahih:

اِذَ مَاتَ اْلإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

“Apabila seorang manusia meninggal, maka amalannya terputus kecuali tiga perkara. Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat serta anak shalih yang mendoakannya” (HR. Muslim).

Wahai para pengajar, hendaknya engkau memperbaiki dirimu terlebih dahulu.

Kebaikan menurut anak-anak adalah apa-apa yang engkau lakukan. Sebaliknya, keburukan menurut mereka adalah apa-apa yang engkau tinggalkan.

Baiknya perilaku pengajar dan kedua orang tua di hadapan anak-anak merupakan sebaik–baiknya pendidikan bagi mereka.

20 Pelajaran Penting Dan Faedah Ilmiyah Dari Tabligh Akbar Syaikh Abdurrozzaq tanggal 15 Maret 2015 Di Masjid Istiqlal

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA حفظه الله تعالى

عنوان المحاضرة : توحيد الله تعالى
المحاضر : فضيلة الشيخ الأستاذ الدكتور عبد الرزاق بن عبد المحسن العباد حفظه الله تعالى

(*) TEMA: KEESAAN ALLAH, PENJELASAN AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

(*) Narasumber: Prof. DR. Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr Al-Abbad -hafizhohullah-

١- أن توحيد الله هو أعظم أمر في هذه الدنيا

1. Tauhidullah (mengesakan Allah) merupakan perkara yang paling agung di dunia ini.

٢- وأنه الحكمة العظمى من خلق الإنس والجن
– كما قال تعالى : (وما خلقت الإنس والجن إلا ليعبدون)

2. Tauhid merupakan hikmah teragung dari penciptaan jin dan manusia. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).

٣- وأنه الغاية الكبرى من بعثة الرسل
– كما قال تعالى : (ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت)

3. Tauhid merupakan tujuan utama diutusnya para Rosul. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rosul agar menyerukan kepada kaumnya, ‘Beribadahlah kamu hanya kepada Allah dan jauhilah thogut.” (QS. An-Nahl: 36).

٤- وأنه أصل وأساس يبنى عليه دين الإسلام كما كانت الشجرة لا تقوم إلا على أصلها

4. Tauhid adalah prinsip dan landasan dasar agama Islam, sebagaimana pohon tidak akan tegak tanpa akar.

٥- وأنه الفطرة التي فطر الله الناس عليها
– كما قال الله تعالى: (فأقم وجهك للدين حنيفا فطرة الله التي فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدين القيم ولكن أكثر الناس لا يعلمون) 
– و كما قال النبي صلى الله عليه وسلم : ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه، 
– وكما قال النبي صلى الله عليه وسلم: قال الله تعالى في الحديث القدسي : خلقت عبادي حنفاء فاجتالتهم الشياطين 

5. Tauhid adalah agama fitroh yang mana Allah menciptakan manusia di atas fitroh tersebut.

– Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar Ruum: 30)

– Dan sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Tiada seorang bayi yang terlahir (di dunia ini) melainkan ia terlahir dalam keadaan fitrah. Lalu, kedua orang tuanya lah yang menjadikannya beragama Yahudi atau Nasrani.”

– Dan sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam pula: Allah Ta’ala berfirman: “Aku telah ciptakan hamba-hamba-KU dalam keadaan lurus. Lalu setan-setan itu menyesatkan mereka.”

٦- وأنه شرط أساسي لقبول الأعمال، 
– كما قال قال تعالى ( ولقد أوحي إليك وإلى الذين من قبلك لئن أشركت ليحبطن عملك ولتكونن من الخاسرين) 
– وكما قال تعالى ( وما منعهم أن تقبل منهم نفقاتهم إلا أنهم كفروا بالله وبرسوله )

6. Tauhid adalah syarat utama diterimanya semua amal ibadah. 

– Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi sebelummu: Apabila kamu berbuat syirik pastilah akan lenyap seluruh amalmu, dan kamu benar-benar akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65)

– Dan sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS. at-Taubah: 54)

٧- وأنه حق الله تعالى على العباد 
– كما قال النبي صلى الله عليه وسلم : يا معاذ، أتدري ما حق الله على العباد وما حق العباد على الله؟ قلت الله ورسوله أعلم، قال: حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، وحق العباد على الله ألا يعذب من لا يشرك به شيئا

7. Tauhid adalah hak Allah yang wajib ditunaikan oleh para hamba-Nya. 

– Hal ini sebagaiman sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Wahai Mu’adz, tahukah engkau hak Allah yang wajib ditunaikan oleh para hamba-Nya dan hak para hamba atas Allah?” Aku jawab: “Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui.” Maka Rasulullah bersabda: “Hak Allah atas para hamba-Nya ialah agar mereka beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Sedangkan hak para hamba atas Allah ialah agar Allah tidak menyiksa siapa saja yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”

٨- أن من لم يوحد الله فإن أمره فرطا وقلبه متفرق وحاله في ضياع 
– كما قال تعالى ( أأرباب متفرقون خير أم الله الواحد القهار )

8. Barangsiapa tidak mentauhidkan Allah, maka urusannya menjadi sia-sia, hatinya tercerai berai, bimbang dan galau. 

– Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Manakah yang lebih baik, Tuhan-Tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (QS. Yusuf: 39).

٩- أن العقيدة المنتشرة بين الناس على وجه الأرض نوعان : عقيدة نازلة من السماء بوحي الله، وعقيدة نابتة في الأرض وهذه عقيدة باطلة مردودة

9. Aqidah (keyakinan) yang tersebar di tengah manusia di muka bumi ada dua macam, yaitu:
(1) Aqidah yang turun dari langit berdasarkan wahyu Allah, dan
(2) Aqidah yang tumbuh di bumi (tidak berdasarkan wahyu dari Allah), maka ini adalah Aqidah yang batil dan tertolak.

١٠- أن التوحيد يحقق الأمن والطمأنينة للعبد 
– كما قال تعالى ( الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون)

10. Tauhid akan mewujudkan keamanan dan ketentraman di dalam jiwa seorang hamba. 

– Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedholiman (yakni syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)

١١- وأن التوحيد هو أحسن الحسنات، والدليل على ذلك أن وجود الشرك محبط لجميع الأعمال

11. Tauhid merupakan amal kebaikan yang paling baik. Buktinya, bahwa keberadaan Syirik dapat menyebabkan runtuh dan terhapusnya semua amal ibadah.

١٢- وأن التوحيد هو مفتاح الجنة، فمن لم يأتِ به يوم القيامة فإنه لن يدخل الجنة 
كما قال تعالى (إن الذين كذبوا بآياتنا واستكبروا عنها لا تفتح لهم أبواب الجنة ولا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط وكذلك نَجْزِي المجرمين)

12. Tauhid merupakan kunci masuk surga. Maka, barangsiapa datang pada hari Kiamat tanpa membawa tauhid, maka ia tidak akan masuk surga. 

– Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.

Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” (QS. Al-A’raaf: 40).

حقيقة التوحيد :
١٣- التوحيد هو إفراد الله في ربوبيته وألوهيته وأسمائه وصفاته

# HAKEKAT TAUHID #
13. Tauhid ialah mengesakan Allah dalam rububiyyah, uluhiyyah dan asma wa sifat (nama-nama dan sifat-Nya).

١٤- ومن خصائص الله تعالى تفضله بأسمائه الحسنى وصفاته العليا 
– كما قال تعالى: (ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها) 
– وقال تعالى (هو الله الذي لا إله إلا هو عالم الغيب والشهادة هو الرحمن الرحيم. هو الله الذي لا إله إلا هو الملك القدوس السلام المؤمن المهيمن العزيز الجبار المتكبر سبحان الله عما يشركون)

14. Diantara kekhususan Allah, Dia memiliki nama-nama yang maha indah dan sifat-sifat yang maha tinggi. 

– Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Allah memiliki nama-nama yang maha indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama-Nya itu.”

– Dan firman-Nya pula: “Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Hasyr: 22-23).
 
١٥- ومن حقوق الله على عباده أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا 
– كما قال تعالى: ( وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين)
– وقال النبي صلى الله عليه وسلم: حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا وحق العباد على الله ألا يعذب من لا يشرك به شيئا. 
– وقال النبي صلى الله عليه وسلم : من مات وهو يدعو من دون الله ندا دخل النار . 

15. Dan diantara hak-hak Allah yang wajib ditunaikan oleh para hamba-Nya ialah agar mereka beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutu-Nya dengan sesuatu apapun. 

– Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka mengikhlaskan (memurnikan) ketaatan hanya untuk-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5).

– Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hak Allah yang wajib ditunaikan oleh para hamba-Nya ialah agar mereka beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutu-Nya dengan sesuatu apapun. Dan hak para hamba yang akan dipenuhi oleh Allah ialah agar Allah tidak menyiksa siapa pun yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”

– Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam juga bersabda: “Barangsiapa yang mati dalam keadaan berdoa kepada selain Allah sebagai tuhan tandingan bagi-Nya, niscaya ia pasti masuk neraka.”

١٦- كلمة التوحيد ( لا إله إلا الله ) تتضمن النفي والإثبات.

16. Kalimat Tauhid  ( لا إله إلا الله ) mengandung (2 rukun), yaitu:
(1) an-nafyu (peniadaan sesembahan yang hak dari selain Allah).
(2) Al-itsbat (penetapan sesembahan yang hak bagi Allah semata).

١٧- أن التوحيد ثلاثة أنواع، وهي: توحيد الربوبية، وتوحيد الأسماء والصفات، وتوحيد الألوهية

17. Tauhid itu ada 3 macam, yaitu: 
(1) Tauhid Rububiyyah.
(2) Tauhid Asma wa Sifat.
(3) Tauhid Uluhiyyah.

١٨- أن مفسدات التوحيد منها ما ينقضه، ومنها ما ينقص كماله

18. Perusak-perusak Tauhid ada yang dapat menyebabkan batalnya Tauhid. Dan ada pula yang dapat mengurangi kesempurnaan Tauhid.

١٩- أن نواقض التوحيد ترجع إلى ثلاثة أمور رئيسة وهي: الشرك الأكبر، والكفر الأكبر، والنفاق الأكبر، 

19. Pembatal-pembatal Tauhid berporos pada 3 perkara utama, yaitu:
(1) Syirik Akbar/besar.
(2) Kufur Akbar/besar.
(3) Nifak Akbar/besar.

٢٠- وأما نواقص التوحيد هي : الشرك الأصغر، والكفر الأصغر، والنفاق الأصغر،  

20. Adapun hal-hal yang mengurangi kesempurnaan Tauhid ialah:
(1) Syirik Ashghor/kecil.
(2) Kufur Ashghor/kecil.
(3) Nifak Ashghor/kecil.

Demikian beberapa pelajaran penting dan faedah ilmiyah yang dapat kami sampaikan secara ringkas dari Tabligh Akbar dengan Tema “KEESAAN ALLAH TA’ALA” yang disampaikan oleh Prof. DR. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhohullah pada hari ini, Ahad, 15 Maret 2015 di masjid Istiqlal, Jakarta.

Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Pengen Tahu, Apakah Anda Mencintai Allah…?

Ustadz Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika kamu ingin tahu KECINTAAN kepada ALLAH yang ada pada dirimu maupun orang lain, maka lihatlah kecintaan hatimu kepada ALQURAN, dan (apakah) kelezatanmu dalam mendengarkannya melebihi kelezatan para penyanyi dan penari mendengarkan musik.

Karena sudah dimaklumi bahwa orang yang mencintai idolanya, maka perkataan dan ucapannya akan menjadi sesuatu yang paling dia cintai, sebagaimana dikatakan (dalam sebuah syair):

‘Jika kamu mengaku mencintai-Ku, lalu mengapa kamu menjauhi kitab-Ku?!

Tidakkah kamu merenungkan (dan merasakan) kelezatan perkataan-Ku yang ada di dalam kitab-Ku?!’.

Sahabar Utsman bin Affan juga mengatakan: ‘Seandainya hati kita bersih, tentunya dia tidak akan kenyang dengan kalamullah’.

Bagaimana pecinta akan kenyang dengan ucapan orang yang dicintainya, dan dia adalah tujuan akhir yang dicarinya?!”

[Kitab: Adda’ wad Dawa’, Ibnul Qoyyim, hal: 258].

Menebar Cahaya Sunnah