Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا. (رواه مسلم)
(*) TERJEMAH HADITS:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menyeru kepada hidayah (jalan petunjuk dan kebaikan), maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikuti (atau mengerjakan)nya tanpa mengurangi
pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang yang mengikuti (mengerjakan)nya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim no. 6750).
(*) BIOGRAFI SINGKAT PERAWI HADITS:
Nama Abu Hurairah adalah Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausi Al-Yamani radhiyallahu anhu. Beliau masuk Islam pada tahun ke-7 Hijriyah pada saat terjadinya perang khoibar. Beliau selalu menyertai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan safar maupun mukim, karena kecintaannya terhadap ilmu agama.
Abu Hurairah radhiyallahu anhu menjadi sahabat Nabi yang paling banyak menghafal dan meriwayatkan hadits melebihi para sahabat yang lain. Hal ini dikarenakan beberapa sebab dan alasan yang tidak mustahil dan bisa diterima akal manusia. Diantaranya:
1. Abu Hurairah radhiyallahu anhu meluangkan waktunya untuk senantiasa ber-mulazamah (bergaul dan berdampingan) dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam rangka menimba ilmu, baik di saat Nabi mukim, maupun safar untuk berjihad, menunaikan ibadah Haji dan Umroh atau selainnya. Berbeda dengan sebagian sahabat yang lain menggunakan sebagian waktunya untuk berdagang atau bekerja.
2. Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah mendoakan Abu Hurairah radhiyallahu anhu agar diberi oleh Allah hafalan (daya ingat) yang kuat. Dan doa Nabi mustajab (dikabulkan Allah).
3. Abu Hurairah radhiyallahu anhu tidak hanya meriwayatkan hadits yang ia dengar dan lihat langsung dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, akan tetapi beliau juga meriwayatkan hadits dari para sahabat lain yang lebih dahulu masuk Islam.
Abu Hurairah wafat pada tahun 59 Hijriyah.
(*) BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH DARI HADITS INI:
1) Anjuran untuk bersemangat dalam berdakwah (mengajak dan menunjuki orang lain) kepada jalan petunjuk dan kebaikan.
2) Keutamaan para ulama dan penuntut ilmu yang senantiasa berdakwah kepada agama Allah, dan mengajarkan ilmunya kepada orang lain dengan niat ikhlas karena mengharap wajah Allah semata.
3) Anjuran bagi para juru dakwah dan pengajar ilmu untuk mengamalkan apa yang didakwahkan dan diajarkannya agar ia menjadi panutan/ teladan yang baik bagi orang lain.
4) Besarnya pahala orang yang berdakwah kepada agama Allah dan setiap jalan kebaikan, yang mana pahala dakwah tersebut akan selalu mengalir kepada dirinya hingga terjadinya hari kiamat sebanyak pahala orang yang menerima, mengikuti dan mengamalkan ilmu yang di dakwahkan dan diajarkannya.
5) Yang dimaksud Al-Huda (petunjuk) di dalam hadits ini ialah setiap ilmu yang bermanfaat dan amal sholih yang ada dalilnya di dalam Al-Quran Al-Karim dan Al-Hadits yang Shohih.
6) Ancaman keras bagi siapa saja yang mengajarkan dan mendakwahkan kepada orang lain kemusyrikan, kekafiran, kebid’ahan, kesesatan, dan kefasikan. Yaitu ia akan memikul dosa perbuatannya tersebut, dan dosa orang-orang yang mengikuti seruannya tersebut hingga hari Kiamat tanpa mengurangi dosa para pengikut sedikit pun. Dan yang demikian ini dikarenakan ia menjadi sebab penyimpangan manusia dari jalan kebenaran.
7) Keutamaan dan pahala mengajak orang lain kepada kebaikan dan kebenaran ini bisa diraih oleh setiap orang muslim dan muslimah, para ulama dan penuntut ilmu, orang kaya dan orang miskin, penguasa maupun rakyat. Dengan syarat, melakukan dakwah kepada kebaikan dan kebenaran itu dilakukan dengan cara yang benar sesuai tuntunan Nabi shallallahu alaihi wassalam dan sesuai dengan batas kemampuannya.
Diantara cara2 dakwah kepada agama Allah agar meraih pahala yang besar yang mengalir sampai hari Kiamat adalah sbb:
1. Berdakwah secara langsung di hadapan manusia di masjid, sekolah, rumah, tempat kerja, atau selainnya.
2. Berdakwah kepada agama Allah melalui media massa cetak dan elektronik, dan cara pertama dan kedua ini hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang memiliki ilmu dan pemahaman yang benar tentang agama Islam. Adapun orang yang tidak berilmu, maka dilarang keras terjun ke medan dakwah karena ia akan lebih banyak merusak keadaan umat Islam.
3. Membiayai dan menfasilitasi aktifitas dakwah tauhid dan sunnah, membagi-bagikan/menghadiahkan buku2/buletin/majalah/CD dakwah atau selainnya. Dan ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang diberi kelapangan rezeki oleh Allah.
4. Membuat peraturan dan perundang-undangan tentang Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar yang diterapkan dan diwajibkan kepada pemerintah dan rakyat. Dan cara ini bisa dilakukan oleh penguasa atau pemerintah.
Demikian beberapa pelajaran penting dan faedah ilmiyah yang dapat kami simpulkan dari hadits ini. Semoga dapat dipahami dan menjadi ilmu yang bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-taufiq.
(Klaten, 8 Maret 2015)