Menutup Ramadhan Dengan Istighfar

Imam Ibnu Rojab al-Hanbali rohimahullah menyebutkan hal berikut saat membahas akhir bulan Ramadhan.

‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz menulis surat kepada kota-kota besar, memerintahkan mereka untuk menutup Ramadhan dengan memohon ampunan (istighfar) dan sedekah (maksudnya adalah zakat fitrah).

Karena zakat fitrah berfungsi sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan keji atau perbuatan sia-sia yang mungkin ia lakukan, sementara (Istighfar) memohon ampunan berfungsi untuk memperbaiki apa yang telah dirusak oleh perkataan dan perbuatan buruk tersebut terhadap puasa.

Karena alasan inilah, sebagian ulama salaf berkata,

“Hubungan antara zakat fitrah dengan orang yang berpuasa adalah seperti hubungan antara sujud sahwi dengan sholat..”

(Lathoo’if al-Ma’aarif hal. 383)

Makna Al Afwu Di Dalam Do’a Laylatul Qodr

Terkait do’a Laylatul Qodr, Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr hafizhohullah memberikan penjelasan sebagai berikut,

“Makna Al-‘Afuww (Maha Pemaaf) adalah Yang menghapuskan dosa dosa dan memaafkan kesalahan kesalahan.

Al-‘Afwu lebih dalam maknanya daripada Al-Maghfiroh.

Karena Al-Maghfiroh berarti menutupi dosa (agar tidak terlihat).

Sedangkan Al-‘Afwu berarti menghapusnya secara total dari catatan amal, sehingga seolah-olah dosa itu tidak pernah ada sama sekali..”

(Fiqhu al-Ad’iyah wal Adzkaar 2/254)

Belum Berakhir Sampai Benar Benar Berakhir

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya malam itu (Laylatul Qodr) malam yang ke 27 atau ke 29. Sesungguhnya malaikat pada malam itu lebih banyak dari jumlah butiran kerikil (pasir)..“

(HR. Ahmad 2/519 no.10745)
Lihat Shohiih Al Jaami’ no.5473

======================

● Ibnu ‘Abdil Barr rohimahullah berkata,

​Sekelompok ahli ilmu berpendapat bahwa Laylatul Qodr :

– pada setiap bulan Ramadhan jatuh pada malam ke-21,

– yang lain berpendapat pada malam ke-23 di setiap Ramadhan, dan

– yang lain lagi berpendapat pada malam ke-27 di setiap Ramadhan,

sementara yang lainnya berpendapat bahwa malam tersebut berpindah-pindah di setiap malam ganjil pada sepuluh malam terakhir .. dan ini, menurut kami, adalah pandangan yang benar, insyaa Allah.

​(At-Tamhiid – 14/431)

======================

● Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rohimahullah berkata,

Janganlah kalian menyangka bahwa malam ke-27 adalah akhir dari pencarian Laylatul Qodr.

Sungguh, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam telah bersabda, ‘Carilah ia di malam-malam ganjil..’ dan malam ke-29 termasuk di dalamnya.

Bahkan, malam ke-29 adalah malam ganjil terakhir di bulan ini.

Maka, barangsiapa yang bersungguh sungguh di dalamnya, ia sedang menutup bulannya dengan amalan terbaik.

(Majalis Syahri Ramadhan – 176/178)

======================

📌 Ramadhan masih belum berakhir kawan .. Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam tetap memerintahkan kita untuk mencari malam Laylatul Qodr hingga pada malam terakhir .. semoga Allah memberikan kemudahan ..

semangaat..

Jika Tidak Terampuni Di Bulan Ramadhan, Maka Jangan Salahkan Siapapun Kecuali Diri Sendiri

Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Sungguh terhina seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, lalu Ramadhan itu berlalu sebelum ia diampuni..”

(HR. At Tirmidzi & Al Hakim)

📌 Al Imam Ash Shonʿani rohimahullah berkata,

“Sesungguhnya ini (Ramadhan) adalah bulan di mana dosa-dosa diampuni dan amal ketaatan dilipat-gandakan.

Tidaklah bulan ini berlalu kecuali Allah telah mengampuni mereka yang berbalik menuju ketaatan kepada-Nya dan telah memaafkan perbuatan buruk mereka.

Maka, barangsiapa yang tidak diampuni, ia hanyalah mendatangkan (kerugian) itu pada dirinya sendiri, dan tidaklah ada yang berakhir binasa kecuali orang yang membinasakan dirinya sendiri.

Dengan demikian, ia menjadi layak menerima do’a agar Allah menghinakannya karena kelalaiannya terhadap hak Allah dan karena ia justru berpaling kepada hal-hal yang bertentangan dengan apa yang diridhoi-Nya..”

(At Tanwir Sharh Al Jaami‘ Ash Shoghiir 6/249)

➡️ Catatan : Ungkapan bahasa Arab dalam hadits tersebut secara harfiah berarti “semoga hidungnya tersungkur ke tanah/debu” .. yang bermakna penghinaan dan perendahan (karena kerugian yang sangat besar).

Saat Imam Memimpin Do’a Dalam Sholat

Shaykh al-Islam Ibnu Taymiyyah berkata,

“Seorang imam wajib menggunakan bentuk jamak dalam do’a qunut dan mendo’akan para jamaah, bukan untuk dirinya sendiri saja.

Dan apabila seorang makmum mengamini do’a imam, maka imam hendaknya berdo’a dengan kata ganti bentuk jamak (kita/kami), sebagaimana do’a dalam surah Al-Fatihah pada firman-Nya: (Ihdinash-shiroothol mustaqiim) ‘Tunjukkanlah kami jalan yang lurus..’

Karena sesungguhnya makmum mengamini do’a tersebut semata-mata karena keyakinannya bahwa imam sedang mendo’akan mereka semua.

Jika imam tidak melakukan hal itu (berdo’a untuk bersama), maka sungguh ia telah mengkhianati makmum.

Adapun pada bagian-bagian di mana setiap orang berdo’a untuk dirinya sendiri, seperti :
– do’a pembuka (Istiftah),
– do’a setelah Tasyahud, dan sejenisnya,
maka sebagaimana makmum berdo’a untuk dirinya sendiri, imam pun berdo’a untuk dirinya sendiri.

Sebagaimana pula makmum bertasbih saat rukuk dan sujud, (imam juga bertasbih untuk dirinya sendiri)..”

(Majmu al-Fatawa 23/118)

Apabila Malam Ini ..

Allah Ta’ala berfirman,

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Turun para malaikat dan Jibril pada malam itu dengan izin Robb mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh dengan keselamatan sampai terbit fajar.” (Al-Qodr: 4-5)

● Syaikh Al Albani rohimahullah berkata,

“Dan di antara masa/waktu, ada yang telah Allah jadikan seluruh amalan baik padanya lebih utama (dari waktu-waktu selainnya), seperti pada sepuluh Dzulhijjah .. dan pada malam Laylatul Qodr yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu seluruh amalan pada malam itu lebih utama (lebih baik) dari amalan selama seribu bulan (yang) tidak ada Laylatul Qodr di dalamnya..”

(Ats-Tsamrul Mustathab – 2/576)

JUMLAH MALAIKAT YANG TURUN DARI LANGIT

Rosulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِي الْأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى

“Sesungguhnya malaikat di malam tersebut di muka bumi lebih banyak dari jumlah batu-batu kerikil..” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah rodhiyallahu ’anhu, Ash-Shohiihah: 2205)

● Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

“Banyaknya malaikat yang turun di malam tersebut karena keberkahannya yang melimpah, dan malaikat turun bersama dengan turunnya berkah dan rahmat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/444)

📌 Sebagian ulama menjelaskan bahwa saking banyaknya jumlah malaikat yang turun di malam Laylatul Qodr menyebabkan cahaya matahari di pagi harinya tidaklah menyilaukan, karena banyaknya jumlah malaikat yang kembali ke langit.

Maka bahagialah dan bersyukurlah kepada Allah bagi siapa yang telah diberikan anugerah hidayah untuk memperbanyak ibadah di malam Laylatul Qodr yang pahalanya lebih baik dari 1,000 bulan (83 tahun dan 4 bulan).

Keutamaan & Beberapa Adab Dalam Membaca Alqur’an

● Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam berdabda,

“Orang yang mahir membaca Alqur’an, dia berada bersama para malaikat yang terhormat dan orang yang terbata-bata di dalam membaca Alqur’an serta mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala..” (HR. Muslim)

● Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam juga bersabda,

“Sesungguhnya jika seorang hamba bersiwak, kemudian melakukan sholat, maka ada seorang malaikat yang berdiri di belakangnya untuk mendengarkan bacaannya. Malaikat itu akan mendekat kepadanya hingga meletakkan mulutnya pada mulut orang tersebut. Dan tidaklah keluar dari mulut orang tersebut berupa bacaan Alqur‘an kecuali akan masuk ke dalam perut malaikat, maka bersihkanlah mulut kalian bila hendak membaca Alqur‘an..”

(HR. Al-Bazzar, hasan)

● Ibnus Ṣalaḥ rohimahullah berkata,

“Membaca Alqur’an adalah sebuah kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan umat manusia. Para malaikat tidak diberikan (keistimewaan) ini, dan mereka sangat berhasrat untuk mendengarkannya dari manusia..”

(Al-Itqan fī ʿUluum Alqurʾ’an 1/275 – As Suyuti)

📌 Dalam kitabnya tsb, Al Imam As Suyuti rohimahullah menjelaskan beberapa adab yang seharusnya dijaga oleh seorang pembaca Alqur’an,

1. KONDISI FISIK DAN TEMPAT

Bersuci (Wudhu) : Disunnahkan dalam keadaan suci. Meskipun boleh membaca tanpa menyentuh mushaf bagi yang berhadats kecil, namun dalam keadaan suci adalah bentuk penghormatan tertinggi.

Siwak : Membersihkan mulut sebelum membaca sebagai bentuk pemuliaan terhadap kalimat-kalimat Allah.

Menghadap Kiblat : Memilih posisi duduk yang sopan, tenang, dan jika memungkinkan menghadap ke arah kiblat.

2. MENGAWALI DENGAN ISTI’ADZAH DAN BASMALAH

Membaca Isti’adzah (A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim) untuk memohon perlindungan dari gangguan setan agar fokus terjaga.

Membaca Basmalah di setiap awal surat (kecuali Qs At-Taubah).

3. TARTIL DAN TADABBUR (PERENUNGAN)

Tartil : Membaca dengan perlahan, tidak terburu-buru, dan sesuai dengan hukum tajwid.

Tadabbur : Menghadirkan hati untuk memahami makna ayat. Al Imam As Suyuthi rohimahullah menekankan bahwa tujuan utama membaca adalah untuk memahami pesan Allah.

Menangis : Berusaha untuk tersentuh hatinya hingga menangis saat membaca ayat-ayat tentang adzab atau rahmat Allah sebagai tanda kelembutan hati.

4. MERESPONS AYAT – SAJDAH DAN DO’A

Sujud Tilawah : Melakukan sujud ketika melewati ayat-ayat sajdah.

Berdo’a : Disunnahkan memohon rahmat saat membaca ayat tentang surga, dan memohon perlindungan saat membaca ayat tentang neraka.

(Al-Itqan fī ʿUluum Alqurʾ’an)

Berharap Hanya Kepada Allah

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Yusuf ‘Alaihissalam,

وَقَالَ لِلَّذِيْ ظَنَّ اَنَّهٗ نَاجٍ مِّنْهُمَا اذْكُرْنِيْ عِنْدَ رَبِّكَۖ فَاَنْسٰىهُ الشَّيْطٰنُ ذِكْرَ رَبِّهٖ فَلَبِثَ فِى السِّجْنِ بِضْعَ سِنِيْنَ ࣖ (٤٢)

Dan dia (Yusuf) berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua, “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu..” Maka setan menjadikan dia lupa untuk menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu dia (Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya. (Qs Yusuf ayat 42)

Imam Ath Thobari rohimahullah menafsirkan,

وهذا خبرٌ من الله جل ثناؤه عن غفلة عَرَضت ليوسف من قبل الشيطان، نسي لها ذكر ربه الذي لو به استغاث لأسرع بما هو فيه خلاصه ، ولكنه زلَّ بها فأطال من أجلها في السجن حبسَه، وأوجع لها عقوبته

“Ini pengabaran dari Allah Ta’ala tentang kelalaian Yusuf yang berasal dari setan. Beliau lupa untuk mengingat Robbnya.

Padahal jika beliau beristighotsah kepada-Nya pasti Allah segera membebaskannya. Namun beliau tergelincir sehingga Allah semakin panjangkan penjaranya sebagai sanksi untuknya..” (Tafsir Ath Thobari)

Berharap kepada makhluk dan menyandarkan hati kepada ya hanya membuat penderitaan semakin panjang..

Berharaplah hanya kepada Allah..


Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tips Menghadapi Celaan Manusia

Ibnu Hazm rohimahullah berkata,

الْعقْلُ وَالرَّاحَةُ وَهُوَ إِطْرَاحُ الْمُبَالاَةِ بِكَلَامِ النَّاس وَاسْتِعْمَال المبالاة بِكَلَام الْخَالِق عَزَّ وَجل، بَلْ هَذَا بَاب الْعقل والراحة كلهَا، مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون

Kecerdasan dan tenang (istirahat) adalah dengan sikap :

●  tidak memperdulikan perkataan/komentar manusia, dan
●  memperdulikan/memperhatikan perkataan sang Pencipta ‘Azza wa Jalla.

Ini adalah pintu kecerdasan dan seluruh peristirahatan. Barangsiapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka maka ia adalah orang gila.

[ Al-Akhlaaq wa As-Siyar Fii Mudawaatin Nufuus hal 17 ]

ref : https://bbg-alilmu.com/archives/59216

Menebar Cahaya Sunnah