Terlalu Banyak Yang Terlupakan…

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Meskipun banyak kenikmatan yang kita sadari, akan tetapi masih terlalu banyak yang terlupakan dan terlalaikan.

Bukankah banyak dari organ tubuh yang bergerak dengan sendirinya –diluar kesadaran manusia- demi kemanfaatan badan dan berlangsungnya kehidupan badan ?

Allah berfirman :
وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلا تُبْصِرُونَ

“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS Ad-Dzaariyat : 21)

Sungguh betapa sering kenikmatan Allah giringkan kepadamu –wahai manusia- manjadikanmu menimatinya sementara engkau tidak menyadarinya. Betapa banyak keburukan dan musibah yang Allah tolak darimu sementara engkau tidak menyadarinya.

Allah berfirman tentang penjagaan manusia :

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (QS Ar-Ro’du : 11)

Maka sungguh benar firman Allah :

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS Ibrahim : 34)

Tanda Mencintai Sesama Mukmin…

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Tanda mencintai sesama mukmin nampak pada hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berikut ini, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)

Mencintai bisa jadi berkaitan dengan urusan diin (agama), bisa jadi berkaitan dengan urusan dunia. Rinciannya sebagai berikut.

1- Sangat suka jika dirinya mendapatkan kenikmatan dalam hal agama, maka wajib baginya mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya mendapatkan hal itu. Jika kecintaan seperti itu tidak ada, maka imannya berarti dinafikan sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Jika seseorang suka melakukan perkara wajib ataukah sunnah, maka ia suka saudaranya pun bisa melakukan semisal itu. Begitu pula dalam hal meninggalkan yang haram. Jika ia suka dirinya meninggalkan yang haram, maka ia suka pada suadaranya demikian. Jika ia tidak menyukai saudaranya seperti itu, maka ternafikan kesempurnaan iman yang wajib.

Termasuk dalam hal pertama ini adalah suka saudaranya mendapatkan hidayah, memahami akidah, dijauhkan dari kebid’ahan, seperti itu dihukumi wajib karena ia suka jika ia sendiri mendapatkannya.

2- Sangat suka jika dirinya memperoleh dunia, maka ia suka saudaranya mendapatkan hal itu pula. Namun untuk kecintaan kedua ini dihukumi sunnah. Misalnya, suka jika saudaranya diberi keluasan rezeki sebagaimana ia pun suka dirinya demikian, maka dihukumi sunnah. Begitu juga suka saudaranya mendapatkan harta, kedudukan, dan kenikmatan dunia lainnya, hal seperti ini dihukumi sunnah.

Kesimpulannya, mencintai orang mukmin sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri jika berkaitan dengan hal dunia, dihukumi sunnah. Sedangkan jika berkaitan dengan hal agama, dihukumi wajib mencintai saudaranya semisal yang kita peroleh.

Semoga Allah memberikan kita taufik untuk mencintai saudara kita yang beriman sebagaimana kita suka mendapatkan hal yang sama.

Bolehkah Mengatakan Ini Hanyalah Kebetulan?

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Bolehkah kita mengatakan “wah, kebetulan sekali kita bertemu” atau kalimat semacam itu?

Kalau kita menyatakan kebetulan dengan maksud bahwa hal itu terjadi tidak dengan takdir Allah, maka jelas keliru karena Allah sudah menakdirkan atau menetapkan itu sebelumnya. Tak mungkin Allah mengetahui belakangan atau secara kebetulan mengetahuinya.

Perlu dipahami: rukun beriman pada takdir ada empat yaitu kita meyakini Allah mengetahui segala peristiwa sebelum terjadi, Allah telah mencatatnya, Allah menghendakinya, dan Allah menciptakannya.

Penjelasan lengkapnya adalah keterangan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berikut.

Misalnya ada yang bertanya, “Wahai Syaikh, tadi engkau mengatakan ujian yang diajukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah secara kebetulan. Apakah pernyataan kebetulan itu dilihat dari kita –selaku manusia- ataukah dilihat dari perbuatan Allah?”

Jawabnya, “Tidak mungkin kita mengatakan bahwa perbuatan Allah itu kebetulan. Karena Allah Ta’ala telah mengetahui sesuatu sebelum terjadi. Akan tetapi jika dipandang dari sisi manusia, maka kebetulan itu mungkin. Penyebutan seperti itu seringkali kita temukan dalam sunnah dengan disebut ‘kebetulan ini dan itu’. Seperti itu tidaklah masalah.

Misalnya ada yang bertanya lagi, “Bolehkah engkau berkata ‘aku telah bertemu denganmu hari ini secara kebetulan’?

Jawabnya, “Seperti itu tidaklah masalah. Karena memang dilihat dari sisi kita sebagai manusia, pertemuan ketika itu memang kebetulan, tak direncanakan sebelumnya.” (Syarh Shahih Al Bukhari, 1: 129).

Semoga bermanfaat.

Memikirkan Kapan Datangnya Pertolongan Allah…

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Ketika melihat kondisi saudara-saudara kita seiman di Suriah, Palestina yang di zholimi oleh Yahudi, Syi’ah dll, kadang timbul pikiran kapan pertolongan Allah akan tiba untuk mereka.

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى   berikut ini (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

 

Belum Dapat Hidayah… Begitu Katanya…

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Ada seseorang yang bila di ajak untuk melakukan ketaatan kepada Allah, ia menolak dengan alasan belum dapat hidayah dari Allah. Bagaimana menyikapinya ?

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى   berikut ini (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

SATU Ucapan Salam Dengan 30 Kebaikan…

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Pernah ada seseorang datang kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan dia mengucapkan: “Assalamualaikum”, maka beliau menjawab salamnya, lalu duduk. Maka Nabi -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan: “SEPULUH (kebaikan).”

Kemudian datang orang lain, dan dia mengucapkan: “Assalamualaikum warohmatulloh”, maka beliau menjawab salamnya, lalu duduk. Maka beliau mengatakan: “DUA PULUH (kebaikan).”

Kemudian datang orang lain lagi, dan dia mengucapkan: “Assalamualaikum warohmatulloh wabarokatuh”, maka beliau menjawab salamnya, lalu duduk. Maka beliau mengatakan: “TIGA PULUH (kebaikan).”

[HR. Albaihaqi dalam Al-Adab: 214, Syeikh Muqbil mengatakan: hadits hasan sesuai syaratnya Imam Muslim].

———

Subhanallah… Begitu Maha Pemurahnya Allah ta’ala terhadap hambanya… Tinggal Anda sekarang, apakah Anda “pemurah” terhadap diri Anda sendiri?!

Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Barangsiapa yg beramal saleh, maka itu untuk dirinya sendiri”. [QS. Fush-shilat: 46].

Ketika Dalam Kesulitan Ekonomi, Apakah Do’a Minta Harta Atau Ilmu ?

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Ketika seseorang dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan, do’a apakah yang sebaiknya dipanjatkan ? apakah minta harta atau ilmu ?

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى   berikut ini (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Melakukan Maksiat Karena Takdir..?

Bagaimana menyikapi orang yang melakukan kemaksiatan dan dia menganggap perbuatan maksiatnya itu karena memang sudah ditakdirkan Allah.

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

 

Menebar Cahaya Sunnah