Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Bila ada orang berbuat keburukan kepada kita, bolehkah kita membalasnya dengan balasan yang setimpal ?
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى sebagai berikut :
Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Bila ada orang berbuat keburukan kepada kita, bolehkah kita membalasnya dengan balasan yang setimpal ?
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى sebagai berikut :
Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Bila kita melihat suatu kemungkaran atau maksiat, yang mana itu mungkin berupa ujian terhadap orang tersebut, bagaimana sikap kita dan apakah do’a yang diucapkan ?
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى sebagai berikut :
Sahabat Uqbah bin Aamir -rodhiallohu ‘anhu- pernah bertanya: “Apakah (kunci) keselamatan itu ?”
Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengatakan: “Kendalikanlah lisanmu, jadikanlah rumahmu lapang untukmu, dan menangislah karena dosamu.”
[HR. Ahmad dan Attirmidzi, dihasankan oleh Attirmidzi dan Syeikh Albani].
——–
Dalam hadits ini Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menyebutkan bahwa keselamatan itu bisa diraih dengan 3 hal:
1. Menjaga lisan dari perkataan yang mendatangkan dosa, maupun bahaya dari orang lain. Hendaklah seseorang tidak mengatakan kecuali kebaikan, sebagaimana dalam hadits lain.
2. Sebisa mungkin untuk selalu di rumah, kecuali bila ada kebutuhan untuk keluar rumah… Karena dengan begitu seseorang akan semakin memperhatikan keluarganya, dan dapat mengurangi kemungkinan berbuat salah kepada orang lain.
3. Menyesali dosa-dosa yang telah dia perbuat, dia menangis dan bersimpuh di hadapan Allah meminta ampun kepadaNya, sehingga dengannya dia terhindar dari murka Allah dan selamat di dunia dan akheratnya, wallohu a’lam.
Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
Ustadz Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Terdapat banyak hadis yang menyebutkan keutamaan cincin akik, namun semuanya tidak shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, alias palsu. Berikut diantara hadis-hadis tersebut,
Hadis pertama,
تختموا بالعقيق فإنه مبارك
Pakailah cincin akik, karena akik itu diberkahi
Hadis kedua,
تختموا بالعقيق فإنه ينفي الفقر
Pakailah cincin akik, karena cincin akik mengurangi kefakiran.
Sebagian ulama menjalskan, maksudnya, ketika seseorang memiliki akik, kemudian dia membutuhkan uang, dia bisa jual akiknya. Sehingga dia tidak harus berutang.
Hadis ketiga,
تختموا بالعقيق فإنه أنجح للأمر واليمنى أحق بالزينة
Pakailah cincin akik, karena akik membuat sukses urusan. Dan tangan kanan lebih berhak untuk diberi perhiasan.
Hadis keempat,
تختموا بالعقيق فإن جبريل أتاني به من الجنة وقال لي يا محمد تختم بالعقيق وأمر أمتك أن تتختم به
Pakailah cincin akik, karena jibril mendatangiku dengan membawa akik dari surga. Beliau berpesan, ‘Hai Muhammad, pakailah akik, dan perintahkan umatmu untuk memakai cincin akik.’
Hadis kelima,
تختموا بالخواتم العقيق فإنه لا يصيب أحدكم غم ما دام عليه
Pakailah cincin-cincin akik, karena kalian tidak akan pernah merasa sedih selama memakai cincin akik.
Hadis-hadis di atas disebutkan oleh al-Ajluni dalam kitab Kasyf al-Khafa, yang hampir semuanya beliau komentari: ‘Maudhu’ (Hadis palsu). Hingga beliau menyebutkan kesimpulan yang disampaikan al-Uqaili tentang masalah hadis akik,
لا يثبت في هذا عن النبي صلى الله عليه وسلم شئ
Tidak ada satupun hadis shahih tentang akik dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Kasyf al-Khafa, 1/300).
Untuk itu, bagi anda pengagum akik, hindari klaim tentang keutamaan akik dan anjuran memakai akik. Karena hadis yang menyebutkan hal ini statusnya palsu.
Hindari Pemborosan :
Barangkali sejarah anthurium berulang. Masyarakat gila tren dedaunan, hingga rela mengosongkan sakunya. Begitu suasana ini hilang akibat diempas kilauan warna-warni daun aglaonema, hilang pula kehormatan anthurium.
Terkadang kita perlu menyadari, mengapa ekonomi kita begitu tergantung dengan tren dan hobi, yang itu umumnya usianya sangat pendek. Dulu kita juga dipermainkan dengan ikan lohan. Anda bisa saksikan, berapa lama masa kejayaan tanaman dan ikan hias itu. Begitu harganya hilang, semua tinggal kenangan dan penyesalan.
Tentu saja kita tidak berharap hal ini terulang untuk komoditas apapun. Sehingga kita hanya menjadi bulan-bulanan komunitas yang tidak jelas. Kita bisa menyadari, berapa lama hobi dan tren bisa bertahan di hati manusia yang sangat rentan dengan kebosanan.
Kita memohon kepada Allah, semoga kita tidak menjadi budak hobi.
Demikian, Allahu a’lam
Ref : http://www.konsultasisyariah.com/hadis-palsu-seputar-akik/
Muslimah.or.id/Ummu Muhammad hafizhohallahu ta’ala
Di kalangan wanita ada yang mengeluarkan darah dari farji’ (vagina)-nya di luar kebiasaan bulanan dan bukan karena sebab kelahiran. Darah ini diistilahkan sebagai darah istihadlah. Al Imam An Nawawi rahimahullaah dalam penjelasaannya terhadap Shahih Muslim mengatakan: “Istihadlah adalah darah yang mengalir dari kemaluan wanita bukan pada waktunya dan keluarnya dari urat.” (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi 4/17, Fathul Bari 1/511).
Bagaimana hukum Istidadlah ? dan apakah wanita yang mengalaminya meneruskan atau menghentikan sholat sebagaimana ketika mengalami haidl ?
Silahkan baca selengkapnya :
http://muslimah.or.id/fikih/hukum-seputar-darah-wanita-istihadlah.html
Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى
Sobat! Mungkin anda sering berkeluh kesah dan berkata: aduuh, susahnya hidup di masyarakat yang majemuk. Ada yang rajin sholat, namun banyak juga yang pemabok. Ada yang jujur namun tidak jarang pendusta, ada yang berjilbab namun banyak pula yang mengumbar auratnya. Ada yang berilmu dan dermawan namun betapa banyak yang bodoh dan pelit bahkan rakus. Bahkan ada yang muslim, namun banyak pula yang musyrik penganut agama-agama selain Islam.
Selanjutnya anda berangan angan: Duhai indahnya hidup di komplek orang orang baik. Semua masyarakat rajin sholat berjamaah di masjid, wanitanya menutup aurat, jujur, dan dermawan semua.
Sobat, apa yang anda ucapkan benar adanya, hidup di tengah tengah masyarakat yang majemuk memang berat. Sepanjang waktu, anda diuji dengan kehadiran mereka, diuji dengan orang kafir yang menjadi tetangga anda. Mereka menceritakan dan bahkan mendakwahi anda, dan diuji dengan pendusta, sehingga betapa sering anda menjadi korban penipuannya. Sebagaimana anda juga diuji dengan orang-orang jahat yang tidak ragu ragu untuk mengusik dan menggangu ketenangan anda.
Demikianlah faktanya, sehingga anda dituntut untuk sabar menghadapi mereka. Bila anda tidak sabar sudah dapat dipastikan diri anda sendirilah yang benar benar paling celaka.
Sabar dengan manahan amarah, sabar dengan mengajari yang bodoh, sabar dengan menyantuni yang lemah, sabar dengan tetap tabah dan istiqamah sebagai orang baik, dermawan, jujur dan amanah.
Namun bila anda tidak sabar, maka anda akan marah, mengamuk dan hanyut oleh arus orang-orang buruk dan berputus asa. Demikianlah ketentuan Allah yang belaku di dunia ini, siapapun anda maka anda pasti dicoba dengan seluruh orang yang ada disekitar anda. Dan siapapun diri anda, maka ketahuilah bahwa anda adalah cobaan bagi semua orang disekitar anda.
Hanya dengan berbekalkan sabar anda dapat selamat dan istiqamah, Allah Ta’ala berfirman:
وَما أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا الفرقان ٢٠
“Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasulpun sebelummu melainkan mereka itu pastilah makan makanan dan berjalan di pasar. Dan Kami menjadikan sebagian dari kalian sebagai ujian bagi sebagian lainnya apakah kalian bersabar, dan Tuhan-mu itu Maha Melihat.” (Al Furqan 20)
Dan kalaupun anda tinggal di komplek orang – orang baik, maka mereka juga cobaan bagi anda. Apakah anda bisa meneladani ketekunan dan keuletan mereka dalam kebaikan?
Anda bisa bayangkan, bila anda berada di tengah tengah orang dermawan yang ringan tangan bersedekah bukan hanya dengan jutaan bahkan milyaran, maka anda bisa jadi merasa gengsi bila bersedekah dengan seribu rupiah, sehingga anda “TERPAKSA” mengimbangi kedermawan mereka. Bila itu tejadi maka anda akan binasa karena ternyata tidak ikhlas dalam bersedekah.
Bila imam masjid mereka sholat tarawih dengan membaca surat-surat yang panjang, bisa jadi menyebabkan anda merasa berat untuk berjamaah sholat tarawih di masjid bersama mereka.
Atau bisa jadi anda tidak kuasa menahan kecemburuan hati anda tatkala melihat orang lain lebih berilmu, lebih lancar rejekinya, lebih banyak sedekahnya, lebih banyak amal ibadahnya, lebih banyak disanjung oleh orang.
Bila ternyata anda hidup di tengah tengah orang -orang yang rajin menuntut ilmu, maka mereka pasti akan banyak mengadakan kegiatan kajian dan yang serupa. Mereka bekerja seperlunya, dan hidup di dunia sederhana, jauh dari kemewahan dan gemerlap hidup dunia.
Mereka puas dengan mengendarai motor atau kendaraan butut, menghuni rumah sederhana dan makan ala kadarnya.
Bisa jadi anda merasa kelelahan mengikuti keuletan mereka dalam menuntut ilmu, hingga akhirnya anda mundur secara teratur, dan kemunduran anda bisa jadi menyebabkan mereka sedikit demi sedikit turut mundur secara teratur, dan demikian seterusnya.
Mungkin dalam kondisi ini anda berkata: kalau saya mengikuti mereka, kapan saya bisa bekeja mencari kekayaan guna membangun rumah yang megah, membeli kendaraan yang mewah dan menikmati berbagai kenikmatan dunia?
Hidup bersama orang-orang baik ternyata tidak mudah, karena itu Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya untuk membekali dirinya dengan kesabaran agar dapat hidup bersama orang-orang yang rajin beribadah. Allah Ta’ala berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِالدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Dan bersabarlah engkau (wahai Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di waktu pagi dan di waktu petang karena mengharap keridhaan Allah. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka, karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya sehingga segala urusanya telah melampaui batas.” (Al Kahfi 28)
Sobat! Bila demikian halnya, apa yang akan anda lakukan?
Hanya ada satu solusi, yaitu sabar dalam menjalankan kebaikan, sabar sehingga tidak terpengaruh dengan perilaku orang yang buruk, sabar meneladani orang baik, dan sabar dengan senantiasa puas dengan apa yang telah anda dapatkan, inilah kebahagian yang sejatinya selama ini anda kejar dan anda cari.
Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى
Bismillah.
قال أَبَو حَاتِمٍ الطَّبَرِي : سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ الشِّبْلِيَّ ، يَقُولُ فِي وَصِيَّتِهِ : ” إنْ أَرَدْتَ أنْ تَنْظُرَ إِلَى الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا ، فَانْظُرْ إِلَى مَزْبَلَةٍ ، فَهِيَ الدُّنْيَا ، وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَنْظُرَ إِلَى نَفْسِكَ ، فَخُذْ كَفًّا مِنْ تُرَابٍ ، فَإِنَّكَ مِنْهَا خُلِقْتَ ، وَفِيهَا تَعُودُ ، وَمِنْهَا تَخْرُجُ ، وَمَتَى أَرَدْتَ أَنْ تَنْظُرَ إِلَى مَا أَنْتَ ، فَانْظُرْ إِلَى مَا يَخْرُجُ مِنْكَ فِي دُخُولِكَ الْخَلَاءَ ، فَمَنْ كَانَ حَالُهُ كَذَلِكَ ، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَتَطَاوَلَ ، أَو يَتَكَبَّرَ عَلَى مَنْ هُوَ مِثْلُهُ ” .
» Abu Hatim Ath-Thobari rahimahullah berkata: Aku pernah mendengar Abu Bakar Asy-Syibli rahimahullah mengatakan dalam wasiatnya:
» “Jika engkau ingin melihat dunia dengan segala kemewahannya, maka lihatlah tempat pembuangan sampah, karena seperti itulah dunia.
» Jika engkau ingin melihat hakekat dirimu, maka ambillah segenggam debu (tanah), karena engkau diciptakan darinya, dan engkau akan kembali di dalamnya (baca: mati dan dikubur di dalamnya, pent), dan darinya pula (yakni dari alam kubur) engkau akan keluar (pada hari kebangkitan, pent).
» Dan jika engkau ingin melihat keadaan dirimu, maka lihatlah apa yang keluar dari (perut)mu ketika engkau masuk wc.
Maka, barangsiapa keadaannya seperti itu, maka tidak boleh baginya merasa lebih tinggi dan sombong kepada orang-orang yang sama dengan dirinya.” (Lihat Shifatu Ash-Shofwah, karya Ibnul Jauzi II/459).
Demikian Faedah Ilmiyah dan Mau’izhoh Hasanah pada hari ini. Semoga bermanfaat. Dan semoga kita menjadi hamba ALLAH yg selalu bertakwa kepada-Nya dan tawadhu’ (rendah hati) kepada sesama muslim dan muslimah. Amiin. (Jakarta, 30 Januari 2015).
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى
Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba’du;
Allah Ta’ala telah memberikan kemuliaan kepada Nabi muhammad Sallallahu alaihi wa sallam dengan wahyu dan diutus kepada seluruh umat manusia sebagai sosok pendidik dan murobbi yang membawa kabar peringatan dan kabar gembira, menerangi umat dengan cahaya, sehingga membawa perubahan dan tersebar nya kebenaran dan keadilan.
Para sahabat radhiyallahu anhum telah menimba ilmu dan berguru sehingga menjadi umat terbaik sebagai mana disaksikan didalam Al-Qur’an Al-Karim, dan diikuti umat setelah mereka dari kalangan para Ta’biin dan Atba’ Ta’biin sehingga meraih keridhoan Allah Ta’ala.
Adapun generasi akhir, muncul perubahan dan sengaja mengubah, sehingga mengutamakan dunia atas akhirat nya, dan terjerumus ke dalam larangan dan meninggalkan kewajiban hingga menyeret mereka kedalam kehinaan dan kemunduran sehingga musuh musuh islam berlomba menyerbu dan menguasai mereka.
Tiada jalan kembali untuk meraih izzah dan kemuliaan kecuali dengan menyusuri jalan para salaf dengan kembali ke agama islam yang murni dari segala campuran, dan berpegang teguh dengan Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyah serta berpegang dengan manhaj As-Salaf As-Sholih.
Allah Ta’ala berfirman, ” Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia “. ( QS Ar-Ra’ad 11 ).
Perubahan seseorang tidak akan berarti kecuali selaras dengan apa yang dilakukan para generasi salaf yang disana terdapat beberapa pokok sebagai berikut :
* Menjadikan wahyu Al-Kitab dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup dan sumber hukum yang wahyu tersebut terbebas dari segala kekeliruan, kesalahan, dan perubahan.
* Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para sahabat dan Salafus-Sholih yang telah mendapatkan rekomendasi dari Allah Ta’ala.
* Ikhlas dalam menimba ilmu agama semata mata mencari ridho Allah Ta’ala murni karena agama yang lurus, sehingga mendapatkan keberkahan ilmu, mensucikan jiwa, dan membawa manfaat di dunia dan akhirat.
* Mengutamakan yang paling utama yaitu mendalami pondasi dan asas akidah islam yang mencakup pengenalan terhadap Robb Yang disembah, perkara keimanan, keyakinan tentang kehidupan akhirat, mengenal Nabi Nya, dan mengenal agama Nya secara mendalam dan menyeluruh.
Diceritakan oleh Ummul Mukminin A’isyah radhiyallahu anha, ia berkata, “Dahulu pertama kali turun ayat dari Al-Qur’an Al-Karim adalah ayat ayat pendek yang mengisahkan tentang surga dan neraka, hingga para manusia banyak masuk agama islam, diajarkan kepada mereka tentang halal dan haram, sekiranya perkara halal dan haram turun di awal ajaran islam, niscaya para manusia tatkala dilarang khomer, mereka akan berkata, “kami tidak akan meninggalkan khomer selama nya,…dan sungguh dahulu turun ayat kepada Nabi Sallallahu alaihi wa sallam ketika itu aku masih kecil sedang senang bermain, yaitu firman Allah Ta’ala, “Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit “. ( QS Al-Qomar 46 ) .
Dan tidaklah turun surat Al-Baqarah, surat An-Nisa ‘ kecuali aku berada disamping beliau Sallallahu alaihi wa sallam “. ( HR Bukhary ).
* Mengagungkan ilmu dan memuliakan nya, serta memahami bahwa menuntut ilmu merupakan suatu ibadah yang mulia disisi Allah Ta’ala.
Sehingga dengan demikian akan muncul ihtirom dan penghormatan kepada para ulama dan ahli ilmu dan senantiasa beradab dan bersopan santun dihadapan mereka para pewaris Nabi Sallallahu alaihi wa sallam.
* Bersandar kepada manhaj ilmiah yang dibangun diatas wahyu dan dalil yang sohih, dan menghindari perilaku taklid, mengikuti prasangka, maupun cerita cerita yang tidak mendasar baik dalam akidah, keyakinan, ibadah, akhlak, pemikiran.
* Menjadikan tujuan tarbiyah dan menuntut ilmu semata mata agar dapat nenggapai maqom berserah diri dan tunduk kepada perintah Allah Ta’ala, sehingga ia memiliki akidah yang kuat dan ibadah yang sempurna dan senantiasa konsisten terhadap aturan aturan agama.
* Mengikat antara hakikat ilmiah dengan hakikat imaniyah, dan menancapkan akidah yang mendalam disela sela mengajarkan ilmu dan tarbiyah, sehingga tidak terancam larangan Allah Ta’ala dalam firman Nya, ” Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai “. ( QS Ar-Ruum 7 ).
* Hendaknya seorang muallim dapat memberikan kudwah hasanah bagi umatnya, sehingga antara ucapan dan perbuatan maupun tingkah lakunya tidak bertolak belakang.
* Bersikap lemah lembut, dikarenakan tidak dijumpai lemah lembut dalam suatu urusan kecuali akan menghasi nya dan menjadikan sesuatu tersebut menjadi indah.
Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda, ” Sesungguhnya Allah Ta’ala menyukai kelemah lembutan dalam segala urusan semua nya ” ( HR Ahmad dan Bukhary dan Muslim )
Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى
Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan untuknya..
maka Allah jadikan ia faqih tentang agama..
HR Muslim..
Bila kita semangat dalam mencari ilmu Allah..
bersyukurlah..
karena Dia menginginkan kebaikan untuk kita..
namun..
bila kita malas bahkan tak ada keinginan..
ucapkan: innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’un..
karena itu musibah untuk diri kita..
Muthorrif bin ‘Abdillah (w 87 H) mengatakan:
“Aku merenungkan, apakah yang mengumpulkan semua kebaikan..?
Ternyata semua kebaikan adalah dengan banyaknya puasa dan sholat, dan ternyata banyaknya puasa dan sholat itu di Tangan Allah ‘azza wajall..
Dan ternyata engkau tidak mendapatkan apa yang di tangan Allah ‘azza wajall, kecuali dengan MEMINTA kepada-Nya, sehingga Dia memberikannya kepadamu.
Jadi ternyata yang mengumpulkan semua kebaikan adalah DO’A..
[Kitab: Azzuhd, Imam Ahmad, hal: 241]
————
Do’a, amal yang sangat ringan, sangat besar manfaatnya, namun sedikit yang memperhatikannya dengan semestinya, semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, amin.
Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
da290115-1331