Nabi Pun Berlindung Kepada ALLAH Dari EMPAT KEBURUKAN…

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم : « كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْ أَرْبَعٍ , مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ , وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ , وَدُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ ,وَنَفْسٍ لَا تَشْبَعُ

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu anhuma, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam berlindung dari empat perkara (yaitu): (1) Ilmu yang tidak bermanfaat, (2) Hati yang tidak khusyu’, (3) Doa yang tidak didengar, (4) Jiwa yang tidak kenyang.”

(Diriwayatkan oleh An-Nasa’i VIII/254 no.5442, dan Ahmad III/283 no.14055).

DERAJAT HADITS: Hadits ini derajatnya SHOHIH.

Syaikh Al-Albani berkata: “Hadits ini SHOHIH.” (Lihat Shohih Al-Jami’ no.1286, 1295, 1297 dan1308, Shohih wa Dho’if Sunan An-Nasa’i II/442 no.5442).

BEBERAPA PELAJARAN DAN FAEDAH YANG TERKANDUNG DI DALAM HADITS INI:

1. Anjuran kepada kita agar senantiasa berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah ta’ala dari empat perkara yang disebutkan di dalam hadits ini.

2. Di dalam hadits ini terdapat petunjuk bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam banyak berlindung kepada Allah dari empat keburukan, padahal beliau adalah hamba Allah yang paling bertakwa dan telah mendapat jaminan dari Allah berupa pengampunan terhadap dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang. Maka kita sebagai umatnya yang menginginkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat agar semakin semangat dalam memperbanyak bacaan doa tersebut.

3. Empat perkara yang sering diucapkan oleh Nabi di dalam doa beliau agar Allah melindungi diri beliau dari keburukan-keburukannya adalah sebagai berikut:

Pertama: Ilmu yang tidak bermanfaat. Yang dimaksud ilmu yang tidak bermanfaat ialah ilmu yang tidak mendatangkan manfaat bagi pemiliknya di dunia dan akhirat. Akan tetapi justru ilmu tersebut menjadi bencana dan penyebab kesengsaraan dan kebinasaannya.

Dengan sebab ilmu tersebut dia menjadi orang yang tersesat di dunia dari jalan Allah yang lurus, dan di akhirat menyebabkan dirinya disiksa oleh Allah di alam kubur maupun di dalam api neraka. Nau’udzu billah min dzalik.

Beberapa ilmu yang tidak bermanfaat bagi pemiliknya adalah sebagai berikut:

a. Ilmu Sihir. Mempelajari, mengajarkan dan mempraktekkan ilmu ini hukumnya haram, dan bahkan merupakan kekufuran. Allah ta’ala berfirman:

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia…”. (QS. Al Baqarah 102)

b. Ilmu Kalam dan Ilmu Filsafat. Ilmu ini termasuk ilmu yang tidak bermanfaat karena banyak mudharatnya. Bahkan dapat menjerumuskan orang yang mempelajarinya ke dalam keragu-raguan terhadap suatu kebenaran, kebingungan dan b. Ilmu Kalam dan Ilmu Filsafat. Ilmu ini termasuk ilmu yang tidak bermanfaat karena banyak mudharatnya. Bahkan dapat menjerumuskan orang yang mempelajarinya ke dalam keragu-raguan terhadap suatu kebenaran, kebingungan dan kesesatan.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Tidak akan beruntung selama-lamanya ahli ilmu kalam”.

Imam Syafi’i menegaskan: “Hukuman yang saya tetapkan bagi para ahli ilmu kalam adalah mereka diarak mengelilingi kabilah-kabilah dan dikatakan kepada mereka, ‘ini balasan bagi orang meninggalkan Al-Quran dan As-Sunnah serta menyibukkan diri dengan ilmu Kalam’.”

Imam Malik mengatakan: “Seandainya ilmu Kalam termasuk kategori ilmu (yang disyariatkan) maka tentu para sahabat yang lebih dahulu membahasnya, akan tetapi ilmu Kalam adalah sebuah kebatilan dan mengajak pada kebatilan”.

c. Termasuk ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu syar’i yang bersumber dari Al Quran dan As-Sunnah namun pemiliknya tidak mengambil manfaat darinya; tidak diamalkan, tidak diajarkan dan tidak merubah perangai dan akhlaknya. Bahkan aqidah, ibadah dan muamalahnya bertentangan dengan ilmu syar’i yang dimilikinya itu.

Seorang ulama tabi’in yang bernama Hasan Al-Bashri pernah mengatakan: “Ilmu itu ada dua macam: ilmu yang ada dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat, dan ilmu yang hanya ada pada lisan yang merupakan alasan bagi Allah untuk menyiksa seorang hamba”.

Kedua: Hati yang tidak khusyu’. Hati yang tidak khusyu’ adalah hati yang tidak mampu menghayati dan merenungkan ayat-ayat Allah dan tidak merasakan ketenangan di dalam hatinya pada saat berdzikir kepada Allah, serta tidak merasa takut kepada-Nya.

Allah ta’ala berfirman dalam beberapa ayat Al-Qur’an tentang ciri-ciri orang yang beriman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’ad : 28)

Di dalam ayat yang lain Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan hanya kepada Rabblah mereka bertawakkal.” (QS. Al Anfaal : 2)

Ketiga: Doa yang tidak didengarkan oleh Allah. Jika kita berdoa kepada Allah dengan meminta segala hajat dunia dan akhirat, dan ternyata Allah tidak mendengar doa dan permohonan kita, apalagi mengabulkannya, maka ini termasuk musibah dan kerugian yang paling besar yang menimpa kita. sebab kita semua adalah hamba-hamba-Nya yang sangat fakir di hadapan-Nya.

Doa atau permohonan seorang hamba tidak didengar oleh Allah disebabkan beberapa hal, di antaranya:

a. Tidak ikhlas dalam berdoa.

b. Doa untuk perbuatan dosa dan memotong tali silaturahim.

c. Tergesa-gesa agar Allah segera mengabulkan doanya.

d. Memperoleh harta dengan cara yang haram, serta mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram.

e. Meninggalkan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar.

Keempat: Jiwa yang tidak kenyang. Maksudnya adalah jiwa yang tidak pernah merasa qona’ah (puas dan cukup) dan tidak bersyukur atas segala nikmat duniawi yang Allah anugerahkan kepadanya. Adapun tidak pernah merasa puas terhadap kenikmatan ukhrawi dan ingin agar selalu ditambahkan kepadanya, maka hal tersebut tidak tercela, bahkan sangat terpuji dan diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya, sebagaimana firman Allah:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“…dan katakanlah: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan (yang bermanfaat, pent).” (QS. Thaha : 114)

Demikian beberapa pelajaran penting yang dapat kita petik dari hadits ini. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat, dan mudah-mudahan Allah ta’ala melindungi kita semua dari empat keburukan ini dan keburukan-keburukan lainnya di dunia dan akhirat. Amiin.

Ayat Yang Paling “Menakutkan” Untuk Para Ulama…

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Imamnya para ahli tafsir Ibnu Jarir Ath-Thobari rohimahulloh dalam tafsirnya (10/449) mengatakan:

Dahulu para ulama mengatakan: tidak ada dalam Alquran ayat yang lebih ‘menjelekkan’ para ulama dan lebih ‘menakutkan’ mereka, melebihi ayat ini, yakni firman Allah ta’ala:

لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Mengapa para ULAMA dan para pendeta mereka TIDAK melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sungguh AMAT buruk apa yang telah mereka lakukan itu”. [QS. Alma’idah: 63]

———-

Sungguh tindakan membiarkan kemungkaran adalah tindakan yang sangat buruk, bahkan mendatangkan LAKNAT para nabi [QS. Alma’idah: 78-79].

Sebaliknya mengingkari kemungkaran merupakan salah satu sebab umat ini menjadi umat yang TERBAIK. [QS. Alu Imron:110].

Oleh karena itu, bersemangatlah untuk bernahi mungkar, sebagaimana bersemangat dalam beramar ma’ruf…

Tentunya sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing, dan dengan cara yang hikmah.

Semoga Allah memberikan taufiq kita semua dalam menjalankannya, amin.

Siapakah Harut Dan Marut…?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى

Pertanyaan:
‘Afwan, bukankah Harut dan Marut adalah nama dua malaikat?
Mohon penjelasan. Syukron.

Jawaban:
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhamamad, keluarga dan sahabatnya.

Karena ada beberapa teman yang mempertanyakan tentang tentang jati diri Harut dan Marut? Maka saya perlu untuk meluruskan penafsiran hal ini.

Benar, ada sebagian ulama’ beranggapan bahwa dua nama ini adalah nama kedua malaikat yang diturunkan ke bumi untuk diuji.

Kronologinya: Dahulu para Malaikat memperolok-olok dan merasa keheranan dengan tingkah laku umat manusia. Maka Allahpun membuktikan bahwa ulah manusia itu tidak ada yang perlu diherankan, sebab mereka hidup dibekali dengan hawa nafsu. Dan untuk semakin membuktikan akan hal itu, maka Allah meminta agar para malaikat memilih dua orang dari mereka yang hendak diuji dengan diberi hawa nafsu.

Maka merekapun memilih Harut dan Marut, doa malaikat yang paling rajin dan paling bertaqwa. Akan tetapi tatkala keduanya telah diberi hawa nafsu, dan diturunkan di muka bumi, maka keduanya membuat kerusakan seperti yang dilakukan oleh manusia.

Saudaraku! Perlu diketahui bahwa kisah ini TIDAK BENAR adanya, karena alasan berikut:

1. Kisah ini bersumber dari bani israil (israiliyat) sehingga tidak layak untuk diambil. Setelah Ibnu Katsir merinci berbagai riwayat yang menjadi dasar anggapan ini, beliau menyimpulkan: “Dari ini semua, terbukti bahwa kisah ini bersumber dari penuturan Ka’ab Al Ahbar, yang pada gilirannya ia menukilkannya dari kitab-kitab Bani Israil.”. (Tafsir Ibnu Katsir 1/355)

Pada kesempatan lain, beliau berkata : “Singkat kata, perincian cerita itu bersumberkan dari dongeng-dongeng Bani Israil, karena tidak pernah ada satupun hadits shahih dari Nabi Muhammad, yang memiliki sifat ma’shum (terlindung dari kesalahan) dan yang tidak berkata-kata atas dasar hawa nafsunya.’ (Tafsir Ibnu Katsir 1/360)

2. Malaikat adalah makhluq Allah yang taat dan patuh kepada Allah Ta’ala, sehingga tidak mungkin dan tidak masuk di akal bila ada oknum dari mereka yang mengajarkan ilmu sihir kepada manusia. Padahal kita semua tahu, bahwa ilmu sihir adalah kekufuran. Sehingga penafsiran ini nyata-nyata bertentangan dengan firman Allah Ta’ala pada surat Al A’araf 206, & Al Anbiya’ 26-27.

Terlebih-lebih menurut kisah-kisah Israiliyat yang ada, kedua malaikat yang diturunkan ke bumi itu ternyata adalah malaikat Jibril dan Mikail. Tentu ini adalah suatu hal aneh dan tidak dapat diterima nalar sehat.

Oleh karena itu, Ibnu Katsir dan juga lainnya menegaskan bahwa penafsiran yang benar dalam hal ini, Harut dan Marut adalah nama dua orang yang tinggal di negri Babil (Iraq). Keduanya mengajarkan sihir kepada masyarakat kala itu. Setelah usai menjelaskan maka ini, Ibnu Katsir berkata : “Inilah pernafsiran yang paling tepat  dan benar, karenanya tidak perlu merisaukan pendapat-pendapat lainnya.”  (tafsir Ibnu Katsir 1/351)

Wallahu Ta’ala a’alam

Di Manapun Kita Bershalawat Tetap Sampai…

Ust. M Abduh Tuasikal, MSc حفظه الله تعالى

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِى عِيدًا وَصَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِى حَيْثُ كُنْتُمْ

“Janganlah jadikan rumahmu seperti kubur, janganlah jadikan kubur sebagai ‘ied, sampaikanlah shalawat kepadaku karena shalawat kalian akan sampai padaku di mana saja kalian berada.” (HR. Abu Daud no. 2042 dan Ahmad 2: 367. Hadits ini shahih dilihat dari berbagai jalan penguat, sebagaimana komentar Syaikh ‘Abdul Qodir Al Arnauth dalam catatan kaki Kitab Tauhid, hal. 89-90).

Mengenai hadits tentang sampainya shalawat pada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- disebutkan oleh Abul ‘Abbas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,

فَأَخْبَرَ أَنَّهُ يَسْمَعُ الصَّلَاةَ وَالسَّلَامَ مِنْ الْقَرِيبِ وَأَنَّهُ يَبْلُغُهُ ذَلِكَ مِنْ الْبَعِيدِ

“Hadits tersebut mengabarkan bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mendengar shalawat dan salam dari dekat, begitu pula yang jauh sekali pun.” (Majmu’ Al Fatawa, 26: 147)

Di tempat lain dalam Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah berkata,

فَالصَّلَاةُ تَصِلُ إلَيْهِ مِنْ الْبَعِيدِ كَمَا تَصِلُ إلَيْهِ مِنْ الْقَرِيبِ

“Shalawat akan sampai kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- walau dari jauh sekali pun sebagaimana yang dari dekat pun sampai.” (Majmu’ Al Fatawa, 27: 322)

Ibnu Taimiyah rahimahullah juga mengatakan,

فَمَا أَنْتَ وَرَجُلٌ بِالْأَنْدَلُسِ مِنْهُ إلَّا سَوَاءٌ

“Engkau dan orang yang berada di Andalus (di masa silam: Spanyol) itu sama (dalam sampainya shalawat).” (Majmu’ Al Fatawa, 1: 238)

Baca selengkapnya:
http://rumaysho.com/aqidah/meski-jauh-shalawat-tetap-sampai-pada-nabi-3059

Di Do’a-kan Malaikat, Mau ?

Ustadz Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Saudaraku yang budiman, menjenguk orang sakit adalah amalan khusus yang bisa dilakukan seorang hamba sehingga malaikat mendoakannya,

Adakah saudara kita hari ini terbaring sakit, maka kunjungi dan jenguklah, senangkan dan hibur hatinya serta doakan kesembuhan untuknya, maka ini adalah amalan mulia dan bisa menjadi sebab malaikat mendoakan kita.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

“Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh”

(Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib rodhiAlloohu anhu, Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)

Pernah Zholim Terhadap Orang Lain, Apa Yang Sebaiknya Dilakukan Bila Tidak Sempat Minta Maaf ?

Pernah melakukan perbuatan/zholim terhadap orang lain. Ingin minta maaf namun tidak tahu dimana keberadaan orang tersebut. Apa yang sebaiknya dilakukan ?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini :

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Menebar Cahaya Sunnah