Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Seringkali makna IJMA disalah artikan. Lalu, apa makna IJMA sebenarnya ?
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Seringkali makna IJMA disalah artikan. Lalu, apa makna IJMA sebenarnya ?
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
Sakit hati..
mengapa terus dipelihara.. ?!
tidakkah anda segera mengobatinya..?!
Tidak seperti ketika sakit di badannya.. seringkali seseorang malah ‘memelihara’ sakit hatinya, padahal harusnya dia bisa segera mengobati lara hatinya itu, sebagaimana dia bisa segera mengobati sakit badannya.
Dan diantara OBAT pelipur lara hati yang PALING AMPUH adalah dengan MEMAAFKAN kesalahan orang yang menyakiti kita.. karena itulah sumber dan sebab utama sakitnya hati kita, oleh karenanya ketika sumber sakitnya sudah teratasi, maka tentunya sakit hati kita akan hilang dengan sendirinya.
Seringkali seseorang tidak mau, atau gengsi, atau merasa rugi untuk memaafkan orang lain, padahal sebenarnya dengan begitu dia akan rugi sendiri, karena hatinya akan sakit, tersiksa, dan TERBEBANI terus-menerus.
Seringkali seseorang TIDAK INGIN memaafkan kesalahan orang lain, kecuali bila orang tersebut yang meminta maaf kepadanya, padahal apakah dia akan melakukan hal yang sama saat badannya disakiti orang lain..?! Apakah dia mau menunggu hingga orang lain mau mengobati sakit di badannya..?! Tentunya tidak.
Maafkanlah kesalahan orang lain… karena dia sama sekali tidak akan mampu mengubah TAKDIR Anda..
Maafkanlah dia.. karena Allah menjanjikan pahala yang tiada tara kepada Anda:
“Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya itu Allah (yang menentukannya)” [QS. Asy-Syuro: 40].
Maafkanlah dia.. karena Allah akan mengampuni dosa-dosa Anda:
“Maafkanlah, dan berlapang dadalah..! Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian..?!” [QS. Annur: 22].
Maafkanlah dia.. bersyukurlah kepada Allah, karena Dia telah menjadikan Anda lebih tinggi darinya… Anda yang disalahi, bukan anda yang menyalahi..
Maafkanlah dia, agar sakit hati Anda segera hilang… Agar hati Anda menjadi lapang, ringan, dan bahagia..
Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى
Sobat, kematian adalah satu kepastian yang tidak dapat dihindarkan, siapapun bisa saja wafat, kaya, miskin, tua, muda, raja ataupun rakyat jelata.
Banyak orang sibuk mengikuti berita kematian seseorang, tanpa terkecuali ketika raja Saudi Arabia yaitu Raja Abdullah bin Abdul Aziz meninggal dunia. Dunia gempar, ada yang senang dengan kematiannya dan ada pula yang berduka dengan kematianya.
Lebih jauh sebagian orang bertanya: siapakah raja selanjutnya? Kemanakah harta kekayaannya, bagaimanakah keluarganya, dan masih banyak lagi pertanyaan serupa lainnya.
Namun demikian, adakah dari kita yang berkata: Raja Abdullah bin Abdul Aziz telah dijemput oleh malaikat maut, lalu kapan giliran saya ? Sehari lagi? Dua hari lagi atau berapa lama lagi? Seakan kita lalai, sehingga sikap kita mengesankan bahwa kenikmatan, kesehatan, umur kita akan terus dan tiada pernah putus atau habis.
Aneh memang, kita sibuk memikirkan hal hal yang sudah pasti bukan dan tidak bisa kita dapatkan dan juga bukan urusan kita. Namun ternyata kita lupa untuk memikirkan diri kita, hal yang pasti menimpa kita, yaitu kematian yang pasti, cepat atau lambat menjemput kita sebagaimana telah menjemput Raja Abdullah bin Abdul Aziz.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap jiwa pasti merasakan kematian, sedangkan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan juga dengan kebaikan. Dan kepada Kami-lah kalian pasti kembali.” (Al Anbiya’ 35)
Kini Raja Abdullah bin Abdul Aziz mulai mempertanggung jawabkan seluruh amalannya, dan esok giliran andalah yang juga harus mempertanggung jawabkan amalan anda. Mengapa saat ini seakan anda menjadi malaikat penimbang amalan, dengan menyibukkan diri mengorek dan mengorek amalan Raja Abdullah bin Abdul Aziz namun lalai untuk mengorek amalan anda sendiri?
Tidakkah kita bisa bersikap bijak seperti yang pernah disampaikan oleh Khalifah Umar bin Al Khatthab pada salah satu khutbahnya beikut ini:
حاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْل أَنْ تُوزَنُوا ، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ ، يَوْمَ تُعْرَضُونَ لاَ تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ.
“Hitunglah amalan kalian sendiri sebelum amalan kalian dihitung (dihisab), dan timbanglah amalan kalian sendiri sebelum amalan kalian ditimbang dan berhiaslah untuk menghadapi hari yang seluruh manusia dihadapkan kepada Allah, padanya kalian akan dihadapkan kepada-Nya tanpa ada yang tersembunyi sedikitpun.” (At Tirmizy dan Ibnu Abi Syaibah dll)
Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى
Jagalah LISAN Anda, syukurilah nikmat itu untuk menghibur dan membahagiakan orang lain…
Jangan malah menjadikannya sebagai pemuas hawa nafsu Anda untuk menyakiti dan menusuk hati orang lain… karena lisanmu itu; surgamu atau nerakamu… Simaklah hadits berikut ini:
Sahabat Abu Huroiroh -rodhiallohu anhu- mengatakan:
Ada seorang lelaki mengatakan: “Ya Rosulullah, sungguh si fulanah itu dikenal dengan banyaknya amalan sholatnya, puasanya, dan sedekahnya, hanya saja dia biasa menyakiti tetangganya dengan lisannya.”
Beliau menjawab: “Dia di NERAKA”.
Orang itu mengatakan lagi: “Ya Rosululloh, sungguh si fulanah (yang lain), dia dikenal dengan sedikitnya amalan puasanya, sedekahnya, dan sholatnya… namun dia TIDAK menyakiti tetangganya dengan lisannya.”
Beliau menjawab: “Dia di SURGA”.
[HR. Ahmad: 9675, sanadnya hasan, Al-Musnad 15/421].
Ibnu Hazm -rohimahulloh- mengatakan:
“Aku dapati orang yang ‘beramal untuk akherat’, jika dia diuji dengan sesuatu yang dibenci di jalannya itu; dia tidak sedih, bahkan dia malah bahagia, karena harapannya terhadap apa yang akan diterimanya (di akherat) itu menjadi penolong baginya pada hal yang dia inginkan, dan itu melebihi target yang dia inginkan.
Dan aku dapati bila dia terhenti langkahnya oleh sesuatu hal di jalannya itu; dia tidak sedih, karena dia (tahu) tidak disalahkan karena itu, sehingga hal tersebut tidak berpengaruh terhadap apa yang dia inginkan (di akherat).
Aku melihat bila dia dijadikan sasaran gangguan; dia bahagia. Bila ditimpa kesulitan; dia bahagia. Dan bila dia lelah karena apa yang dijalani; dia gembira, sehingga dia dalam keadaan bahagia selamanya…
Dan ketahuilah, bahwa yang diinginkan (oleh manusia) hanyalah satu; MENGUSIR KESEDIHAN, dan tidak ada jalan untuk itu melainkan satu jalan, yaitu: beramal karena Allah ta’ala.”
[Al-Akhlaq was Siyar, Ibnu Hazm, hal: 15-16].
——-
Inilah yang jauh hari telah disinggung oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-:
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya adalah kebaikan, dan itu tidaklah ada melainkan pada diri seorang mukmin.
Bila dia menerima nikmat; dia bersyukur, sehingga itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ditimpa ujian, dia bersabar, sehingga itu menjadi kebaikan pula baginya”. [HR. Muslim: 2999].
Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى
Sobat, sebagai orang Islam yang mendapat karunia terlahir dan hidup di negri Indonesia ini, anda pasti telah mengetahui apa yang dilakukan ummat Islam setiap tanggal 12 Rabiul Awwal?
Saya yakin, anda menjawab: memperingati hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukankah demikian?
Setiap orang yang memperingati hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti beralasan, bahwa peringatan tersebut adalah ekspresi dari cinta dan kasih sayang kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sobat! Ketahuilah bahwa status ini bukanlah untuk membahas benar atau tidaknya peringatan tersebut, atau klaim tersebut. Namun status ini hanyalah satu pertanyaan belaka, karena itu kesimpulan dan penilaiannya sepenuhnya saya serahkan kepada saudara.
Saudaraku! Tahukah anda, bahwa ahli sejarah kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau yang disebut dengan ahli sirah, diantaranya adalah Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam, dan lainnya menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir dan juga MENINGGAL pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal. Bedanya, beliau lahir pada hari senin 12 rabiul Awwal Tahun Gajah, sedangkan beliau MENINGGAL pada hari senin 12 Rabiul Awwal tahun 11 Hijriyah.
Anda tidak percaya? Silahkan rujuk sirah Ibnu Hisyam, atau Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir, atau Ar Rahiqul Makhtum oleh Al Mubarakfuri atau yang lainya. Sekedar menunjukkan kepada saudara sebagian keterangan para ahli sirah, maka saya nukilkan ucapan Imam Ibnu Katsir rahimahullah.
Beliau berkata: “Tidak ada perselisihan sedikitpun bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat pada hari senin.” Selanjutnya beliau menukilkan pernyataan sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma:
ولد نبيكم صلى الله عليه وسلم يوم الاثنين، ونبئ يوم الاثنين، وخرج من مكة مهاجرا يوم الاثنين. ودخل المدينة يوم الاثنين، ومات يوم الاثنين.
“Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada hari senin, diangkat menjadi nabi juga pada hari senin, keluar dari kota Makkah untuk berhijrah juga pada hari senin, tiba di kota Madinah juga pada hari senin, dan meninggal juga pada hari senin.” (Riwayat Ahmad dan Al Baihaqi)
Selanjutnya beliau menukilkan dari Al Waqidy dan Ibnu Ishaq bahwa keduanya meriwayatkan dari sahabat ‘Aisyah dan Ibnu Abbas radhiallahu anhum, bahwa keduanya berkata:
توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم اﻻثنين ﻻثنتي عشرة ليلة خلت من ربيع اﻷول.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wafat pada hari senin, 12 hari berlalu dari bulan Rabiul Awwal. (Al Bidayah wa An Nihayah 3/223-224)
Bila demikian halnya sobat! Pantaskah bagi ummat Islam untuk menampakkan kegembiraan pada hari dan tanggal tersebut karena mengenang kelahiran Nabi shallallahu alaihi wa sallam, seakan mengabaikan fakta bahwa beliau wafat pada hari dan tanggal yang sama? Silahkan saudara menilai sendiri, sepenuhnya penilaian saudara adalah isi hati dan keyakinan saudara.
Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Seringkali teman atau kerabat meminta nasihat kita namun kita sendiri belum cukup ilmu untuk memberikan nasihat. Di sisi lain kita dianjurkan menasihati sesama muslim. Apa yang harus kita katakan?
Simak jawaban Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى
Bagaimana sebenarnya posisi wanita yang bekerja di luar rumah dari sudut pandang Islam.
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى berikut ini: