Anggaplah Diri Anda LEBIH RENDAH Harganya Dari Seekor LALAT Jika Untuk Memperjuangkan Agama ALLAH…

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Ibnul Jauzi ketika mensifati Imam Ahmad -rohimahumalloh- mengatakan:

Orang ini menganggap rendah dirinya demi (memperjuangkan agama) Allah ta’ala, sehingga dia mengorbankan dirinya, sebagaimana (sahabat) Bilal dahulu menganggap rendah dirinya.

Dan kami telah meriwayatkan dari Sa’id bin Musayyab bahwa dia menganggap dirinya lebih rendah daripada seekor lalat demi (memperjuangkan agama) Allah.

“Harga diri” mereka rendahkan, karena mereka menatap hasil akhir yang baik, karena penglihatan yang didasari ilmu akan melihat hasil akhir, bukan keadaan sekarang.”

[Manaqib Imam Ahmad, hal: 446].

———–

Dan hendaknya seperti inilah para pejuang tauhid mendudukkan dirinya…

Ingatlah, bahwa semakin kita merendahkan diri di hadapan Allah ta’ala, maka semakin tinggi dan mulia kedudukan kita di sisi-Nya.

Oleh karena itulah, seringkali Allah menyebut Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- dalam Al Qur’an sebagai HAMBANYA… sungguh ini bukan untuk merendahkan beliau, sebaliknya itulah cara Allah memuliakan dan meninggikan kedudukan beliau, wallohu a’lam.

Semoga bermanfaat…

Kiat-Kiat Selamat Dari Penyakit ‘Ujub (Bangga Diri)

قال الشافعي رحمه الله: إذا خفت على عملك العجب، فاذكر رضا من تطلب، وفي أي نعيم ترغب، ومن أي عقاب ترهب، فمن فكر في ذلك صغر عنده عمله.

Imam Asy-Syafi’i rohimahullah berkata,

“Jika kamu merasa khawatir terhadap sikap ‘ujub (perasaan bangga diri) atas amal perbuatanmu, maka ingatlah :

– keridhoan siapakah yang menjadi tujuan amalmu,

– di alam kenikmatan siapakah engkau hendak berlabuh, dan

– dari siksaan siapakah engkau berupaya menghindarkan dirimu (darinya)

Barangsiapa merenungkan hal-hal tersebut, niscaya ia akan menganggap sedikit dan remeh amal ibadahnya..”

(Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi X/42).

Demikian Faedah Ilmiyah dan Mau’izhoh Hasanah pada hari ini. Semoga bermanfaat. Dan semoga Allah melindungi kita semua dari penyakit ‘ujub, sombong, riya’ dan penyakit hati lainnya. Amiin.

(Klaten, 4 Februari 2015).

Ditulis oleh
Ustadz Muhammad Wasitho MA, حفظه الله تعالى

Setelah Kenal Sunnah, Koq Malah Diam Dan Tidak Bergaul…?

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Ada orang yang dahulunya sangat gaul namun setelah dapat hidayah malah diam, tidak menegur sapa dll. Bagaimana menyikapinya ?

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى   berikut ini (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

 

Kita Akan Ditanya Tentang Semua Nikmat Yang Kita Terima

Allah ta’ala berfirman:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيم

“Kemudian kalian benar-benar akan ditanya tentang semua nikmat (yang diberikan)..” (At-Takatsur: 8)

Syeikh Sholeh Assindi -hafizhohulloh- mengatakan,

“Dan nikmat apakah yang lebih agung dari TAUHID..?!

Maka barangsiapa ingin menjadi orang yang mensyukuri nikmat ini, maka hendaklah dia memberikan waktu dan usaha utamanya untuk BERDAKWAH (mengajak ummat) kepadanya.

Hendaklah dia semangat dalam memberikan hidayah kepada seluruh makhluk.

Dan Hendaknya dia menganggap MURAH dzatnya demi (memuliakan) Dzat Allah..”

(Addakwah ilat Tauhid, 42-43)

———-

Mari dakwahkan TAUHID dan SUNNAH kepada orang di sekitar kita .. sesuai kemampuan dan kapasitas masing-masing .. dan dengan cara yang paling baik dan paling mudah diterima oleh mereka.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Nasihat Bagi Istri Yang Meminta Suami Menceraikan Salah Satu Istrinya…

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Ketika suami menikah dengan istri kedua tanpa memberitahu istri pertama, apakah salah bila istri pertama meminta suami untuk memilih salah satu istri ?

Simak nasihat Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى   berikut ini (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Menjalankan Sunnah Tapi Mu’amalah Buruk…

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Apa yang harus kita lakukan apabila ada seseorang yang tampak luarnya menjalankan sunnah namun dalam berdagang dan bermu’amalah sama sekali tidak menunjukkan akhlak sunnah ?

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى   berikut ini (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Sudah Berapa Yang Kita Amalkan…?

Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, حفظه الله تعالى

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “sebaik- baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan yang mengajarkannya” (HR.Bukkhari)

Seorang tabi’in yakni Abu Abdirrahman Assulamiy rahimahullah beliau adalah salah satu contoh dalam pengamalan hadits di atas, setelah beliau belajar Al-Qur’an dari beberapa sahabat kemudian beliau menyibukkan dirinya dengan mengajarkannya kepada manusia selama 40 tahun di Masjid Kufah, beliau berkata : ‘hadits inilah yang membuatku bertahan duduk di tempat ini’ Nuzhatul fudhala ( 1/383 ) .

Luar biasa…ini ucapan yang kadang keluar dari kita, tapi tidakkah kita bisa mengambil pelajaran darinya ? …

Berapa banyak ayat dan hadits yang kita sudah baca dan bahkan sudah kita BC yang sudah kita amalkan ? …

Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk istiqamah di jalanNya….
Jalan kebaikan….
Jalan thalabul ilmi…
Barakallah fiinaa wa fiikum. …

Tanda-Tanda Hati Yang Sakit (Rusak) Dan Sekarat Dalam Pandangan Allah Ta’ala…

Ustadz Abu Riyadl, Lc, حفظه الله تعالى

Tanda-tanda hati yang sakit(rusak) dan sekarat dalam pandangan Allah Ta’ala .

Hati seorang hamba bisa sakit dan terkadang sakitnya parah, sedangkan ia sendiri tidak menyadarinya. Bahkan hatinya telah mati namun pemiliknya tidak tahu bahwa hatinya telah mati.

Dan tanda sakitnya atau kematian hati adalah:
Si pemiliknya tidak merasa sakit dengan kemaksiatan yang ia perbuatan, tidak merasa pedih dengan kebodohannya terhadap kebenaran, serta tidak merasa menyesal dengan keyakinannya yang salah dan batil.

Karena sesungguhnya apabila hati itu memang hidup, ia akan merasa sakit dengan keburukan-keburukan yang hinggap pada dirinya. Dan menangisi kebodohannya terhadap kebenaran

Jenis hati yang rusak: adalah yang merasa tidak nyaman dan terasa berat saat diobati. Ia lebih memilih untuk menderita hati sekarat daripada menahan pahitnya obat.

Di antara tanda-tanda hati yang sakit adalah: berpaling dari perkara-perkara yang bermanfaat dan beralih ke perkara-perkara yang berbahaya. Menghindari dari obat yang mujarab terhadap penyakit yang membahayakannya.

Sedangkan hati yang sehat, ia lebih memilih sesuatu yang bermanfaat lagi menyembuhkan dari pada berbuat sesuatu yang membahayakan agamanya.

Makanan hati yang paling bermanfaat adalah keimanan, dan obat hati yang paling mujarab adalah al-Qur-an dan ilmu

Lihat betapa bayak manusia sepeti biawak padang pasir..

Manamungkin biawak padang pasir akan nyaman dilempar ke air danau yang sejuk..
Ia akan berusaha keluar darinya.
Karena tidak ada kecocokan akan hausnya si biawak dan obat haus yang ada di danau..

Itulah mengapa terkadang kita berat beribadah..beramal..membaca Qur’an.. Menuntut ilmu..

Karena biawak tidak memerlukan itu..

Seperti apa hati kita? Seperti ikan ataukah seperti..????

Menebar Cahaya Sunnah