Raja Saudi Telah Wafat, Kapan Giliran Anda?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA,  حفظه الله تعالى

Sobat, kematian adalah satu kepastian yang tidak dapat dihindarkan, siapapun bisa saja wafat, kaya, miskin, tua, muda, raja ataupun rakyat jelata.

Banyak orang sibuk mengikuti berita kematian seseorang, tanpa terkecuali ketika raja Saudi Arabia yaitu Raja Abdullah bin Abdul Aziz meninggal dunia. Dunia gempar, ada yang senang dengan kematiannya dan ada pula yang berduka dengan kematianya.

Lebih jauh sebagian orang bertanya: siapakah raja selanjutnya? Kemanakah harta kekayaannya, bagaimanakah keluarganya, dan masih banyak lagi pertanyaan serupa lainnya.

Namun demikian, adakah dari kita yang berkata: Raja Abdullah bin Abdul Aziz telah dijemput oleh malaikat maut, lalu kapan giliran saya ? Sehari lagi? Dua hari lagi atau berapa lama lagi? Seakan kita lalai, sehingga sikap kita mengesankan bahwa kenikmatan, kesehatan, umur kita akan terus dan tiada pernah putus atau habis.

Aneh memang, kita sibuk memikirkan hal hal yang sudah pasti bukan dan tidak bisa kita dapatkan dan juga bukan urusan kita. Namun ternyata kita lupa untuk memikirkan diri kita, hal yang pasti menimpa kita, yaitu kematian yang pasti, cepat atau lambat menjemput kita sebagaimana telah menjemput Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap jiwa pasti merasakan kematian, sedangkan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan juga dengan kebaikan. Dan kepada Kami-lah kalian pasti kembali.” (Al Anbiya’ 35)

Kini Raja Abdullah bin Abdul Aziz mulai mempertanggung jawabkan seluruh amalannya, dan esok giliran andalah yang juga harus mempertanggung jawabkan amalan anda. Mengapa saat ini seakan anda menjadi malaikat penimbang amalan, dengan menyibukkan diri mengorek dan mengorek amalan Raja Abdullah bin Abdul Aziz namun lalai untuk mengorek amalan anda sendiri?

Tidakkah kita bisa bersikap bijak seperti yang pernah disampaikan oleh Khalifah Umar bin Al Khatthab pada salah satu khutbahnya beikut ini:

حاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْل أَنْ تُوزَنُوا ، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ ، يَوْمَ تُعْرَضُونَ لاَ تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ.

“Hitunglah amalan kalian sendiri sebelum amalan kalian dihitung (dihisab), dan timbanglah amalan kalian sendiri sebelum amalan kalian ditimbang dan berhiaslah untuk menghadapi hari yang seluruh manusia dihadapkan kepada Allah, padanya kalian akan dihadapkan kepada-Nya tanpa ada yang tersembunyi sedikitpun.” (At Tirmizy dan Ibnu Abi Syaibah dll)

Mulutmu… Surgamu, Atau Nerakamu!

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Jagalah LISAN Anda, syukurilah nikmat itu untuk menghibur dan membahagiakan orang lain…

Jangan malah menjadikannya sebagai pemuas hawa nafsu Anda untuk menyakiti dan menusuk hati orang lain… karena lisanmu itu; surgamu atau nerakamu… Simaklah hadits berikut ini:

Sahabat Abu Huroiroh -rodhiallohu anhu- mengatakan:

Ada seorang lelaki mengatakan: “Ya Rosulullah, sungguh si fulanah itu dikenal dengan banyaknya amalan sholatnya, puasanya, dan sedekahnya, hanya saja dia biasa menyakiti tetangganya dengan lisannya.”

Beliau menjawab: “Dia di NERAKA”.

Orang itu mengatakan lagi: “Ya Rosululloh, sungguh si fulanah (yang lain), dia dikenal dengan sedikitnya amalan puasanya, sedekahnya, dan sholatnya… namun dia TIDAK menyakiti tetangganya dengan lisannya.”

Beliau menjawab: “Dia di SURGA”.

[HR. Ahmad: 9675, sanadnya hasan, Al-Musnad 15/421].

Bahagia Itu Bila Orientasi Anda Akherat

Ibnu Hazm -rohimahulloh- mengatakan:

“Aku dapati orang yang ‘beramal untuk akherat’, jika dia diuji dengan sesuatu yang dibenci di jalannya itu; dia tidak sedih, bahkan dia malah bahagia, karena harapannya terhadap apa yang akan diterimanya (di akherat) itu menjadi penolong baginya pada hal yang dia inginkan, dan itu melebihi target yang dia inginkan.

Dan aku dapati bila dia terhenti langkahnya oleh sesuatu hal di jalannya itu; dia tidak sedih, karena dia (tahu) tidak disalahkan karena itu, sehingga hal tersebut tidak berpengaruh terhadap apa yang dia inginkan (di akherat).

Aku melihat bila dia dijadikan sasaran gangguan; dia bahagia. Bila ditimpa kesulitan; dia bahagia. Dan bila dia lelah karena apa yang dijalani; dia gembira, sehingga dia dalam keadaan bahagia selamanya…

Dan ketahuilah, bahwa yang diinginkan (oleh manusia) hanyalah satu; MENGUSIR KESEDIHAN, dan tidak ada jalan untuk itu melainkan satu jalan, yaitu: beramal karena Allah ta’ala.”

[Al-Akhlaq was Siyar, Ibnu Hazm, hal: 15-16].

——-

Inilah yang jauh hari telah disinggung oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-:

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya adalah kebaikan, dan itu tidaklah ada melainkan pada diri seorang mukmin.

Bila dia menerima nikmat; dia bersyukur, sehingga itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ditimpa ujian, dia bersabar, sehingga itu menjadi kebaikan pula baginya”. [HR. Muslim: 2999].

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Hari Senin 12 Rabiul Awwal, Ada Apakah?…

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat, sebagai orang Islam yang mendapat karunia terlahir dan hidup di negri Indonesia ini, anda pasti telah mengetahui apa yang dilakukan ummat Islam setiap tanggal 12 Rabiul Awwal?

Saya yakin, anda menjawab: memperingati hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukankah demikian?

Setiap orang yang memperingati hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti beralasan, bahwa peringatan tersebut adalah ekspresi dari cinta dan kasih sayang kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sobat! Ketahuilah bahwa status ini bukanlah untuk membahas benar atau tidaknya peringatan tersebut, atau klaim tersebut. Namun status ini hanyalah satu pertanyaan belaka, karena itu kesimpulan dan penilaiannya sepenuhnya saya serahkan kepada saudara.

Saudaraku! Tahukah anda, bahwa ahli sejarah kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau yang disebut dengan ahli sirah, diantaranya adalah Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam, dan lainnya menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir dan juga MENINGGAL pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal. Bedanya, beliau lahir pada hari senin 12 rabiul Awwal Tahun Gajah, sedangkan beliau MENINGGAL pada hari senin 12 Rabiul Awwal tahun 11 Hijriyah.

Anda tidak percaya? Silahkan rujuk sirah Ibnu Hisyam, atau Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir, atau Ar Rahiqul Makhtum oleh Al Mubarakfuri atau yang lainya. Sekedar menunjukkan kepada saudara sebagian keterangan para ahli sirah, maka saya nukilkan ucapan Imam Ibnu Katsir rahimahullah.

Beliau berkata: “Tidak ada perselisihan sedikitpun bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat pada hari senin.”  Selanjutnya beliau menukilkan pernyataan sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma:
ولد نبيكم صلى الله عليه وسلم يوم الاثنين، ونبئ يوم الاثنين، وخرج من مكة مهاجرا يوم الاثنين. ودخل المدينة يوم الاثنين، ومات يوم الاثنين.

“Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada hari senin, diangkat menjadi nabi juga pada hari senin, keluar dari kota Makkah untuk berhijrah juga pada hari senin, tiba di kota Madinah juga pada hari senin, dan meninggal juga pada hari senin.” (Riwayat Ahmad dan Al Baihaqi)

Selanjutnya beliau menukilkan dari Al Waqidy dan Ibnu Ishaq bahwa keduanya meriwayatkan dari sahabat ‘Aisyah dan Ibnu Abbas radhiallahu anhum, bahwa keduanya berkata:

توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم اﻻثنين ﻻثنتي عشرة ليلة خلت من ربيع اﻷول.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wafat pada hari senin, 12 hari berlalu dari bulan Rabiul Awwal. (Al Bidayah wa An Nihayah 3/223-224)

Bila demikian halnya sobat! Pantaskah bagi ummat Islam untuk menampakkan kegembiraan pada hari dan tanggal tersebut karena mengenang kelahiran Nabi shallallahu alaihi wa sallam, seakan mengabaikan fakta bahwa beliau wafat pada hari dan tanggal yang sama? Silahkan saudara menilai sendiri, sepenuhnya penilaian saudara adalah isi hati dan keyakinan saudara.

Sering Diminta Nasihat Namun Belum Cukup Ilmu, Apa Yang Harus Dikatakan ?

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Seringkali teman atau kerabat meminta nasihat kita namun kita sendiri belum cukup ilmu untuk memberikan nasihat. Di sisi lain kita dianjurkan menasihati sesama muslim. Apa yang harus kita katakan?

Simak jawaban Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى   berikut ini :

Tamu Ngajak Debat…

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Suatu pagi saya mendapat telpon dari seseorang yang tidak saya kenal. Ia menyatakan ingin berjumpa dengan saya, namun karena kesibukan akhirnya saya sepakat untuk menerimanya bertamu di sore hari.

Di sore hari, betul saja kembali orang tersebut menghubungi saya dan via telpon saya memandunya untuk bisa menemukan alamat rumah saya. Setelah beberapa kali saya pandu via telpon, tetap saja orang itu kesulitan menemukan alamat rumah saya, hingga akhirnya saya menjemputnya di satu tempat, untuk saya ajak ke rumah

Setibanya di rumah, saya segera mempersilahkannya masuk ke rumah saya. Namun betapa terkejutnya saya, belum sempat tamu tersebut duduk, sambil berdiri ia langsung mengajukan pertanyaan, tentang hukum azan dua kali untuk shalat Jum’at.

Mendapat pertanyaan yang tegesa gesa seperti ini, saya tidak segera menjawab, namun saya berkata kepada tamu saya: silahkan duduk terlebih dahulu, dan selanjutnya kita berkenalan.

Saya belum mengenal saudara, tentu kurang etis bila langsung bertanya jawab, apalagi tentang masalah yang potensi menimbulkan salah paham semacam ini. Sebagaimana saya juga tidak etis untuk berbicara tentang berbagai hal padahal saya belum menyuguhkan jamuan apapun kepada saudara.

Segera kamipun berkenalan, tamu saya memperkenalkan dirinya, dan sayapun memperkenalkan diri saya. Dan tidak selang berapa lama, saya menyuguhkan minuman secangkir teh hangat dan beberapa makanan ringan.

Nampaknya tamu saya yang satu ini sudah gatal ingin segera menanyakan masalah hukum azan dua kali untuk shalat jum’at. Tanpa banyak basa basi, ia berkata: iya, masalah saya tadi bagaimana? Apa pendapat ustadz tentang azan dua kali untuk sholat jum’at, bid’ah atau bukan?

Saya menanggapi pertanyaan tamu saya itu dengan berkata: waah, nampaknya saudara ini menggebu gebu menanyakan masalah ini, gerangan ada apa?

Ia kembali berkata: saya ingin mengetahui pendapat ustadz .
Saya menjawab: azan dua kali untuk shalat Jum’at adalah sunnah, karena dilakukan oleh sahabat Utsman bin Affan yang kita diperintahkan untuk meneladani sunnah-sunnahnya.

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku (keteladanan dariku) dan juga keteladanan dari para khulafa’ ar rasyidin yang mereka itu selalu mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah keteladanan mereka dengan gigi gerahammu.” (Abu Dawud dll)

Mendengar jawaban saya, tau tersebut berkata: loh kok boleh sih, saya tuh berharapnya sampeyan (anda) menjawab tidak boleh, bisa jadi rame.

Giliran saya yang terperangah; mendengar ucapan tamu tersebut, sehingga saya balik bertanya: lo, memangnya saudara ini mau berkelahi atau mau bertanya? Kalau mau berkelahi bukan disini tempatnya. Kalau mau berkelahi, gampang saja, pergi ke pasar, langsung pukul siapapun yang saudara mau, pasti segera mendapatkan lawan perkelahian.

Tamu saya tersebut kembali berkata: saya itu ke sini dengan harapan ustadz menjawab: azan dua kali adalah bid’ah, agar bisa jadi rame. Lalu bagaimana dengan qunut shubuh, bid’ah atau bukan?

Saya menjawab: qunut shubuh diperselisihkan oleh para ulama’ ada yang mengatakan sunnah diantaranya Imam Syafii, dan ada yang menangatakanbid’ah. Perbedaannya berawal dari perbedaan merka dalam menyikapi hadits hadits tentang qunut shubuh. Walau demikian, saya tetap sholat di belakang orang yang qunut shubuh. Dan bahkan bukan sekedar sholat, saya juga turut mengaminkan doa qunut mereka. Walaupun kalau saya yang jadi imam atau sholat sendiri maka saya tidak akan baca qunut subuh. Apa yang saya amalkan ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam:

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ

“Sejatinya adanya imam itu untuk diikuti.” (Muttafaqun ‘alaih)

Berdasarkan keumumam hadits ini, maka saya tetap mengkuti imam yang membaca doa qunut dengan cara mengaminkannya. Walaupun ketika saya sholat sendiri atau menjadi imam maka saya tidak membaca qunut.

Lagi, lagi tamu tadi berkata: loh kok gitu sih sikapnya, saya tuh mengharapnya ustadz mengatakan qunut itu bid’ah, biar ramai diskusinya.

Karena tamu saya yang satu ini nampaknya bernafsu untuk diskusi, maka saya akhirnya membuka pintu dan berkata: kalau memang saudara mengajak diskusi saya, maka saya siap melayani. Mau diskusi seputar mazhab Syafii, saya juga siap, kebetulan semasa menempuh pendidikan S2, disertasi saya seputar mazhab Syafii. Dan kalau mau diskusi dengan media kitab, maka silahkan pilih kitab di perpustakaan saya ini, saya akan layani. Diskusi dengan bahasa indonesia saya siap dan dengan bahasa arab juga siap.

Mendengar pernyataan saya ini, tamu saya yang semula nampak menggebu gebu untuk diskusi, segera berubah sikap.

Perubahan sikap ini, menjadikan saya menarik satu kesimpulan: nampaknya tamu saya ini telah menyiapkan dirinya untuk diskusi seputar dua masalah di atas.

Namun karena ternyata saya membolehkan azan dua kal untuk sholat jum’at dan menjelaskan bahwa qunut shubuh adalah masalah khilafiyah dan saya bersikap ikut mengaminkan doa imam, maka seakan tamu saya kehabisan bekal.

Akibatnya, tamu saya tersebut merubah tema pembicaraan dengan bercerita ngalor ngidul tentang perjalanan hidupnya dari satu pondok ke pondok lain, hingga akhirnya menjadi mantu seorang kiyai pengasuh pondok.

Menebar Cahaya Sunnah