Sifat Dunia

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc حفظه الله تعالى

Sifat Dunia

1- Hanya permainan
2- Melalaikan
3- Membuat orang saling berbangga2 atau saling menyombongkan
4- Membuat orang saling berlomba memperbanyak

Allah Ta’ala berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadiid: 20)

Faedah Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc saat kajian umum di Mahad Jamillurrahman, 27 Syawal 1435 H (pagi ini)

Kutuk Marani Sunduk (Ikan Gabus Menghampiri Tusuk)

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Pepatah, walaupun susah untuk ditelusuri asal usulnya, namun sering kali sarat dengan hikmah dan pelajaran berharga.

Pengalaman hidup orang orang terdahulu yang tersirat dalam pepatah tersebut sepatutnya menjadi obor bagi kita dalam menjalani dinamika kehidupan. Dengan demikian, kita dapat mengulang dan bahkan melanjutkan keberhasilan yang telah mereka torehkan dalam lembaran sejarah dan menghindari kegagalan atau kesalahan yang menimpa mereka.

Dengan cara demikian kita pantas menyandang gelar sebagai: GENERASI PENERUS.

Diantara pepatah bijak masyarakat jawa yang saat ini -saya rasa- penting untuk kita amalkan ialah pepatah: KUTUK MARANI SUNDUK.

Pelajaran bijak yang dapat kita serap dari pepatah ini ialah: sepatutnya kita bersikap waspada, menjauhi petaka bukan malah mendekati dan mengundang bencana yang dapat menyusahkan diri sendiri.

Hari hari ini, ummat muslm diresahkan dengan pahaman dan perilaku ISIS (Islamic State Of Iraq And Syria).

Namun demikian, sebagian pemuda yang bersikap bak (kutuk marani sunduk) membuat plesetan dari kata tersebut dengan berkata: Istri Sholehah Idaman Suami. Mereka mengaku sebagai ISIS atau memuja muja ISIS, dengan arti ingin mendapatkan istri sholehah.

Apapun alasan dan plesetannya, namun tetap saja plesetan itu memancing masalah dan rentan dipermasalahkan. Perilaku ini adalah salah satu contoh nyata dari pepatah bijak (Kutuk Marani Sunduk).

Akidah Seorang Muslim

Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rosulillah, wa ba`du;

Sesungguhnya agama islam merupakan ajaran yang sempurna yang mengandung aneka maslahat bagi para manusia baik dalam urusan ibadat, muamalat, dan bermasyarakat, serta menjauhkan dari berbagai ancaman keburukan keyakinan, perbuatan.

Dahulu di masa kaum kafir Quraish di jumpai orang-orang yang rajin mengerjakan ibadah, menyambung tali silaturahmi, memuliakan para tamu, berdo’a tatkala ditimpa musibah, akan tetapi mereka menjadikan kuburan-kuburan orang yang dianggap salih untuk di jadikan perantara antara dirinya dengan Allah Ta`ala, meminta syafaat kepada mereka, menyembelih sembelihan di sisinya serta memanjatkan doa melalui perantara mereka.

Maka Allah Ta`ala mengutus nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memurnikan agama ibrahim sehingga menjadi ajaran yang lurus, mengajarkan bahwa ibadah merupakan murni hak Allah semata dan tiada sekutu bagi Nya.

Diajarkan bahwa beristighotsah kepada makhluk merupakan perbuatan syirik, dikarenakan meminta bantuan dalam perkara yang diluar kemampuan mereka, karena kuburan merupakan tempat peristirahatan bagi mereka yang didalam nya hanya terdapat dua keadaan, mendapatkan nikmat atau merasakan adzab.

Allah Ta`ala berfirman,” Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?”. Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya,………

Tauhid Peng-Esa-an Allah

Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rosulillah, wa ba`du;

Dahulu manusia merupakan umat yang satu di atas al hak yaitu agama fitrah, islam yang lurus. Dengan berlalunya waktu terjadi perubahan dan muncul kesyirikan sehingga menyelewengkan peribadatan kepada selain Allah Ta`ala, hingga manusia bercerai berai dan berselisih di atas agama mereka.

Allah Ta`ala mengutus nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penerang dan pembawa cahaya di atas kegelapan dan kejahiliahan, mengembalikan kepada agama yang lurus milah ibrahim yang suci.

Allah Ta`ala berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.” (QS. Al Hajj 26).

Allah Ta`ala berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim 35).

Allah Ta`ala berfirman, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah 132~133).

Allah Ta`ala berfirman, “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun……..”

Renungan Bagi Para Hakim

Ustadz Fuad Hamzah Baraba’, Lc, حفظه الله تعالى

عَنْ بُرَيْدَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلْقُضَاةُ ثَلَاثَةٌ: اِثْنَانِ فِي اَلنَّارِ, وَوَاحِدٌ فِي اَلْجَنَّةِ. رَجُلٌ عَرَفَ اَلْحَقَّ, فَقَضَى بِهِ, فَهُوَ فِي اَلْجَنَّةِ. وَرَجُلٌ عَرَفَ اَلْحَقَّ, فَلَمْ يَقْضِ بِهِ, وَجَارَ فِي اَلْحُكْمِ, فَهُوَ فِي اَلنَّارِ. وَرَجُلٌ لَمْ يَعْرِفِ اَلْحَقَّ, فَقَضَى لِلنَّاسِ عَلَى جَهْلٍ, فَهُوَ فِي اَلنَّارِ ) رَوَاهُ اَلْأَرْبَعَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Dari Buraidah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Hakim itu ada tiga, dua orang di neraka dan seorang lagi di surga.
* Seorang yang tahu kebenaran dan ia memutuskan dengannya, maka ia di surga;
* Seorang yang tahu kebenaran, namun ia tidak memutuskan dengannya, maka ia di neraka; dan
* Seorang yang tidak tahu kebenaran dan ia memutuskan untuk masyarakat dengan ketidaktahuan, maka ia di neraka.”
(Riwayat Imam Empat. Hadits shahih menurut al-Hakim).

َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنْ وَلِيَ اَلْقَضَاءَ فَقَدْ ذُبِحَ بِغَيْرِ سِكِّينٍ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa diangkat sebagai hakim, ia telah disembelih dengan pisau.” (Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Nasehat Tentang Lisan

Ustadz Djazuli, Lc, حفظه الله تعالى

Untaian nasihat ulama salaf tentang lisan.

Saudaraku!

Orang yang beriman itu selalu berpikir sebelum berbicara..

Orang yang tidak bisa menjaga lisannya maka dia tidak akan bisa memperbaiki amalnya..

Tahukah kamu 2 manfaat besar dari menjaga lisan:
1. Hati dan agamanya akan selalu Allah jaga
2. Akan diberi pemahaman yang baik dan kuat oleh Allah

Orang tidak bisa menjaga lisannya akan kehilangan kewibawaannya..

Jangan gunakan lisan kecuali dalam 9 perkara:
1. Untuk bertasbih
2. Untuk bertahmid
3. Untuk bertanya tentang ilmu dan kebaikan
4. Untuk berlindung kepada Allah dari segala keburukan
5. Untuk menegakkan perkara yang ma’ruf
6. Untuk mencegah kemunkaran
7. Untuk membaca Al-qur’an
8. Untuk bertahlil
9. Untuk bertakbir

Semoga bermanfaat!

Mengapa Kalian Kalah ?

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Setelah perang yarmuk selesai dengan kekalahan pasukan Romawi, raja Romawi berkata kepada sisa sisa pasukan yang selamat:

Raja: “Celaka kalian! Kabarkan kepadaku tentang pasukan yang memerangi kalian, bukankah mereka manusia juga seperti kalian?”

Pasukan: “Benar paduka raja.”

Raja: “Apakah jumlah kalian lebih banyak atau jumlah mereka?”

Pasukan: “Jumlah kami jauh lebih banyak pada semua lini.”

Raja: “Lantas mengapa kalian kalah?”

Seorang pembesar Romawi menjawab: “Mereka dapat mengalahkan kita karena mereka selalu sholat malam, berpuasa, menepati janji dan saling berbuat adil diantara mereka. Sedangkan kita suka minum arak, berzina, melakukan keharaman, menyalahi janji, merampok, berbuat zalim, melarang kebaikan dan menyuruh kepada kemungkaran, dan berbuat kerusakan di muka bumi.”

Raja: “Kamu benar.”

(Al Bidayah wan Nihayah 7/15 karya Al Hafidz ibnu Katsir rahimahullah).

Perintah Bersiwak

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalau bukan karena khawatir memberatkan umatku, aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudlu.” (HR Malik, Ahmad, An Nasai dan dishahihkan oleh ibnu Khuzaimah).

Fawaid hadits:
1. Bersiwak setiap kali berwudlu adalah sunnah muakkadah.

2. Hadits ini menunjukkan kaidah fiqih: al masyaqqah tajlib at taisiir (kesulitan mendatangkan kemudahan).

3. Kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya.

4. Hadits ini juga menunjukkan kepada kaidah: menghindari mafsadah lebih didahulukan dari mendatangkan mashlahat.

5. Juga kepada kaidah: pada asalanya perintah itu menghasilkan hukum wajib. Kecuali bila ada dalil yang memalingkannya kepada sunnah.

6. Ibnu Daqiq al ‘Ied berkata: “Rahasia hadits ini adalah bahwa kita diperintahkan untuk senantiasa di atas kebersihan di setiap kali bertaqarrub kepada Allah.

7. Islam adalah agama yang mudah dan tidak memberatkan manusia.

Tarbiyah Nabawiyah : Ikrimah, Anak Dari Abu Jahal

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Ikrimah adalah anak Abu Jahal yang senantiasa memerangi Nabi. Mulai dari perang Badar, Uhud, Khandaq dsb, Ikrimah tokoh utama dalam barisan musuh. Bahkan saat Fathu Makkah, Ikrimah sempat melancarkan perlawanan meskipun akhirnya dia kalah dan melarikan diri ke Yaman.

Nabi mencantumkan nama Ikrimah dalam daftar orang-orang yang halal darahnya. Namun istri Ikrimah masuk islam dan memintakan suaka keamanan bagi suaminya, dan Nabipun mengabulkan. Ikrimah lantas menemui Nabi dan masuk islam.

Lihatlah bagaimana buruknya Ikrimah dimasa jahiliyah. Namun apa yang terjadi setelah beliau masuk islam ?

Pada saat perang Yarmuk pasukan Romawi hampir mengalahkan pasukan Islam. Ikrimah pun bangkit dan berkata: “Minggirlah, wahai Khalid bin Walid, biarkan aku menebus apa yang telah aku dan ayahku lakukan. Dulu aku memusuhi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah sekarang aku akan lari dari pasukan Romawi ? Demi Allah tidak, selamanya tidak akan terjadi !”

Ikrimah pun maju dan ikut bersamanya 400 pasukan muslim yang siap mati. Mereka memasuki arena peperangan hingga dapat mengalahkan pasukan Romawi.

Perang pun selesai.

Ikrimah tergeletak dengan terkena 70 tikaman di dadanya. Disampingnya ada Al-Harits bin Hisyam & Ayyasy bin Abi Rabi’ah.

Al-Harits memanggil-manggil minta air namun ia melihat Ikrimah sangat kehausan maka ia berkata: “Berikanlah air kepada Ikrimah.” Ikrimah melihat Ayyasy juga sangat kehausan, lalu ia berkata: “Berikanlah air kepada Ayyasy.” Ketika air hampir diberikan, Ayyasy sudah tidak bernyawa. Para pemberi air dengan cepat menuju Ikrimah & Al-Harits, namun keduanya pun sudah tiada untuk meminum air surga dan sungai-sungainya.

Subhanallah … tarbiyah apakah yang para sahabat dapatkan sehingga menjadikan orang yang begitu jahat menjadi orang yang sedemikian hebat ?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى terkait Tarbiyah Nabawiyah.

Klik :
http://salamdakwah.com/videos-detail/tarbiyyah-nabawiyah.html

ISIS Salah Siapa ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Tema tentang ISIS (Islamic State Of Iraq And Syria) atau Negara Islam Irak dan Syam (Siria) kini benar benar menjadi perhatian dunia. Bak bola liar, siapapun bisa memanfaatkan isu ISIS untuk mencela atau menuduh atau bertindak.

Pada kesempatan ini saya tidak ingin mengupas siapa dan mengapa ISIS ada, namun saya ingin mengajak anda untuk merenungkan: siapakah yang bertanggung jawab atas menyebarnya gerakan dan paham ISIS?

Banyak kalangan dengan rame rame mengarahkan telunjuknya kepada ummat Islam secara umum, dan kaum berjenggot lagi bercelana cingkrang secara khusus. Mereka beranggapan bahwa masyarakat dengan penampilan semacam itulah yang paling bertanggung jawab atas menyebarnya paham ISIS.

Sobat ! Di negara demokrasi yang menganut kebebasan berpendapat dan berserikat seperti negri kita tercinta ini, mustahil bagi siapapun dapat membatasi masyarakat dari berpendapat dan bersikap. Semua pihak merasa berwenang untuk berpendapat dan bahkan bersikap, sampaipun dalam hal yang sejatinya mereka sendiri tidak memahaminya.

Sekali lagi, saya tidak ingin memaksakan pendapat tentang siapa dan apa itu ISIS, namun saya ingin mengajak anda untuk berpikir, siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas menyebarnya gerakan ISIS. Karena menelusuri siapa dan bagaimana gerakan ISIS pastilah memancing perdebatan panjang.

Sahabatku! Izinkan saya membuat satu ilustrasi sederhana bagi masalah ISIS ini. Kalau anda adalah seorang ayah atau ibu, lalu suatu saat dikejutkan dengan putra anda yang telah kecanduan narkoba. Dalam kondisi seperti ini, siapakah yang bertanggung jawab atas penyimpangan putra anda?

Mungkinkah anda akan berkata: ini gara gara teman-temannya para pecandu narkoba?

Ataukah anda akan berkata: Ini gara gara anak saya memang terlahir dengan bakat kecanduan narkoba?

Ataukah anda akan berkata: dasar anak-anak muda, yang seperti itulah kelakuannya, semua pemuda pastilah pecandu narkoba?

Ataukah anda akan berkata: anakku kecanduan narkoba karena polisi tidak memberantas nerkoba?

Ataukah anda akan berkata: ini karena para kiyai, atau Departemen Agama tidak giat memerangi penyebaran narkoba?

Atau mungkinkah anda berkata: ini karena sekolah anak saya tidak membentengi anak saya dari para penjaja narkoba?

Dan akhirnya anda berkesimpulan: apapun yang dilakukan oleh anak saya adalah sepenuhnya kesalahan orang lain, sedangkan saya sebagai orang tua sepenuhnya bebas dari segala tanggung jawab atas kesalahannya?

Dan selanjutnya, yang berkewajiban mengobati perilaku menyimpang putra anda adalah orang lain, sedangkan anda tetap bersikap acuh tak acuh serta terus mengarahkan telunjuk anda kepada orang lain.

Sahabat! Menurut hemat anda, siapakah yang bertanggung jawab atas terjeratnya sebagian pemuda kita oleh paham ISIS?, menurut hemat anda tanggung jawab siapa?

Apakah sepenuhnya tanggung jawab para kiyai, guru ngaji, dan juru dakwah yang salah mengasuh?

Ataukah Departeman Pendidikan yang tidak mampu memberikan pendidikan yang baik?

Ataukah Departemen Agama yang tidak mampu membina keagamaan masyarakat?

Ataukah kepolisian yang tidak mampu menangkal menyusupnya oknum pembawa paham ISIS?

Ataukah para orang tua yang gagal mendidik anak anaknya?

Ataukah Departemen Sosial yang gagal membina kehidupan sosial masyarakat?

Bayangkan bila masing masing pihak di atas rajin mengambing hitamkan pihak lain dan cuci tangan sebersih-bersihnya dari tanggung jawab yang ia pikul, mungkinkah permasalahan ISIS atau lainnya dapat diselesaikan?

Menurut hemat saya: masalah ISIS atau permasalahan lainnya yang dihadapi oleh bangsa kita adalah tanggung jawab kita bersama. Sudah saatnya kita, bersama seluruh elemen masyarakat dan pemerintahan bahu membahu berkarya dan membangun bangsa, bukan malah centang berentang karena saling tuding dan saling menyalahkan.

Menebar Cahaya Sunnah