Untuk Ayah Dan Ibu

Ust. Abu RiyadL

Jika anak anak bisa mengungkapkannya lewat makalah.. Mungkin mereka akan menuliskan beberapa hal berikut untukmu ayah dan ibu:
 
1. Wahai ayah/ibu, jangan risau dengan apa yang belum bisa kulakukan, lihatlah apa yang sudah bisa kulakukan, lihatlah lebih banyak kelebihanku

2. Wahai ayah/ibu, aku memang belum bisa berhitung, tapi lihatlah aku bisa selalu tersenyum ceria

3.Wahai ayah/ibu, jangan keluhkan aku tidak bisa diam, lihatlah energiku ini, bukankah kalo aku jadi pemimpin, aku butuh energi sebesar ini

4.Wahai ayah/ibu, jangan kau bandingkan aku dengan anak lain, lihatlah aku tidak pernah membandingkanmu dengan ortu lain, aku hanya satu

5. Wahai Ayah/ibu, jangan bosan dengan pertanyaan2ku, lihatlah besarnya rasa ingin tahuku, aku belajar banyak dari rasa ingin tahu

6. Wahai Ayah/ibu, jangan bentak2 aku, lihatlah aku punya perasaan, seperti engkau juga memilikinya, aku sedang belajar memperlakukanmu kelak..

7. Ayah/Ibu, jangan ancam2 aku, seperti engkau juga tidak suka diancam orang lain, lihatlah aku sedang belajar memahami keinginanmu

8. Ayah/ibu, jangan lihat nilaiku yang rata2, lihatlah aku mengerjakannya dengan jujur, lihatlah aku sudah berusaha

9. Ayah/ibu, aku memang belum bisa membaca, namun lihatlah aku bisa bercerita, pada saatnya aku akan bisa, aku butuh engkau percaya

10. Ayah/ibu, aku memang kurang mengerti matematika, tapi lihatlah aku suka berdo’a, dan aku senang sekali mendo’akan yang terbaik untukmu

11. Ayah/ibu, aku memang banyak kekurangan, tapi aku juga punya kelebihan, bantu aku agar kelak kelebihanku berguna bagi sesama

12. Ayah/ibu, hubungan kita sepanjang zaman, bantu aku mengenalmu dengan cara aku belajar bagaimana engkau mengenalku

13. Ayah/ibu, aku ingin mengenangmu sebagai yang terbaik, ajari aku dengan lihatlah yang terbaik dariku, sehingga aku bangga menyebut namamu

14. Ayah/ibu, semoga kita punya cukup waktu untuk saling mengenal dan memahami, aku belajar melihatmu dari cara engkau melihatku..

Copast dari teman.. Semoga manfaat..

Tj Hukum Onani

Pertanyaan AI 199:

Assalamu’alaykum, mau tanya apakah hukum onani ?

Jawaban:

Dijawab oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah As Sarbini Al- Makassari

Permasalahan onani/masturbasi (istimna’) adalah permasalahan yang telah dibahas oleh para ulama. Onani adalah upaya mengeluarkan mani dengan menggunakan tangan atau yang lainnya. Hukum permasalahan ini ada rinciannya sebagai berikut:

1.    Onani yang dilakukan dengan bantuan tangan/anggota tubuh lainnya dari istri atau budak wanita yang dimiliki. Jenis ini hukumnya halal, karena termasuk dalam keumuman bersenang-senang dengan istri atau budak wanita yang dihalalkan oleh Allah l.1 Demikian pula hukumnya bagi wanita dengan tangan suami atau tuannya (jika ia berstatus sebagai budak, red.). Karena tidak ada perbedaan hukum antara laki-laki dan perempuan hingga tegak dalil yang membedakannya. Wallahu a’lam.

2.    Onani yang dilakukan dengan tangan sendiri atau semacamnya. Jenis ini hukumnya haram bagi pria maupun wanita, serta merupakan perbuatan hina yang bertentangan dengan kemuliaan dan keutamaan. Pendapat ini adalah madzhab jumhur (mayoritas ulama), Al-Imam Asy-Syafi’i t, dan pendapat terkuat dalam madzhab Al-Imam Ahmad t. Pendapat ini yang difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da’imah (yang diketuai oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz), Al-Albani, Al-’Utsaimin, serta Muqbil Al-Wadi’i rahimahumullah. Dalilnya adalah keumuman firman Allah l:
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluan-kemaluan mereka (dari hal-hal yang haram), kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak wanita yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Barangsiapa mencari kenikmatan selain itu, maka merekalah orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Mu’minun: 5-7, juga dalam surat Al-Ma’arij: 29-31)

Perbuatan onani termasuk dalam keumuman mencari kenikmatan syahwat yang sifatnya melanggar batasan syariat yang dihalalkan, yaitu di luar kenikmatan suami-istri atau tuan dan budak wanitanya.

Sebagian ulama termasuk Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t berdalilkan dengan hadits ‘Abdillah bin Mas’udz:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اْلبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang telah mampu menikah, maka menikahlah, karena pernikahan membuat pandangan dan kemaluan lebih terjaga. Barangsiapa belum mampu menikah, hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa merupakan obat yang akan meredakan syahwatnya.” (Muttafaq ‘alaih)
Al-’Utsaimin t berkata: “Sisi pendalilan dari hadits ini adalah perintah Rasul n bagi yang tidak mampu menikah untuk berpuasa. Sebab, seandainya onani merupakan adat (perilaku) yang diperbolehkan tentulah Rasulullah n akan membimbing yang tidak mampu menikah untuk melakukan onani, karena onani lebih ringan dan mudah untuk dilakukan ketimbang puasa.”
Apalagi onani sendiri akan menimbulkan mudharat yang merusak kesehatan pelakunya serta melemahkan kemampuan berhubungan suami-istri jika sudah berkeluarga, wallahul musta’an.

Adapun hadits-hadits yang diriwayatkan dalam hal ini adalah hadits-hadits yang dha’if (lemah). Kelemahan hadits-hadits itu telah diterangkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam At-Talkhish Al-Habir (no. 1666) dan Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil (no. 2401) serta As-Silsilah Adh-Dha’ifah (no. 319). Di antaranya hadits ‘Abdullah bin ‘Amr c:
سَبْعَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَيَقُوْلُ: ادْخُلُوْا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِيْنَ: … وَالنَّاكِحُ يَدَهُ …. الْحَدِيْثَ
“Ada tujuh golongan yang Allah tidak akan memandang kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan membersihkan mereka (dari dosa-dosa) dan berkata kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk ke dalamnya!’ (di antaranya): … dan orang yang menikahi tangannya (melakukan onani/masturbasi) ….dst.” (HR. Ibnu Bisyran dalam Al-Amali, dalam sanadnya ada Abdullah bin Lahi’ah dan Abdurrahman bin Ziyad bin An’um Al-Ifriqi, keduanya dha’if [lemah] hafalannya)

Namun apakah diperbolehkan pada kondisi darurat, yaitu pada suatu kondisi di mana ia khawatir terhadap dirinya untuk terjerumus dalam perzinaan atau khawatir jatuh sakit jika air maninya tidak dikeluarkan? Ada khilaf pendapat dalam memandang masalah ini.
Jumhur ulama mengharamkan onani secara mutlak dan tidak memberi toleransi untuk melakukannya dengan alasan apapun. Karena seseorang wajib bersabar dari sesuatu yang haram. Apalagi ada solusi yang diajarkan oleh Rasulullah n untuk meredakan/meredam syahwat seseorang yang belum mampu menikah, yaitu berpuasa sebagaimana hadits Ibnu Mas’ud z di atas.

Sedangkan sekelompok sahabat, tabi’in, dan ulama termasuk Al-Imam Ahmad  t memberi toleransi untuk melakukannya pada kondisi tersebut yang dianggap sebagai kondisi darurat.3 Namun nampaknya pendapat ini harus diberi persyaratan seperti kata Al-Albani t dalam Tamamul Minnah (hal. 420-421): “Kami tidak mengatakan bolehnya onani bagi orang yang khawatir terjerumus dalam perzinaan, kecuali jika dia telah menempuh pengobatan Nabawi (yang diperintahkan oleh Nabi n), yaitu sabda Nabi n kepada kaum pemuda dalam hadits yang sudah dikenal yang memerintahkan mereka untuk menikah dan beliau bersabda:

فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Maka barangsiapa belum mampu menikah hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa merupakan obat yang akan meredakan syahwatnya.”

Oleh karena itu, kami mengingkari dengan keras orang-orang yang memfatwakan kepada pemuda yang khawatir terjerumus dalam perzinaan untuk melakukan onani, tanpa memerintahkan kepada mereka untuk berpuasa.”

Dengan demikian, jelaslah kekeliruan pendapat Ibnu Hazm t dalam Al-Muhalla (no. 2303) dan sebagian fuqaha Hanabilah yang sekadar memakruhkan onani dengan alasan tidak ada dalil yang mengharamkannya, padahal bertentangan dengan kemuliaan akhlak dan keutamaan.
Yang lebih memprihatinkan adalah yang sampai pada tahap menekuninya sebagai adat/kebiasaan, untuk bernikmat-nikmat atau berfantasi/mengkhayalkan nikmatnya menggauli wanita. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata dalam Majmu’ Al-Fatawa (10/574): “Adapun melakukan onani untuk bernikmat-nikmat dengannya, menekuninya sebagai adat, atau untuk mengingat-ngingat (nikmatnya menggauli seorang wanita) dengan cara mengkhayalkan seorang wanita yang sedang digaulinya saat melakukan onani, maka yang seperti ini seluruhnya haram. Al-Imam Ahmad t mengharamkannya, demikian pula yang selain beliau.” Wallahu a’lam.
Semoga Allah l membimbing para pemuda dan pemudi umat ini untuk menjaga diri mereka dari hal-hal yang haram dan hina serta merusak akhlak dan kemuliaan mereka. Amin.
Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Apakah pelaku onani/masturbasi mendapat dosa seperti orang yang berzina?
Adi Wicaksono, lewat email
Penetapan kadar dan sifat dosa yang didapatkan oleh seorang pelaku maksiat, apakah sifatnya dosa besar atau dosa kecil harus berdasarkan dalil syar’i. Perbuatan zina merupakan dosa besar yang pelakunya terkena hukum hadd. Nash-nash tentang hal itu sangat jelas dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Adapun masturbasi/onani dengan tangan sendiri atau semacamnya (bukan dengan bantuan tangan/anggota tubuh dari istri atau budak wanita yang dimiliki), terdapat silang pendapat di kalangan ulama. Yang benar adalah pendapat yang menyatakan haram. Hal ini berdasarkan keumuman ayat 5-7 dari surat Al-Mu’minun dan ayat 29-31 dari surat Al-Ma’arij. Onani termasuk dalam keumuman mencari kenikmatan syahwat yang haram, karena melampaui batas syariat yang dihalalkan, yaitu kenikmatan syahwat antara suami istri atau tuan dengan budak wanitanya. Adapun hadits-hadits yang diriwayatkan dalam hal ini yang menunjukkan bahwa onani adalah dosa besar merupakan hadits-hadits yang dha’if (lemah) dan tidak bisa dijadikan hujjah. Di antaranya:

سَبْعَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَيَقُوْلُ: ادْخُلُوْا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِيْنَ: … وَالنَّاكِحُ يَدَهُ …. الْحَدِيْثَ

“Ada tujuh golongan yang Allah tidak akan memandang kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan membersihkan mereka (dari dosa-dosa) dan berkata kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk ke dalamnya!’: … dan orang yang menikahi tangannya (melakukan onani/masturbasi) ….dst.”

Sifat onani yang paling parah dan tidak ada seorang pun yang menghalalkannya adalah seperti kata Syaikhul Islam dalam Majmu’ Al-Fatawa (10/574): “Adapun melakukan onani untuk bernikmat-nikmat dengannya, menekuninya sebagai adat, atau untuk mengingat-ngingat/mengkhayalkan (nikmatnya menggauli seorang wanita) dengan cara mengkhayalkan seorang wanita yang sedang digaulinya saat melakukan onani, maka yang seperti ini seluruhnya haram. Al-Imam Ahmad t mengharamkannya, demikian pula selain beliau. Bahkan sebagian ulama mengharuskan hukum hadd bagi pelakunya.”

Penetapan hukum hadd dalam hal ini semata-mata ijtihad sebagian ulama mengqiyaskannya dengan zina. Namun tentu saja berbeda antara onani dengan zina sehingga tidak bisa disamakan. Karena zina adalah memasukkan kepala dzakar ke dalam farji wanita yang tidak halal baginya (selain istri dan budak wanita yang dimiliki). Oleh karena itu, yang benar dalam hal ini adalah pelakunya hanya sebatas diberi ta’zir (hukuman) yang setimpal sebagai pelajaran dan peringatan baginya agar berhenti dari perbuatan maksiat tersebut. Pendapat ini adalah madzhab Hanabilah, dibenarkan oleh Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin t dalam Asy-Syarhul Mumti’ Kitab Al-Hudud Bab At-Ta’zir dan difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da’imah yang diketuai oleh Al-Imam Ibnu Baz t dalam Fatawa Al-Lajnah (10/259).

Adapun bentuk hukumannya kembali kepada ijtihad hakim, apakah dicambuk (tidak lebih dari sepuluh kali), didenda, dihajr (diboikot), didamprat dengan celaan, atau lainnya, yang dipandang oleh pihak hakim dapat membuatnya jera dari maksiat itu dan bertaubat.5 Wallahu a’lam.
Kesimpulannya, masturbasi tidak bisa disetarakan dengan zina, karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal itu. Namun onani adalah maksiat yang wajib untuk dijauhi. Barangsiapa telah melakukannya hendaklah menjaga aibnya sebagai rahasia pribadinya dan hendaklah bertaubat serta memohon ampunan Allah l. Apabila urusannya terangkat ke mahkamah pengadilan, maka pihak hakim berwenang untuk memberi ta’zir (hukuman) yang setimpal, sebagai pelajaran dan peringatan baginya agar jera dari perbuatan hina tersebut. Wallahu a’lam.

http://asysyariah.com/hukum-onani.html

Cinta Dunia

Penyakit yang mengeluti kebanyakan umat islam sebagaimana yang di isyaratkan dalam riwayat yang masyhur adalah Al WAHN. Yaitu cinta dunia dan takut mati.

Çinta dunia merupakan sumber ketergelinciran. Sedangkan harta mengandung banyak penyakit, paling tidak ia akan menjadikan seseorang sombong dan takabur, minimal, menyibukkan dari mengingat Allah dan Ayat-ayat Nya.Sedang orang yang lalai ,ia adalah orang yg merugi.Bila ia jauh dari mengingat Allah,ia akan terkuasai syaiton,dan syaiton akan menghiasi keburukan-keburukan seolah kebaikan.

Seseorang yang mabuk dunia keadaannya lebih parah dari mabuk arak, orang tersebut tidak akan pernah sadar dan siuman kecuali bila telah merasakan sempit dan gelap nya liang lahat.

Berkata Yahya ibnu mu’adz ,” Dunia merupakan araknya syaithon, barang siapa yang mabuk,ia tidak akan sadar hingga merasakan hadirnya kematian dan ia tergolong dari orang2 yg menyesal selamanya”.

Diriwayatkan oleh Anas, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,” Barang siapa yg Akhirat memenuhi keinginan hati nya, maka Allah jadikan rasa kaya berada dihatinya, dan dikumpulkan baginya perbendaharaan harta, datang kepadanya isi dunia, sedang ia merasa tÍdak butuh pada nya. Dan barang siapa dunia memenuhi isi hatinya, maka Allah jadikan kefakiran melekat dihadapan matanya, dan menjauh darinya perbendaharaan harta, dan gemerlap dunia menjauh darinya kecuali apa yg ditaqdirkan bagi nya”. HR Tirmidy.

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

TAKUTLAH ENGKAU AKAN RINGANNYA TIMBANGAN AMAL KEBAIKANMU PADA YAUMUL QIYAMAH

Perhatikanlah…Saudara-saudariku kaum muslimin dan muslimah yang dimuliakan oleh ALLAH subhaanahu wa ta’ala…

Saudaraku…
Takutlah engkau akan ringannya timbangan amalanmu!

Takutlah engkau akan diberikannya catatan amalan dari arah kiri, karena sesungguhnya itu semua adalah musibah yang sangat besar yang menimpa dirimu…

Oleh sebab itu, bersemangatlah!
wahai saudara-saudariku untuk mengerjakan amal-amal yang bisa mengantarkan kepada kebahagiaan dan keberhasilan yang besar untuk kita selama masih ALLAH subhaanahu wa ta’ala memberikan kehidupan untuk kita..dan jangan kita sampai menyia-nyiakan umur kita terhadap sesuatu yang tidak memberikan manfaat dunia dan akhirat kita…

Kemudian perbanyaklah amal-amal yang bisa memberatkan timbangan amal kebaikanmu dan diberikannya catatan amalmu dari arah sebelah kanan, sehingga engkau menjadi orang yang sukses dan berhasil.

Sebagaimana ALLAH subhaanahu wa ta’ala berfirman:
“Barang siapa yang berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang yang dapat keberuntungan.
Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya…”(Surat Al Mu’Minuun 102-103)

Semoga ALLAH subhaanahu wa ta’ala menerima amal sholeh kita yang kelak اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ sebagai pemberat timbangan kebaikan untuk kita.

 Ditulis oleh Ustadz Ahmad Ferry Nasution حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Ikhlas dan Husnudzan

Ust. Badrusalam Lc

كان طلحة بن عبدالرحمن بن عوف
أجود قريش في زمانه فقالت له امرأته يوما : ما رأيت قوما أشدّ لؤْما منْ إخوانك . قال : ولم ذلك ؟ قالت : أراهمْ إذا اغتنيت لزِمُوك ، وإِذا افتقرت تركوك ! فقال لها : هذا والله من كرمِ أخلا‌قِهم ! يأتوننا في حال قُدرتنا على إكرامهم.. ويتركوننا في حال عجزنا عن القيام بِحقِهم
Thalhah bin Abdirrahman bin Auf adalah orang yang paling dermawan di kalangan Quraisy di zamannya. Suatu hari istrinya berkata kepadanya, “Aku tidak pernah melihat orang yang paling tidak tau terima kasih dari teman-temanmu.”

Thalhah berkata, “Mengapa begitu?”
Istrinya berkata, “jika kamu sedang kaya, mereka mendekatimu, dan jika kamu sedang tidak punya, mereka meninggalkanmu.”

Thalhah berkata, “Demi Allah, ini mungkin dari kebaikan akhlak mereka. Mereka datang dikala kita dapat memuliakan mereka, dan meninggalkan kita ketika kita tidak mampu melaksanakan hak mereka.”

علّق على هذه القِصة الإ‌مام الماوردي فقال : انظر كيف تأوّل بكرمه هذا التأويل حتى جعل قبيح فِعلهم حسنا ، وظاهر غدرِهم وفاء. وهذا والله يدل على ان سلا‌مة الصدر راحة في الدنيا وغنيمة في الآ‌خرة وهي من أسباب دخول الجنة (ونزعنا ما في صدورهم من غل إخوانا على سرر متقابلين )

Imam Al Mawardi memberi komentar kisah ini.
Beliau berkata, “Lihatlah, bagaimana kemuliaannya membuat ia berbaik sangka, sehingga ia memandang buruknya perbuatan mereka menjadi baik.

Ini demi Allah menunjukkan kepada keselamatan hati.
Ia adalah ketenangan di dunia, dan keberuntungan di akherat.
Dan ini adalah salah satu sebab masuk ke dalam surga.

Allah berfirman:
ونزعنا ما في صدورهم من غل إخوانا على سرر متقابلين

“Dan Kami cabut rasa dengki terhadap kawan-kawannya di hati mereka. Di atas kasur kasur mereka saling berhadapan.”

Tips-Tips Di Hormati Anak

Tiada yang lebih menyejukkan hati orang tua daripada dihormati anak & mereka pun bisa menjadi sarana ibadah bagi orang tua mereka…

Ketahuilah! Bahwa kewibawaan hanya dapat diraih dgn ketakwaan dan taat kepada Allah…

Berikut ini beberapa tips agar dihormati anak:

1. Ikhlas dalam mendidik dan membesarkan mereka

2. Bertakwa kepada Allah, sebab ketakwaan dapat menumbuhkan rasa cinta & hormat pada hati anak

3. Menjadi ayah & ibu yang saling menghormati, sehingga sang anak ns belajar bagaimana cara menghormati orang lain

4. Mengajarkan kpd anak2 Al-Qur’an dan hadist shahih khususnya yg membahas ttg keutamaan berbakti & menghormati orang tua

5. Memberitahu kepada anak ttg hak ibu & ayah mereka dgn cara yg baik dalam suasana yang penuh keakraban & kelembutan

6. Menerangkan kepada mereka bahwa taat & patuh kepada orang tua adalah bagian dari ketaatan kpd Allah

Dikutip dari sebagiannya kitab Fiqih Tarbiyatul Awlad Hal. 134 karya Syekh Mustofa Al’adawy

Semoga bermanfaat…

Mendidik Anak

Ustadz Kholid Syamhudi Al-Bantani Lc

Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pendidikan anak:

1. Mendidik mereka untuk senantiasa merasa terawasi oleh Allah سبحانه وتعالى (تربيتهم على مراقبة الله)

Hal ini ditunjukkan hadits Ibnu Abas yang artinya :
“Wahai anak kecil!
Aku ingin mengajarimu beberapa kalimat; Jagalah Allah سبحانه وتعالى niscaya Ia akan menjagamu, Jagalah Allah سبحانه وتعالى niscaya kami mendapatiNya dihadapanmu. Apabila meminta maka mintalah kepada Allah سبحانه وتعالى , bila memohon bantuan maka mintalah kepada Allah سبحانه وتعالى ….”
[HR Al Tirmidzi]

2. Menjauhkan mereka dari orang kafir dan yang menyimpang dan mendidik anak untuk mencintai orang mukmin.

Sahabat Anas bin Malik menyatakan:
كانوا يعلمون أولادهم محبة الشيخين كما يعلمونهم السورة من القران
(السنة للخلال)

Mereka mengajari anak-anak mereka untuk mencintai Abu Bakar dan Umar sebagaimana mereka mengajari anak-anak mereka satu surat dari Al Qur’an.
  
3. Mengagungkan larangan Allah سبحانه وتعالى dan hal-hal yang diharamkan.

4.Menjadikan mereka hafal Al Qur’an

5. Mendidiknya untuk terbiasa dengan do’a-do’a.
 
Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم semangat melakukan do’a dan dzikir diwaktu pagi dan petang atau waktu-waktu tertentu dan mengajari para sahabatnya untuk berbuat demikian.

6. Mendidik mereka untuk sabar dalam ketaatan.
 
Demikianlah artikel singkat ini mudah-mudahan bermanfaat.

» Baca artikel lengkap SaMaRa disini
KLIK http://m.klikuk.com/bina-keluarga-samara/

Tj Yasiin, Adzan dan Tabur Bunga

Pertanyaan AI 49:

Jika aku mati uruslah sesuai dgn syariat,jgn Ada yg baca yasin didekatku,azan dan tabur bunga juga jgn adakan tahlilan,,ini pesan seorang teman?apakah ini semuanya sesuai syariat islam,mohon pencerahannya ustad,tks

Jawaban:

Pembacaan Yasin:
Beberapa kesalahan dan bid’ah seputar surah Yasin agar kaum muslimin waspada darinya.

1. Membaca Yasin dalam acara ta’ziyah kadang 1-7 hari, kadang sampai 40 hari dan ada pula lebih dari itu.

2. Pembacaan Yasin saat akan berangkat haji dan berlanjut terus sampai yang pergi kembali dari hajinya.

3. Membacakan Yasin pada orang yang sakaratul maut dan membimbingnya membaca Yasin. .

4. Membaca Yasin setelah mayat dikuburkan.

5. Mengirimkan Yasin untuk orang yang sudah meningggal.

6. Mengkhususkan membaca Yasin di kuburan, kadang pada hari jum’at, kadang selepas ‘Ied dan di waktu-waktu tertentu.

Untuk lengkapnya silahkan dibuka link berikut:
http://al-atsariyyah.com/kesalahan-dan-bidah-seputar-surah-yasin.html

Adzan di Kubur
Tidak ada keraguan bahwa hal itu adalah bid’ah yang Allah tidak menurunkan sulthan (argumen) tentangnya, karena hal itu tidak pernah dinukil dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan tidak pula dari para shahabat beliau radhiallahu ‘anhum, padahal semua kebaikan ada pada mengikuti mereka dan menempuh jalan mereka.

Untuk lengkapnya silahkan dibuka link berikut:

http://al-atsariyyah.com/hukum-azan-dan-iqamah-saat-penguburan.html

Tabur Bunga
Perbuatan ini sering dilakukan oleh para peziarah kubur. Kami tidak menemukan satu pun riwayat valid yang menunjukkan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya melakukan hal yang serupa ketika menziarahi suatu kubur.

Oleh karena itu, tradisi yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin ini  tercakup dalam larangan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak mengekor kebudayaan khas kaum kafir sebagaimana yang termaktub dalam sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ومن تشبه بقوم فهو منهم

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum ,maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad nomor 5114, 5115 dan 5667; Sa’id bin Manshur dalam Sunannya nomor 2370; Ibnu Abi Syaibah dalam

Mushannaf-nya: 19401, 19437 dan 33010. Al ‘Allamah Al Albani menghasankan hadits ini dalam
Al Irwa’ 5/109).

Ibnu ‘Abdil Barr Al Maliki rahimahullah mengatakan, “(Maksudnya orang yang menyerupai suatu kaum) akan dikumpulkan bersama mereka di hari kiamat kelak. Dan bentuk penyerupaan bisa dengan meniru perbuatan yang dilakukan oleh kaum tersebut atau dengan meniru rupa mereka.” (At Tamhid lima fil Muwaththa minal Ma’ani wal Asaanid 6/80).

Untuk lengkapnya, silahkan buka link berikut ini:

http://www.konsultasisyariah.com/ziarah-kubur/#axzz2UXeb7dNi

Mintalah Surga Firdaus

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

” فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ، وَأَعْلَى الْجَنَّةِ…..

“Apabila kalian memohon kepada Allah, maka mohonlah surga Firdaus, karena ia adalah surga yang terletak paling tengah dan paling tinggi”
[HR al-Bukhari: 2790]

Panjatkanlah doa-doa Anda di sepanjang hari, terutama nanti di sepertiga malam terakhir.

Jangan lupa, sertakan kami dalam doa Anda.

Dan semoga Allah mengumpulkan kita di Surga Firdaus.

 Ditulis oleh Ustadz Ahmad Ferry Nasution حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Tj Menunda Bayar Hutang Puasa

Pertanyaan AI 87:
As salaam ‘alaikum akh, mau tanya, apakah ada batasan2 waktu tertentu untuk melakukan ibadah puasa sunnah / mengganti puasa yg tertinggal sebelum ramdhan datang? Apakah sehari sblm ramadhan kita boleh melakukannya? Jazzakallah khairan katsiran

Jawaban:

#Membayar Utang Puasa#

Pembahasannya cukup panjang, terutama bagaimana jika lewat Ramadhan berikutnya, sebaiknya dibaca lengkap di link berikut:

http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html

#Puasa Akhir Sya’ban#

Ada 2 hadits yang sepertinya bertentangan sehingga ada
perselisihan pendapat diantara ‘ulama.

Namun pendapat yang kuat dalam mengompromikan dua hadis di atas adalah pendapat yang disebutkan dalam Aunul Ma’bud, yang menukil keterangan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, bahwa Al-Qurthubi mengatakan, “Tidak ada pertentangan antara hadis yang melarang puasa setelah memasuki pertangahan Sya’ban dengan hadis yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambung puasa Sya’ban dengan puasa Ramadan. Kompromi memungkinkan untuk dilakukan. Dengan memahami bahwa hadis larangan puasa adalah untuk orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa sunah, sementara keterangan untuk rajin puasa di bulan Sya’ban dipahami untuk orang yang memiliki kebiasaan puasa sunah, agar tetap istiqamah dalam menjalankan kebiasaan baiknya, sehingga tidak terputus.” (Aunul Ma’bud, 6:330)

Untuk lengkapnya silahkan buka link berikut:

http://www.konsultasisyariah.com/puasa-syaban/#axzz2UXeb7dNi

Menebar Cahaya Sunnah