Ust. Abu Riyadl, حفظه الله
Dan beberapa ungkapan ulama’ tempo doeloe tentangnja..
pengertian ikhlash adalah membersihkan niatan hati ketika akan atau sedang dan pasca ibadah dari segala macam godaan baik itu sedikit maupun banyak, sampai niatnya menjadi murni yaitu hanya untuk bertaqarrub (mendekatkan diri kpd Allah) dan tidak ada pendorong lain. Dan hal ini tidak mungkin terjadi kecuali pada diri seseorang yang mencintai karena Allah keinginannya begitu mendalam untuk menuju akhirat. Dimana tidak ada kata di dalam hatinya untuk dunia. Orang semacam ini, apabila ia makan, minum, bahkan melakukan pekerjaan duniawi ia niatkan untuk Ridho Allah Ta’ala, maka akan didapati bahwa ia sosok orang yang ikhlash dalam beramal dan memiliki niat yang benar. Dan barangsiapa yang tidak seperti ini kondisinya, maka pintu untuk meraih keikhlasan sangat sulit baginya.
Ketika seseorang yang kecintaannya kuat terhadap Allah dan cinta akhirat, niscaya seluruh gerak-gerik kebiasaannya merupakan sebuah wujud keikhlasan.. Barangsiapa yang dirinya terkalahkan oleh dunia, kedudukan, tampuk kepemimpinan, dan secara umum urusannya diserahkan kepada selain Allah;_ maka segala macam gerakannya di atasnamakan Dunia belaka, sehingga tidak ada ibadah yang selamat dari niatan kepada selain Allah, baik itu dari puasa, shalat, atau ibadah yang lainnya dan kalau pun selamat maka jarang terjadi.
Sesungguhnya metode untuk mengatasi agar niat itu bisa ikhlas, yaitu dengan menghancurkan segala kesenangan jiwa, membinasakan segala perasaan tamak terhadap dunia, serta hanya berkeinginan untuk meraih akhirat walaupun ia merupakan kerjaan duniawi. Maka dengan melakukan hal-hal di atas maka akan mudah untuk meraih ikhlas.
Betapa banyak suatu amalan yang sudah susah payah dilakukan oleh manusia, dan ia mengira bahwa semua itu dilakukan karena berharap wajah Allah, namun ternyata ia hanyalah orang telah tertipu, sebab ia sendiri belum menemukan aib dan cacat dari niatnya.
Ayyub berkata, “Mengikhlaskan niat lebih berat bagi para pengamal dari keseluruhan amalan yang ada.”
Sebagian ulama berkata, “Sesaat saja seseorang bisa ikhlas, maka ia akan memperoleh keselamatan yang abadi, namun rasa ikhlas itu sangat jarang dirasakan.”
Ada seseorang berkata kepada Suhail, “Hal apakah yang paling berat bagi jiwa?”, ia menjawab, ‘Ikhlas, karena jiwa itu tidak mampu untuk meraihnya.”
Al-Fudhail berkata, “Meninggalkan suatu amalan karena malu terhadap manusia maka ini disebut riya, beramal karena manusia syirik, sedangkan ikhlas itu ialah Allah menyelamatkanmu dari kedua perbuatan tersebut.”
Www.abu-riyadl.blogspot.com
Ditulis oleh Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc حفظه الله تعالى
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈