Abu al-Faraj dan yang lainnya menyebutkan bahwa ada seorang wanita cantik di Makkah yang memiliki seorang suami.
Suatu hari, wanita itu melihat wajahnya di cermin, lalu berkata kepada suaminya, “Apakah menurutmu ada orang yang melihat wajah ini dan tidak tergoda karenanya..?”
Suaminya menjawab, “Ya, ada..”
Wanita itu bertanya, “Siapa..?”
Suaminya menjawab, “Ubaid bin Umair..”
Wanita itu berkata, “Kalau begitu, izinkan aku mendatanginya agar aku bisa mengujinya (menggodanya)..”
Suaminya berkata, “Aku izinkan..”
Maka wanita itu pun mendatangi Ubaid bin Umair dengan berpura-pura seperti orang yang ingin meminta fatwa. Ubaid kemudian menyendiri bersamanya di salah satu sudut Masjidil Haram. Wanita itu lalu membuka cadarnya hingga tampaklah wajah yang indah laksana belahan bulan.
Ubaid berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, tutuplah kembali wajahmu..!”
Wanita itu berkata, “Sesungguhnya aku telah jatuh cinta padamu..”
Ubaid menjawab, “Aku akan menanyakan beberapa hal kepadamu. Jika kamu menjawabku dengan jujur, maka aku akan mempertimbangkan urusanmu ini..”
Wanita itu berkata, “Tidaklah engkau menanyakan sesuatu kepadaku melainkan aku akan menjawabnya dengan jujur..”
1. Ubaid bertanya, “Beritahu aku, seandainya Malaikat Maut datang kepadamu untuk mencabut nyawamu, apakah kamu akan merasa senang jika aku telah memenuhi keinginanmu (syahwatmu) ini..?”
Wanita itu menjawab, “Ya Allah, tentu tidak..”
Ubaid berkata, “Kamu benar..”
2. Ubaid bertanya lagi, “Seandainya kamu telah dimasukkan ke dalam kuburmu dan didudukkan untuk dimintai pertanggungjawaban, apakah kamu akan merasa senang jika aku telah memenuhi keinginanmu ini..?”
Wanita itu menjawab, “Ya Allah, tentu tidak..”
Ubaid berkata, “Kamu benar..”
3. Ubaid bertanya lagi, “Seandainya catatan amal manusia telah dibagikan dan kamu tidak tahu apakah akan menerima catatanmu dengan tangan kanan atau tangan kirimu, apakah kamu akan merasa senang jika aku telah memenuhi keinginanmu ini..?”
Wanita itu menjawab, “Ya Allah, tentu tidak..”
Ubaid berkata, “Kamu benar..”
4. Ubaid bertanya lagi, “Seandainya kamu hendak melewati jembatan (shiroth) dan kamu tidak tahu apakah kamu akan selamat atau tidak, apakah kamu akan merasa senang jika aku telah memenuhi keinginanmu ini..?”
Wanita itu menjawab, “Ya Allah, tentu tidak..”
Ubaid berkata, “Kamu benar.”
5. Ubaid bertanya lagi, “Seandainya timbangan (mizan) telah didatangkan dan kamu dihadirkan di sana, sementara kamu tidak tahu apakah timbangan kebaikanmu akan ringan atau berat, apakah kamu akan merasa senang jika aku telah memenuhi keinginanmu ini..?”
Wanita itu menjawab, “Ya Allah, tentu tidak..”
Ubaid berkata, “Kamu benar..”
6. Ubaid bertanya lagi, “Seandainya kamu berdiri di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban, apakah kamu akan merasa senang jika aku telah memenuhi keinginanmu ini..?”
Wanita itu menjawab, “Ya Allah, tentu tidak..”
Ubaid berkata, “Kamu benar..”
Ubaid lalu berkata, “Bertakwalah kepada Allah, karena Dia telah memberikan nikmat dan berbuat baik kepadamu..”
Wanita itu pun pulang kembali kepada suaminya. Suaminya bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan..?”
Wanita itu menjawab, “Engkau adalah orang yang menyia-nyiakan hidup, dan kita selama ini adalah orang-orang yang lalai..”
Setelah kejadian itu, sang wanita berbalik sepenuhnya untuk mendirikan sholat, berpuasa, dan beribadah. Sampai-sampai suaminya mengeluh, “Ada apa antara aku dan Ubaid bin Umair..?! Dia telah merusak istriku. Dahulu setiap malam dia bagaikan pengantin baru, namun sekarang Ubaid telah mengubahnya menjadi seorang ahli ibadah yang menjauhi dunia..”
(Roudhotul Muhibbiin wa Nuzhatul Musytaqiin / Taman Orang Orang Yang Jatuh Cinta Dan Memendam Rindu – hlm. 340 – Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah)