Dari dulu, salah satu cara praktis menjadi orang terkenal ialah ikut berteduh di bawah payung orang besar, cepat deh dikenal dan punya pengikut..
Dulu washil bin atha’ juga demikian, ikut hadir di majlis ulama’ besar semisal Al Hasan Al Bashri. Setelah mulai dikenal, barulah ia menampakkan taring dan bisanya, meruntuhkan apa yang dibangun oleh gurunya sendiri. Imam Hasan Al Bashri mengajarkan akidah ahlussunnah wa al jamaah, sedangkan washil bin atha’ mengajarkan idiologi mu’tazilah.
Metode ini nampaknya digunakan oleh sebagian orang yang gurunya mengajarkan anti fanatik, anti taasshub, menggalang persatuan, eeeh ada saja sebagian orang yang berhasil berteduh di bawah payung besar sang guru untuk melancarkan gerakan yang berlawanan arah.
Guru menyeru agar ummat islam meninggalkan fanatik, pendompleng tersebut dengan bahasa lembut menyeru agar ummat islam fanatik kepada sang guru.
Guru pontang panting, peras keringat dan banting tulang menyatukan ummat islam di bawah islam yang benar, eeh murid malang melintang dibawah naungan payung sang guru menjadi tukang kepruk. Ia memanfaatkan rindangnya payung sang guru untuk menciptakan perpecahan dan permusuhan semu antara sang guru dengan guru guru lainnya.
Kalau memang mau jadi murid, bukan sekedar pendompleng, apalagi moto moto, mbok yo niru gurunya, fokus dan santun, bukan malah jadi tukang kepruk, kepruk sana , kepruk sini, dan penabuh genderang permusuhan semu antara sang guru dan guru guru lainnya.
Ya Allah satukanlah ummat islam dinatas agama-Mu dan jauhkanlah kami dari para penebar kebencian
Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى