Ust. M Arifin Badri, حفظه الله
Sobat! Kisah sejarah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabanya sering kita dengar dan kitaelajari. Namun demikian hingga saat ini kita belum mampu memetik seluruh pelajaran penting darinya.
Diantara kisah perjalanan dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersama sahabatnya yang pasti telah anda pelajari, ialah kisah hijrah sebagian sahabat ke negri Habasyah.
Saya yakin, anda sepenuhnya memahami bahwa negri habasyah adalah negri kafir, namun demikian, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengizinkan sebagian sahabatnya untuk berhijrah ke sana. Ada satu alasan penting yang melatar belakangi keputusan beliau ini, yaitu adanya kepastian hukum dan perlindungan bagi setiap orang tinggal di negri tersebut.
Rasulullah shallallahi alaihi wa sallam bersabda:
“لو خرجتم إلى أرض الحبشة، فإن بها ملكا لا يظلم عنده أحد، وهي أرض صدق، حتى يجعل الله لكم فرجا مما أنتم فيه”
Ada baik ya jikalau kalian pergi ke negri Habasyah, karena di negri itu dipimpin oleh seorang raja yang menegakkan keadilan, sehingga tidak seorangpun dianiaya di sana. Negri itu adalah negri yang dipimpin dengan kejujuran. Kalian untuk sementara tinggal di sana hingga saatnya nanti Allah memberikan jalan keluar bagi kalian dari kondisi yang menghimpit kalian. ( Ahmad dan lainnya)
Walau negri itu negri kafir, dan Islam melarang ummatnya untuk tinggal apalagi hijrah ke negri kafir, namun demikian pada saat itu negri Habasyah adalah pilihan pahit teringan bagi banyak sahabat dibanding bertahan hidup di negri Makkah.
Bertahan hidup di negri Makkah artinya menanggung derita, siksa dan intimidasi yang sangat berat untuk dipikul oleh kebanyakan sahabat. Sedangkan berhijrah ke negri Habasyah juga pilihan pahit, karena hidup di negri orang kafir, berpotensi mengancam keutuhan agama para sahabat. Dan telah terbukti salah seorang dari kaum muslimin yaitu ubaidillah bin Jahesy tidak kuasa menahan godaan hingga akhirnya ia murtad dan masuk ke agama nasrani.
Petaka yang menimpa Ubaidillah bin jahesy ini membuktikan bahwa keberadaan para sahabat di Habasyah adalah satu pilihan pahit namun tidak sepahit bila mereka bertahan di kota Makkah.
Kisah di atas menjadi pelajaran kita untuk menghadapi kondisi serupa. Misalnya di saat pemilu ini. Menggunakan hak pilih adalah pilihan pahit namun tidak sepahit bila tokoh tokoh syi’ah dan antek antek kaum kafir memenangkan pemilu dan memimpin negri ini.
Sobat! Berpikir cerdas dan bersikap kesatria adalah bagian dari karakter ummat Islam. Mengedepankan dalil dan nalar sehat adalah sikap bijak dibanding sekedar mengikuti hawa nafsu dan emosi diri.
Ditulis oleh Ustadz Muhamad Arifin Badri . حفظه الله تعالى
– – – – – – 〜 ✽ 〜- – – – – –