All posts by BBG Al Ilmu

Faidah: Jika Ada Yang Menjauhi Kajian Kita…

Syeikh Ibrahim Arruhaily -hafizhahullah-:

Aku dulu menganggap bahwa menjauhnya orang-orang dari kajian (ku) termasuk musibah yang harus dihadapi dengan sabar, dan itu risiko dalam menyampaikan kebenaran.

Ternyata itu adalah PROSES SELEKSI dari Allah yang harusnya disyukuri, karena Dia telah menyelamatkanku dari berkumpul dengan mereka“.

http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=68167

——

Sampaikanlah kebenaran dengan apa adanya, dengan tetap menyiasati lingkungan dengan sebaik mungkin.. apapun yang kita lakukan dalam menyampaikan kebenaran, dan secantik apapun kita melakukannya, pasti akan ada cobaan dan risikonya.

Hadapilah segalanya dengan berpikir positif, karena “bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu lebih baik bagi kalian… padahal Allah menjadikan banyak kebaikan padanya” [QS. Albaqarah: 216, Annisa’: 19].

Silahkan dishare.. Semoga bermanfaat..

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Tidak Ada Kebaikan Padanya…

Abu Bakar radliyallahu ‘anhu berkata: “Tahukah kamu, bahwa kita pergi dan datang dalam ajal yang telah ditentukan ?

TIDAK ADA KEBAIKAN pada ucapan yang tidak mengharapkan wajah Allah..

TIDAK ADA KEBAIKAN pada harta yang tidak diinfakkan di jalan Allah..

TIDAK ADA KEBAIKAN pada orang yang kebodohannya mengalahkan sifat bijaknya..

TIDAK ADA KEBAIKAN pada orang yang takut cercaan di jalan Allah..

(Mawa’idz ssohabah hal 53).

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

da070314-0605

Pertanyaan Yang Wajib Dijauhi…

Ada beberapa pertanyaan yang patut dijauhi :

1.    Bertanya tentang perbuatan Allah.
Seperti bertanya: Apakah Allah mampu menciptakan benda yang lebih besar dari diriNya..

2.    Bertanya tentang tata cara sifat Allah.
Seperti bertanya: Bagaimanakah bentuk tangan Allah.. dsb.

3.    Bertanya untuk memperolok agama Allah.
Seperti bertanya: Apa bahasa arabnya ngebalikin nasi? Jawab malikinnasi..
Ini adalah bentuk perolokkan terhadap ayat Allah.

4.    Bertanya untuk memperlihatkan kehebatan diri kita.
Karena ini adalah fenomena ujub yang dapat menjerumuskan kepada kesombongan..

5.    Bertanya untuk menjatuhkan martabat seorang guru di hadapan muridnya.
Ini adalah salah satu bentuk kekurang adaban murid terhadap gurunya, karena tidak semua ilmu diketahui oleh si guru..

6.    Bertanya untuk menjidal (mendebat) kebenaran dengan kebatilan, agar manusia terhalang dari kebenaran.
Pertanyaan seperti ini biasanya akibat tidak taslim (tunduk) kepada dalil dan lebih mengedepankan ro’yu..

7.    Bertanya yang menunjukkan ketidak ridhoan terhadap taqdir.
Seperti bertanya: Kenapa Allah taqdirkan saya buta.. dsb.

8.    Bertanya sesuatu yang dapat memberatkan.
Seperti pertanyaan banu israil, tentang jenis sapi yang harus disembelih, padahal bila tidak bertanya, mereka boleh menyembelih sapi manapun.
Semua ini adalah pertanyaan yang haram.
Ada juga pertanyaan yang dimakruhkan oleh para ulama.

9.    Bertanya sesuatu yang tidak ada manfaatnya.
Seperti bertanya: Anjing yang ikut ashhabul kahfi itu anjing apa?

10. Bertanya sesuatu yang mustahil terjadi.
Seperti bertanya: apa hukum anak hasil perkawinan dari kambing dan babi..

11. Bertanya sesuatu yang belum terjadi.
Imam Ahmad bila ditanya, beliau berkata: Apakah sudah terjadi? Bila belum, beliau berkata: “Biarkan sampai terjadi dulu”..

12. Bertanya sesuatu yang sudah jelas..

13. Bertanya sebatas iseng saja..

والله أعلم بالصواب.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

 

da260314-0935

 

Biasakanlah Lisan Anda Untuk Mengingat Allah…

JANGAN BIASAKAN LISAN ANDA UNTUK DIAM, TAPI BIASAKANLAH UNTUK SELALU BERDZIKIR, BERISTIGHFAR, BERTASBIH, dst… karena ketika dia sudah terbiasa berdzikir, dia takkan diam selamanya.

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

Sungguh benar-benar akan ada seorang hamba yang datang pada hari kiamat… dengan amal-amal keburukan yang besarnya seperti gunung-gunung, lalu dia dapati lisannya telah meluluh-lantakkannya DENGAN BANYAKNYA DZIKIR KEPADA ALLAH.”

[Kitab: Adda’ wad Dawa’ 375].

Semoga Allah menjadikan kita; seorang hamba yang lisannya selalu basah dengan bacaan-bacaan dzikir untuk-NYA… amin.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da201015-2100
da140717-2055

Nyaris Tidak Ada Seorangpun Yang Selamat Dari Hasad…

Ada yang bertanya kepada Imam al-Hasan al-Bashri rohimahullah: “Wahai Abu Sa’id, apakah seorang mukmin bisa bersikap hasad ?

Beliau menjawab : “Betapa kalian telah melupakan anak-anak Ya’qub, yaitu ketika mereka hasad terhadap Yusuf…

Namun, sebesar apapun hasad yang ada di hatimu..
maka ia tidak akan membahayakanmu selama lisanmu tidak mengucapkannya dan tanganmu tidak menurutinya

Syaikhul Islam pun mengomentari perkataan tersebut, seraya berkata :
Maksudnya hasad adalah salah satu penyakit hati yang senantiasa ada dan hanya sedikit orang yang selamat darinya. Karena itulah dikatakan,

“Tidaklah jasad itu bersih dari sifat hasad. Hanya saja orang-orang yang hina menampakkannya, sedangkan orang yang mulia selalu berupaya menyembunyikannya.

Ya Allah…sucikanlah qolbu hamba-Mu ini dari segala penyakit hati..!!

Aamiiin…

Ustadz Djazuli Ruhan Basyir Lc, حفظه الله تعالى

da170714-0646

Sungguh Betapa Mengherankan…

Berapa kali aku mencela orang-orang yang dijauhi oleh Allah, tapi celaan itu ternyata tidak bermanfaat…

Betapa sering aku menyeru kepada orang-orang yang tuli dan lalai, tapi ternyata seruan itu tidak terdengar…

Betapa seringnya aku berbicara pada hatimu dan aku sangat ingin engkau mendengarkannya…

Wahai orang yang beku air matanya yang tidak pernah bisa menangis karena takut kepada Allah…

Kenapa hatimu dan jasadmu telah engkau gunakan untuk mencintai dunia yang fana…

Kenapa engkau pun selalu saja menampakkan maksiatmu kepada Allah dan kepada makhluk-Nya…

Kenapa engkau selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh-Nya…

Ketahuilah, salah satu tanda dari kesesatan itu ialah hati yang tidak mau tunduk kepada Allah…

Wahai orang yang lalai…

Hitunglah kerugianmu selama ini dengan mengumpulkan yang haram-haram…

Segeralah tinggalkan itu semua…

Jangan sampai engkau masih berada di kebun kelalaian ketika datang panggilan kematian dari-Nya secara tiba-tiba…

Hingga engkau pun berangkat dalam memenuhi panggilan itu dengan cara yang mengenaskan…

Siapa saja yang memperbanyak dosanya, berarti sungguh ia telah memperbanyak penyesalan…

Abu Al-Fadhl Jabrail bin Manshur berkata :

Sampai kapan engkau larut dalam kelalaian ?
Sepertinya engkau menganggap remeh akibat penundaan siksa. Masa santai dan muda telah berlalu, sementara engkau tidak meraih keridhoan dari Tuhanmu ? Sekarang, yang tersisa adalah masa-masa hina dan malas serta engkau tidak mendapatkan manfaat apa-apa…!” (Al-Bidayah wan Nihayah XIII hal 126).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

Sungguh sangat mengherankan sekali keadaan kebanyakan manusia, waktu terus berlalu dan umurpun habis, namun hatinya masih tetap tertutup dari Allah dan kehidupan akhirat. Dia keluar dari dunia sebagaimana dia memasukinya, dia tidak mencicipi sesuatu yang paling nikmat darinya. Dia hidup seperti hidupnya hewan, dan dia berpindah seperti pindahnya orang-orang yang pailit. Sehingga dia menjadi orang yang hidupnya lemah, matinya menyedihkan, dan kembalinya (ke akhirat) adalah kerugian dan penyesalan” (Thoriqul Hijrotain hal 385)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Tidak akan masuk Neraka seseorang yang menangis karena merasa TAKUT KEPADA ALLAH……” (HR. At-Tirmidzi no.1633)

Mengapa seseorang malu untuk menangis karena takut kepada Allah Ta’ala…

Apakah karena keras dan hitamnya hati dari maksiat yang begitu sering dilakukan…

Apakah hatinya telah terkunci…?

Apakah hatinya sudah lebih keras dari pada batu…?

Hendaklah seseorang itu menangis karena ia tidak dapat menangis…

Ia takut akan dosa-dosanya yang tidak terhitung banyaknya…

Ia takut akan su’ul khatimah…

Ia takut akan adzab kubur…

Ia takut Allah akan menolak amal-amal yang telah ia lakukan…

Ia takut tidak dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang ia cintai di akhirat kelak…

Ia takut nantinya ia dan keluarganya akan dimasukkan ke dalam Neraka Jahannam…

Ia takut tidak mendapat rahmat dan pertolongan Allah…

Ia takut tidak mendapatkan keselamatan dan ampunan Allah…

Ia takut…! Ia takut…! Ia takut…!

Oh…betapa keringnya mata dari air mata yang mengalir…

Oh…betapa jauhnya hati dari rasa takut kepada Allah…

Oh…betapa malunya diri yang selalu dipandang oleh Allah sedang bermaksiat kepada-Nya…

Oh…betapa sedikitnya ibadah dan doa yang dipersembahkan kepada Allah dalam keadaan ikhlas…

Ya Allah, jadikanlah rasa takut kepada-Mu merupakan sesuatu yang paling kami takuti…

Ya Allah, lindungilah kami dari kedua mata kami yang tidak pernah menangis karena takut kepada-Mu…

Wahai Rabb, lindungilah kami dari kedua mata kami yang tidak pernah menangis karena mengharap ampunan dan rahmat-Mu…

Ya Allah, lindungilah kedua mata kami yang tidak pernah menangis karena bertaubat kepada-Mu…

Ya Allah, gantikan air mata kami yang menetes karena-Mu dengan air penyejuk yang akan menyejukkan kami dari panasnya api Neraka…

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Tidakkah Anda Menghadirkan NIAT Ini…

Diantara LADANG AMAL paling menguntungkan adalah NIAT… Oleh karenanya, harusnya Anda sangat memperhatikannya.

Dengan cerdas mengatur niat, amal yang terlihat sepele, menjadi sangat agung pahalanya… Dengan niat pula, amal berat akan menjadi ringan dan Anda bisa IKHLAS, TULUS melakukannya.

Misalnya ketika Anda berangkat kerja, pernahkah Anda menghadirkan niat bahwa kerja tersebut untuk mencarikan nafkah anak dan keluarga ?

Ketika Anda membelikan kebutuhan anak atau keluarga, pernahkan Anda menghadirkan niat bahwa barang itu untuk menafkahi anak dan keluarga ?

Penulis yakin, sangat banyak kesempatan pahala ini Anda lewatkan pada hari-hari yang telah berlalu… Oleh karenanya, janganlah melewatkannya lagi, perbaikilah diri, dan cerdaslah dalam mengatur niat Anda.

Mungkin ada yang bertanya: “Mengapa harus menghadirkan niat ?!”.

Jawablah: Karena Nabi tercinta kita -shollallohu alaihi wasallam- telah mengajak kita melakukannya demikian, beliau telah bersabda:

Jika seseorang menafkahi keluarganya, dan dia MENGHARAPKAN PAHALA darinya, maka itu menjadi amal sedekah baginya“. [HR. Bukhori:55].

Beliau juga mengatakan kepada Sa’d bin Abi Waqqosh -rodhiallohu anhu-:

Sungguh tidaklah kamu memberikan nafkah karena MENGHARAPKAN WAJAH ALLAH, melainkan kamu akan mendapatkan pahala darinya, hingga sesuatu yang kau masukkan ke mulut isterimu“. [HR. Bukhori: 56].

TERAPKAN DALAM KEHIDUPAN ANDA, semoga bermanfaat…

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Tambahan :
Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya hingga diputuskan hukum antara manusia.”

Yazid berkata, “Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah dengan sesuatu walaupun hanya dengan sebuah kue ka’kah atau lainnya.”

(HR Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rohimahullah).

da130315

Kini Radio, HP, TV, Bisa Bersuara, Besok Tangan Anda

Sobat, saat ini anda menikmati kemajuan tekhnologi, sehingga benda mati bisa bersuara, TV, Komputer, HP, Radio dan lainnya, bahkan di pengadilan, peralatan itu bisa bersaksi merugikan anda.

Tahukah anda bahwa semua itu sejatinya peringatan keras bagi anda, bahwa besok tangan, kaki, kulit anda juga akan berbicara menceritakan semua ulah dan perilaku anda, sedangkan lisan anda akan dibungkam.

Allah berfirman:

(الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)

“Pada hari ini Kami bungkam mulut mereka sedangkan tangan mereka bercerita kepada Kami dan kaki mereka bersaksi tentang apa-apa yang telah mereka lakukan..” [Surat Ya-Sin 65]

Sudahkah anda menyadari akan hal ini dan mempersiapkan diri untuk menjalaninya besok ?

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Dahulu Semangat Menuntut Ilmu Sangat Tinggi, Namun Semangat Itu Kini Menurun Setelah Mengalami Ujian Hidup

Ketika baru mengenal sunnah dahulu, semangat belajar menuntut ilmu sangat tinggi, namun semangat tersebut kini menurun setelah mengalami berbagai fitnah dan ujian hidup. Apa yang harus dilakukan agar bisa mengembalikan semangat tersebut?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc, حفظه الله تعالى  berikut ini:

 

da 140914-2200