All posts by BBG Al Ilmu

5. Beberapa Tips Menanamkan TAUHID Di Keluarga

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى berikut ini :

Artikel Terkait :

1. Hakikat TAUHID
2. Pengaruh TAUHID Dalam Kehidupan Seseorang Di Dunia
3. TAUHID Mencegah Kita Dari Pebuatan Dosa
4. Siapakah Orang Yang Paling Bersemangat Dalam Hidup Ini..?
6. Bagaimana Caranya Agar Kita Langgeng Diatas TAUHID..?

6. Bagaimana Caranya Agar Kita Langgeng Diatas TAUHID..?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى berikut ini :

Artikel Terkait :
1. Hakikat TAUHID
2. Pengaruh TAUHID Dalam Kehidupan Seseorang Di Dunia
3. TAUHID Mencegah Kita Dari Pebuatan Dosa
4. Siapakah Orang Yang Paling Bersemangat Dalam Hidup Ini..?
5. Beberapa Tips Menanamkan TAUHID Di Keluarga

3. TAUHID Mencegah Kita Dari Pebuatan Dosa

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى berikut ini :

Artikel Terkait :
1. Hakikat TAUHID
2. Pengaruh TAUHID Dalam Kehidupan Seseorang Di Dunia
4. Siapakah Orang Yang Paling Bersemangat Dalam Hidup Ini..?
5. Bagaimana Caranya Agar Kita Langgeng Diatas TAUHID..?
6. Beberapa Tips Menanamkan TAUHID Di Keluarga

2. Pengaruh Tauhid Dalam Kehidupan Seseorang Di Dunia

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى berikut ini :

Artikel Terkait :
1. Hakikat TAUHID
3. TAUHID Mencegah Kita Dari Pebuatan Dosa
4. Siapakah Orang Yang Paling Bersemangat Dalam Hidup Ini..?
5. Bagaimana Caranya Agar Kita Langgeng Diatas TAUHID..?
6. Beberapa Tips Menanamkan TAUHID Di Keluarga

1. Hakikat TAUHID

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى berikut ini :

Artikel Terkait :
2. Pengaruh TAUHID Dalam Kehidupan Seseorang Di Dunia
3. TAUHID Mencegah Kita Dari Pebuatan Dosa
4. Siapakah Orang Yang Paling Bersemangat Dalam Hidup Ini…?
5. Bagaimana Caranya Agar Kita Langgeng Diatas TAUHID..?
6. Beberapa Tips Menanamkan TAUHID Di Keluarga

Bagi Para Orangtua Murid…

Di masa-masa awal tahun ajaran baru ini, sangat penting bagi para orangtua untuk mengingat dan mengamalkan hadits ini dengan mengingatkan anak-anak mereka untuk berhati-hati dan selektif dalam berteman…
“…KEWAJIBAN BAGI ORANG TUA adalah mendidik anak-anaknya. Termasuk dalam hal ini memantau pergaulan anak-anaknya. Betapa banyak anak yang sudah mendapat pendidikan yang bagus dari orang tuanya, namun dirusak oleh pergaulan yang buruk dari teman-temannya. Hendaknya orangtua memperhatikan lingkungan dan pergaulan anak-anaknya, karena setap orang tua adalah pemimpin bagikeluarganya, dan setiap pemimpin kan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Allah Ta’ala juga berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُون

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan “ (At Tahrim:6).

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan keluaraga kita dari pengaruh teman-teman yang buruk dan mengumpulkan kita bersama teman-teman yang baik. Wallahul musta’an…”

Ref : https://muslim.or.id/8879-pengaruh-teman-bergaul.html

Urusan MACET Karena MAKSIAT..!

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :

وَمِنْهَا تَعْسِيْرُ أُمُوْرِهِ عَلَيْهِ فَلاَ يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلاَّ يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُوْنَهُ أَوْ مُتَعَسِّراً عَلَيْهِ, وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا, فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا, وَيَالله الْعَجَب كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُوْدَةً عَنْهُ مُتَعَسِّرَةً عَلَيْهِ وَهُوَ لاَ يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أَتَى

“Diantara dampak seseorang bermaksiat adalah Allah menyulitkan urusannya, maka tidaklah ia menuju suatu urusan kecuali ia mendapati urusan tersebut tertutup baginya, sulit untuk ditempuhnya. Hal ini sebagaimana bahwasanya barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan memudahkan urusannya. Barang siapa yang membuang ketakwaannya maka Allah akan menyulitkan urusannya. Sungguh mengherankan bagaimana seorang hamba mendapati pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan telah tertutup di hadapannya dan sulit baginya, lantas ia tidak tahu kenapa bisa hal ini menimpanya ?!” (Al-Jawaab al-Kaafi)

Maka jika anda merasa urusan-urusan anda sulit dan terhambat bahkan sering gagal… maka koreksilah diri anda… jangan-jangan pakaian ketakwaan anda mulai anda tanggalkan sedikit demi sedikit.

Sebaliknya jika anda dimudahkan urusannya…bahkan datang rizki dari arah yang tidak di sangka-sangka, maka semoga itu semua adalah kabar baik akan pertanda ketakwaan anda. Allah berfirman :

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢)وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertakwa kepadaAllah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS At-Tholaaq :2-3)

Adapun jika anda terus bermaksiat akan tetapi rizki dan urusan terus lancar maka waspadalah…  Jangan-jangan itu adalah ISTIDROJ..

DR Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

 

da170314-1441

Janganlah Mudah Terheran-Heran…

Berkata KUFUR saja boleh… apalagi hanya memberikan tazkiyah (rekomendasi) kepada SATU tokoh yang tidak semanhaj.

=====

Dakwah tauhid dan sunnah sekarang ini, sudah sangat luas sebarannya di tanah air yang kita cintai Indonesia, walhamdulillah.. Konsekuensinya, angin yang menerpa akan semakin kencang, seiring dengan semakin tingginya kesuksesan dakwah ini.

Diantara ujian yang menimpa dakwah tauhid baru-baru ini, adanya ustadz yang harus mengalah dan meralat beberapa penilaiannya terhadap tokoh tertentu.

Kejadian ini memang telah membuat sebagian orang bingung, dan sebagian lagi bersorak karena lawan dakwahnya dianggap kalah.
Saudaraku seiman, janganlah kita mudah terheran-heran melihat suatu kejadian.. apalagi bila kejadian itu telah banyak terjadi di masa lalu [ingat kembali fitnah perkataan bahwa alquran ciptaan Allah di masa Imam Ahmad -rohimahulloh-].

Janganlah mudah terheran-heran.. “Ojo gumunan”.. apalagi bila hal tersebut telah Allah jelaskan dalam ayat-Nya [QS. An-Nahl:106].

Dalam kasus ini, kita harus bersikap husnuzhon kepada ustadz kita -hafizhahullah-, karena banyak celah bagi kita untuk bersikap demikian, diantaranya:

a. Mungkin beliau dipaksa untuk mengatakan “tanpa ada paksaan” di surat pernyataan tersebut… dan sebenarnya kata itulah yang menjadi kunci utama permasalahan ini, karena jika kata-kata itu tidak ada, atau diganti dengan kata “dengan sangat terpaksa”, tentu kita akan maklum.

b. Bisa saja yang dimaksud sebagai ahlussunnah di situ, adalah makna ahlussunnah secara umum, yakni kaum muslimin yang bukan dari golongan syiah.. dan ini juga sesuai fakta, karena tokoh tersebut jelas bukan dari golongan syiah.

c. Adapun bahwa tokoh tersebut merupakan ahli hadits yang diakui dunia internasional… maka ini sah-sah saja, dan itu bukan berarti ustadz kita mengakui bahwa tokoh itu ahli hadits, atau bahwa tokoh itu pemahamannya sebagaimana generasi salaf.

d. Jika pun apa yang ada dalam surat pernyataan itu dikatakan tulus oleh ustad kita -dan ini SANGAT KECIL SEKALI kemungkinannya-, maka itupun tidak berarti beliau tidak boleh rujuk dari pernyataan tersebut.. Sejak kapan keyakinan seseorang bisa diikat dengan kertas bermaterai ?

Keyakinan adalah amalan hati, tidak ada seorang pun yang mampu memaksakan keyakinan kepada orang tertentu.. Memaksa orang mengatakan sesuatu, itu sangat mungkin.. Tapi memaksa orang meyakini sesuatu, itu mustahil.. dan jika antara keyakinan hati dan perkataan lisan berbeda, maka yang didahulukan adalah apa yang ada di hati.

Sekian, semoga bisa dipahami dengan baik.. Ya Allah, jagalah dakwah tauhid ini di Indonesia dan teruslah Engkau mengembangkannya..

Ya Allah, selamatkan kami dari fitnah dan ujian dalam meniti jalan sunnah ini hingga ajal menjemput kami.. amin.

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Jika Sebutan SALAFI Malah Merugikan Kita…

Syeikh Sulaiman Arruhaily -hafizhahullah- mengatakan:

“Yang menjadi tolok ukur adalah hakekat sesuatu bukan namanya.


Maka, barangsiapa DIRUGIKAN dengan sebutan salafi, seperti para salafiyyin eropa -setelah kelompok takfiri mencoreng nama salafi-, maka silahkan bagi mereka menyebut dirinya sebagai seorang muslim, atau ahlussunnah, atau sebutan-sebutan yang semisal dengannya”.

[ Sumber: https://goo.gl/ABwf0c ]

—–

Begitu pula di daerah-daerah yang masih sangat phobi dengan sebutan salafi, maka ada baiknya kita tidak menyebut diri kita sebagai salafi.

Karena salafi yang ada di benak kita, bukanlah salafi yang ada di benak mereka.

Sebaiknya kita gunakan nama-nam yang familiar di telinga masyarakat, nama yang tidak menciptakan jurang pemisah antara kita dengan mereka, dan sesuai dengan keadaan kita yang sebenarnya.

Sebutan Muslim dan Ahlussunnah Waljamaah, sangatlah pas dengan keadaan kita.. karena Allah yang menamakan kita sebagai kaum muslimin [QS. Al-Hajj:78].. dan kenyataannya kita juga pengikut sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, dan selalu bersama jamaah kaum muslimin dan pemerintahnya dalam ketaatan.

Silahkan disebarkan.. Semoga bermanfaat.

Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Sang GULA

Beliau bernama Imam Muhammad bin Maimun Abu Hamzah rohimahullah, sang gula.

Mengapa beliau dijuluki dengan ‘sang gula’..??

Mari kita simak keterangan Imam Adz Dzahabi rohimahullah:

“Beliau bukanlah seorang penjual gula, akan tetapi dinamakan as sukkari (sang gula) karena manisnya tutur kata beliau.”

(Siyar A’laamin Nubalaa’ 7/386)

Benar memang, saat telinga ini disapa dengan rangkaian kata yang penuh dengan kesantunan dan kelembutan, maka akan terasa manis di dalam jiwa, rasa yang lebih manis dari gula dan madu.

Bukankah sesendok gula yang disajikan dengan umpatan dan cacian akan terasa pahit di dalam hati..?!

“Kata-kata yang baik adalah sebuah sedekah..” Sabda Nabi -shollallahu ‘alaihi wa sallam- dalam Shohih Bukhari dan Muslim.

Rasanya tidak berlebihan jika kita berharap lahirnya “sang gula – sang gula” berikutnya untuk menghiasi layar kehidupan keluarga, pergaulan, dunia dakwah dan SOSMED kita.

(Terinspirasi oleh Faidah Syaikh Shalih bin ‘Abdil ‘Aziz As Sindi)

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى