All posts by BBG Al Ilmu

Lalu Kita …?

“Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam- apabila telah masuk sepuluh terakhir bulan Ramadhan, beliau mengencangkan ikat pinggangnya, (bersungguh-sungguh) menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya”.
(HR. Bukhari & Muslim)

Mata Nabi terbaik itu tidak terpejam, lisan beliau senantiasa berdzikir, melantunkan firman-firmanNya, berdoa dan senantiasa memohon ampunan di malam-malam ini.

Lalu kita yang belum jelas ini mengambil jalan pintas dengan langsung membaca doa mau tidur…?!

Selamat berjuang….

Muhammad Nuzul Dzikri Lc,  حفظه الله تعالى

Mengencangkan Ikat Pinggangnya…

Pertanyaan :

Ustadz, kita disunnahkan i’ktikaf pada 10 hari terakhir. Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bahkan mengencangkan “ikat pinggangnya” kata ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anhaa

Jika tidak i’ktikaf (tidak menginap di masjid), apakah “mengencangkan ikat pinggangnya” tetap merupakan sunnah ?

Jawaban :

Maksudnya di situ adalah menjauhi isteri untuk beribadah… kalau tidak ibadah di rumahnya, ya tidak dianjurkan seperti itu.. karena berhubungan suami isteri juga bisa bernilai ibadah.. tapi karena ibadah yang lainnya pahalanya lebih besar daripada ibadah itu, maka melakukan ibadah lain lebih baik dan lebih didahulukan daripada ibadah itu.. apalagi Laylatul Qadar hanya semalam saja waktunya.

Wallahu a’lam

Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Ramadhan Yang Akan Kurindukan…

Saudaraku rahimakallaah…

Bulan Ramadhan akan segera beranjak pergi, musim-musim hujan rahmat dan ampunan tak lama lagi kan berganti, menyisakan perih dan harapan yang belum pasti, selain prasangka baik kepada Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, semoga dosa-dosa terampuni.

Sungguh kasihan diri kita yang berlumur dosa, tapi tak jua menyesalinya, tak juga bertekad meninggalkannya, kecuali sementara di bulan berkah, hamba seperti inikah yang kan meraih ampunan dosa?! Ingatlah peringatan ulama yang mulia,

فبئس القوم الذين لا يعرفون الله إلا في رمضان

“Sungguh jelek suatu kaum yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/140]

Apabila teringat diri yang malas beribadah, tapi mengharap lebih di bulan berkah, ingatlah doa Malaikat Jibril yang mustajabah, dan diaminkan oleh Rasul yang mulia,

شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan, tetapi sampai Ramadhan berakhir, ia belum juga diampuni.” [HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrod dari Jabir radhiyallahu’anhu, Shahih Al-Adabil Mufrod: 501]

Terutama di bagian akhir yang tersisa, sepuluh malam yang paling indah, ada malam yang penuh berkah, raihlah dengan sholat malam berjama’ah,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa sholat malam ketika lailatul qodr karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Sang panutan pun memberikan teladan, padahal dosa-dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang; telah dianugerahi ampunan, dari Allah yang Maha Penyayang,

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِه

“Bahwasannya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau masih melakukan i’tikaf sepeninggal beliau.” [Muttafaqun ‘alaih dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Inilah petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wa sallam di sepuluh hari yang tersisa, beliau beri’tikaf agar lebih fokus dan lebih giat dalam beribadah kepada Allah ta’ala, memutuskan diri dengan aktifitas dunia, dan mengurangi interaksi dengan manusia,

“Makna i’tikaf dan hakikatnya adalah memutuskan semua interaksi dengan makhluk demi menyambung hubungan dengan khidmah (beribadah secara totalitas) kepada Al-Khaliq.” [Lathooiful Ma’aarif: 191]

Sungguh jauh berbeda dengan orang-orang yang sudah melupakan masjid-masjid untuk beralih ke pasar-pasar, mal-mal dan jalan-jalan, demi baju baru lebaran, mereka lupa kain kafan, demi berbagai macam makanan di hari raya, mereka lupa tuk membebaskan diri dari api neraka.

Saudaraku rahimakallaah…

Masih ada harapan di akhir Ramadhan, untuk menyesali segala kekurangan, berbenah diri menggapai ampunan, jadikan yang terbaik sebagai penutupan,

“Wahai hamba-hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan telah bertekad untuk pergi, dan tidak tersisa waktunya kecuali sedikit, maka siapa yang telah berbuat baik di dalamnya hendaklah ia sempurnakan, dan siapa yang telah menyia-nyiakannya hendaklah ia menutupnya dengan yang lebih baik.” [Lathooiful Ma’aarif: 216]

Hingga tak tersisa lagi selain air mata penyesalan dan renungan perpisahan, bersama doa dan harapan, semoga berjumpa lagi di masa yang akan datang,

“Bagaimana mungkin air mata seorang mukmin tidak menetes tatkala berpisah dengan Ramadhan, Sedang ia tidak tahu apakah masih ada sisa umurnya untuk berjumpa lagi.” [Lathaaiful Ma’aarif: 217]

Sofyan Chalid Ruray,  حفظه الله تعالى

Hakikat I’tikaf…

Di zaman ini, banyak orang yang ber-i’tikaf hanya sebatas tinggal di masjid. Sedikit beribadah. Asyik dengan hp dan ngobrol dengan kawan.
Padahal bukan demikian i’tikaf Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh untuk dibuatkan kemah di masjid untuk tempat i’tikaf beliau. Di sanalah beliau menyendiri beribadah kepada Allah dan tidak bergaul dengan manusia selama 10 hari.

Al Hafidz Ibnu Rojab rahimahullah berkata, “Hakikat i’tikaf adalah memutuskan hubungan dengan makhluk untuk benar-benar berkhidmat kepada sang pencipta.” (Lathoiful Ma’arif hal 349)

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Semua itu (yaitu menyendiri di kemah) adalah untuk menghasilkan maksud i’tikaf dan rohnya. Tidak seperti yang dilakukan oleh orang orang yang jahil yang menjadikan i’tikaf untuk bergaul dan ngobrol. Bentuk i’tikaf ini tidak sesuai dengan i’tikaf Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”
(Zaadul Ma’ad 2/90)

Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

Kalimat Tauhid Ke-2 – Menyelami Makna Dzikir Setelah Sholat Fardhu

Simak penjelasan Ustadz Dr Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

Silahkan download E-BOOK (PDF) Panduan Ringkas Dzikir Setelah Sholat Fardhu .. KLIK link dibawah ini dan akan otomatis download.

Dzikir Setelah Sholat Fardhu (Wajib) – Edisi Text Besar V. 3.2

ARTIKEL TERKAIT
Kalimat Tauhid Ke-1 – Menyelami Makna Dzikir Setelah Sholat Fardhu

Dzikir Tasbih, Tahmid & Takbir — Cara Ke 1 — Menyelami Makna Dzikir Setelah Sholat Fardhu

Kalimat Tauhid Ke-1 – Menyelami Makna Dzikir Setelah Sholat Fardhu

Simak penjelasan Ustadz Dr Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

Silahkan download E-BOOK (PDF) Panduan Ringkas Dzikir Setelah Sholat Fardhu .. KLIK link dibawah ini dan akan otomatis download.

Dzikir Setelah Sholat Fardhu (Wajib) – Edisi Text Besar V. 3.2

ARTIKEL TERKAIT
Istighfar – Menyelami Makna Dzikir Setelah Sholat Fardhu

Kalimat Tauhid Ke-2 – Menyelami Makna Dzikir Setelah Sholat Fardhu

Istighfar – Menyelami Makna Dzikir Setelah Sholat Fardhu

Simak penjelasan Ustadz Dr Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

Silahkan download E-BOOK (PDF) Panduan Ringkas Dzikir Setelah Sholat Fardhu  .. KLIK link dibawah ini dan akan otomatis download.

Dzikir Setelah Sholat Fardhu (Wajib) – Edisi Text Besar V 3.2

ARTIKEL TERKAIT 
Kalimat Tauhid Ke-1 – Menyelami Makna Dzikir Setelah Sholat Fardhu

Perkataan Mereka Yang Sedang Bingung

Mempermasalahkan hikmah yang Allah kehendaki dari perbuatan-Nya, dan mengorek-ngorek masalah ini tanpa arahan nash yang shohih adalah sumber kesesatan..!!

=====

Dan ini bukanlah hal baru, tapi sudah sejak dahulu dikatakan oleh Syaikhul Islam -rohimahullah-, beliau mengatakan:

“Sumber kesesatan makhluk Allah dari semua kelompok adalah mencari-cari sebab Allah melakukan perbuatan-Nya..” [Qosidah Ta’iyyah fil Qodar no: 6, hal: 116].

Dan inilah yang sekarang banyak digunakan oleh sebagian musuh Islam dalam usahanya menyesatkan kaum muslimin.

Maka jangan heran dengan perkataan-perkataan seperti :

– Mengapa Allah menyuruh Iblis untuk bersujud kepada Adam padahal Dia tahu Iblis tidak akan mau melakukannya..?!

– Mengapa wahyu pertama turun di Gua Hira’, bukan di Masjid..?!

– Mengapa Allah menciptakan babi, lalu mengharamkannya..?!

– Mengapa Allah tidak menjadikan manusia masuk surga semuanya..?!

– Mengapa Allah tidak menjadikan manusia tanpa nafsu, biar selalu taat kepada-Nya..?!

Dan masih banyak contoh-contoh lainnya.. setiap orang akan sangat mudah membuat pertanyaan-pertanyaan seperti itu.. sehingga hanya orang yang jahil saja, yang beranggapan bahwa jika dirinya bisa membuat pertanyaan seperti itu, berarti sudah tinggi ilmunya.. sama sekali tidak, bahkan itu MENUNJUKKAN KEJAHILAN DIA dan KEDANGKALAN PIKIRANNYA.

Ada beberapa kaidah yang bisa menjadi jawaban bagi varian pertanyaan seperti di atas, diantaranya:

1. Bahwa Allah adalah maha tinggi hikmah dan kebijaksanaan-Nya, sehingga tidak pantas lagi ditanya lagi mengapa melakukan ini dan itu.. pertanyaan seperti itu hanya pantas ditujukan kepada makhluk-Nya yang lemah kemampuannya dan dangkal pikirannya. [Lihat QS. Al-Anbiya’: 23].

Cobalah kita masuk ke ruang kokpit pilot, di sana akan kita temukan banyak sekali tombol yang kita tidak tahu fungsinya.. apakah kita akan mempermasalahkannya..?! Tentunya tidak, karena kita yakin bahwa tidak ada satupun tombol dibuat kecuali ada hikmah dan tujuannya..!

Jika ini pada perbuatan manusia yang ilmunya terbatas, bagaimana dengan perbuatan Allah yang ilmunya tanpa batas..!

2. Bahwa semua perbuatan Allah pasti memiliki hikmah yang tinggi di baliknya, karena “Dia adalah Al-Hakiim dan Al-Aliim (maha tinggi hikmah dan ilmu-Nya)..” [QS. Azzukhruf: 84].

Adapun ketidak-tahuan kita akan hikmah yang Allah inginkan dalam melakukan sesuatu, maka itu bukan berarti hikmah itu tidak ada.. tapi karena AKAL KITA YANG LEMAH INI TDAK MAMPU MENJANGKAUNYA. “Sungguh manusia sangat zholim dan sangat bodoh..” [QS. Al-Ahzab: 72].

Hal ini, sebagaimana akal manusia, seringkali tidak bisa menjangkau fungsi organ pada makhluk ciptaan Allah.. di saat itu mereka akan mengatakan organ ini tidak ada fungsinya.. tapi setelah berjalannya waktu, ternyata mereka menemukan fungsi organ tersebut.. Ingat, sebabnya adalah karena kejahilan manusia, bukan karena ada yang kurang pada perbuatan Allah ta’ala.

Lihatlah, betapa banyak ayat dan hadits yang baru bisa dibuktikan keilmiahannya di zaman modern ini, padahal dahulunya mereka mengolok-oloknya..!!

3. Allah telah menjelaskan banyak hikmah yang Dia inginkan dari perbuatannya, baik dalam Al Qur’an maupun melalui lisan Nabi-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam.. maka terimalah penjelasan itu dengan apa adanya.

Adapun yang tidak dijelaskan oleh-Nya, maka jika akal kita bisa menjangkaunya, alhamdulillah itulah yang diharapkan.. jika akal kita tidak bisa menjangkaunya, maka katakanlah bahwa:

“Allah itu maha tinggi hikmah-Nya, maha mengetahui segalanya, maha luas rahmat-Nya, dan maha tinggi keadilan-Nya.. Tidak ada satupun perbuatan-Nya yang luput dari hikmah-Nya.

Jika kita tidak tahu hikmah dari perbuatan-Nya, maka itu karena keterbatasan akal kita.. bisa jadi ada orang lain yang mengetahuinya.. dan bisa jadi hanya Allah yang mengetahuinya..”

Jadi, saudaraku kaum muslimin.. jangan lagi dibuat bingung oleh perkataan mereka yang sedang bingung.. semuanya hanyalah barang usang yang mereka pungut lagi dari sampah masa lalu.

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى