All posts by BBG Al Ilmu

Jujurkah Cintamu..?

Benarkah engkau mencintai pasanganmu, anakmu, orang tuamu, keluargamu atau sahabatmu…?

Kalau benar cintamu maka tentu engkau akan menjaga mereka dari penderitaan yang paling dahsyat, yaitu azab neraka yang sangat pedih,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” [At-Tahrim: 6]

Kalau jujur cintamu maka tentu engkau ingin berkumpul kembali bersama mereka dalam kehidupan yang kekal abadi di negeri akhirat, di surga yang penuh kenikmatan,

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Orang-orang yang saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” [Az-Zukhruf: 67]

إِلَّا الْمُتَّقِينَ يعني الموحِّدين

“Kecuali orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang mengamalkan tauhid.” [Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, Zaadul Masir, 4/83]

Maka tidak ada bukti cinta yang lebih hakiki di dunia ini selain menasihati dan mendidik orang-orang yang tercinta untuk melakukan amalan terbesar yang akan menjadi kunci surga dan menjauhi dosa terbesar yang akan mengekalkan pelakunya di neraka, yaitu mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik.

Sofyan Chalid Ruray,  حفظه الله تعالى

Inilah Corong Setan…

Bismillah.

Diriwayatkan bahwa Maula (mantan budak) Al-FadhL berkata:
“Aku pernah duduk bersama Wahb bin Munabbih (seorang ulama tabi’in) rahimahullah, lalu ada seorang laki-laki yang mendatanginya dan mengatakan kepadanya; “Sesungguhnya aku pernah bertemu si Fulan. Ia mencaci-makimu.” Maka Wahb bin Munabbih rahimahullah marah kepada orang yang membawa berita buruk itu seraya berkata; “Apakah setan sudah tidak mendapatkan seorang utusan pun selain dirimu?”

Maula Al-FadhL berkata:
“Tatkala aku masih duduk di majlis Wahb bin Munabbih rahimahullah, tiba-tiba orang yang mencaci makinya datang menemuinya, lalu ia mengucapkan salam kepada Wahb bin Munabbih. Maka Wahb pun menjawab salamnya, lalu beliau menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengannya, dan menyuruhnya agar duduk di sampingnya.”
(Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, karya Al-Hafizh Ibnu Katsir IX/276).

» Subhanallah, betapa mulia dan bijaknya sikap Wahb bin Munabbih rahimahullah tersebut, ia tetap bersikap tenang, sabar dan berlapang dada, serta tidak mudah percaya dan emosi karena terpengaruh dengan berita buruk yang disampaikan seseorang kepada diri beliau.

Oleh karenanya, kita pun sebagai seorang muslim dan muslimah yang mendambakan persatuan Umat Islam, perdamaian dan keselamatan di dunia dan akhirat, hendaknya bersikap seperti Wahb bin Munabbih ketika mendengar berita-berita buruk, berupa fitnah, tuduhan dusta, cacian, dan semisalnya yang ditujukan kepada diri kita maupun kepada saudara kita yang disampaikan oleh seseorang. Karena bisa jadi motiv dari penyampain berita buruk itu karena ingin mengadu domba diantara kita, atau karena adanya kedengkian atas suatu nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita berupa ilmu, harta, kesuksesan, kedudukan yang tinggi, dan selainnya. Apalagi jika suadara kita yang digunjing dan difitnah tersebut dikenal baik kwalitas agama dan akhlaknya, serta lurus AQIDAH dan MANHAJ nya, maka janganlah kita mudah terpancing utk marah dan membalasnya dengan keburukan karena percaya dan terpengaruh oleh penyampai berita buruk tersebut. Tetapi hendaknya kita bersikap tenang, sabar, lapang dada, dan tabayyun (meneliti dan mencari kejelasan atau bukti kebenaran berita itu).

» Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (6) ﴾

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang yang fasiq dengan membawa suatu berita, maka ambillah sikap tabayyun (mencari kejelasan dan bukti kebenaran berita tersebut) agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

» Sikap mulia, hati-hati, sabar dan lapang dada sebagaimana yang dilakukan Wahb bin Munabbih rahimahullah ini bisa menutup rapat pintu-pintu perpecahan dan permusuhan diantara kaum muslimin, serta dapat memadamkan api kebencian dan kedengkian di dalam hati manusia. Karena setan terlaknat tiada henti-hentinya dalam berupaya menyebarkan benih-benih kedengkian, perpecahan dan permusuhan diantara umat manusia secara umum, dan diantara kaum muslimin secara khusus.

» Orang yang hobinya suka mendengarkan berita-berita buruk tentang seseorang lalu dia menyampaikannya kepada saudaranya yang digunjing tersebut, maka dia adalah salah satu UTUSAN SETAN yang diutus untuk mengadu domba dan menimbulkan perpecahan dan permusuhan diantara kaum muslimin secara umum, dan diantara Ahlussunnah wal Jamaah secara khusus, sebagimana yang dikatakan oleh Wahb bin Munabbih rahimahullah.

Demikian Faedah Ilmiah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

(Mekkah, 6 Januari 2017)

Muhammad Wasitho,  حفظه الله تعالى

Surat AL KAHFI…

Telah tiba kembàli malam dan hari Jum’at (in-syaa Allah) dimana kita di-sunnah-kan membaca surat AL KAHFI… Alhamdulillah… DALILNYA

Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at, dia akan disinari cahaya antara dirinya dan Ka’bah.” (HR. ad-Darimi  3470 dan dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’, 6471)

Dalam riwayat lain, beliau bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

“Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. Hakim 6169, Baihaqi  635, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’, no. 6470)

Dalam dua hadis di atas, pada hadis pertama, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan, ‘membaca surat al-Kahfi di malam jumat’. Sementara di hadis kedua, beliau menyatakan, ‘membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat.’ Mengisyaratkan bahwa surat al-Kahfi bisa dibaca selama 24 jam di hari jumat. Dimulai sejak terbenamnya matahari di hari kamis, hingga menjelang maghrib hari Jum’at. Wallahu a’lam…