All posts by BBG Al Ilmu

Yakinlah…

Syafiq Basalamah, حفظه الله تعالى

AKHI ukhti
Semoga Allah menjaga mu

Yakinlah dengan 3 hal

Tiada yang lebih mengasihimu lebih daripada Allah Rabb mu
Tiada yang lebih mengetahui dengan kegundahan hatimu melainkan hanya Allah
Tiada yang lebih bisa menjauhkan marabahaya lebih dari Tuhanmu

Oleh karena itu
Minta pertolongan pada-Nya
Bersandarlah kepada-Nya dalam semua perkara dan dalam semua kondisi
Niscaya engkau akan mendapatkan lebih dari yang kau inginkan

Tapi kau perlu menanamkan keyakinan tersebut di dalam hatimu

Ingatlah dengan Ibrahim tatkala dilemparkan di dalam api
Ingatlah dengan Yunus ketika di dalam perut ikan paus
Ingatlah dengan Luth ketika menghadapi kaumnya
Ingatlah dengan Ya’qub ketika dipisahkan dengan Yusuf
Ingatlah dengan Musa ketika dikejar-kejar fir’Aun

Tidak ada yang sulit dan mustahil bagi Allah
Dia hanya tinggal berkata kun (jadilah) maka akan terjadi yang diinginkan-Nya
Dan kau tinggal pasrah dan bersandar diri pada-Nya
Kelak Dia akan mencukupimu

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At Thalaq:3)

Obrolan Dengan Istri Berpahala…? 

Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

Yang menarik di sini, para ulama memasukkan kegiatan obrolan dengan istri dan keluarga, statusnya sebagaimana belajar ilmu agama atau melayani tamu. Kerena itu, mereka menggolongkan obrolan dengan istri dan keluarga termasuk kegiatan yang boleh dilakukan setelah isya.

Setelah menyebutkan bab tentang bolehnya bergadang untuk belajar agama, imam Bukhari menyebutkan kegiatan lain yang hukumnya sama,

باب السَّمَرِ مَعَ الضَّيْفِ وَالأَهْلِ

Bab bolehnya bergadang dalam rangka melayani tamu dan ngobrol bersama istri. (Shahih Bukhari, bab no. 41).

Dan semacam ini dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para istri beliau. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, menceritakan pengalamannya dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menginap di rumah bibinya, Maimunah, yang merupakan salah satu istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seusai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat isya, beliau pulang ke rumahnya Maimunah, lalu shalat 4 rakaat. Kemudian beliau berbincang-bincang dengan istrinya.

Karena itu, para ulama menilai obrolan dengan istri dan anak, termasuk kegiatan yang ada maslahatnya. An-Nawawi menyebutkan jenis-jenis kegiatan setelah isya yang diperbolehkan,

قَالَ الْعُلَمَاء : وَالْمَكْرُوه مِنْ الْحَدِيث بَعْد الْعِشَاء هُوَ مَا كَانَ فِي الْأُمُور الَّتِي لَا مَصْلَحَة فِيهَا. أَمَّا مَا فِيهِ مَصْلَحَة وَخَيْر فَلَا كَرَاهَة فِيهِ , وَذَلِكَ كَمُدَارَسَةِ الْعِلْم , وَحِكَايَات الصَّالِحِينَ , وَمُحَادَثَة الضَّيْف ، وَالْعَرُوس لِلتَّأْنِيسِ , وَمُحَادَثَة الرَّجُل أَهْله وَأَوْلَاده لِلْمُلَاطَفَةِ وَالْحَاجَة

Para ulama mengatakan, obrolan yang makruh setelah isya adalah obrolan yang tidak ada maslahatnya. Adapaun kegiatan yang ada maslahatnya dan ada kebaikannya, tidak makruh. Seperti belajar ilmu agama, membaca cerita orang soleh, ngobrol melayani tamu, atau penantin baru untuk keakraban, atau suami ngobrol dengan istrinya dan anaknya, mewujudkan kesih sayang dan hajat keluarga. (Syarh Shahih Muslim, 5/146).

Ini semua menunjukkan bahwa obrolan dengan istri dan anak, termasuk bentuk ibadah. Sayangnya, suami yang kurang cerdas, lebih memilih ngobrol dengan teman dari pada ngobrol dengan istri.

Allahu a’lam..

Ref : https://konsultasisyariah.com/23735-ngobrol-dengan-istri-berpahala.html

Mutiara Nasehat…

Abu Qilabah berkata kepada Ayyub As Sikhtiyani:
Apabila Allah memberimu ilmu..
maka realisasikanlah dengan ibadah..
jangan sampai keinginanmu yang terbesar..
sebatas menyampaikan kepada orang lain..
(Al Ma’rifat wattarikh 2/66).

Courtesy of Al-Fawaid

Termasuk Diantara Tindakan Ikhlas

Termasuk diantara tindakan ikhlas adalah memberi bantuan kepada kaum yang lemah

Karena tindakan memberikan bantuan kepada mereka, biasanya BUKAN karena tujuan DUNIA sedikitpun. Dan Allah ta’ala berfirman tentang sifat ahli surga:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Mereka memberikan makan dengan senang hati kepada seorang yang MISKIN, anak yatim, dan seorang tawanan. (Mereka mengatakan dalam hati mereka): Sungguh kami memberi kalian makan HANYA karena Allah, kami tidak mengharapkan dari kalian sedikitpun balasan dan terima kasih..” [Al-Insan: 8-9]

Semoga kita semua termasuk dalam golongan mereka yang selalu membantu kaum yang lemah, aamiiin.

Ditulis oleh
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Wanita Yang Selalu Hadir Dalam Hatiku…

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Saudaraku, coba kembali anda mengingat betapa hangat dan indahnya pelukan ibunda semasa anda masih kecil. Kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan sekejap menyelimuti diri anda tatkala anda berada di pangkuan dan pelukan ibunda tercinta. Bukankah demikian?

Pernahkah anda merasakan kedamaian, kehangatan dan kebahagian yang melebihi kedamaian berada dalam pelukan dan belaian ibunda?

Kuasakah anda melupakan kasih sayang dan kehangatan pelukan ibunda?

Coba sekali lagi anda mengingat-ingat dan membayangkan diri anda yang sedang berada dalam pelukan ibunda. Ia membelai rambut anda, mengecup kening anda, dan memeluk dengan hangatnya tubuh anda yang kecil mungil.

Betapa indahnya lamunan dan gambaran yang hadir dalam benak anda, seakan hati anda tak kuasa untuk berpisah dari lamunan indah ini.

Sekali lagi, coba kembali anda membayangkan apa yang dilakukan ibunda semasa anda demam atau sakit? Dengan tabah ia menunggu anda, merawat anda, dan mungkin saja tanpa ia sadari tetes air matanya berderai karena tak kuasa menahan rasa khawatir terhadap kesehatan anda.

Mungkinkah masa-masa indah bersama ibunda tercinta ini dapat anda lupakan? Mungkinkah hati anda kuasa untuk menahan rasa rindu kepadanya?

Tidakkah anda pernah bertanya: Mengapa ibunda melakukan itu semua kepada anda?

Jawabannya hanya ada satu: kasih sayang.

Benar, hanya kasih sayang beliaulah yang mendasari perilakunya itu. Tulus tanpa pamprih sedikitpun. Satu-satunya harapan ibunda ialah anda tumbuh dewasa dan menjadi orang yang beriman, bertakwa, sehingga berguna bagi agama, negara dan kedua orang tuanya.

Pernahkah, ibunda anda sekarang ini meminta balasan atau upah atas segala jerih payahnya merawat dan mengasuh anda?

Jawabannya pasti : tidak dan tidak mungkin ia melakukannya.

Saudaraku! Coba kembali anda berusaha mereka-reka gambaran ibunda sedang menggendong dan menimang-nimang tubuh anda yang kecil-mungil. Mungkinkah ibunda tercinta tega menjatuhkan diri anda atau bahkan mencampakkan anda ke dalam api?

Jawabannya pasti tidak, bahkan kalaupun harus memilih, saya yakin ibunda akan memilih menceburkan dirinya ke api asalkan anda selamat dari pada menceburkan anda ke dalamnya sedangkan dirinya selamat. Bukankah demikian?

Benar-benar gambaran seorang ibu yang penyayang dan cinta terhadap putranya.

Pada suatu hari didatangkan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam segerombolan tawanan perang. Tiba-tiba ada seorang wanita dari tawanan perang itu yang menemukan seorang anak kecil. Spontan wanita itu memeluknya dengan hangat dan segera menyusuinya. Menyaksikan pemandangan yang demikian, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya: “Mungkinkah wanita ini tega mencampakkan putranya itu ke dalam api?” Para sahabatpun spontan menjawab: ” Selama ia kuasa untuk tidak melakukannya, mustahil ia melakukan perbuatan itu.”

Selanjutnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

(لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا). متفق عليه

“Sungguh Allah lebih sayang terhadap hamba-hamba-Nya dibandingkan wanita ini terhadap putranya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Ketahuilah saudaraku! Kasih sayang ibunda yang pernah anda rasakan, hanyalah secuil atau setetes dari lautan kasih sayang Allah yang di turunkan ke muka bumi.

(إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ مِائَةَ رَحْمَةٍ كُلُّ رَحْمَةٍ طِبَاقَ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ فَجَعَلَ مِنْهَا فِى الأَرْضِ رَحْمَةً فَبِهَا تَعْطِفُ الْوَالِدَةُ عَلَى وَلَدِهَا وَالْوَحْشُ وَالطَّيْرُ بَعْضُهَا عَلَى بَعْضٍ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أَكْمَلَهَا بِهَذِهِ الرَّحْمَةِ). متفق عليه

“Sesungguhnya tatkala Allah menciptakan langit dan bumi, Ia menciptakan seratus kasih sayang (kerahmatan). Masing-masing kerahmatan sebesar langit dan bumi. Selanjutnya Ia menurunkan satu kasih sayang (kerahmatan) saja ke muka bumi. Dengan satu kasih sayang inilah seorang ibu menyayangi putranya, binatang buas dan burung-burung menyayangi sesama mereka. Dan bila kiamat telah tiba, maka Allah akan mengenapkan kesembilan puluh sembilan kerahmatan yang tersisa di sisi-Nya dengan satu kerahmatan yang telah Ia turunkan ke bumi. (Muttafaqun ‘alaih)

Pada riwayat lain Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

(لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِائَةُ رَحْمَةٍ وَإِنَّهُ قَسَمَ رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ أَهْلِ الأَرْضِ فَوَسِعَتْهُمْ إِلَى آجَالِهِمْ وَذَخَرَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ رَحْمَةً لأَوْلِيَائِهِ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَابِضٌ تِلْكَ الرَّحْمَةَ الَّتِى قَسَمَهَا بَيْنَ أَهْلِ الأَرْضِ إِلَى التِّسْعَةِ وَالتِّسْعِينَ فَيُكَمِّلُهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ لأَوْلِيَائِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ) رواه أحمد

“Allah Azza wa Jalla memiliki seratus kasih sayang (kerahmatan). Dan Sesungguhnya Allah telah membagi-bagi satu kasih-sayang-Nya kepada seluruh penduduk bumi, dan itu telah mencukupi mereka hingga masing-masing mereka dijemput oleh ajalnya. Allah masih menyisihkan sembilanpuluh sembilan kerahmatan buat para wali-Nya (hamba-hamba-Nya yang sholeh). Dan kelak pada hari qiyamat Allah mengambil kembali satu kerahmatan yang telah Ia turunkan itu guna disatukan dengan kesembilan puluh sembilan kerahmatan yang ada di sisi-Nya untuk selanjutnya diberikan kepada para wali-wali-Nya (orang-orang yang sholeh).” (Riwayat Ahmad).

Bila setetes dari satu kasih sayang dan kerahmatan yang berhasil dimiliki anda rasakan dari ibunda terasa begitu indah dan begitu membahagiakan, maka betapa indah dan bahagianya bila anda berhasil mendapatkan satu kerahmatan secara utuh?

Dan betapa indah dan bahagianya bila anda berhasil merasakan keseratus kerahmatan Allah kelak di hari kiamat.

Saudaraku! Anda penasaran, ingin tahu siapakah berhak mendapatkan keseratus kerahmatan dan kasih sayang Allah ?

Jawabannya terdapat pada firman Allah Ta’ala berikut :

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَـاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ الأعراف 156

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Al A’araf 156).

Anda merasa tertantang dan bermimpi untuk menjadi salah satu dari orang-orang yang dapat merasakan keseratus kerahmatan dan kasih sayang Allah di hari kiamat?

Inilah saatnya anda mewujudkan dan mengukir impian anda. Bulan suci ramadhan adalah peluang anda merintis terwujudnya impian dan harapan besar anda.

(إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ) رواه مسلم

“Bila Ramadhan telah tiba, maka pintu-pintu kerahmatan dibuka.” (Riwayat Muslim).

Sekarang inilah saatnya anda memasuki pintu-pintu kerahmatan Allah yang telah dibuka lebar-lebar untuk anda.

Akankah kesempatan emas ini berlalu begitu saja dari kehidupan anda?

Mungkinkah pintu-pintu kerahmatan Allah Ta’ala yang telah terbuka lebar-lebar untuk anda ini ditutup kembali sedangkan tak sedikitpun bekal untuk memasukinya berhasil anda ukir ?

Saudaraku! singsingkan lengan bajumu, kencangkan ikat pinggangmu dan ayuhlah langkahmu menuju pintu kerahmatan Allah yang telah dibuka untukmu.

Bila anda bertanya: Apakah perbekalan yang harus saya bawa agar dapat menggapai pintu kerahmatan Allah yang telah terbuka?

Dengarlah kembali jawabannya:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَـاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ الأعراف 156

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Al A’araf 156).

Wujudkanlah ketakwaan dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Tunaikanlah zakat dan kokohkanlah keimanan anda kepada setiap ayat-ayat Allah Ta’ala. Dengan berbekalkan ketiga hal ini, niscaya pada bulan suci ini anda berhasil memasuki pintu kerahmatan Allah.

Selamat berjuang melangkahkan kaki menuju kerahmatan Allah, semoga Allah Ta’ala mempertemukan kita di dalamnya. Amiin.

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya, amiiin.

Mengambil Ibrah Dibalik Akhir Kehidupan Mereka…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

1. Ibnu Rajab

((Beliau menulis syarah shahiih bukhariy, hingga sampai pada pembahasan janaa`iz, maka beliau pun wafat))

2. Muhammad al-amiin asy-syinqithiy

((Beliau wafat ketika sedang menulis tafsiir adhwaa`ul bayaan, ayat terakhir yang dibahas beliau adalah ayat:

أولئك حزب الله ألا إن حزب الله هم المفلحون

[mereka itulah golongan Allaah, sesungguhnya golongan Allaah itulah orang-orang yang beruntung))

3. Ibnu Hajar al-‘Asqalaaniy

((Beliau wafat ketika sedang membaca ayat:

سلامٌ قولاً من رب رحيم

[[(Kepada mereka dikatakan): “Salam (keselamatan)”, sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang]]

4. Ibnu Taimiyyah

((Beliau wafat ketika sedang membaca ayat:

إن المتقين في جنات ونهر في مقعد صدق عند مليك مقتدر

[[Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di
dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Rabb Yang Berkuasa.]]))

5. Muhammad Mukhtaar asy-Syinqithiy

((Beliau wafat setelah menyampaikan pelajaran

باب فضل الموت والدفن في المدينة

[[Baab: keutamaan wafat dan dimakamkan di madinah]]))

6. Muhammad Rasyid Ridha

((Beliau wafat setelah menyelesaikan tafsiir aya dari surat yusuf, yang bunyinya:

ربّ قد آتيتني من الملك وعلمتني من تأويل الأحاديث فاطرَ السماوات والأرض أنت وليّي في الدنيا والآخره توفّني مسلماً وألحقني بالصالحين

[[Wahai Rabbku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh]]))

7. Abu Zur’ah ar-Raaziy

((Beliau wafat setelah membacakan hadits: من كان آخر كلامه من الدنيا لا إلٰه إلا الله دخل الجنة [[Barangsiapa yang akhir ucapan di dunia ‘laa ilaaha illaLLaah’, maka dia masuk surga]]))

[[disandur dari:https://www.facebook.com/wahidbally/posts/971743799529493]]

=========

Kita temui mereka JUJUR dengan kesibukan mereka. Maka Allaah wafatkan mereka diatas kesibukan tersebut…

Teringat perkataan Ibnu Katsiir (ketika menafsirkan QS. 3:102) :

حافظوا على الإسلام في حال صحتكم وسلامتكم لتموتوا عليه ، فإن الكريم قد أجرى عادته بكرمه أنه من عاش على شيء مات عليه ، ومن مات على شيء بعث عليه ، فعياذا بالله من خلاف ذلك

“Peliharalah Islaam dalam keadaan sehatmu maupun selamatmu agar engkau mati diatasnya… Sesungguhnya orang yang MULIA tlh dibls dgn kemuliaan yg tlh mjd kbiasaanny… Dan sesungguhnya ((diantara sunnatullah adalah)) barangsiapa yang hidup diatas sesuatu, maka ia akan mati dengan sesuatu tersebut. Dan barangsiapa yang mati atas sesuatu itu, maka Allah akan membangkitkannya dengan sesuatu itu. Maka kita berlindung kepada Allah dari keadaan menyalahi hal tersebut”

(Lihat Tafsiir Ibnu Katsiir)

Semoga bermanfaat.

Nabi Bukan, Malaikat Juga Bukan, Tuhankah Mereka…?

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Al Khumainy menjelaskan kedudukan imam-imam Syi’ah dengan berkata :

إن للإمام مقاما محمودا ودرجة سامية وخلافة تكوينية، تخضع لولايتها وسيطرتها جميع ذرات هذا الكون. وإن من ضروريات مذهبنا: أن لأئمتنا مقاما لا يبلغه ملك مقرب ولا نبي مرسل. 
“Sesungguhnya seorang imam –dalam idiologi Syi’ah memiliki kedudukan yang terpuji, dan, derajat yang tinggi, dan khilafah (perwakilan) dalam hal penciptaan. Seluruh parsial alam semesta ini tunduk kepada kewaliannya dan kekuasaannya. Dan diantara prinsip mazhab kami: Bahwa imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh malaikat yang didekatkan tidak pula oleh nabi yang telah ditunjuk menjadi seorang rasul.” (Al Hukumah Al Islamiyyah oleh Ayatullah Al Khumainy 52)

Lembaran kitab-kitab biografi tokoh-tokoh agama Syi’ah, banyak menceritakan perihal tokoh mereka dengan nama Abdul Husain (Hamba Husain) bukan lagi hamba Allah Azza wa Jalla.
– Abdul Husain bin Ali wafat tahun 1286 H, ia adalah seorang tokoh terkemuka agama syi’ah pada zamannya, sampai-sampai dijuluki dengan Syeikhul ‘Iraqain (Syeikh kedua Iraq/ Iraq & Iran). 
– Abdul Husain Al Aminy At Tabrizi 1390 H, penulis buku Al Ghadir.
– Abdul Husain Syarafuddin Al Musawy Al ‘Aamily 1377 H, penulis buku Abu Hurairah, kitab Kalimatun Haula Ar Riwayah, Kitab An Nash wa Al Ijtihaad, Al Muraja’aat
– Abdul Husain bin Al Qashim bin Sholeh Al Hilly wafat tahun 1375 H.
– Abduz Zahra’ (Hamba Az Zahra’/Fatimah) Al Husainy, penulis kitab: Mashaadiru Nahjil Balaaghah wa Asaaniduhu.

Dengan lebih fulgar Muhammad Baqir Al Majlisy, meriwayatkan ucapan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu:

نحن خزان الله في أرضه وسمائه، وأنا أحيي وأنا أميت، وأنا حيٌّ لا أموت.

“Kami adalah para penjaga (kekayaan atau ilmu) Allah di bumi dan di langit, akulah yang menghidupkan dan akulah yang mematikan, serta aku senantiasa hidup dan tidak akan pernah mati.” (Bihaarul Anwaar oleh Al Majlisy 39/347)

Setelah membaca riwayat riwayat palsu dan dusta namun demikian diyakini dan diajarkan oleh sekte Syi’ah, menurut hemat anda, siapakah mereka?

berbagai data di atas, membuktikan bahwa tuhan yang mereka sembah sebetulnya bukan Tuhan yang anda sembah.