Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Muflih Safitra bin Muhammad Saad Aly, حفظه الله تعالى.
Tanya:
Bolehkah saat proses ta’aruf (mengenal lebih dalam tentang lelaki/wanita yang mungkin akan menjadi calon suami/istri –pen) kedua ikhwan dan akhwat saling bertukar foto, yang tujuannya adalah untuk mengenali wajah calon dan memantapkan pilihan?
(Pertanyaan dilontarkan dalam sesi tanya jawab kajian “Sejak Memilih, Meminang Hingga Menikah” bersama Ustadz Muflih Safitra di Masjid Namirah, Balikpapan).
Jawab:
Segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah bagi Muhammad Rasulillah, para sahabat dan pengikutnya.
Tidak boleh ikhwan dan akhwat yang ingin ta’aruf bertukar foto walaupun tujuannya untuk lebih memantapkan pilihan. Hal ini dikarenakan beberapa alasan:
Memandangi wajah lawan jenis yang bukan mahram secara sengaja dan berulang kali adalah haram dan merupakan jalan menuju keburukan lain akibat pandangan dan hawa nafsu.
Allah berfirman,
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 30)
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 31)
Foto di zaman ini sarat penipuan dan rekayasa, apalagi setelah banyak muncul aplikasi komputer dan bahkan di HP jenis smart phone yang bisa mengubah (mengedit) wajah asli menjadi lebih cantik atau ganteng, wajah kasar menjadi halus, wajah tua menjadi muda, dengan hanya sentuhan jari.
Ketika foto jatuh di tangan lawan jenis –khususnya foto akhwat jatuh di tangan lelaki– sangat memungkinkan disalahgunakan, seperti ditaruh di dompet, diupload di media sosial (untuk dipamerkan) dan bahkan dijadikan bahan memuaskan hawa nafsu. Penulis pernah memergoki seorang ikhwan tidur terlentang dan tersenyum-senyum sambil memandangi foto akhwat yang jadi lawan ta’arufnya. Ternyata pun si akhwat tidak jadi menikah dengannya.
Foto tidak mampu merepresentasikan wajah atau bentuk asli dari si calon suami/istri secara akurat. Bisa jadi di foto si akhwat terlihat kecil, padahal aslinya gemuk besar. Sementara itu si ikhwan ternyata laki-laki yang sangat kurus. Bisa jadi pula di foto terlihat cantik atau ganteng dan ternyata aslinya tidak seperti itu.
Karenanya kami nasehatkan terutama kepada para akhwat, untuk jangan sekali-kali menyerahkan foto kepada orang yang bukan mahram, sekalipun itu calon pasangan hidup, yang belum tentu juga menikah dengan antum. Ini dalam rangka mencegah kerusakan dan fitnah syahwat yang timbul karena godaan setan, dimulai dari memandangi lawan jenis dengan media yang tidak dihalalkan.
Jika memang serius ingin menikah, maka cukup dengan biodata awal yang detail. Jika berdasarkan biodata ta’aruf bisa dilanjutkan, maka si ikhwan bisa datang langsung, misalnya kepada orang tua si akhwat untuk membicarakan hal-hal lain secara mendalam. Jika saat ta’aruf lanjutan dirasa cocok, maka bisa diteruskan dengan nazhar (melihat langsung calon pasangan). Saat itulah pandangan terhadap calon dihalalkan.
Wallahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Muflih Safitra bin Muhammad Saad Aly | Balikpapan
Sering kita mendengar orang mengatakan atau mencibir bahwa seseorang masih miskin meskipun ia rajin sholat sedangkan reseki orang lain berjalan lancar meskipun tidak sholat. Bagaimana menanggapinya..?
Simak jawaban Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini:
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Nabi Isa ‘alayhissalaam mendapat julukan Al Masiih. Namun julukan serupa juga disematkan kepada Dajjal. Apakah ada perbedaan antara makna Al Masiih yang diberikan kepada Nabi Isa ‘alayhissalaam dan yang diberikan kepada Dajjal..?
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini :
Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
Penjelasan hadits :
Diantara tujuan Allah Ta’ala menciptakan manusia dengan segala macam perbedaannya adalah agar mereka saling mengenal.
Namun, hal itu bukan menjadi patokan bahwa ia telah mematuhi perintah Allah & berhak mendapatkan surga-Nya. Justru yang menjadi patokan adalah kadar ketaqwaan seseorang terhadap Rabb-nya.
Seseorang boleh-boleh saja berteman dengan siapa pun. Namun, ia tetap harus memperhatikan batasan-batasan syariat dalam sebuah tali pertemanan. Karena teman -sedikit banyak- memberikan pengaruh terhadap perilakunya. Teman yang baik, akan membuahkan perilaku yang baik. Sedangkan teman yang buruk, akan menularkan efek yang buruk.
Marilah kita bangun tali pertemanan diatas ketaqwaan dan keimanan kepada Allah Ta’ala agar kita bisa memetik buahnya di akhirat kelak.
✒ Ust Ridwan Arifin Lc
Courtesy of Jodoh.
Abu Riyadl Nurcholis, حفظه الله تعالى
Ketika nak beranjak ke ranjang tuk istirahat… sungguh sebagian kita selalu sibuk menghitung hitung harta..keuntungan dan laba..kenaikan pangkat dan jabatan..memprediksikan keberhasilan suatu program pendapatan…memikirkan bisnisnya agar lebih maju dan berkembang…mengandai andai dan meraba raba kesuksesan dunia yang akan dia mau dapatkan esok hari…
Ia tak tau bahwa itu sirna jika tidak bisa bernafas di hari esok..
Lihat bagimana para sahabat nabi jika mau beranjak keperaduan atau sedang diperaduan… mereka berpikir dan berhitung..
dosa apakah yang telah dilakukan selama ini.. dosa apakah yang telah diperbuat tadi hari…
Seorang sepupu nabi bernama Ali rodhiallahu ‘anhu terkejut dan bangun dimalam gulita karena ia mengingat ada perbutan dosa kecil yang dilakukannya yaitu meludah di lantai masjid yang masih terbuat dari tanah.. ia takut jika ludahnya yang telah mengering itu menjadi dosa.. ia bangkit kemasjid dengan membawa lentera kecil untuk mencari ludahnya siang hari tadi untuk ia bersihkan… itu hanya dosa kecil… namun beliau anggap seperti gunung yang akan meruntuhi dirinya…
Lihat bagaimana kita dihadapan berbagai dosa… ternyata masa bodoh dan sibuk berfikir akan duitnya … yang duit itu tidak akan masuk kuburan…
Sugeng ndalu sugeng istirahat..
Abu Riyadl Nurcholis, حفظه الله تعالى
13 atau 14 tahun yang lalu ada akhwat yang insyaAllah baik. Tiba tiba bicara kepada kawan saya (lewat surat):
Bismillah.. Akhy afwan jika pertanyaan ana membuat akhy marah..
Ana hanya mau menyampaikan ke akhy bahwa ana suka kepada akhy. Apakah akhy berkenan?
Hemm
Jika iya, silahkan akhy temui keluarga ana. Jazakallahu khoiron…
Akhirnya mereka cepat berkeluarga..
Disaat persaingan jumlah akhwat yang berlebih…
Dan jumlah lelaki yang benar benar sholeh itu sedikit…
Saya kira ini juga bagus…
Daripada rasa itu dipendam terus…
Apalagi ikhwan yang sholeh seringnya gak paham paham…
Tenanglah bersama Allah.. karena Allah melebihi segalanya..
Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:
“Jika orang-orang merasa kaya dengan dunianya, maka harusnya kamu merasa kaya dengan Allah..
Jika mereka merasa senang dengan dunianya, maka harusnya kamu merasa senang dengan Allah..
Jika mereka merasa akrab dengan teman-teman karib mereka, maka jadikanlah keakrabanmu itu dengan Allah..
Jika mereka mencari kenalan para penguasa dan pembesarnya, dan orang-orang mendekati mereka untuk mendapatkan kemuliaan dan kedudukan yang tinggi… maka kenalkan dirimu kepada Allah dan carilah kasih sayang-Nya, niscaya kamu raih dengannya puncak kemuliaan dan kedudukan yang tinggi..”
[Kitab: Al-Fawaid, hal: 118].
Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى