Silahkan save gambar di bawah yang ukurannya sudah disesuaikan dengan DP BBM.
All posts by BBG Al Ilmu
Sakitnya Terasa Di Hati – Bag 1 – Beratnya Memaafkan
Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى
Dizolimi merupakan perkara yang menyakitkan, sakitnya sampai di hati…sementara tabi’at manusia adalah enggan memaafkan dan ingin melampiaskan dendam terhadap orang yang menyakitinya. Jika ia telah melampiaskannya maka iapun puas dan lega. Akan tetapi syari’at yang indah ini menganjurkan kita untuk memaafkan, meskipun terasa sangat berat.
Diantara hal yang membuat susah untuk memaafkan adalah persangkaan bahwa jika ia memaafkan maka:
(1) haknya akan hilang dan
(2) ia akan jatuh terhina serta
(3) akan meninggikan derajat orang yang menzoliminya, ini semua persangkaan secara lahiriah. Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
“Tidaklah seorang hamba memaafkan kecuali Allah akan menambah kemuliaannya” (HR Muslim no 2588)
Memang Allah tidak melarang untuk membalas kejahatan dan kezoliman dengan balasan setimpal, akan tetapi memaafkan lebih baik. Allah berfirman :
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS 42:40)
Pahala orang yang memaafkan atas tanggungan Allah, ini menunjukkan besarnya pahala memaafkan, maka :
– jika anda membalas maka memang ada kepuasan hati, akan tetapi tidak ada manfaatnya sama sekali di akhirat
– kalau keburukan selalu dibalas dengan keburukan, maka kapan akan berakhir?
– pahala minimal memaafkan orang lain adalah diampuni oleh Allah (balasan sesuai amalan), bagaimana lagi dengan pahala yang Allah jamin nanti di akhirat??
Yang lebih hebat adalah bukan hanya memaafkan, akan tetapi bahkan berbuat baik kepada orang yang menyakiti hatimu.
Tentunya jika memaafkan kepada yang jahat saja berat apalagi berbuat baik kepadanya??. Karenanya Allah menyebutkan bahwa hanya orang-orang yang hebat yang mendapatkan keuntungan yang besar yang mampu mengalahkan nafsunya sehingga bisa membalas keburukan dengan kebaikan. Allah berfirman
وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤)وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (٣٥)
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar” (QS Fushhilat : 34-45)
Marilah kita sama-sama belajar memaafkan…, memang sakitnya tuh di sini…, akan tetapi surga dan ampunan Allah lebih kita sukai dari pada hanya sekedar melampiaskan kemarahan…
Bersambung…
Hidup ini perjalanan panjang…
Riyaa’ Terselubung
Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى
Syaitan tidak berhenti berusaha menjadikan amalan anak Adam tidak bernilai di sisi Allah. Diantara cara jitu syaitan adalah menjerumuskan anak Adam dalam berbagai model riyaa’. Sehingga sebagian orang “KREATIF” dalam melakukan riyaa’, yaitu riyaa’ yang sangat halus dan terselubung. Diantara contoh kreatif riyaa’ tersebut adalah :
Ke-1 : Seseorang menceritakan keburukan orang lain, seperti pelitnya orang lain, atau malas sholat malamnya, tidak rajin menuntut ilmu, dengan maksud agar para pendengar paham bahwasanya ia tidaklah demikian. Ia adalah seorang yang dermawan, rajin sholat malam, dan rajin menuntut ilmu. Secara tersirat ia ingin para pendengar mengetahui akan amal ibadahnya.
Model yang pertama ini adalah model riya’ terselubung yang terburuk, dimana ia telah terjerumus dalam dua dosa, yaitu mengghibahi saudaranya dan riyaa’, dan keduanya merupakan dosa besar. Selain itu ia telah menjadikan saudaranya yang ia ghibahi menjadi korban demi memamerkan amalan sholehnya
Ke-2 : Seseorang menceritakan nikmat dan karunia yang banyak yang telah Allah berikan kepadanya, akan tetapi dengan maksud agar para pendengar paham bahwa ia adalah seorang yang sholeh, karenanya ia berhak untuk dimuliakan oleh Allah dengan memberikan banyak karunia kepadanya.
Ke-3 : Memuji gurunya dengan pujian setinggi langit agar ia juga terkena imbas pujian tersebut, karena ia adalah murid sang guru yang ia puji setinggi langit tersebut. Pada hakikatnya ia sedang berusaha untuk memuji dirinya sendiri, bahkan terkadang ia memuji secara langsung tanpa ia sadari. Seperti ia mengatakan, “Syaikh Fulan / Ustadz Fulan…luar biasa ilmunya…, sangat tinggi ilmunya mengalahkan syaikh-syaikh/ustadz-ustadz yang lain. Alhamdulillah saya telah menimba ilmunya tersebut selama sekian tahun…”
Ke-4 : Merendahkan diri tapi dalam rangka untuk riyaa’, agar dipuji bahwasanya ia adalah seorang yang low profile. Inilah yang disebut dengan “Merendahkan diri demi meninggikan mutu”
Ke-5 : Menyatakan kegembiraan akan keberhasilan dakwah, seperti banyaknya orang yang menghadiri pengajian, atau banyaknya orang yang mendapatkan hidayah dan sadar, akan tetapi dengan niat untuk menunjukkan bahwasanya keberhasilan tersebut karena kepintaran dia dalam berdakwah
Ke-6 : Ia menyebutkan bahwasanya orang-orang yang menyelisihinya mendapatkan musibah. Ia ingin menjelaskan bahwasanya ia adalah seorang wali Allah yang barang siapa yang mengganggunya akan disiksa atau diadzab oleh Allah.
Ini adalah bentuk tazkiyah (merekomendasi) diri sendiri yang terselubung.
Ke-7 : Ia menunjukkan dan memamerkan kedekatannya terhadap para dai/ustadz, seakan-akan bahwa dengan dekatnya dia dengan para ustadz menunjukkan ia adalah orang yang sholeh dan disenangi para ustadz. Padahal kemuliaan di sisi Allah bukan diukur dari dekatnya seseorang terhadap ustadz atau syaikh, akan tetapi dari ketakwaan. Ternyata kedekatan terhadap ustadz juga bisa menjadi ajang pamer dan persaingan.
Ke-8 : Seseorang yang berpoligami lalu ia memamerkan poligaminya tersebut. Jika ia berkenalan dengan orang lain, serta merta ia sebutkan bahwasanya istrinya ada 2 atau 3 atau 4. Ia berdalih ingin menyiarkan sunnah, akan tetapi ternyata dalam hatinya ingin pamer. Poligami merupakan ibadah, maka memamerkan ibadah juga termasuk dalam riyaa’.
Para pembaca yang budiman, ini sebagian bentuk riyaa’ terselubung, semoga Allah melindungi kita dari terjerumus dalam bentuk-bentuk riyaa’ terselubung tersebut. Tidak perlu kita menuduh orang terjerumus dalam riyaa’ akan tetapi tujuan kita adalah untuk mengoreksi diri sendiri.
Hanya kepada Allahlah tempat meminta hidayah dan taufiiq.
Kiyai “Mogol” Alias Setengah Mateng
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى
Sobat! Mungkin anda pernah membakar singkong atau jagung? Atau paling kurang mengkonsumsi nasi yang belum sepenuhnya masak. Masakan semacam itu dalam bahasa jawa disebut dengan masakan “mogol”. Bila dimakan bisa menyebabkan perut anda kembung namun bila dibuang sayang.
Oleh masyarakat, kata “mogol” alias “setengah matang” sering kali dijadikan ilustrasi untuk menggambarkan orang-orang yang “setengah matang.” Pakar bukan bodoh juga tidak sepenuhnya bodoh, namun demikian sikapnya yang “petentang petenteng”, hantam sana sini, seakan jagoan tak terkalahkan sering merugikan dan meresahkan masyarakat. Kondisi semacam ini terjadi dalam berbagai aspek, termasuk dalam urusan ilmu dan agama.
Karena “mogol” mereka sering kali berkata aneh dan nyleneh, kaku dan beku, akibat dari keterbatasan ilmunya, sehingga kurang mampu menerapkan ilmunya dengan “luwes” dan bijak.
“Pada suatu hari, ada seorang wanita menemui Abdullah bin Mughaffal radhaiallahu ‘anhu, untuk bertanya kepadanya tentang wanita yang berzina, kemudian hamil, dan setelah ia melahirkan, ia membunuh anaknya tersebut.
Menjawab pertanyaan ini Abdullah bin Mughaffal radhaiallahu ‘anhu berkata: “Wanita itu masuk neraka”.
Mendengar jawaban yang demikian, wanita tersebut segera berpaling pergi sambil terisak-isak menangis.
Melihat wanita itu menangis terisak isak, Abdullah bin Mughaffal segera memanggilnya kembali, lalu berkata kepadanya : “Menurutku, permasalahanmu ini hanya ada satu dari dua alternatif berikut :
ومن يعمل سوء أو يظلم نفسه ثم يستغفر الله يجد الله غفورا رحيما
“Dan barang siapa yang melakukan kejahatan, atau mendlalimi dirinya, kemudian ia memohon ampunan kepada Allah, niscaya ia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.” Mendengar jawaban beliau yang kedua ini, wanita tersebut mengusap matanya dan segera pergi. (Ibnu Jarir At Thabary)
Sikap serupa juga pernah dilakukan oleh sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma.
Imam Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Sa’ad bin Ubaidah, ia menuturkan: “suatu hari datang seorang lelaki menjumpai sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, lalu ia bertanya: Apakah diterima taubat orang yang dengan sengaja membunuh seorang mukmin ? Beliau menjawab: Tidak diterima, dan hanya ada satu balasan baginya yaitu neraka.
Setelah lelaki itu pergi, segera murid-murid beliau bertanya karena keheranan: Sebelumnya tidak demikian engkau mengajarkan kami masalah ini. Sebelumnya engkau mengajarkan kepada kami bahwa taubat orang yang dengan sengaja membunuh seorang mukmin masih bisa diterima.
Menanggapi pertanyaan murid-muridnya ini, sahabat Ibnu Abas radhiallahu ‘anhu menjawab: Aku mengira lelaki yang bertanya tadi adalah orang yang sedang marah dan berencana membunuh seorang mukmin.
Mendengar alasan gurunya ini, mereka segera mencari tahu perihal lelaki yang bertanya tersebut dan ternyata mereka mendapatkannya tepat seperti yang diperkirakan oleh sahabat Ibnu Abbas radhiallal ‘anhuma.
Berdasarkan praktek para ulama’ semacam inilah selanjutnya Imam Qarafy menyimpulkan: “Sikap kaku /saklek dalam menerapkan perkataan ulama’ yang termaktub dalam kitab kitab dalam segala kondisi dan waktu adalah satu kesesatan dalam beragama. Sikap tersebut juga mencerminkan kebodohan dalam memahami keinginan para ulama’ kaum muslimin dan generasi terdahulu. (Al Furuq 1/321)
Imam Ibnu Al Qayyim menimpali ucapan Imam Qarafy ini dengan berkata: “Ucapan beliau ini ialah pamahaman yang sangat tepat. Karena siapapun yang berfatwa kepada masyarakat hanya berdasarkan keterangan yang ia dapatkan di dalam kitab, tanpa perduli dengan perbedan tradisi, budaya, zaman, situasi dan kondisi masyarakat maka ia telah terjerumus dalam kesesatan dan menyesatkan orang lain. (I’ilamul Muwaqiin 3/78)
Sobatku! Karena itu selektiflah dalam bertanya dan menimba ilmu, karena bisa jadi anda mendapatkan orang yang hafal banyak ucapan ulama’ namun kenyataannya mereka adalah orang orang yang digambarkan dalam ucapan Imam Qarafy dan Ibnul Qayyim di atas. Maksud mereka baik, namun karena kapasitasnya terbatas, sehingga tersesat dan menyesatkan, hasbunalahu wa ni’mal wakil. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan baik disengaja ataupun tidak disengaja.
Harusnya Kamu LEBIH MALU Kepada Allah, Daripada Malu Kepada Makhluk-Nya
Syeikh Sholeh Fauzan -hafizhohulloh- mengatakan:
“Harusnya kamu MALU kepada Allah. Malu kepada Allah adalah berusaha agar Dia tidak melihatmu dalam kemaksiatan kepada-Nya.
Kamu saja malu terhadap para makhluk bila mereka melihatmu dalam keadaan yang tidak pantas, lalu BAGAIMANA kamu TIDAK MALU kepada Allah bila Dia melihatmu dalam keadaan bermaksiat kepada-Nya..?!
Sungguh ini perkara yang MENGHERANKAN pada manusia, sebagaimana Allah berfirman (yang artinya):
“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Dia bersama mereka ketika mereka pada suatu malam menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridhoi-Nya..” [An-Nisa’: 108].
Maka harusnya kamu lebih malu kepada Allah, dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan kepada-Nya, karena Dia itu melihatmu..”
[Syarah Kitab Syarhus Sunnah, hal: 340].
Diterjemahkan oleh :
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Jika kamu sholat, maka sholatlah seperti…
Teruslah Menjaga KEIKHLASAN Dalam Menuntut Ilmu Agama
Imam Adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) -rohimahulloh- mengatakan:
“Ini adalah masalah yang diperselisihkan, apakah menuntut ilmu lebih afdhol, ataukah sholat sunnah, bertilawah, dan berdzikir..?!
Adapun orang yang IKHLAS karena Allah dalam menuntut ilmu dan kecerdasannya baik, maka menuntut ilmu lebih baik bagi dia, tapi dengan tetap memperhatikan bagian sholat dan ibadahnya.
Jadi, jika kamu melihatnya giat dalam menuntut ilmu, tapi tidak punya bagian dalam amalan ketaatan (sedikit ibadahnya), maka ini adalah orang yang malas dan hina, dan dia bukan orang yang jujur dalam kebaikan niatnya.
Adapun orang yang mencari ilmu hadits dan fikihnya karena hobi dan kesenangan hati, maka ibadah lebih afdhol baginya, bahkan tidak ada perbandingan antara keduanya. Dan ini pembagian (keadaan para penuntut ilmu) secara global.
Sungguh -demi Allah- SEDIKIT orang yang kulihat IKHLAS dalam menuntut ilmu (agama)..”
[Siyaru A’lamin Nubala’ 7/167].
——-
Jika di zaman beliau saja seperti ini, bagaimana keadaannya di zaman ini..?!
Ini menuntut kita untuk terus memperhatikan NIAT kita dalam menuntut ilmu, dan juga memperhatikan IBADAH kita sebagai bentuk penerapan ilmu kita.
Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita.
Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
Sholawat Yang Men-Tuhan-kan Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam…
Ustadz Abu Riyadl, Lc, حفظه الله تعالى
SHOLAWAT NARIYAH !!
Tidak asing lagi ditelinga kita sholawat berikut ini.
اللهم صل صلاة كاملة، وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذى تنحل به العقد، وتنفرج به الكرب، وتقضى به الحوائج، وتنال به الرغائب، وحسن الخواتم وسيتشقى الغمام بوجهه الكريم، وعلى أله وصحبه فى كل لمحة ونفس بعدد كل معلوم لك
Artinya adalah:
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat wajahnya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.”
Hebat bukan?
Dalam shalawat nariyah, terdapat kalimat pen-Tuhanan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Lafadz tersebut adalah:
تـُــنْحَلُ بِهِ العُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الحَوَائِجُ وَ تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وحسن الخواتم وسيتشقى الغمام بوجهه الكريم
Rincian:
(تنحل به العقد)
* Segala ikatan kesulitan bisa lepas karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
(وتنفرج به الكرب)
* Segala bencana bisa lenyap dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
(وتقضى به الحوائج)
* Segala kebutuhan bisa terkabulkan karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
(وتنال به الرغائب وحسن الخواتم وسيتشقى الغمام بوجهه الكريم )
* dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat wajahnya yang mulia hujanpun turun.
Empat kalimat di atas merupakan pujian yang ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika kita perhatikan, empat kemampuan di atas merupakan kemampuan yang HANYA DIMILIKI oleh Allah dan tidak dimiliki oleh makhluk-Nya siapa pun orangnya. Karena yang bisa menghilangkan kesulitan, menghilangkan bencana, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan serta doa, hanyalah Allah.
Seorang Nabi atau bahkan para malaikat sekalipun, tidak memiliki kemampuan dalam hal ini..
Nah gimana? Siapa Tuhan kalian?
Mari BERMAJELIS Dengan Para Ulama…
Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى
Apakah dalam menuntut ilmu cukup dengan membaca kitab-kitab dan matan-matan yang disyarah oleh ahli ilmu, tanpa menghadiri majelis-majelis para ulama?
Syeikh Sholeh alu Fauzan -hafizhohulloh- menjawab:
“Ini adalah kesesatan, mencukupkan diri dengan membaca kitab-kitab adalah jalan kesesatan, Ilmu harus diambil dari para ulama.
Adapun kitab-kitab, itu hanyalah sarana saja, seperti jika ada senjata di tanganmu, apakah kamu bisa menggunakannya tanpa belajar bagaimana menggunakannya, tentu kamu harus belajar bagaimana menggunakan senjata itu dari orang-orang yang mengetahui cara menggunakan senjata, sehingga mereka melatihmu menggunakannya.
Para ulama itulah yang melatihmu menggunakan kitab-kitab, dan mengenalkanmu mana kitab-kitab bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat.
Karena diantara kita-kitab, ada banyak kitab yang berisi kesesatan dan keburukan, dan tidak ada yang bisa memeriksanya kecuali para ulama.
(Ditambah lagi) mungkin saja kamu membaca dan memahaminya dengan pemahaman yang salah…
Para ulama itulah yang tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar, merekalah yang mengenalkanmu mana makna yang benar dan mana makna yang tidak benar, merekalah orang-orang yang ahli dalam perkara ini.
Lebih jelas lagi, ambillah salah satu kitab tentang kedokteran, dan bacalah, lalu lakukanlah operasi dan bedahlah perut orang-orang, lalu katakan bahwa aku dokter! Tentunya ini tidak boleh.
Jika ini dalam bidang kedokteran, lalu bagaimana bila dalam hal ilmu (agama), lalu bagaimana bila berhubungan dengan Kitabullah dan Sunnah Rosul-Nya?! Tentunya harus mempelajarinya dari para ulama.”


