All posts by BBG Al Ilmu

Buruk Namun Indah – Sesi Tanya Jawab

Ustadz DR. Syafiq Basalamah, MA, حفظه الله تعالى

* Adakah syarat-syarat nikah muda ?

* Bagaimana taubat dari pacaran yang dulu pernah dilakukan bagi orang yang telah menikah ?

* Mertua meninggal dengan meninggalkan hutang.

* Bolehkah kita memberikan zakat mal kita untuk melunasi hutang mertua tersebut ?

* Bagaimana menghadapi acara walimah keluarga yang ada musik dan campur baur, hadir atau tidak ?

* Mempelai wanita memberikan sejumlah harta kepada calon suami yang tidak mampu guna membayar mahar. Bolehkah ?

* Apa batas-batas berkomunikasi antara pria dan wanita selama masa taaruf hingga menjelang pernikahan ?
* Bagaimana menjelaskan kepada orang tua tentang adab-adab pernikahan yang syar’I ?

* Bolehkah menyarankan khulu’ kepada wanita yang dipoligami oleh suaminya ?

* Bagaimana cara menyampaikan status anak adopsi kepada sang anak ?

* Bagaiama teknis ijab qabul yang syar’I, apakah mempelai wanita harus hadir ?

* Apakah orang tua harus memeriksa detail profil dari calon mantunya?

* Apakah paman itu mahram bagi seorang wanita ?

* Syahwat sudah besar, tetapi orang tua masih belum mengizinkan menikah. Bagaimana solusinya?

* Bagaimana bulan madu yang syar’I ?

* Jika ada wanita anggota keluarga kita yang sudah berumur dan belum menikah, apa yang harus kita lakukan ?

* Orang tua belum menerima calon mantu karena kerjanya belum kerja kantoran. Bagaimana sikap kita ?

* Bolehkah menyembunyikan pernikahan dari keluarga ?

* Apa tanda-tanda wanita yang subur ?

* Bolehkah seorang suami memanggil istrinya dengan ummi untuk membahasakan anaknya ?

* Bolehkah membawa anak ke masjid dalam rangka pendidikan ?

* Bagaimana prosentase bakti seorang anak laki-laki kepada ibu setelah menikah ?

Simak jawaban Ust Syafiq bin Reza Basalamah.

Klik

http://salamdakwah.com/videos-detail/buruk-namun-indah.html

Tiga Induk Kemaksiatan

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

Imam Ibnu Qoyyim rohimahullah berkata: “Induk semua kemaksiatan, baik yang besar ataupun yang kecil ada tiga, yaitu;

1. Keterikatan hati kepada selain Allah Ta’ala, yang tidak lain adalah syirik.

2. Menuruti dorongan emosi, yang tidak lain adalah zholim.

3. Menuruti kekuatan nafsu syahwat, yang tidak lain adalah berzina.

» Tujuan akhir keterikatan hati dengan selain Allah Ta’ala adalah syirik dan mengklaim ada tuhan baru selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

» Tujuan akhir menuruti dorongan emosi adalah membunuh.

» Dan tujuan akhir menuruti kekuatan nafsu syahwat adalah zina.
 
Oleh karenanya, Allah menyebutkan ketiga hal itu secara bersamaan di dalam firman-Nya berikut:

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

Artinya: “Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)”. (QS. Al-Furqoon: 68).
(Lihat Al-Fawaaid, hal.106).

1297. Adakah Dalil Sholat Mujaahadah ?

1297. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ada teman memberitahu soal sholat mujaahadah, apakah ada tuntunan dari Rosululloh? Jika iya, Do’a apa aja yang dibaca ?

Jawab :
Ustadz Muhammad Wasitho, MA حفظه الله تعالى

Bismillah. Sholat Mujaahadah dan bacaan-bacaan di dalamnya seperti:
1. SURAT WAQI’AH
2. AYAT KURSIY
3. SHOLAWAT NARIYYAH
4. YA ROHMANU YAROHIM YA ROZZAQU YA ALLOH
5. YA KARIMU YA WAHHAB YA DZATTHOULI YA ALLAH
6. YA ‘ALI, YA `ADHIM, YA FATTAHU, YA ‘ALIIM.
7. YA LATHIFU
8. YA ALLAH

Adalah BUKAN TERMASUK AJARAN ISLAM karena Tidak Ada Dalil dari Al-Qur’an Al-Karim maupun Hadits-hadits Nabi yang Shohih yang mensyari’atkannya.

Oleh karenanya, TIDAK BOLEH bagi kita mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain.

Di dalam Al-Qur’an Allah berfirman: “Dan apa saja yang diajarkan oleh Rasulullah kepada kalian, maka ikutilah (laksanakanlah), dan apa saja yang dilarang Rasulullah kepada kalian, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7).

Dan di dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan tersebut ditolak (Allah).”

Dan beliau juga bersabda: “Waspadalah kalian dari perkara baru yang diada-adakan (dalam urusan agama), karena setiap perkara baru dalam urusan agama adalah Bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Kutamaan Bisnis Dan Bekerja Dengan Jalan Yang Halal

Ustadz Muhammad Washito, MA, حفظه الله تعالى

Bismillah. Ada beberapa hadits shohih yang menerangkan keutamaan berdagang dan bekerja dengan jalan yang halal. Diantaranya:

1. Bekerja dan Berbisnis merupakan profesi yang sngat disukai dan
dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

» Dari Al-Miqdam radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam bersabda: “Tidaklah seseorang mengkonsumsi makanan yang lebih baik dari makanan yang dihasilkan dari jerih payah tangannya sendiri. Dan sesungguhnya nabi Daud ‘alaihissalam dahulu senantiasa makan dari jerih payahnya sendiri.” (HR. Al-Bukhari no.2072)

2. Menafkahi keluarga dari hasil kerja dan bisnis sendiri jika dilandasi dengan niat yang baik maka dihitung oleh Allah sebagai shodaqoh.

» Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seseorang memperoleh suatu penghasilan yang lebih baik dari jerih payah tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahi dirinya, istrinya, anaknya dan pembantunya melainkan ia dihitung sebagai shodaqoh.” (HR. Ibnu Majah no.2129)

3. Orang yang berbisnis dengan jujur dan amanah akan dikumpulkan oleh Allah pada hari kiamat bersama para nabi, orang-orang jujur dan mati syahid.

» Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Pedagang yang senantiasa jujur lagi amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang selalu jujur dan orang-orang yang mati syahid.” (HR.At-Tirmidzi no. 1130)

4. Penghasilan dari Berbisnis atau berdagang adalah sebaik-baik penghasilan.

» Dari Rafi’ bin Khadij radhiyallahu anhu, ia berkata: Ada seseorang bertanya, “Penghasilan apakah yang paling baik, Wahai Rasulullah?” Beliau jawab: “Penghasilan seseorang dari jerih payah tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Ahmad no.16628)

Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya pada umur, ilmu, amal, dan rezeki kita semua. Amiin.

Sekejam Memperkosa Ibu Kandung

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sobat! kejahatan antara sesama manusia memang beraneka ragam, terlebih di zaman seperti saat ini. Nilai nilai agama telah luntur dan hawa nafsu terus diumbar seluas luasnya.

Begitu merajalelanya kejahatan dan kemaksiatan sampai sampai dianggap “biasa alias wajar “oleh masyarakat. Terutama bila mengetahui bahwa pelaku kejahatan adalah seorang yang dikenal sebagai penjahat, apalagi penjahat berdarah dingin.

Namun demikian sangat menyakitkan bila ternyata pelaku kejahatan tersebut adalah orang yang selama ini anda kenal sebagai orang baik, rajin ibadah, penampilannya santun dan bahkan agamis.

Saudaraku! Tahukah anda bahwa diantara kejahatan yang barang kali tidak anda sadari dan banyak dari orang orang yang nampaknya baik, bahkan agamis ialah kejahatan memakan riba?

Tahukah anda, seberapa berat kejahatan pemakan riba? temukan jawabannya pada sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam berikut:

الربا ثلاثة وسبعون بابا أيسرها مثل أن ينكح الرجل

“Riba itu ada tujuh puluh tiga model (pintu) dan dosa model riba yang paling ringan bagaikan dosa orang yang memerkosa ibu kandungnya sendiri.” (al Hakim)

Sobat! Setelah mengetahui beratnya dosa riba, Masihkah anda dapat merasa tenang menikmati atau memungut riba walaupun dengan sebutan bunga?

Masihkah anda merasa aman dengan menyimpan riba di rumah atau di brangkas atau di rekening anda?

10 Sebab Agar Dicintai Allah

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

» Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
”Sesungguhnya sebab-sebab yang dapat mendatangkan kecintaan dari ALLAH ada sepuluh (yaitu):

1. Membaca dan mentadabburi Al-Qur’an serta memahami makna-maknanya dan maksud yang terkandung didalamnya.

2. Mendekatkan diri kepada ALLAH dengan menjalankan amalan-amalan yang sunnah sesudah amalan-amalan yang wajib.

3. Terus-menerus berdzikir kepada ALLAH dalam setiap kondisi, baik
dengan lisan, hati, perbuatan maupun keadaan, karena kadar kecintaan tergantung pada dzikirnya. (Semakin cinta berarti semakin banyak dzikr/ingat kepada yang dicintai -pent).

4. Mengutamakan apa-apa yang ALLAH cintai daripada apa yang engkau cintai ketika hawa nafsu berkuasa.

5. Hati senantiasa menela’ah serta memperhatikan nama-nama ALLAH dan sifat-sifat-NYA, dan mendalaminya di taman dan medan ilmu pengetahuan ini.

6. Menyaksikan berbagai kebaikan dan nikmat ALLAH yang lahir dan batin.

7. Merasa rendah dan tunduk hatinya di hadapan ALLAH, dan ini
merupakan sebab yang sangat menakjubkan.

8. Menyendiri untuk beribadah pada sepertiga terakhir dari waktu malam dan membaca kitabNYA (Al-Quran Al-Karim), lalu menutup (bacaan)nya dengan istighfar dan taubat.

9. Bermajelis dengan orang-orang yang mencintai ALLAH dengan jujur, mengambil buah yang baik dari perkataan mereka, dan engkau tidak berbicara kecuali tampak kuat adanya maslahat dalam berbicara, serta engkau tahu akan manfaat bagi dirimu dan orang lain.

10. Menjauhi setiap sebab yang menjadi penghalang antara hati dengan ALLAH.

Dan dari sepuluh sebab inilah, orang-orang yang mencintai (ALLAH)
telah sampai pada kedudukan kecintaan (dari ALLAH yang sangat tinggi).

» (Lihat kitab Madarijus Salikin, karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah III/17-18).

Demikian Faedah ilmiyah yang dapat kami sampaikan pada malam Jum’at yang mulia ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Wabillahi at-Taufiq.

HATI Yang Lebih Luas Dari DUNIA

Diantara barometer ilmu Anda adalah hati Anda, semakin luas ilmu Anda, akan semakin lapang pula dada Anda… Simaklah dengan seksama mutiara kata Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berikut ini:

“Diantara yang dapat melapangkan dada adalah ILMU (agama), sungguh dia dapat melapangkan dada dan meluaskannya, hingga dia LEBIH LUAS DARI DUNIA.

Adapun kebodohan, dia menjadikan hati seseorang sempit, terhimpit, dan terpenjara.

Maka, semakin luas ilmu seorang hamba, semakin lapang dan luas pula dadanya. Tapi ini TIDAK berlaku pada SEMUA ilmu, namun HANYA untuk ilmu yang diwariskan oleh Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, itulah ilmu yang bermanfaat.

Oleh karenanya, orang yang ilmunya bermanfaat, menjadi orang yang paling lapang dadanya, PALING LUAS hatinya, paling baik akhlaknya, dan paling berkah kehidupannya..” [Zadul Ma’ad: 2/23].

———

Sungguh ini pelajaran yang sangat berharga bagi kita… Makanya kita dapati mereka yang ilmunya bermanfaat akan menjadi paling tegar dalam menghadapi musibah dan cobaan, sebagaimana Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-.

Karena setelah hati seseorang menjadi besar, lapang, dan luas; semua masalah akan menjadi terlihat kecil dan kerdil…

Dan jika kita masih menganggap ada permasalahan besar yang tidak sanggup kita hadapi, itu menunjukkan kecil dan kerdilnya hati kita, wallohu a’lam.

Semoga bermanfaat…

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

1296. Menyebarkan BC Dakwah Namun Belum Mengamalkannya

1296. BBG Al Ilmu – 461

Tanya :
Bagaimana hukumnya jika kita sering menyebarkan (broadcast) materi dakwah, tetapi kita sendiri tidak mampu mengamalkan materi tersebut (na’udzubillah), atau tidak mampu menambah ketaqwaan ?

Jawab :
Ustadz Muhammad Wasitho, MA حفظه الله تعالى

Bismillah. Hukum men-Broadcast (share) materi dakwah yang belum mampu kita kerjakan kepada orang lain, muslim maupun non muslim adalah amalan terpuji yang SANGAT DIANJURKAN, karena termasuk dalam bab tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, dan saling menasehati dan mengajak kepada kebenaran.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: (Wa Ta’aawanuu ‘Alal Birri Wat-Taqwa)

Artinya: “Dan hendaklah kalian saling tolong menolong di atas kebaikan n ketakwaan.” (QS. Al-Maidah: 2).

Dan jg berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (yg artinya) : “Orang yg menunjukkan (orang lain) kpd kebaikan, maka ia (mendapatkan pahala) seperti orang yg mengerjakan kebaikan itu.”

Dan juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (yang artinya) : “Sungguh Allah memberikan hidayah kepada satu orang saja melalui tanganmu, (pahalanya) itu lebih baik bagimu daripada onta merah.”

Sebagai contoh: ada seorang ustadz atau penuntut ilmu mengajarkan atau men-broadcast materi dakwah tentang tata cara haji dan umroh sesuai sunnah Nabi, atau tentang keutamaan tahajjud, puasa daud, senin dan kamis, atau kurban, lalu materi tersebut diamalkan oleh orang yang mendengarkannya atau membacanya, maka orang yang mengajarkannya dan juga ikut serta men-broadcastnya mendapatkan pahala sebagaimana orang yang mengamalkannya meskipun ia sendiri belum mampu mengerjakannya kerena belum mampu secara badan maupun finansial.

Jadi, harus dibedakan antara kewajiban mengajarkan dan menyebarkan ilmu kebaikan dengan kewajiban mengamalkan perkara-perkara Islam yang hukumnya Wajib.

Wajibnya mengajarkan dan menyebarkan ilmu syar’I TIDAK DISYARATKAN untuk melaksanakan semua amalan Islam yang wajib maupun yang Sunnah terlebih dahulu. Dan juga Tidak Disyaratkan untuk selamat dan bebas dari segala dosa dan maksiat. Sebab, jika disyaratkan demikian, niscaya tiada seorang pun yang mampu mengajarkan dan menyebarkan ilmu kepada orang lain.

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Mengapa Menyiksa Diri ?

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Masa depan tidak bisa kita skenariokan, masa lalu tidak bisa kita rubah, lantas kenapa kita mesti menyiksa diri dengan setumpuk penyesalan atas sesuatu yang tidak bisa kita rubah??

Seriuslah dan konsentrasi untuk berbuat yang terbaik pada apa yang sedang kita jalani saat ini, jangan menjadikan masa lalu yang salah selalui menghantui, dan jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan yang belum pasti.

Berusahalah sebaik mungkin saat ini, tawakkal dan serahkan hasilnya kepada Allah Yang Maha Pengasih.

NB: silahkan download DP dakwah yang berkaitan dengan kajian diatas.

http://pic.twitter.com/ZOR8cVF4hF

1295. Keistimewaan Anak Yatim

1295. BBG Al Ilmu – 43

Tanya :
Apa ke istimewaan anak yatim ? adakah dalilnya di Al-Qur’an dan hadits ?

Jawab :
Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Allah Ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ

“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” (QS. Adh-Dhuha: 9)

Allah Ta’ala berfirman:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8 )

Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

“Aku dan orang yang mengurus anak yatim berada di surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan kedua jarinya yaitu telunjuk dan jari tengah.” (HR. Al-Bukhari no. 6005)

Dari Abu Hurariah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ وَأَشَارَ مَالِكٌ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

“Orang yang menanggung anak yatim miliknya atau milik orang lain, aku dan dia seperti dua jari ini di surga.” Malik mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah.” (HR. Muslim no. 2983)
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊