All posts by BBG Al Ilmu

Ramadhan Kariim, Benarkah Ucapan Ini ?

Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc حفظه الله تعالى

Ringkasan Fatwa:

Syeikh al-Utsaimin ditanya tentang ucapan “Ramadhan Kariim”.

Beliau menjawab: Bahwa ucapan itu tidak benar, karena Ramadhan bukan yang memberikan kemuliaan, tetapi Allah ‘Azza wa Jalla yang menjadikan bulan tersebut penuh berkah, ucapan yang benar adalah “Ramadhan Mubarak” Ramadhan bulan yang penuh berkah. (Fatwa al-Utsaimiin: 20/93).

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Pada Setiap Malam Bulan Ramadhan Terdapat Pembebasan Dari Api Neraka

Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc حفظه الله تعالى

Pada setiap malam bulan ramadhan terdapat pembebasan dari api neraka, oleh karena itu jangan lalai, dan pergunakan kesempatan ramadhan sekarang ini dengan sebaik mungkin.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

إذا كان أول ليلة من شهر رمضان صفدت الشياطين ومردة الجن وغلقت أبواب النار فلم يفتح منها باب وفتحت أبواب الجنة فلم يغلق منها باب وينادي مناد يا باغي الخير أقبل ويا باغي الشر أقصر ولله عتقاء من النار وذلك كل ليلة.

“Apabila malam pertama dari bulan ramadhan maka setan-setan dan jin jahat dibelenggu, dikunci pintu-pintu neraka dan tidak dibuka satupun, dibuka pintu-pintu surga dan tidak ditutup satupun. Kemudian seorang penyeru mengatakan: Wahai orang yang mencintai kebaikan kemarilah, dan wahai orang yang mencintai kejahatan berhentilah. Allah memiliki orang-orang yang akan dibebaskan dari api neraka, dan itu setiap malam“. [HR. At-Tirmidzi (685), Ibnu Majah (1642), Ibnu Khuzaimah (1776) dan (1883), Ibnu Hibban (3435) dan (3504), Al-Hakim (1479), Al-Baihaqi (8764-Sunan) dan (3446-Syu’abul Iman), dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi (1/209) dan Shahih Ibnu Majah (1/275), dari Abu Huroiroh رضي الله عنه].

Sebegitu besar karunia Allah Ta’ala kepada para hambanya, dengan memberikan itu semua.

Wahai saudarakau janganlah engkau dilalaikan hanya dengan menghabiskan malam-malam ramadhan dengan sesuatu yang sia-sia, nonton piala dunia, sibuk begadang atau yang lainnya.

Marilah kita raih pembebasan dari api neraka.

Ingat, itu bukan hanya pada sepuluh terakhir saja, namun SETIAP MALAM.

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Wooow, Alhamdulillah Segarnya!

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Lega deh, haus dan laparnya kini telah sirna, enak nian masakan ibu sore ini!

Dua ungkapan di atas hanyalah tebak reka saya tentang ungkapan yang keluar dari lisan anda seusai menyantap hidangan buka puasa anda. Dua ungkapan yang menggambarkan betapa nikmatnya hidangan buka puasa anda.

Di saat yang sama dua ungkapan di atas juga menggambarkan betapa bahagia dan senangnya hati anda dengan acara buka puasa anda. Betapa tidak setelah melalui satu siang yang berat, haus, lapar, dan letih bercampur baur menjadi satu, sekarang anda berhasil melepaskan semuanya.

Betapa indahnya gambaran anda yang sedang berada di tengah-tengah keluarga tercinta, bersama-sama menikmati hidangan buka puasa anda.

Rasa bahagia yang anda temukan ditengah-tengah keluarga anda pada saat berbuka puasa hanyalah sebagian kecil dari kebahagiaan yang tersimpan di balik ibadah puasa anda. Kebahagiaan yang belum anda rasakan masih terlalu besar.

Semoga anda bersama keluarga anda berhasil menemukan sisa kebahagiaan yang terpendam di balik ibadah puasa anda.

Anda ingin tahu apa kebahagian bagian kedua yang seyogyanya anda nikmati bersama keluarga anda? Temukan jawabannya pada sabda Rasulullah berikut:

(لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ، وَإِذَا لَقِىَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ) متفق عليه
“Orang yang berpuasa akan menikmati dua kebahagiaan : bila ia berbuka puasa ia berbahagia, dan bila kelak ia berjumpa dengan Tuhan-nya iapun kembali berbahagia dengan puasanya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Saudaraku! Coba sekali lagi anda membayangkannya kembali senyum yang terkulum di bibir anda di saat anda menyantap hidangan buka puasa anda. Indah bukan?

Akan tetapi, tahukah anda bahwa di sekitar anda masih banyak saudara-saudara anda seiman dan seakidah, walaupun adzan Maghrib telah berkumandang, tidak dapat merasakan nikmat dan bahagianya berbuka puasa.

Apalagi turut merasakan indahnya senyuman seperti yang anda rasakan. Isak tangis anak-anak mereka saja tak kuasa mereka hentikan.

Tahukah anda apa sebabnya? Sebabnya sepele; yaitu walaupun adzan telah dikumandangkan, ternyata mereka terpaksa meneruskan puasa mereka. Rasa lapar berkelanjutan, haus berkepanjangan, dan letih tak kunjung sirna. Betapa tidak, tidak sesuap nasipun yang dapat mengusir rasa lapar mereka, apalagi hidangan makanan yang lezat dan beraneka ragam. Seteguk air putihpun tidak mereka miliki, apalagi berbagai jus dan minuman segar lainnya.

Tidakkah anda dapat membayangkan betapa berat penderitaan mereka?

Tidakkah pintu hati anda terketuk untuk turut menyertakan mereka dalam kebahagiaan anda ketika berbuka puasa.

Jangan khawatir saudaraku! Uluran tangan anda kepada mereka tidak akan sirna begitu saja. Bahkan kebahagiaan puasa anda akan semakin berlipat ganda, dengan menyertakan mereka dalam kebahagian berbuka puasa.

(مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا ) رواه الترمذي وابن ماجة وابن خزيمة وصححه الألباني
“Barang siapa yang memberi makanan untuk berbuka orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang tersebut tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala orang yang berpuasa itu.” (Riwayat At Tirmizy, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah)

Bayangkan! Andai anda memberi makanan untuk berbuka puasa kepada sepuluh orang, maka anda mendapatkan pahala sebesar pahala puasa kesepuluh orang tersebut.

Semakin banyak yang anda beri, maka semakin banyak pula pahala yang anda dapatkan.

Saudaraku! sudah berapa banyakkah orang yang anda beri makanan buka puasa?  Mumpung kesempatan masih terbuka lebar, bergegaslah saudaraku untuk berlomba-lomba merebutkan kesempatan menumpuk pahala di sisi Allah ini.

Saudaraku! coba bayangkan betapa beruntungnya diri anda, bila pada bulan puasa ini yang hanya berjumlah 30/29 hari, anda berhasil mengumpulkan pahala puasa beribu-ribu hari!

Selamat berjuang mengumpulkan pahala puasa sebanyak mungkin, semoga berhasil.

 

Yang Pintar Menasehati Buanyak….!!! Tapi Yang Mengamalkan Nasehatnya Sendiri ?

Ustadz Firanda Andirja, Lc, MA,

Sungguh banyak diantara kita yang “HOBY” menasehati di facebook, sungguh ini merupakan kebaikan…tapi janganlah lupa agar kita juga semangat untuk mengamalkan nasehat-nasehat kita sendiri. Renungkanlah perkataan Abul Aswad Ad-Dualy:

يَا أَيُّهَا الرَّجُلُ الْمُعَلِّمُ غيره *** هَلاَّ لِنَفْسِكَ كَانَ ذَا التَّعْلِيْمِ

“Wahai orang yang mengajari orang lain…. Tidakkah kau mengajari dirimu dulu (sebelum orang lain)”

أَتَرَاكَ تُلَقِّحُ بِالرَّشَادِ عُقُوْلَنَا *** صِفَةً وَأَنْتَ مِنَ الرَّشَادِ عَدِيْمُ
“Pantaskah kau tanamkan pada akal kami “sifat mulia”.. Tapi ternyata, engkau kosong dari sifat mulia itu”

لاَ تَنْهَ عَنْ خُلُقٍ وَتَأْتِي مِثْلَهُ *** عَارٌ عَلَيْكَ إِذَا فَعَلْتَ عَظِيْمُ
“Janganlah engkau melarang akhlak (yang buruk), tapi kau sendiri melakukannya… Sungguh sangat tercela, jika kau berbuat seperti itu”

اِبْدَأْ بِنَفْسِكَ فَانْهَهَا عَنْ غَيِّهَا *** فَإِذَا انْتَهَتْ عَنْهُ فَأَنْتَ حَكِيْمُ
“Mulailah dari dirimu, dan lepaskanlah dosanya… Karena engkaulah sang bijaksana, jika kau telah lepas darinya”

فَهُنَاكَ يَنْفَعُ إِنْ وَعَظْتَ وَيُقْتَدَى *** بِالْقَوْلِ مِنْكَ وَيَنْفَعُ التَّعْلِيْمُ
“Saat itulah, nasehat dan didikanmu kan berguna. Begitu pula ucapanmu, akan menjadi panutan”

Yaa Allah ampunilah kami yang sering menasehati akan tetapi lalai dari nasehatnya sendiri…tunjukanlah kami jalan yang lurus, tutuplah aib-aib kami di dunia, terlebih-lebih lagi di akhirat…

Aamiiin yaa Robbal ‘Aaalamiin

 

Berpuasa Namun Sayang Tidak Berjilbab

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Itulah yang kita temukan pada remaja saat ini, mereka tidak lagi peduli dengan kewajiban mereka. Mereka asal saja berpuasa, namun tidak tahu bahwa dengan bermaksiat dapat membuat pahala seseorang itu berkurang. Termasuk dalam hal ini adalah mengumbar aurat, bebas begitu saja berpakaian. Bahkan yang kami pandang, anak-anak remaja saat puasa masih berpakaian mini dan ketat, juga menampakkan betis.

Menutup aurat tentu saja wajib. Allah Ta’ala berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amru Abdul Mun’im, hal. 14).

Enggan berjilbab termasuk berbuat dosa besar karena diancam dengan ancaman yang keras dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128).

Yang dimaksud berpakaian tetapi telanjang itu apa? Yaitu berpakaian dengan sengaja menampakkan keindahan tubuh. Juga yang dimaksud adalah berpakaian tipis sehinga nampak bagian dalam tubuh. Itulah yang kita lihat dari model pakaian muda-mudi saat ini.

Orang yang berpuasa tentu saja mesti meninggalkan maksiat. Satu persen saja ia menahan lapar dan dahaga, 99% lainnya yang lebih berat yaitu meninggalkan maksiat. Dan mengumbar dan membuka-buka aurat termasuk maksiat. Lihatlah akibat dari orang yang berpuasa namun masih terus bermaksiat.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta (az zuur) dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903). Mengamalkan az zuur yang dimaksud dalam hadits ini adalah mengamalkan suatu yang haram secara umum.

Apakah mesti menghijabi hati lebih dulu? Tidak demikian. Justru dengan menutupi aurat dengan hijab sempurna, hati pun akan ikut baik. Kenapa tidak percaya itu? Terus menerus membuka aurat malah membuat hati semakin kelam dan gelap karena terus dinodai hitamnya maksiat.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah kepada setiap wanita muslimah supaya mereka sadar untuk menutupi aurat mereka. 

 

Bersama Hingga Di Surga

Ustadz DR. Syafiq Riza Basalamah, Lc, MA, حفظه الله تعالى

Keluarga adalah kumpulan orang-orang TERCINTA. Bersama mereka, hari-hari kita jalani dengan segala warna. Ada suka ada duka. Semua menjadi INDAH dengan segala cerita.

Ramadhan telah TIBA. Saatnya kita kembali untuk menyatukan keluarga, bersungguh-sungguh dalam BERIBADAH kepada Allah taala. Mendulang PAHALA dan meraih TAKWA.

Semoga kita dan orang-orang tercinta kan selalu bersama, selamanya. Bersama tatkala di dunia, BERSAMA HINGGA DI SURGA.

Jadikan Ramadhan kali ini, moment terindah bersama keluarga yang kita kasihi. BAITI JANNATI.

Simak kajian Ust Syafiq Reza Basalamah, MA.

Klik
http://salamdakwah.com/videos-detail/ramadhan-mengembalikan-baiti-jannati.html

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Hari Pertama Ramadhan

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, washolatu wassalamu ala` rasulullah, wa ba`du;

Ikhwati, telah menghampiri kita bulan yang di penuhi kemuliaan, bulan yang agung yang Allah Ta`ala lipat ganda kan pahala, di buka pintu pintu kebaikan, diturunkan keberkahan, bulan yang di turunkan Al Qur`an sebagai petunjuk dan hidayah bagi para manusia, bulan yang di liputi rahmat dan ampunan dan pembebasan dari api neraka.

Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila datang bulan ramadhan maka di buka pintu-pintu surga dan di tutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu para syaitan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Di buka pintu surga di bulan mulia ini di karena kan banyak nya amalan-amalan kebaikan yang salih di lakukan sebagai pendorong bagi orang-orang yang hendak beramal, dan di tutup pintu neraka di karena kan sedikit nya maksiat yang di lakukan oleh orang-orang yang beriman, demikian pula di borgol nya syaitan sehingga tidak bebas seperti hari-hari lain nya.

Di riwayat kan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu`anhu bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Umat ku di berikan lima perangai pada bulan ramadhan, yang tidak di berikan kepada para umat sebelum nya, aroma mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah dari pada aroma kasturi, dan para malaikat meminta kan ampunan hingga berbuka puasa, dan Allah menghiasi surga Nya setiap hari dan berfirman,” Hampir para hamba Ku yang sholih terbebas dari beban dan gangguan dan segera menuju ke pada mu (surga), dan di borgol para syaitan hingga tidak bebas seperti hari hari bisa, dan akan di berikan ampunan pada setiap akhir malam.”

Para sahabat bertanya, apakah itu pada malam lailatul qadar?, maka di jawab, bukan, akan tetapi bagi setiap muslim yang beramal ia akan mendapatkan balasan nya, jika ia telah selesai beramal.”

Kelima perangai ini Allah janjikan dan di khusus kan untuk umat nabi muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang tidak pernah di berikan kepada umat manusia sebelum nya.

Keutamaan Sholat Tarawih Berdasarkan Hadits-Hadits Shohih

Ustadz Muhammad Wasitho, حفظه الله تعالى

Sholat Tarawih merupakan salah satu amal ibadah yang Allah syari’atkan bagi para hamba-Nya di bulan suci Romadhon. Dan hukum sholat Tarawih adalah SUNNAH sebagaimana yang disepakati oleh para ulama.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan Qiyamu Ramadhan adalah sholat Tarawih, dan para ulama telah bersepakat bahwa sholat Tarawih itu hukumnya mustahab (sunnah/dianjurkan).”. (Lihat Syarhu Shohih Muslim VI/282, dan kitab Al-Majmu’ III/526).

(*) Keutamaan Shalat Tarawih

Pada beberapa Waktu yang lalu, kami telah menposting hadits PALSU tentang keutamaan sholat Tarawih dari malam pertama hingga malam ketiga puluh (terakhir) dari bulan Romadhon. Maka pada kesempatan kali ini kami akan menyebutkan keutamaan sholat Tarawih berdasarkan hadits-hadits yang SHOHIH dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.

(*) KEUTAMAAN PERTAMA:
Allah Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu bagi siapa saja yang melakukan sholat Tarawih dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dan ridho Allah semata. Bukan karena riya’ dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar amal kebaikannya oleh orang lain.

Hal ini berdasarkan hadits SHOHIH berikut ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلّم : « مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melakukan Qiyam Romadhon (yakni sholat malam pada bulan romadhon) karena iman dan mengharap pahala dan ridho Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. al-Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).

» Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Yang dimaksud Qiyam Romadhon adalah sholat Tarawih.”

» Ibnul Mundzir rahimahullah menerangkan berdasarkan nash (tekstual) hadits ini bahwa yang dimaksud “pengampunan terhadap dosa-dosa yang telah lalu dalam hadits ini adalah bisa mencakup dosa besar dan dosa kecil.

Sedangkan imam An-Nawawi mengatakan bahwa yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah khusus untuk dosa-dosa kecil saja. Karena dosa-dosa besar tidaklah diampuni dengan sebab melakukan amal-amal sholih, akan tetapi hanya dengan melakukan Taubat Nasuha, yakni taubat yang sempurna.

(*) KEUTAMAAN KEDUA:
Barangsiapa melaksanakan sholat Tarawih berjamaah bersama imam hingga selesai, maka akan dicatat baginya pahala seperti orang yang melakukan Qiyamul Lail semalam penuh.

Hal ini berdasarkan Hadits Shohih berikut ini:

Dari Abu Dzar rdhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda:

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

“Sesungguhnya barangsiapa yang shalat (Tarawih) bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala Qiyamul Lail satu malam penuh.” (HR. An-Nasai no.1605, At-Tirmidzi no.806, Ibnu Majah no.1327, dan selainnya. Dan hadits ini dinyatakan SHOHIH oleh At-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani dalam Irwa’ Al-Gholil no. 447).

Demikian keutamaan sholat Tarawih berdasarkan hadits-hadits Shohih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Semoga Allah Ta’ala memberikan Taufiq dan pertolongan-Nya kepada kita semua untuk dapat istiqomah dalam melaksanakan sholat Tarawih dan ibadah lainnya di bulan Romadhon dan di bulan-bulan setelahnya. Amiin.

Ramadhan Bersama Ulama Salaf Dalam Memanfaatkan Waktu

Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz, حفظه الله تعالى

Bismillah. Generasi ulama as-salafus sholih merupakan generasi yang paling agung dan utama dari umat Islam sebagaimana yang dikabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka adalah generasi yang paling lurus aqidah dan manhajnya, paling baik ibadah dan akhlaknya, serta paling semangat dalam memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Abdullah bin mas’ud radhiyallahu anhu berkata: “Barangsiapa yang ingin mengambil teladan, maka teladanilah petunjuk orang-orang mukmin yang telah meninggal dunia (yakni Nabi shallallahu alaihi wasallam bersama para sahabat, pent), sebab orang yang masih hidup Tidak (ada jaminan) aman Dari tertimpa fitnah (syahwat maupun syubhat, pent).” (Lihat Tafsir Al-Baghowi I/284, I’lamul Muwaqqi’iin karya Ibnul Qoyyim II/202-203, Ighotsatul Lahfan I/159, Madarijus Salikin III/436).

Jadi, dalam memahami dan mengamalkan syari’at Islam yang sempurna ini, hendaknya kita meneladani dan menggabungkan diri kita hanya bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam, para sahabat, dan para ulama sunnah yang setia mengikuti jejak mereka dengan baik dan benar. Bukan dengan cara ikut-ikutan dan menggabungkan diri bersama Si fulan dan Si Alan, atau kelompok ini dan kelompok itu.

Berikut ini adalah perkataan para ulama salaf dalam menyikapi waktu.

1. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidaklah aku menyesal terhadap sesuatu sebagaimana menyesalku ketika pada hari yang matahari telah tenggelam sementara umurku berkurang padahal amalanku tidak bertambah pada hari itu.”

2. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata: “Para penghuni Surga tidaklah menyesal melainkan karena suatu waktu yang pernah mereka lalui (ketika di dunia) tanpa berdzikir kepada Allah ‘azza wajalla.” (Lihat Al-Wabilu Ash-Shoyyib, Hal.59).

3. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya setiap majlis yang mana seorang hamba Tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, maka majlis itu akan menjadi penyesalan baginya pada hari Kiamat.” (Lihat Al-Wabilu Ash-Shoyyib, Hal.59).

4. Hasan Al-Bashri rahimahullah juga berkata: “Wahai anak Adam! Waktu siangmu adalah tamumu, maka berbuat baiklah kepadanya, karena sesungguhnya jika kamu berbuat baik kepadanya, dia akan pergi dengan memujimu, dan jika kamu bersikap jelek padanya, maka dia akan pergi dalam keadaan mencelamu, demikian juga waktu malammu.”

5. Hasan Al-Bashri rahimahullah juga berkata: “Dunia itu ada tiga hari:
(1) Adapun kemarin, maka dia telah pergi dengan amalan-amalan yang kamu lakukan padanya,
(2) Adapun besok, mungkin saja kamu tidak akan menjumpainya lagi,
(3) Dan adapun hari ini, maka ini untukmu, maka beramallah pada saat itu juga.”

6. Mu’awiyah bin Qurroh rahimahullah berkata: “Manusia yang paling berat penghitungan amalnya pada hari kiamat ialah orang sehat yang memiliki waktu luang (namun ia tidak menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat, pent).”. (Lihat Iqtidhoul ‘Ilmi Al-’Amal, Hal.103).

7. As-Suri bin Al-Muflis rahimahullah berkata: “Jika kamu merasa sedih karena hartamu berkurang, maka menangislah karena berkurangnya umurmu.”

8. Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Menyia-nyiakan waktu itu lebih dahsyat daripada kematian. Karena Menyia-nyiakan waktu Akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian itu hanya akan memutuskanmu dari kehidupan dunia dan para penghuninya.” (Lihat Al-Fawa’id, Hal.44).

Demikian Faedah Ilmiyah pada hari ini. Semoga kita bisa meneladani generasi as-Salafus Sholih dalam memanfaatkan sisa umur kita di dunia ini dengan sebaik-baiknya.

Imsak ??

Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Kata orang, “Imsak itu untuk kehati-hatian saja.. Agar tidak bersahur ketika fajar menyingsing..

Apa betul alasan itu?..
Coba perhatikan hadits ini:
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda..

إذا سمعتم النداء والكأس على يد أحدكم فلا يضعه حتى يقضيه منه

“Apabila kalian mendengar adzan, sementara gelas berada di tangan, maka janganlah ia meletakkannya sampai menyelesaikan hajatnya.”

Hadits ini membatalkan imsak sampai ke akar-akarnya..

Perhatikan juga kaidah berikut:

الأصل بقاء ما كان على ما كان

“Pada asalnya tetap pada keadaan sebelumnya.”

Pada asalnya malam masih ada..
Sampai jelas masuknya waktu fajar..
bila ada yang makan sahur dengan dugaan waktu sahur masih ada..
Ternyata fajar sudah masuk..
Maka puasanya sah berdasarkan kaidah itu..

Kaidah ini juga membatalkan imsak..

Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullahu berkata..:

Termasuk bid’ah yang mungkar..
Yang terjadi di zaman ini..
Mematikan lampu-lampu sebagai tanda haramnya makan dan minum..
Bagi orang yang ingin berpuasa..
Dengan alasan kehati-hatian dalam ibadah.. (Fathul Baari 4/199).

Tampak jelas..
Bahwa imsak bukan sunnah..
Semoga bermanfaat.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊