All posts by BBG Al Ilmu

Apa Ada Tuntunan Doa Dan Dzikir Pada Shalat Tarawih Dan Witir ?

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Sebagian masyarakat mempraktekkan bahwa antara sela-sela duduk istirahat pada shalat tarawih dengan bacaan-bacaan tertentu yang dibaca oleh “bilal”. Padahal sependek pengetahuan kami, waktu tersebut sebenarnya adalah waktu untuk istrihat. Itulah mengapa shalat tarawih disebut tarawih karena berarti istirahat. Jika demikian, waktu istirahat tersebut sebaiknya diberi kesempatan pada para jamaah untuk menarik nafas, tidak dibebani dengan hal lainnya.

Doa Setelah Witir

Adapun untuk bacaan setelah witir, ada bacaan yang dituntunkan. Ada dua doa yang bisa diamalkan berikut ini,

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

Subhaanal malikil qudduus.” (dibaca 3x)

[artinya: Maha Suci Engkau yang Maha Merajai lagi Maha Suci dari berbagai kekurangan]” (HR. An Nasai dan Ahmad, shahih)

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Allahumma inni a’udzu bika bi ridhaoka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” (dibaca 1x)

[artinya: Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri]. (HR. Kitab Sunan yang Empat, shahih)

Doa di atas pun tidak perlu dibaca secara berjama’ah, cukup diajarkan pada masing-masing jamaah sekali, seterusnya biarkan mereka mengamalkan sendiri-sendiri.

Baca Niat Setelah Tarawih/ Witir

Satu kebiasaan lagi setelah tarawih adalah membaca niat secara berjamaah “nawaitu shouma ghodin …” Seperti ini pun tidak dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena niat sebagaimana kata Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa-nya, niat adalah keinginan untuk melakukan sesuatu. Jika seseorang sudah berkeinginan untuk bangun makan sahur, maka ia sudah berniat untuk berpuasa. Karena seseorang makan sahur pasti ingin berpuasa. Jadi tidak perlu dilafazhkan, lebih-lebih lagi dijaherkan (dikeraskan) lalu dikomandoi untuk dibaca berjama’ah. Imam Nawawi berkata dalam Roudhotut Tholibin,

لَا يَصِحُّ الصَّوْمَ إِلَّا بِالنِّيَّةِ وَمَحَلُّهَا القَلْبُ وَلَا يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِلاَ خِلَافٍ

“Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan. Masalah ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Roudhotuth Tholibin, 1: 502)

Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Ref: http://rumaysho.com/shalat/doa-dan-dzikir-di-shalat-tarawih-dan-shalat-witir-8044

 

1138. Adakah Dalil Mengenai Bermaaf-Maafan Sebelum Ramadhan ?

1138. BBG Al Ilmu

Tanya:
Apakah ada contoh dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau para sahabat untuk bermaaf-maafan sebelum puasa atau pada saat lebaran ?

Jawab:
Meminta maaf itu disyariatkan dalam Islam, jika berbuat kesalahan kepada orang lain. Adapun meminta maaf tanpa sebab dan dilakukan kepada semua orang yang ditemui, tidak pernah diajarkan oleh Islam. Jika ada yang berkata: “Manusia khan tempat salah dan dosa, mungkin saja kita berbuat salah kepada semua orang tanpa disadari”. Yang dikatakan itu memang benar, namun apakah serta merta kita meminta maaf kepada semua orang yang kita temui? Mengapa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabat tidak pernah berbuat demikian? Padahal mereka orang-orang yang paling khawatir akan dosa.

Selain itu, kesalahan yang tidak sengaja atau tidak disadari tidak dihitung sebagai dosa di sisi Allah Ta’ala. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam,
“Sesungguhnya Allah telah memaafkan ummatku yang berbuat salah karena tidak sengaja, atau karena lupa, atau karena dipaksa” (HR Ibnu Majah, 1675, Al Baihaqi, 7/356, Ibnu Hazm dalam Al Muhalla, 4/4, di shahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah)

Sehingga, perbuatan meminta maaf kepada semua orang tanpa sebab bisa terjerumus pada ghuluw (berlebihan) dalam beragama.

Namun bagi seseorang yang memang memiliki kesalahan kepada saudaranya dan belum menemukan momen yang tepat untuk meminta maaf, dan menganggap momen datangnya Ramadhan adalah momen yang tepat, tidak ada larangan memanfaatkan momen ini untuk meminta maaf kepada orang yang pernah dizhaliminya tersebut. Asalkan tidak dijadikan kebiasaan sehingga menjadi ritual rutin yang dilakukan setiap tahun.
والله أعلم بالصواب
Ref:
http://muslim.or.id/ramadhan/bermaafan-sebelum-ramadhan.html

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1137. Rencana Masuk Islam

1137. BBG Al Ilmu

Tanya:
Ada seorang teman, dia menjalin kedekatan dengan seorang perempuan asal manado nasrani, perempuan ini sedang giat belajar agama, dan dia berniat masuk Islam kalau lelakinya menikahinya, mereka sudah merencanakan pernikahan yakni selesai lebaran, saya juga sudah temukan dia berjalan depan umum pake jilbab, hanya saja dia belum menjadi mualaf, teman saya tanya, perempuannya itu ingin belajar puasa di ramadhan ini sekalian mau belajar shalat, sedangkan dia belum mu’alaf. Bagaimana hukumnya?

Jawab:
Ust. Irfan Helmi, Lc, حفظه الله تعالى

Hendaknya perempuan tersebut segera masuk islam di hadapan saksi. Kalau perlu di Istiqlal karena disana akan mendapat semacam sertifikat muallaf. Akan sia-sia segala usaha belajarnya kalau belum memeluk islam.

Yang juga penting diperhatikan adalah selama belum diikat dalam tali pernikahan, tidak ada hubungan apapun antara jurnalis dengan wanita tersebut. Jangan sampai pertemanan mereka menimbulkan ekses-ekses yang dilarang syariat. Wallahul muwaffiq.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1136. Sholat Tarawih Terlalu Cepat

1136. BBG Al Ilmu

Tanya:
Masjid di sekeliling rumah jumlah rakaat nya ada 23 rakaat tapi gak tuma’ninah bagaimana ya sholat tarawihnya ? Soalnya masjid yang banyak mayoritas salafnya susah disini.

Jawab:
Ust. Muhammad Wasitho, حفظه الله تعالى

Mengerjakan sholat fardhu ataupun sholat sunnah seperti sholat sunnah Rowatib, Tarawih, Tahajjud, Witir, Dhuha, dsb TANPA Thuma’ninah, maka hukum sholatnya TIDAK SAH (Batal), karena Thuma’ninah merupakan rukun sholat. Hal ini berdasarkan perintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada seseorang yang melakukan sholat dengan cara yang tidak baik dan tanpa tuma’ninah agar ia mengulangi kembali sholatnya.

Untuk sholatnya wanita muslimah, baik itu sholat Fardhu maupun sholat sunnah seperti sholat sunnah rowatib, tarawih, tahajjud, witir, dhuha dsb, yang lebih utama adalah di dalam rumahnya.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“La Tamna’uu imaa’allahi masaajidallahi , wa buyuutuhunna khoirun lahunna.”

Artinya: “Janganlah kalian melarang para wanita dari mendatangi masjid-masjid (untuk sholat), meskipun (sholat di dalam) rumah mereka itu lebih baik bagi mereka.”
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Nasehat Berharga Dari Syaikh Abdul Karim Al Khudhoir, حفظه الله تعالى

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

“Pengalaman dan fakta membuktikan bahwa orang yang kebiasaannya SIBUK dengan AIB manusia, dengan aibnya si Fulan dan si Allan, sedang dia lupa dengan aibnya sendiri, serta lupa dengan ilmu dan amalan yang dapat melengkapi kekurangannya, pengalaman membuktikan bahwa hal itu merupakan sebab langsung terhalangnya seseorang dari ilmu dan amal kebaikan”.

========

Oleh karena itu, teruslah menuntut ilmu, sibukkanlah diri kalian dengan memperbaiki diri sendiri semampunya… Jangan biarkan orang lain menghentikan dan memotong jalanmu untuk terus berjalan, bahkan berlari, dalam menuntut ilmu… Semoga ilmu kita bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

 

Antara Mulut Besar Dan Jiwa Besar

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Dalam kehidupan, sering kali kita mendengar si fulan bermulut besar. Satu ungkapan untuk menggambarkan seseorang yang pandai berkata-kata, namun faktanya jauh dari apa yang ia ucapkan. Tutur katanya banyak dan terdengar indah, namun tanpa didukung oleh tindakan nyata.

Sebaliknya, ada orang-orang yang disebut berjiwa besar. Sedikit ucapannya namun berjuta-juta tindakan dan jasanya. Karya demi karya tiada henti ia torehkan, pengorbanan demi pengorbanan tiada putus ia persembahkan. Jasa besarnya dirasakan oleh semua orang, namun demikian ia tiada lelah bersembunyi dari sorotan orang.

Popularitas adalah musuh terbesar yang ia perangi, sanjungan adalah ancaman terbesar yang ia waspadai. Sebaliknya, nasehat dan teguran adalah hadiah istemewa yang senantiasa ia nanti dan hargai, dan kesalahan dirinya tiada lelah ia benahi dan sesali.

Jasa baik orang lain kepadanya tiada henti ia ingat dan syukuri sedangkan kesalahan mereka segera ia maafkan dan lupakan.

Merekalah orang orang besar dan pejuang sejati yang sering kali dilupakan dan bahkan tiada dikenal oleh banyak orang.

Sobat! Bermimpi, berjanji, mengkhayal tentulah mudah, dan bisa dilakukan oleh setiap orang, namun membuktikannya belum tentu kita mampu melakukan. Tindakan dan bukti nyata itulah yang membedakan antara si mulut besar dari si jiwa besar.

Bulan Ramadhan, siapa yang tidak tahu dan tidak bermimpi mendapatkan keutamaannya. Janji manis, mulai mengalir dari bibir setiap muslim, dan khayalan indah setinggi langit mulai membumbung dari benak ummat islam termasuk kita. Namun benarkah semua itu dapat menjadi kenyataan?

Bahkan, sudahkah anda mengenali maksud dan memahami hakikat dari ibadah puasa di bulan Ramadhan ini?

Sobat! Ketahuilah, puasa ramadhan adalah semacam pusat pelatihan mental, iman, kepribadian dan akhlaq bagi kita sebagai ummat Islam, sebagaimana tergambar pada hadits qudsi berikut:

يدع طعامه وشرابه وشهوته من أجلي،

“Orang yang berpuasa meninggalkan makan, minum dan syahwat birahinya karena patuh kepada perintah-Ku.”

Dengan berpuasa, anda membuktikan bahwa perintah Allah lebih anda dahulukan daripada tuntutan biologis, syahwat atau selera pribadi. Dan bila sikap reliji ini terus anda asah, niscaya suatu saat nanti menyatu dengan jiwa anda, sehingga mewarnai kepribadian anda. Dengan demikian, setiap kata yang anda ucapkan atau tindakan yang anda lakukan bahkan pola pikir anda benar benar terkendali dibawah perintah dan larangan Allah Azza wa Jalla.

Karena itu, pada hadits qudsi di atas, Allah lebih jauh menggambarkan hakekat puasa dengan berfirman:

إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يرفُثْ، وَلَا يَفْسُقْ، وَلَا يَجْهَلْ، فَإِنْ جُهِلَ عَلَيْهِ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صائم

“Bila engkau sedang berpuasa janganlah engkau:
1. berkata kata keji ( kotor),
2. jangan pula berbuat kefasikan ( dosa)
3. dan jangan pula berlaku bodoh ( berbuat sesuatu yang tidak menguntungkan bagi agama maupun dunianya). Dan bila ada orang yang berbuat jahil kepadanya, maka katakan: sejatinya ku adalah orang yang sedang bepuasa. ( Ahmad, Bukhari, Muslim dan lainnya)

Cermatilah bagaimana pada hadits qudsi ini, Allah menganjurkan anda ketika sedang berpuasa untuk menginspirasi diri anda dengan berkata : aku adalah orang yang sedang berpuasa. Dengan demikian anda selamat dan tidak hanyut dalam badai emosi dan ambisi ingin membalas dendam kepada orang lain yang menyakiti anda.

Sobat! Sudahkah puasa menjadi inspirasi dalam hidup anda? Dan sudahkah inspirasi ibadah puasa anda mampu mengalahkan badai emosi, perasaan dan kepuasan pribadi anda ?

– – – – – •(*)•- – – – –

 

Tipuan Dunia Akan Hilang

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Sesungguhnya Allah telah menjamin rizkimu maka janganlah gelisah…

Namun Allah tidak menjamin surga bagimu maka janganlah terpedaya (dengan amalanmu)…

Ketahulilah yang selamat hanyalah sedikit…sesungguhnya tipuan dunia akan hilang… semua kenikmatan selain surga maka akan sirna, dan semua kesusahan selain neraka adalah keselamatan…

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Waspadalah Wahai Para Wanita

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Wahai para wanita…tahukah anda bahwa:

(1) Semakin banyak pandangan lelaki yang tergiur denganmu semakin bertumpuk pula dosa-dosamu

(2) Semakin sang lelaki menghayalkanmu…semakin berhasrat denganmu maka semakin bertumpuk pula dosa-dosamu

(3) Janganlah anda menyangka senyumanmu yang kau tebarkan secara sembarangan tidak akan ada pertanggungjawabannya kelak..!!!. Bisa jadi senyumanmu sekejap menjadi bahan lamunan seorang lelaki yang tidak halal bagimu selama berhari-hari.., apalagi keelokan tubuhmu….

(4) Bayangkanlah… betapa bertumpuk dosa-dosa para artis dan penyanyi yang aurotnya diumbar di hadapan ribuan…bahkan jutaan para lelaki??

(5) Jika anda menjaga kecantikanmu dan kemolekan tubuhmu hanya untuk suamimu…maka anda kelak akan semakin cantik dan semakin molek di surga Allah…,

(6) Akan tetapi jika anda umbar kecantikanmu dan kemolekanmu maka ingatlah itu semua akan sirna dan akan lebur di dalam liang lahad menjadi santapan cacing dan ulat…dan di akhirat kelak…bisa jadi berubah menjadi bahan bakar neraka jahannam!!

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Mau Taraweh ?

Ustadz Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى

Mau taraweh ? Bingung pilih jumlah rakaat yang mana.?

11 rakaat ataukah 23 rakaat.?

Apapun pilihannya yang pasti thuma’ninah syarat sahnya.

Makna tuma’ninah adalah ketenangan & jeda dalam gerakan shalat demi kesempurnaannya. 

Tuma’ninah merupakan rukun sholat, dimana tidak sah shalat seseorang apabila dia meninggalkannya. Disebutkan dalam sebuah hadits, Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa seorang lelaki pernah masuk masjid dan shalat, sedangkan Nabi berada di pojok mesjid tersebut.(seusai shalat) Ia mendatangi beliau seraya mengucapkan salam, setelah menjawab salamnya, Beliau bersabda: ”shalatlah kamu sesungguhnya kamu tadi belum shalat.”

Orang itu balik lagi dan kembali shalat. Lalu menemui beliau lagi dan memberi salam. Setelah menjawab salamnya, beliau bersabda lagi: “shalatlah kamu sesungguhnya kamu tadi belum shalat.” Pada kali yang ketiga lelaki itu berujar : “tolong ajarkan aku.”

Beliau pun bersabda: “apabila kamu hendak shalat, maka :
* berwudhulah dengan sempurna kemudian
* menghadaplah kearah kiblat dan bertakbirlah, lalu
* bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu, kemudian
* ruku’ lah hingga kamu tuma’ninah dalam ruku’ lalu
* tegaklah berdiri, hingga kamu berdiri lurus. Kemudian
* bersujudlah hingga kamu tuma’ninah dalam sujud, lalu
* bangkitlah dari sujud hingga kamu tuma’ninah dalam duduk. Kemudian
* bersujud lagi hingga kamu tuma’ninah dalam sujud. Lalu
* bangkitlah dari sujud, hingga kamu berdiri tegak
Lakukan hal seperti itu dalam semua shalatmu.” (HR. Ahmad Bukhari & Muslim)

Ingat! Mencuri itu buruk, tapi lebih buruk lagi kalau mencurinya dalam shalat. Loh. Kok bisa..? Iya, Rasulullah bersabda:

“seburuk-buruk pencuri yaitu orang yang mencuri dalam shalatnya. Mendengar pernyataan ini orang banyak bertanya,”Ya Rasulullah… bagaimana orang mencuri dalam shalatnya itu?, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab “yaitu orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya” (HR.Ahmad & Tirmidzi)

Semoga bermanfaat

Sebelum Engkau Tidur

Ustadz Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى

Sahabat Naufal Al-Asyja’i radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadaku:
  
إذا أخذت مضجعك من الليل  فاقرأ : قل يا أيها الكافرون ثم نم على خاتمتها، فإنها براءة من الشرك.

“Bila engkau beranjak tidur di malam hari bacalah Qul Yaayyuhal Kafirun (Surat Al-Kafirun), kemudian tidurlah pada akhir (ayatnya), karena ia dapat melepaskan diri dari kesyirikan.”

(HR. Abu Daud, 5055. Tirmizi, 3400 dihasankan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar di kitab Nataijul Afkar)

Catt:
Maksud dari “tidurlah pada akhir ayatnya” adalah tidurlah setelah membaca surat tersebut.

Surat Al Kafirun berisi ajaran tauhid yang menegaskan prinsip paling fundamental dalam kehidupan keberagamaan seorang muslim.

Tak heran bila surat tersebut ditambah surat Al-Ikhlas senantiasa di baca oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dua tepi siang dan malam, pada :

** 2 rakaat shalat Fajar,
** 2 rakaat ba’da Maghrib,
** 2 Rakaat selepas thawaf,
** 2 rakaat terakhir shalat witir.

Para ulama menjelaskan bahwa perbuatan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam diatas sebagai bentuk pengajaran terhadap umatnya agar mengawali dan mengakhiri harinya dengan mentauhidkan Allah azza wa jalla.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊