All posts by BBG Al Ilmu

1062. Bagaimana Shalat Kita Bila Mu’adzdzin Salah Kumandangkan Adzan ?

1062. BBG Al Ilmu – 459

Tanya:
Apakah boleh ikut sholat berjama’ah namun adzan yang dikumandangkan salah (terbalik, salah pengucapannya) ?

Jawab:
Ust. M Wasitho, حفظه الله تعالى

Bismillah. Boleh dan Sah sholat berjama’ah di masjid yang muadzdzinnya keliru atau terbalik dalam mengumandangkan adzan.

Hanya saja, jika seorang muadzdzin merubah bacaan kalimat adzan dengan sengaja, maka ia berdosa. Namun jika terbaliknya adzan karena lupa atau tanpa sengaja, maka ia dimaafkan oleh Allah dan tidak berdosa.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1061. Saling Membangunkan Untuk Ibadah…

1061. BBG Al Ilmu – 431

Tanya:
Bolehkah kita saling membangunkan untuk bangun malam dengan media HP bisa sms atau miscall atau WA untuk shalat tahajud dan yang tidak melakukanya siangnya mengiqob diri dengan sunnah sunnah nabi yang lainya seperti shalat dhuha dzikir pagi sore, sedekah ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Bolih tapi hanya sebatas upaya saling menganjurkan, bukan paksaan dan kewajiban. Karena semua itu hukumnya sunnah. Hingga tidak sejajar dengan perkara wajib dalam syariat.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Seteguk Hawa Nafsu Terasa Manis, Akan Tetapi Mewariskan Kehinaan

Seteguk hawa nafsu terasa manis, akan tetapi mewariskan kehinaan. (Ibnul Qayyim al Jauziyah rahimahullah)

Menuruti hawa nafsu tidak pernah luput dari akibat buruk (yang akan menimpa) berikut ini:

1. Menimbulkan kepedihan dan hukuman (siksaan)-Nya.

2. Menghilangkan kelezatan yang lebih nikmat daripada hawa nafsu itu sendiri.

3. Menyia-nyiakan waktu yang berujung pada penyesalan.

4. Mencederai kehormatan diri; padahal menyempurnakan kehormatan diri lebih bermanfaat daripada mencederainya.

5. Menghabiskan harta, padahal menyimpannya lebih baik daripada menghambur-hamburkannya.

6. Menjatuhkan derajat, padahal meninggikan derajat lebih baik daripada merendahkannya.

7. Menghilangkan nikmat, padahal kenikmatan yang kekal lebih lezat dan lebih baik daripada pemuasan hawa nafsu tersebut (yang hanya sesaat).

8. Memberikan jalan kepada orang yang hina untuk mencemooh, padahal sebelumnya dia tidak menemukan jalan tersebut (untuk mencemooh).

9. Menimbulkan kecemasan, kekhawatiran, kesedihan dan ketakutan yang tidak sebanding dengan kelezatan memperturutkan hawa nafsu.

10. Membuat lupa terhadap sebagian ilmu, padahal mengingatnya (ilmu) lebih lezat daripada kelezatan hawa nafsu itu sendiri.

11. Menjadikan musuh bergembira ketika melihat kita terkena bencana dan membuat sedih orang yang melindungi kita (yang menjaga kita agar tidak memperturutkan hawa nafsu).

12. Memutuskan aliran nikmat yang akan dianugerahkan-Nya.

13. Mendatangkan aib yang melekat sepanjang masa. Karena setiap perbuatan akan mewujudkan sebagian sifat dan watak bagi pelakunya.

(Dikutip dari buku Fawaidul Fawaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, tahqiq Syaikh Ali Hasan Al-Halabi hafizhahullah, Pustaka Imam Asy-Syafi’i Jakarta)

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Raihlah Cahaya Dengan Membuka Al-Qur’an

Ust. DR. Syafiq Basalamah, حفظه الله تعالى

Akhi/ Ukhti…
Moga Allah menjagamu selalu

Tak terasa sudah berlalu beberapa jam dari kehidupan kita di hari ini…

Sebagian sudah tenggelam dalam aktivitasnya
Ada yang sibuk dengan dunianya
Ada yang sibuk dengan urusan rumah
Dan yang sebagainya…

Tapi sudahkah kita membuka Kitabullah ?
Tuk sedikit membaca kalamullah
Walaupun hanya satu ayat…

Al Qur’an adalah petunjuk
Petunjuk yang membimbingmu untuk berjalan secara benar dalam semua aktivitasmu

Al Qur’an adalah Cahaya
Cahaya yang menerangi jalan dan hatimu
Al Qur’an adalah Penyembuh…
Penyembuh dari segala penyakit yang hampir semua dari kita memilikinya

Al Qur’an adalah kasih sayang Allah
Apa kiranya kita tidak butuh dengan kasih sayang-Nya ?

Kalau kau belum membuka Kitabullah, sampai saat kau membaca BC Ini…
Maka saatnya kau menutup BB-mu sejenak…

1 atau 2 menit…

Untuk meraih hidayah, nur, syifa’ dan Rahmat Ilahi

Lewat Kalam-Nya

Moga Allah menerima amalan kita
Mengampuni dosa kita
Mempertemukan kita di surga
Bersama Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam

 Ust. Syafiq Riza Basalamah MA حفظه الله تعالى

View

Doa Imam Ahmad Rahimahullahu Ta’ala

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah berdoa ;
اللهمَّ كما صُنتَ وجهي عَنِ السُّجود لغيرك فصُنْه عن المسألة لغيرك

“Allahumma kamaa shunta waj-hiy ‘anis-sujuudi Lighoyrika, Fa-shunhu ‘anil-mas-alati Lighoyrika”

“Ya Allah sebagaimana Engkau telah menjaga wajahku untuk tidak sujud kepada selain Engkau, maka jagalah juga wajahku agar tidak meminta kepada selain Engkau” (Jaami’ al-‘Uluum wa al-Hikam 2/572).

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1060. Bolehkah Memakai Payung Yang Ada Logo Bank ?

1060. BBG Al Ilmu – 461

Tanya:
Di rumah saya ada payung dengan logo dan nama bank X yang didapatkan dari bude ? Bagaimana hukumnya mengenai hal ini ? Apakah boleh / tidak dipakai?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Memakai payung ber-label bank dibolehkan selagi bukan dalam rangka syiar/berbangga dengan-nya.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1059. Manakah Yang Lebih Wajib, Doa Atau Shalawat ?

1059. BBG Al Ilmu – 459

Tanya:
Lebih wajib mana, doa atau sholawat ?

Jawab:
Ust. M Wasitho, حفظه الله تعالى

Bismillah. Sholawat adalah bagian dari Doa. Sehingga Doa itu lebih umum daripada sholawat.

Adapun berkaitan dengan lebih Wajib mana antara sholawat dengan doa ? Maka, dalam masalah ini sifat dan hukumnya relatif, yakni adakalanya wajib dan adakalanya sunnah, tergantung waktu dan kondisinya. Maksudnya, jika waktu dan kondisinya mewajibkan sholawat, maka sholawat lebih wajib dan lebih utama daripada doa, seperti ketika kita membaca atau mendengar nama Nabi disebutkan kepada kita, maka pada saat itu kita Wajib bersholawat.

Sedangkan dalam kondisi wajib berdoa, maka kita wajib berdoa, seperti ketika membaca Al-Fatihah di dalam sholat fardhu maupun sunnah, di dalamnya terkandung doa.

Dan dalam waktu disunnahkannya bersholawat, maka kita bersholawat itu lebih afdhol daripada doa. Dan sebaliknya, pada saat disunnahkannya berdoa, maka kita berdoa itu lebih utama daripada bersholawat.

Namun meskipun demikian, bahwa memuji Allah dan bersholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum berdoa adalah termasuk salah satu adab dan sebab dikabulkannya doa.

Jadi, kesimpulannya; ojo lali (jangan lupa) untuk memperbanyak sholawat dan doa, karena keduanya merupakan ibadah agung yang memiliki banyak keutamaan dan manfaat di dunia dan akhirat.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1058. Meruqyah Diri Sendiri

1058. BBG Al Ilmu – 431

Tanya:
Apakah benar salah satu cara meruqiyah dri sendiri dengan cara membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas yang ditiupkan ke telapak tangan kemudian diusapkan ke seluruh badan. Atau dengan cara ditiupkan ke air putih kemudian diminum ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Iya benar, keduanya ada contoh dari para salaf.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1057. Bernasab Ke Paman

1057. BBG Al Ilmu – 357

Tanya:
Ayah meninggal ketika ana berusia 17 bulan kemudian ana di besarkan oleh paman/adik dari ayah (satu ibu lain ayah). Beliau membesarkan, menyekolahkan sampai ana lulus perguruan tinggi dan sampai ana menikah. Paman ana memberlakukan ana seperti anaknya sendiri sehingga ana tidak merasa kehilangan sosok ayah. Ana menganggap paman sebagai ayah kandung, dari ijazah, akta lahir dan surat nikah disitu di tulis ana adalah anak kandung dari paman dan istri paman.

Setelah ana mengikuti kajian salaf anak takut akan hadist rasulullah صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan Imam Bukhari: “Seseorang yang menisbatkan orang lain sebagai ayah kandungnya maka semua amalannya baik yang wajib atau yang sunat tidak akan diterima Allah سبحانه وتعالى. Dan syurga haram baginya.”

Apakah ana terkena ancaman maksud ini ? meskipun demikian dalam hati ana tetap menganggap paman ana itu bukan sebagai ayah kandung ana.

Jawab:
Ust. M Wasitho, حفظه الله تعالى

Bismillah. Anda terkena ancaman keras dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas jika anda berniat dan bersengaja menasabkan diri kepada selain ayah kandung. Akan tetapi, jika anda tidak berniat dan tidak bersengaja melakukan hal tersebut, dan setelah tahu hukumnya anda mengingkari dan menyesali tindakan itu dan ada upaya meluruskan kesalahan nasab dalam akte kelahiran, KTP dan selainnya, maka anda tidak berdosa.

Oleh karena itu, hendaknya anda berupaya memproses dalam menghilangkan penasaban nama anda kepada paman dan menggantinya dengan nasab anda kepada nama ayah kandung anda yang sebenarnya jika hal itu mudah dan memungkinkan. Kalau prosesnya sulit dan tidak mungkin, ya cukup dengan mengingkari penasaban yang keliru tersebut.

Allah ta’ala berfirman:
(Fattaqullaha Mastatho’tum)
Artinya: “Bertakwalah engkau kepada Allah sesuai batas kemampuanmu.”

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

View