All posts by BBG Al Ilmu

1056. Pembagian Harta Waris Bila Tidak Punya Anak

1056. BBG Al Ilmu

Tanya:
Bagaimana pembagian harta warisan bila seorang suami meninggal, meninggalkan istri namun tidak memiliki anak. Suami istri sama-sama bekerja. Si suami telah mendapatkan pensiun 14 tahun yang lalu dan si istri mendapatkan pensiun 5 tahun yang lalu. Si suami memiliki 2 orang kakak kandung laki-laki dan 1 orang saudara kandung perempuan.

Bagaimana pembagian harta warisannya ?

Jawab:
Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Harta milik suami dibagi waris sebagai berikut:
* Istri dapat 1/4
* Sisanya untuk saudara kandung suami dengan pembagian saudara laki-laki mendapat dua kali lipat saudara perempuan. Jadi masing-masing saudara laki mendapat 2/5 dan satu saudara perempuan mendapat 1/5.

Tambahan:
Contoh: Misalkan harta waris suami 100 juta.
* Istri: 1/4 x 100 juta = 25 juta
* Sisa harta waris adalah 100 juta – 25 juta = 75 juta, dibagi ke saudara kandung dengan rincian sebagai berikut:
* Saudara laki pertama:
2/5 x 75 juta = 30 juta

* Saudara laki kedua:
2/5 x 75 juta = 30 juta

* Saudara perempuan:
1/5 x 75 juta = 15 juta

Semoga dapat dimengerti.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Tak Perlu Sedih Dengan Status Ibu Rumah Tangga

Ust. M Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Tak perlu sedih wahai saudariku dengan status Ibu Rumah Tangga. Tak perlu sedih jika Anda tidak bisa bekerja di kantoran. Bahkan pekerjaan termulia bagi wanita adalah di rumahnya.

Setiap pagi, 3 anak diurus oleh wanita ini. Dia hanya Ibu Rumah Tangga (IRT) yang memutuskan mengabdi di rumah untuk suami dan anak-anak. Padahal dia memiliki ijazah dan bisa memanfaatkannya untuk bekerja. Dia tidak merasa malu dengan teman-teman yang sebaya dengannya yang tiap hari berada di pabrik atau di kantoran. Dia pernah berujar, “Seandainya saya memutuskan bekerja di kantoran, tentu anak-anak tidak terurus. Apalagi 3 anak seperti saat ini.” Dia pernah  berujar pula bahwa wanita yang bekerja di kantoran terus menelantarkan anaknya dan diserahkan pada orang tua wanita ini atau pada tempat penitipan anak.

Di desa yang sama, ada seorang wanita karir. Yang pekerjaan suami dengannya jauh berbeda.  Suami hanya menjual kue di pasar. Sedangkan si istri bekerja di kantoran. Bila kedua gajinya dibandingkan amat jauh. Karena kesibukan si istri, suami akhirnya yang mengurus rumah tangga, yaitu memasak dan mencuci, bahkan sibuk pula mengurus anak-anak.

Di tempat lain juga dapat ditemukan kasus seperti di atas, di mana suami sampai-sampai direndahkan oleh istri karena gaji suami yang lebih rendah.

Ukhti …  Perlu dipahami bahwa tempat terbaik bagi wanita adalah di rumah. Wanita karir tentu tidak punya prinsip demikian. Mereka menganggap bahwa tempat mereka adalah di kantoran, berangkat pagi, pulang sore atau bahkan malam. Tak tahu masihkah ada waktu untuk melayani suami, atau memperhatikan anak-anak. Padahal wanita yang betah di rumah dipuji oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat,

“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33).

Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas bahwa janganlah wanita keluar rumah kecuali ada hajat seperti ingin menunaikan shalat di masjid selama memenuhi syarat-syaratnya. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 182).

Alasan wanita lebih baik di rumah, menjadi IRT (Ibu Rumah Tangga) karena wanita itu aurat.

Disebutkan dalam hadits dari ‘Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya”. (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1685 dan Tirmidzi no. 1173. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Wanita yang betah di rumah inilah yang lebih menjaga diri. Wanita karir begitu bebas bergaul dengan lawan jenis di kantor, tanpa kenal batas. Padahal Allah Ta’ala memuji wanita yang menjaga dirinya,

“Sebab itu maka wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada” (QS. An Nisa’: 34).

Ath Thobari berkata dalam kitab tafsirnya (6: 692), “Wanita tersebut menjaga dirinya ketika tidak ada suaminya, juga ia menjaga kemaluan dan harta suami. Di samping itu, ia wajib menjaga hak Allah dan hak selain itu.”

Ukhti … Wanita yang terbaik adalah yang taat pada suami, menunaikan kewajiban sebagai istri dan menyenangkan suami. Adapun wanita karir tidak bisa sepenuhnya memenuhi tugasnya sebagai istri dan ibu bagi anak-anak. Padahal telah dipuji wanita yang punya sifat baik seperti yang kami sebutkan. Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Ukhti … Wanita yang terbaik adalah yang bertanggungjawab untuk mengurus rumah dan anak-anaknya. Sedangkan wanita karir terlalu sibuk pada pekerjaan dan karir, sehingga pendidikan terhadap anak dilalaikan. Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinan pada rakyatnya. Kepala keluarga adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinannya tersebut. Seorang wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai hal itu.” (HR. Bukhari no. 2409)

Yang penulis pernah baca, ada seorang wanita karir yang sampai memutuskan berhenti bekerja dengan memberikan alasan:

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya.

Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya.

Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya dan lebih serius mengurus anak-anak.

Jangan bersedih jika Anda memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT). Karena Andalah wanita pilihan, mulia dan terbaik.

Read more:

http://muslim.or.id/muslimah/tak-perlu-sedih-dengan-status-ibu-rumah-tangga.html

Terakhir, alhamdulillah.

M. Abduh Tuasikal

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Ketika Wanita Menggoda

Ustadz Abu Harun Aminuddin, حفظه الله تعالى

Perhatikanlah bagaimana Rasulullah telah mewanti-wanti kepada kita sekalian lewat sabda beliau, “Hati-hatilah pada dunia dan hati-hatilah pada wanita karena fitnah pertama bagi Bani Isroil adalah karena wanita.” (HR. Muslim).

Kini, di era globalisasi, ketika arus informasi begitu deras mengalir, godaan begitu gampang masuk ke rumah-rumah kita. Cukup dengan membuka surat kabar dan majalah, atau dengan mengklik tombol remote control, godaan pun hadir di tengah-tengah kita tanpa permisi, menampilkan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok memamerkan aurat yang semestinya dijaga.

Lalu, sebagian muslimah ikut-ikutan terbawa oleh propaganda gaya hidup seperti ini. Pakaian kehormatan dilepas, diganti dengan pakaian-pakaian ketat yang membentuk lekuk tubuh, tanpa merasa risih. Godaan pun semakin kencang menerpa, dan pergaulan bebas menjadi hal biasa.

Maka, kita perlu merenungkan dua bait syair yang diucapkan oleh Sufyan Ats-Tsauri: “Kelezatan-kelezatan yang didapati seseorang dari yang haram, toh akan hilang juga, yang tinggal hanyalah aib dan kehinaan, segala kejahatan akan meninggalkan bekas-bekas buruk, sungguh tak ada kebaikan dalam kelezatan yang berakhir dengan siksaan dalam neraka.”

Seorang ulama yang masyhur, Ibnul Qayyim pun memberikan nasihat yang sangat berharga: “Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjadikan mata itu sebagai cerminan hati. Apabila seorang hamba telah mampu meredam pandangan matanya, berarti hatinya telah mampu meredam gejolak syahwat dan ambisinya. Apabila matanya jelalatan, hatinya juga akan liar mengumbar syahwat…”

Wallahul Musta’an.

www.KlikUk.Com
Titian Ilmu Penyejuk Qalbu

“Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjadikan mata itu sebagai cerminan hati. Apabila seorang hamba telah mampu meredam pandangan matanya, berarti hatinya telah mampu meredam gejolak syahwat …

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Lebih Memilih Gadis Yang Bukan Mantan Pacar Siapa-Siapa…

Ust. M Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Sifat seorang gadis, asalnya itu pemalu. Ketika ada pria yang menghampirinya, ia akan bersembunyi, tersipu malu. Jilbabnya yang menutupi dirinya akan segera menyelimuti wajahnya tatkala ada yang berusaha memandanginya.
Berbeda dengan wanita yang sudah mengenal pergaulan dengan lainnya, tentu tidak ditemukan demikian.

Ketika ada yang mau meminang pun, ia akan sulit berkata “iya”. Yang bisa gadis ini lakukan adalah menganggukkan kepala, itu sebagai tanda senang, tanda setuju atau mau menerima lamaran. Hal ini berbeda dengan gadis saat ini, yang begitu berani mengatakan “iya” ketika ada yang ingin menjalin kasih dengannya dalam jalinan cinta kasih anak muda ‘pacaran’. Padahal hubungan tersebut tidaklah diridhai oleh Allah. Sungguh berbeda gadis yang jauh dari pergaulan bebas dengan gadis yang mau dibawa oleh sembarang lelaki.

“Hendaklah kalian menikahi gadis (perawan) karena bibirnya masihlah manis, bisa menghasilkan banyak keturunan dan tetap ridha dengan pemberian yang sedikit.” (HR. Ibnu Majah no. 1861, hasan).

Gadis yang dimaksud di sini tentu adalah gadis yang masih perawan yang bukan mantan pacar siapa-siapa. Itulah gadis yang terbaik. Namun sulit sekali wanita yang disebutkan dalam hadits tersebut dicari di zaman yang penuh kerusakan di masa kini.

Artikel www.remajaislam.com, sore hari 2 Rajab 1435 H.

Penulis: M. Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com)

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Manfaat Ingat Mati

Ust. M Wasitho, حفظه الله تعالى

» Imam Al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya At-Tadzkiroh perkataan Ad-Daqoq rahimahullah yang menerangkan keutamaan seseorang hamba yang banyak mengingat mati:

»» Ad-Daqqaq rahimahullah berkata:

“من أكثر ذكر الموت أكرم بثلاثة:
تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة،
ومن نسى الموت عوجل بثلاثة:
تسويف التوبة، وترك الرضا بالكفاف، والتكاسل في العبادة” ( تذكرة القرطبي : ص9 )

Artinya: “Barangsiapa yang banyak mengingat kematian maka dimuliakan dengan tiga hal:

1. Menyegerakan taubat.
2. Hati yang qona’ah (selalu merasa cukup).
3. Semangat dalam ibadah.

Sedangkan kebalikannya adalah orang yang melupakan kematian, maka ia terkena hukuman:

1. Menunda-nunda taubat.
2. Tidak mau ridho dan merasa cukup terhadap apa yang Allah beri.
3. Bermalas-malasan dalam ibadah.

(Sumber: Kitab At-Tadzkiroh fi Ahwal Al-Mauta wa Umuuri Al-Akhiroh, karya imam Al-Qurthubi, hal. 9).

» Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang banyak mengingat kematian dan dapat mengambil berbagai pelajaran bermanfaat darinya. Dan semoga Allah menghindarkan kita dari penyakit cinta dunia dan takut mati. Amiin. (Klaten, 2 Mei 2014).

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Sehat Adalah Nikmat

Ust. M Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Akhi wa ukhti …

Sehat adalah nikmat.

Bisa sarapan pagi pun termasuk nikmat.

Merasakan aman adalah nikmat.

Ini setiap paginya yang kita peroleh.

Namun nikmat tersebut bisa menjadi bencana dan malapetaka kala tidak disyukuri dengan melakukan ketaatan.

Lihatlah apa yang dikatakan oleh seorang tabi’in terkemuka berikut ini.

Al Hasan Al Bashri berkata, “Allah memberikan nikmat kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Jika nikmat tersebut tidak disyukuri, nikmat itu berubah jadi azab (siksa).”

Jadi jangan tertipu dengan suatu nikmat, baik nikmat sehat, rasa aman maupun harta.

Makhlad bin Al Husain pernah berkata, “Asy syukru tarkul ma’ashi, namanya syukur adalah dengan meninggalkan maksiat.”

Jangan sampai kesehatan, harta dan rasa aman malah kita gunakan untuk maksiat pada Sang Khaliq pemberi berbagai nikmat.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur.

Referensi: Iddatush Shobirin wa Dakhirotusy Syakirin, karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 148 dan 159.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1055. Apa Hukumnya Permainan Ular Tangga Dan Permainan Lainnya Yang Menggunakan Dadu ?

1055. BBG Al Ilmu

Tanya:
Saya pernah membelikan anak saya permainan seperti monopoli, ular tangga, dll yang mana dadu dipakai untuk memainkan permainan tersebut. Apa hukumnya permainan seperti ini ?

Jawab:
Seluruh permainan yang menggunakan dadu termasuk dalam larangan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut:

“Barang siapa yang bermain dadu maka seolah-olah ia telah mencelupkan tangannya ke dalam daging dan darah babi.” (HR. Muslim).

Imam An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini merupakan dalil Imam Syafi’i dan mayoritas para Ulama bahwa bermain dadu hukumnya haram… Dan maksud hadits ini adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyerupakan haramnya main dadu dengan haramnya memakan daging babi.”

Hadits berikutnya yang dijadikan dalil adalah:
“Barangsiapa yang bermain dadu sungguh ia telah durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Abu Daud, sanad hadits dinyatakan hasan oleh Al Albani).

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diatas menyamaratakan seluruh permainan yang menggunakan dadu, tanpa membedakan nama dan bentuk permainannya. Maka monopoli, ular tangga, ludo dan SEGALA JENIS permainan yang menggunakan dadu, hukumnya HARAM sama dengan mengundi nasib menggunakan anak panah.

Yang perlu diperhatikan juga adalah tidak diperbolehkannya menyimpan dadu, meskipun tidak untuk digunakan bermain, karena sikap para sahabat yang membuang dadu dan merusaknya. Dari Nafi’, murid dan menantu Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau menceritakan, “Bahwa Ibnu Umar jika melihat salah satu diantara anggota keluarganya bermain dadu, beliau langsung memukulnya dan memecahkan dadu itu.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, dinilai shahih oleh Al Albani sampai Ibnu Umar).

والله أعلم بالصواب
Ref:
“Harta Haram Muamalat Kontemporer” – Dr. Erwandi Tarmizi, MA, hal: 281 – 282.

http://www.konsultasisyariah.com/bermain-dadu/#

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Basahi Terus Lisan Kita Dengan Dzikrullah

Ust. Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Janganlah sampai lisan kita lalai dari dzikir pada Allah. Basahnya lisan dengan dzikir yang membuat hati ini hidup. Dzikir yang membuat kita semangat mengurangi kehidupan. Dzikir kepada Allah yang membuat kita terangkat dari kesulitan.

Lisan ini diperintahkan untuk berdzikir setiap saat. Dari ‘Abdullah bin Busr, ia berkata,

جَاءَ أَعْرَابِيَّانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ أَحَدُهُمَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». وَقَالَ الآخَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَىَّ فَمُرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. فَقَالَ « لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ »

“Ada dua orang Arab (badui) mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas salah satu dari mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, manusia bagaimanakah yang baik?” “Yang panjang umurnya dan baik amalannya,” jawab beliau. Salah satunya lagi bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam amat banyak. Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya.” “Hendaklah lisanmu selalu basah untuk berdzikir pada Allah,” jawab beliau. (HR. Ahmad 4: 188, sanad shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Hadits ini menunjukkan bahwa dzikir itu dilakukan setiap saat, bukan hanya di masjid, sampai di sekitar orang-orang yang lalai dari dzikir, kita pun diperintahkan untuk tetap berdzikir.

Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ketika hati seseorang terus berdzikir pada Allah maka ia seperti berada dalam shalat. Jika ia berada di pasar lalu ia menggerakkan kedua bibirnya untuk berdzikir, maka itu lebih baik.” (Lihat Jaami’ul wal Hikam, 2: 524).

Dinyatakan lebih baik karena orang yang berdzikir di pasar berarti berdzikir di kala orang-orang pada lalai. Para pedagang dan konsumen tentu lebih sibuk dengan tawar menawar mereka dan jarang yang ambil peduli untuk sedikit mengingat Allah barang sejenak.

Lihatlah contoh ulama salaf. Kata Ibnu Rajab Al Hambali setelah membawakan perkataan Abu ‘Ubaidah di atas, beliau mengatakan bahwa sebagian salaf ada yang bersengaja ke pasar hanya untuk berdzikir di sekitar orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Ibnu Rajab pun menceritakan bahwa ada dua orang yang sempat berjumpa di pasar. Lalu salah satu dari mereka berkata, “Mari sini, mari kita mengingat Allah di saat orang-orang pada lalai dari-Nya.” Mereka pun menepi dan menjauh dari keramaian, lantas mereka pun mengingat Allah.

Lalu mereka berpisah dan salah satu dari mereka meninggal dunia. Dalam mimpi, salah satunya bertemu lagi temannya. Di mimpi tersebut, temannya berkata, “Aku merasakan bahwa Allah mengampuni dosa kita di sore itu dikarenakan kita berjumpa di pasar (dan lantas mengingat Allah).”

Lihat Jaami’ul wal Hikam, 2: 524.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Jangan Pernah Menilai Seseorang Dengan Melihat Masa Lalunya

Betapa banyak diantara kita yang memiliki masa lalu yang kelam..
jauh dari sunnah..
jauh dari hidayah..
tenggelam dalam dunia yang menipu..
terombang-ambing dalam kemaksiatan yang nista..

Bukankah banyak sahabat rodhiallahu ‘anhum yang dahulunya pelaku kemaksiatan..
peminum khomr..
bahkan pelaku kesyirikan..

Akan tetapi tatkala cahaya hidayah menyapa hati mereka, jadilah mereka generasi terbaik yang pernah ada di atas muka bumi ini.

Bisa jadi anda salah satu dari mereka para ikhwan/akhwat yang memiliki masa lalu yang kelam..
yang mungkin saja kebanyakan orang tidak mengetahui masa lalu kelam anda.

Sebagaimana anda tidak ingin orang lain menilai anda dengan melihat masa lalu kelam anda..
maka janganlah anda menilai orang lain dengan melihat masa lalunya yang buruk..

Yang menjadi patokan adalah kesudahan seseorang..
kondisinya tatkala akan meninggal..
bukan masa lalunya.

Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda “Amalan-amalan itu tergantung akhirnya..”

Ditulis oleh,
Ustadz Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Membuat Orang Lain Bahagia

Ust. Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Coba bayangkan jika kita bisa:
** mengangkat kesulitan orang yang kesusahan …
** mengenyangkan yang lapar …
** melepaskan orang yang terlilit utang …

Membuat orang lain bahagia,
keutamaannya, itu lebih baik dari melakukan ibadah i’tikaf di Masjid Nabawi sebulan penuh. Sungguh ini adalah amalan yang mulia.

Keutamaan orang yang beri kebahagiaan pada orang lain dan mengangkat kesulitan dari orang lain disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699).

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ

“Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR. Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580).

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).

Lihatlah saudaraku, bagaimana sampai membahagiakan orang lain dan melepaskan kesulitan mereka lebih baik dari i’tikaf di Masjid Nabawi sebulan lamanya.

Al Hasan Al Bashri pernah mengutus sebagian muridnya untuk membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan. Beliau mengatakan pada murid-muridnya tersebut, “Hampirilah Tsabit Al Banani, bawa dia bersama kalian.”
Ketika Tsabit didatangi, ia berkata, “Maaf, aku sedang i’tikaf.” Murid-muridnya lantas kembali mendatangi Al Hasan Al Bashri, lantas mereka mengabarinya.

Kemudian Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai A’masy, tahukah engkau bahwa bila engkau berjalan menolong saudaramu yang butuh pertolongan itu lebih baik daripada haji setelah haji?”

Lalu mereka pun kembali pada Tsabit dan berkata seperti itu. Tsabit pun meninggalkan i’tikaf dan mengikuti murid-murid Al Hasan Al Bashri untuk memberikan pertolongan pada orang lain. [1]

Rajinlah membuat orang lain bahagia dan bantulah kesusahan mereka. Hanya Allah yang memberi taufik.
 
[1] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 294.

– – – – – •(*)•- – – – –

View